"Lass! Kita berpencar dari sini," bisik Amicia.
Kami sudah berada di rumah yang paling dekat dengan gerbang desa ini. Maju satu rumah lagi akan membuat pergerakan kami semakin mencolok. Rumah ini adalah batas untum eksekusi rencana kami.
Aku mengangguk pelan atas perintah Amicia, karena memang berpencar adalah satu-satunya strategi yang juga bisa kupikirkan di situasi ini.
Kami kalah jumlah dengan musuh, dan ada kemungkinan semua musuh yang kami lawan tidak bisa dibunuh. Dengan semua kemungkinan tersebut, kami harus menempuh jalur memutar, agar dapat merobohkan musuh satu per satu.
Kami berdua akhirnya mengambil jalur yang berbeda, sesuai rencana Amicia. Aku bergerak ke kanan, sedangkan Cia ke arah sebaliknya. Kami harus menyerang dengan senyap, sambil berharap hanya Dreyfus yang tidak bisa dibunuh.
Jalanan desa ini sudah berubah total, daripada saat kedatangan kami siang tadi. Malam yang seharusnya damai untuk setiap keluarga yang tinggal disini, malah berubah menjadi malam mencekam, hanya karena kami memprovokasi Dreyfus.
Aku merasa bersalah karena kemarahan Dreyfus, bisa dibilang adalah ulah kami. Kerusakan yang terjadi di desa ini, tidak akan sanggup kami ganti, meskipun mungkin kami dapat mengalahkan Dreyfus sekarang.
"Fokus Lass!" kataku pada diri sendiri. Aku semakin memelankan pergerakanku, saat jarakku mulai terpangkas dengan Dreyfus. Aku harus tetap dalam gelap, dan bergerak senyap.
Untuk memangkas jarakku dengan Dreyfus, maka aku berpindah antar rumah-rumah yang terbakar, dan tidak ambruk. Rumah-rumah itu menjadi tempat persembunyianku, sambil tetap mengawasi pergerakan mereka.
Jika Dreyfus berteriak maka harusnya aku bisa mendengar dari jarak ini, tetapi sampai dengan jarak sedekat ini, aku masih belum mendengar teriakan atau raungan gila orang itu.
Sejak tadi, Dreyfus hanya melakukan hal yang sama, yaitu tetap memandang jauh ke jalan utama desa Arnmeny, tatapannya seolah mengindikasikan bahwa dia sedang menunggu seseorang keluar.
Orang yang dia tunggu kemungkinan besar adalah salah satu dari aku, Amicia, Normen, atau Yared. Jika tujuan Dreyfus adalah balas dendam, maka kami berempatlah yang paling dia tunggu, untuk keluar dari Arnmeny.
Dreyfus bukan orang yang sanggup menjaga emosinya tetap stabil, begitulah kesanku kepadanya saat kami bertarung di ruang tamunya tadi siang. Namun Dreyfus yang sekarang kulihat dari kejauhan adalah orang yang sangat tenang.
Aku memutuskan untuk mendekat lagi dengan berpindah rumah, karena jarak Dreyfus masih terlalu jauh. Setidaknya, aku harus mendengar apa yang dia bicarakan dengan para komplotannya.
"Argh!" desah sebuah suara yang terdengar cukul dekat denganku. "Tolong... tolong aku. "
Aku memfokuskan pendengaranku untuk mencari sumber suara yang mengerang kesakitan itu. Pemilik suara itu terdengar seperti seorang pria, yang kemungkinan besar sedang terluka cukup parah.
Apakah suara itu berasal dari korban kekejaman Dreyfus? Tetapi, sejak tadi aku tidak melihat Dreyfus bertarung dengan seorang pun, padahal aku yakin kalau hanya anak-anak dan wanita yang mengungsi ke area rumah batu.
Jangan-jangan... Tidak... aku tidak boleh pesimis. Para wanita dan anak-anak di pengungsian memiliki harapan kalau suami, atau ayah mereka akan kembali hidup-hidup. Meskipun aku juga tidak melihat sama sekali pria dewasa yang berlari ke arah rumah batu..
Tidak mungkin juga kalau pria sebanyak itu, bisa dikalahkan dengan mudah oleh Dreyfus dan komplotannya. Jika hal tersebut yang terjadi, maka para komplotan Dreyfus kemungkinan besar adalah ras tanpa nyawa seperti dirinya.
"Tolong...," desah suara yang sama, seperti yang baru saja kudengar. Jarakku dengan sumber suara sudah sangat dekat, namun aku masih belum menemukan orang yang meminta pertolongan.
Pasti orang itu ada di rumah sebelahku, karena aku sangat yakin suara berasal dari tempat yang tidak jauh dariku.. Aku memasuki rumah sebelah yang sudah hangus dilalap api, untuk mencari sumber suara itu.
Dan ternyata benar, sumber suara itu berasal dari seorang pria muda yang sedang terduduk di sudut ruangan. Alasannya meronta kesakitan, adalahkarena kedua kakinya tertimpa balok kayu.
Aku bergegas ke tempat pria itu, lalu mulai mengangkat balok kayu itu dari atas kakinya. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutku, karena aku tahu kalau orang ini hanya butuh pertolongan, tidak lebih.
Perlahan aku mulai membopong pria itu keluar rumah, untuk menghindari kami berdua tertimpa kayu yang lebih besar. Aku mencari sebuah rumah yang jauh sudah hangus, dan tidak mungkin menjadi target dari panah api komplotan Dreyfus.
Tidak butuh waktu lama bagiku, untuk menemukan rumah yang sesuai dengan incaranku. Di dalam rumah itu, aku menyandarkan pria itu ke tembok kayu yang sudah hangus dilalap api.
"Anda tidak apa-apa?" tanyaku sambil mulai membebat luka pria itu dengan kain sobekan dari punca jubahku.
"Terimakasih, aku tidak apa-apa," jawab pria itu sambil masih meringis kesakitan. "Apakah anak-anak dan wanita selamat?"
"Mereka aman di area rumah batu," jawabku, aku memandang sekeliling untuk melihat situasi. "Dimana pria lain dari desa ini?"
Pertanyaanku membuat pria itu memandangiku cukup lama, seolah ada sesuatu yang salah di kepalaku. Wajah pria itu tampak kebingungan dengan pertanyaan yang kulontarkan kepadanya.
Aku agak tidak nyaman dengan cara pria itu memandangiku, tatapannya terasa seolah aku melakukan kesalahan besar karena menanyakan hal tersebut.
Setelah cukup lama kami saling menatap, akhirnya pria itu melontarkan pertanyaan kepadaku, "Kau benar-benar tidak tahu?"
Kedua mataku hanya menatapnya dengan tatapan kosong, karena aku memang benar-benar tidak tahu kemana perginya semua pria dewasa di desa ini.
Selain itu, aku juga tidak siap untuk menjawab, karena dia baru saja membalas pertanyaanku dengan melontarkan pertanyaan lain, alih-alih menjawab pertanyaanku terlebih dahulu.
"Mereka semua adalah iblis yang nyata," ujar pria itu dengan raut wajah penuh kengerian. "Mereka membuat semua mimpi burukmu akan menjadi kenyataan."
"Bukankah mereka semua hanya manusia?" sahutku dengan nada suara yang tenang.
"Ternyata, kau tidak melihat keseluruhannya," balas pria itu sambil terbatuk, dia menunjuk ke arah Dreyfus dan komplotannya yang berdiri diam di depan gerbang Arnmeny. "Lihat apa yang ada di bawah para iblis itu, dan kau akan mengerti, mengapa aku menggambarkan mereka demikian."
Sejak tadi aku selalu memperhatikan Dreyfus dari jauh, hingga jarak kami terus menyempit. Tetapi, aku tidak pernah melihat bagian bawah dari Dreyfus dan komplotannya, karena pandanganku terhalang oleh jajaran rumah.
Aku mencoba sedikit mengangkat kepalaku untuk melihat bagian bawah Dreyfus, sesuai yang ditunjukkan pria ini. Sontak, kedua mataku hanya bisa terpaku melihat pemandangan mengerikan itu.
Di bawah kaki Dreyfus dan komplotannya, tergolek lemas puluhan mayat pria. Para mayat itu tidak tampak dari kejauhan, karena warna tubuh mereka, menyatu dengan rerumputan Arnmeny di bawah langit malam.
Tenggorokanku tercekat karena melihat mayat-mayat itu, dan membayangkan keluarga mereka yang sedang menunggu penuh harap di tempat aman. Harapan mereka semua yang selamat, hanya akan mengantarkan mereka ke kesedihan mendalam.
Selain kerugian harta benda, desa ini juga kehilangan nyawa dari banyak kepala keluarga. Aku baru menyadarinya setelah melihat dengan jelas, apa yang terjadi di gerbang desa Arnmeny.
Dreyfus dan komplotannya tidak melewati gerbang desa, namun dia sudah sanggup membakar sebagian desa dan membunuh semua pria yang sanggup bertarung. Semua yang dia lakukan itu bahkan tidak mengubah ekspresinya.
Setengah diriku marah melihat kekejaman yang dia lakukan, padahal aku tidak semarah ini saat Knox membantai prajurit Donater dengan sadis.
Bagiku dua kejadian itu berbeda, karena Knox tidak mencurahkan kemarahannya pada warga biasa, melainkan kepada para prajurit yang sedang bertugas.
Meskipun para prajurit Donuemont juga memiliki keluarga, namun para tentara itu sudah mendapat perlindungan langsung dari Raja, atas pengorbanan mereka dalam menjaga Donuemont.
Sedangkan kejadian yang ada di depan mataku adalah, Dreyfus yang sedang membantai warga desa Arnmeny, warga biasa yang tidak memiliki kemampuan bertarung setara para prajurit Donuemont.
Perkataan Yared bahwa Dreyfus bukan hanya tidak memiliki nyawa, tetapi juga tidak memiliki emosi dan perasaan, terbukti benar. Itulah alasan setengah dari diriku juga takut kepadanya.
Melawan orang yang tidak memiliki emosi sangat berbahaya, karena mereka tidak memiliki prinsip maupun kehormatan dalam bertarung. Mereka hanya akan membunuhmu, namun tidak pernah merasa menyesal, atau merasa bersalah.
Aku diam cukup lama untuk memandang Dreyfus, sampai akhirnya sebuah siluet hitam muncul dari semak-semak yang ada di belakang salah satu pemanah. Siluet itu perlahan mulai mendekati pemanah yang berada paling dekat dengannya.
Aku memincingkan mataku, untuk dapat melihat bahwa siluet itu merupakan seseorang dengan tudung hitam yaang memegang pisau ditangannya.
Orang itu mengendap perlahan dibelakang si pemanah, dan saat sudah dalam jarak serangnya , maka orang itu langsung menggorok leher si pemanah yang lengah, dengan menutup mulut si pemanah, agar tidak mengeluarkan suara sedikit pun.
Dreyfus dan kumpulan orang gila yang lain sepertinya tidak mendengar suara gorokan itu, karena mereka tetap melihat ke jalanan desa.
Mayat si pemanah ditarik dengan lembut ke dalam semak-semak tempat orang bertudung itu muncul, dia memastikan agar tetap bisa membantai dengan senyap, tanpa perlu aksinya diketahui karena satu orang sudah menjadi mayat.
Siapa orang bertudung itu? Apakah dia Amicia? Jika dia Amicia, mengapa dia memilih memakai pisau? Jarak orang itu terlalu jauh dariku, sehingga aku tidak bisa memastikan identitasnya.
Melihat sosok bertudung itu menarik tubuh pemanah yang tergolek lemas, memberiku kesimpulan kalau komplotan Dreyfus bukan dari ras yang sama. Mereka bisa memiliki nyawa, yang berarti mereka dapat dibunuh.
Namun aku tidak bisa tinggal diam, sosok itu setidaknya berada di pihakku. Sekarang giliranku untuk membantai orang-orang gila itu. Mereka harus merasakan apa yang dirasakan oleh para mayat di bawah kaki mereka.
Aku juga memakai tudungku, dan mulai mencari persembunyian untuk bisa semakin mendekati Dreyfus. Untungnya, jubahku juga memiliki warna gelap, sehingga aku dapat bersembunyi dengan tenang di malam hari.
Bagian luar desa ini masih penuh dengan semak-semak tinggi yang bisa menyembunyikanku dengan baik dalam gelap.
Rerumputan ini bahkan lebih tinggi, ketimbang yang ada di luar desa Tosval.
Andai Orion ada disini, maka dia dapat menyembunyikanku dengan sihir hutannya, karena yang dia butuhkan hanya padang rumput, bukan sebuah hutan lebat.
Aku mulai merangsek perlahan diantara semak yang semakin meninggi, namun aku tetap tidak mengalihkan pandanganku dari targetku, yaitu pemanah yang lain.
Beberapa langkah lagi, maka pemanah yang satunya, akan berada di jarak serangku. Aku terus memastikan situasi dengan memandang sekelilingku, agar tidak ada satu pun hal, yang akan mengganggu aksiku.
Mereka masih belum sadar kalau satu orang pemanah sudah hilang, aku harus memanfaatkan kelengahan mereka. Akan sangat buruk, jika aku dan orang bertudung itu harus melawan enam orang sekaligus.
Sekarang aku sudah keluar dari semak yang menutupiku, semua bergantung dengan keahlianku untuk menyerang secara senyap. Pelajaran dari Master Ekkehard selama tujuh tahun untuk mencuri sedang kupertaruhkan sekarang.
Sedikit lagi, maka orang ini akan masuk jarak serang pisauku. Aku menarik tudungku agar tetap menutupi wajahku, dan setelah mengambil nafas panjang maka aku memulai aksiku.
Kedua tanganku langsung menyambar pisau yang tersembunyi di pinggangku. Si pemanah berdiri tepat di depanku, namun dia membelakingiku.
Dalam prinsip bertarung, aku seharusnya tidak boleh menyerang orang dari belakang. Namun, aku harus mengabaikan prinsip itu, karena enam orang ini pasti juga tidak akan menggunakan moral, atau prinsip bertarung yang mengedepankan rasa hormat.
Aku langsung menusuk punggung si pemanah itu dengan pisau di tangan kananku, lalu menggorok lehernya dengan pisau di tangan kiriku untuk langsung menghabisi nyawanya sebelum dia sempat berteriak.
Aku melakukan persis seperti yang dilakukan siluet itu setelah membantai seorang pemanah, yaitu menarik mayatnya ke semak-semak tempat awal persembunyianku.
"Tersisa lima lagi," batinku.
Semoga empat lainnya juga bisa dibunuh seperti dua orang pemanah yang sudah tumbang. Aku berniat beranjak dari tempatku, untuk melanjutkan p*********n senyap.
Lalu sekelibat gerakan tertangkap oleh sudut mataku, di semak-semak yang berada di seberangku.
Ternyata sosok bertudung itu kembali muncul dari dalam tempat persembunyiannya, dan kali ini, dia menggenggam sebilah pedang ukuran sedang.
Kenapa dia mengganti senjatanya? padahal senjata kecil seperti pisau, adalah pilihan tepat di situasi ini. Pedang akan membuatnya memiliki jarak serang yang luas, namun untuk membunuh secara senyap, senjata itu bukan pilihan yang tepat.
Aku tidak punya waktu untuk memikirkan sosok itu, entah dia dipihak siapa, tapi jika tujuannya sama denganku maka kami bisa bertarung berdampingan.
Kami bisa menghabisi enam orang ini sekaligus, jika mereka tetap memandang ke lurus ke jalanan desa. Sedangkan soal Dreyfus, aku dan Amicia akan memikirkan rencana yang lain.
Kali ini targetku adalah pria kekar yang menggunakan pedang. Tidak seperti si pemanah, yang terlihat lemah, pria pemegang pedang ini cukup membuatku terintimidasi.
Aku harus membunuhnya dalam sekali serang, karena kalau dia berhasil menyerang balik, maka situasinya akan buruk untukku. Bertarung satu lawan satu dengan pria ini, adalah sebuah pilihan yang sangat buruk.
Tindakanku selanjutnya, sudah aku pikirkan secara matang di otakku. Aku akan langsung menyerang lehernya, lalu segera menusuk jantungnya, karena gerakan tersebut adalah pilihan terbaik.
Selagi aku melangkah mendekat ke targetku, sambil memusatkan perhatianku ke lehernya, terdengar sebuah erangan dari sisi kananku.
"Arggghh!" erang suara yang sepertinya kukenal.
Fokusku buyar karena suara yang mengerang kesakitan itu tidak jauh dariku. Aku menoleh untuk melihat asal suara itu, dan ternyata si sosok bertudung itu gagal menyerang pemegang pedang komplotan Dreyfus.
Sosok bertudung itu sedang dicekik, hingga kakinya tidak menyentuh tanah oleh salah satu komplotan Dreyfus dengan satu tangan, dan tangan lainnya siap memenggal kepala sosok bertudung itu.
Pedang sosok bertudung ituterjatuh dari tangannya, saat tubuhnya mulai melemas karena tidak dapat bernapas. Mataku tertuju kepada pedang itu alih-alih sosok yang tercekik, dan aku mengenali pedang itu.
Ukiran di sepanjang gagangnya, bilah peraknya yang mengkilat, dan ukurannya sama persis dengan pedang milik Normen yang aku curi bersama Amicia di Donuemont, yaitu Oborotni.
Artinya sosok bertudung yang tercekik itu adalah Amicia Ekkehard, orang terakhir yang memegang Oborotni.