"Kau punya rencana?" tanyaku kepada Amicia, setelah aku berhasil menyamai kecepatannya.
Mimik wajah cewek itu menegang, seolah sedang memikirkan sesuatu yang jauh dari jangkauannya. Melawan Dreyfus dan keenam temannya adalah hal yang memang mustahil, bahkan bagi putri tunggal Master Ekkehard.
Selain itu, hanya aku dan Amicia yang menyongsong maut. Kami berdua memang memiliki kemampuan bertarung di atas kebanyakan orang, namun hanya itu saja yang kami miliki.
Kami tidak dapat berubah wujud menjadi udara kosong, seperti Normen. Kami juga tidak dapat berubah menjadi h
kadal, atau memiliki anugrah garis miring kutukan yang berguna, seperti Yared.
Bahkan, Orion masih lebih berguna daripada kami, jika lawannya adalah Dreyfus. Setidaknya, sihir Orion dapat membuatnya tidak terlihat, menyembuhkan diri, dan berlari dalam kecepatan tinggi.
Kekuranganku dan Amicia adalah lubang yang besar, kala kami memiliki musuh dengan kekuatan aneh seperti Dreyfus. Singkatnya, aku dan Amicia memang sedang mengantarkan diri kami agar dibunuh oleh tujuh orang gila di luar gerbang Arnmeny.
"Pertama, aku harus mencari tahu cara menggunakan Oborotni," ujar Amicia. Kali ini ekspresinya sudah berubah menjadi cewek tangguh yang sudah lama kukenal.
Aku menunggunya untuk melanjutkan penjelasan akan rencananya, tetapi cewek itu malah terus menatap ke langit malam tanpa satu berkedip sedikit pun.
Karena aku sangat ingin tahu lanjutan rencananya, maka aku juga ikut melihat ke langit hitam yang menaungi desa kecil ini.
Selama beberapa detik, kami berdua hanya mendongak bak orang bodoh. Jika situasi Arnmeny sedang tidak kacau, maka bisa saja kami diusir keluar dari desa ini, karena memiliki gelagat yang sangat mirip dengan orang gila.
Namun, karena keseriusan Amicia melakukan 'hal bodoh' ini, maka aku juga tetap bertahan untuk memandang ke langit. Akhirnya, sesuatu yang ditunggu oleh sahabatku terjadi.
Dua buah anak panah berapi melesat di atas kami, dengan kecepatan yang cukup tinggi. Keduanya mendarat di sebuah rumah yang cukup dekat dengan tempat kami berdiri.
"Itu tugasmu Lass," ujar Amicia sambil menunjuk ke langit, setelah sebuah rumah kayu yang cukup dekat dengan gerbang desa mulai dilahap api, yang berasal dari panah berapi milik teman-teman Dreyfus.
"Selamatkan orang-orang yang terkena dampak dari panah api itu, dan jangan biarkan mereka menyerang Dreyfus," imbuh Amicia. "Ada perdebatan?"
Ada banyak hal yang ingin kudebatkan dengan Amicia. Topik pertama adalah soal belajar menggunakan Oborotni, yang menurutku terlalu beresiko tinggi. Bagiku,
mempelajari Oborotni harus dilakukan di waktu luang, bukan di saat genting seperti sekarang.
Saat ini, pedang bermata dua milik Amicia, dan pisau kembarkulah yang seharusnya beraksi. Memiliki Oborotni memang sebuah keunggulan, namun waktu kami sangat tipis sebelum desa ini akhirnya dilahap api sepenuhnya.
Selain soal Oborotni, ada topik lain yang juga menggangguku. Akhirnya aku memilih topik ini sebagai bahan perdebatanku.
"Mengapa aku yang mendapat tugas untuk mengawasi panah berapi itu?" tanyaku.
Amicia mengangkat alisnya, lalu menepuk pundakku. "Karena kau lebih hebat dalam pemilihan waktu, sedangkan aku lebih hebat dalam penggunaan berbagai macam senjata."
Cewek iblis ini memang mengatakan hal yang tepat. Sejak dahulu, aku selalu menjadi orang yang pertama kali tiba di tempat latihan mencuri. Sedangkan dia, yang merupakan putri kandung Masterku, malah sering sekali terlambat.
Namun, ketepatanku soal waktu hanya karena ingin memberi kesan yang baik kepada Masterku. Saat aku di rumah, maka aku kembali menjadi Vhirlass Udhokh yang pemalas.
Jangankan untuk bangun pagi tepat waktu, bahkan untuk membasuh tubuhku dengan air (baca: mandi), aku juga sangat enggan. Setidaknya, aku berhasil membuat Amicia percaya bahwa aku memang hebat dalam pemilihan waktu.
"Jadi, kau ingin aku berbuat apa dengan panah berapi itu?" tanyaku yang akhirnya mengalah.
"Sederhana," jawabnya. Lalu Amicia kembali. menunjuk dua anak panah yang kembali melesat di atas kami, dan mengenai pilar sebuah rumah yang tepat di sebelah kiri kami. "Aku ingin kau mencari tahu, alasan mengapa para pemanah itu melepaskan anak panahnya secara berkala."
Aku mencoba memproses perintah Amicia dalam otakku. Anak panah yang dilepaskan secara berkala, dan hanya menargetkan satu rumah setiap kali ditembakkan, alih-alih langsung melepaskan banyak anak panah di tempat acak.
Jika aku mendapat alasan dibalik pemilihan waktu para pemanah melepaskan anak panahnya, maka bantuan apa yang didapatkan oleh Amicia? Mengapa informasi itu begitu penting baginya?
"Lass, kau masih butuh waktu untuk berpikir?" gerutu Amicia. "Orang-orang itu tidak menunggumu untuk menyelamatkan mereka."
Perkataan Amicia menyadarkanku, bahwa tugas utama yang dia perintahkan kepadaku adalah menyelamatkan warga desa ini, sekaligus melarang mereka melawan Dreyfus dan komplotannya.
Aku kembali memusatkan perhatianku dengan membuka lebar kedua telingaku, agar dapat mendengar semua teriakan atau suara apa pun yang membutuhkan pertolongan.
"Jangan terlalu lama, Dreyfus tidak menunggumu hingga dapat menggunakan Oborotni dengan baik," pesanku sebelum aku mulai berlari ke arah rumah terdekat.
Amicia hanya mengangguk dengan wajah serius, untuk meresponi pesanku. Lalu cewek itu mulai menarik Oborotni dari sarungnya, sedangkan aku semakin menjauh dari tempatnya berdiri.
Tidak lupa, aku juga memakai tudung yang menyatu dengan jubah yang sedang kupakai. Sebuah kebiasaan dasar bagi seorang pencuri untuk menyembunyikan identitasnya, dari orang-orang sekitar.
Aku merasa sedikit aneh, karena untuk pertama kalinya, aku memakai tudung kepala untuk menyelamatkan orang lain, alih-alih mencuri barang berharga di dalam rumah mereka.
Bahkan setelah menyelamatkan warga desa ini, kemungkinan besar, aku dan Amicia akan mengonfrontasi Dreyfus secara langsung. Tudung kepala ini akan menjadi saksi, dari perubahan aksi yang dilakukan dua pencuri terbaik Rebeliand.
Aku masuk ke rumah yang paling dekat dengan tempatku dan Amicia tadinya berbincang. Rumah yang tidak terlalu besar, dan juga tidak ada seorang pun di dalamnya.
Langkahku terus kuarahkan untuk masuk ke rumah demi rumah, dan sebisa mungkin menjauhi jalan utama desa ini. Aku memakai jendela, atau pintu belakang untuk berpindah dari satu rumah ke rumah lain.
Selama aku bergerak, aku juga selalu melihat ke langit, untuk melihat anak panah yang dilesakkan oleh tangan komplotan Dreyfus. Otakku juga mulai menghitung dan memprediksi tembakan anak panah yang selanjutnya.
Semakin sering dua anak panah berapi itu muncul, maka aku merasa bahwa saran Amicia semakin benar. Memang tampak, seperti ada ketetapan waktu akan penembakan panah ke rumah-rumah di desa ini.
Selain itu, soal pemilihan rumah yang dipilih menjadi target oleh si pemanah juga tidak tampak acak. Mereka selalu membakar rumah di area dekat gerbang, lalu panah selanjutnya diarahkan ke area rumah yang berada hampir tengah desa.
Aku mencoba memikirkan arti pemilihan rumah target. Jika api sudah menyebar di area depan, maka seharusnya mereka terus memanah ke rumah yang berada di dekat gerbang desa, bukan ke tempat yang lebih jauh.
Namun, jika mereka melakukannya secara berkala, maka.... Sial, Dreyfus memang sangat jahat!
Aku kembali berlari ke tempat Amicia berada, setelah aku mengerti alasan mengapa panah itu ditembakkan dengan jeda waktu yang berkala, dan alasan mengapa pemilihan rumah target terus berubah area.
Amicia benar, kami memang tidak memiliki waktu. Jika dugaanku benar, maka Dreyfus memang harus dikalahkan saat ini juga, tanpa menunggu hal lain.
Sahabatku itu masih berdiri di tempatnya, namun bukan lagi pedang yang ada di tangannya, melainkan sebuah pisau. Apa dia berhasil mengetahui rahasia penggunaan Oborotni secepat ini?
"Kita harus secepatnya mengalahkan Dreyfus," ujarku dengan napas yang masih terengah-engah. "Mereka berencana membakar seluruh rumah yang terbuat dari kayu."
Amicia hanya melirikku sejenak, sambil bergumam, "Ternyata itu yang dia rencanakan."
"Kau sudah menyelamatkan semua orang?" tanya cewek itu.
Aku sudah melupakan tugas untuk menyelamatkan orang-orang, dan melarang mereka untuk melawan Dreyfus, setelah aku menyadari rencana Dreyfus.
"Belum?" tebaknya. "Kalau begitu, kita akan menyusuri jalan yang tadi tidak kau lalui, untuk menyelamatkan orang lain."
"Tetapi, desa ini sudah pasti akan menjadi lautan api," sergahku. "Dan aku tadi berhenti di rumah yang sudah sangat dekat dengan gerbang desa, namun tidak ada suara warga satu pun."
Amicia tidak memedulikan perkataanku. Cewek itu tetap berjalan, ke arah yang tadinya kutempuh.
Karena aku tidak memiliki pilihan lain, maka aku akhirnya juga mengikuti cewek itu.
"Aku sudah mengatakan padamu, kalau tidak ada orang yang dapat diselamatkan," gerutuku. "Mungkin mereka semua sudah berlari ke area rumah batu, yang ada di tengah desa ini."
Gerutuanku tidak mempan di telinga Amicia, karena cewek itu tetap melangkah dengan tatapan lurus. Tekadnya sudah sangat bulat untuk mengalahkan Dreyfus, dan menyelamatkan desa ini.
Karena Amicia sudah berada dalam keadaan serius, maka memang tidak ada gunanya mengoceh di belakang cewek ini. Jadi, yang kulakukan adalah terus mengikutinya, hingga kami sudah sangat dekat dengan gerbang desa.
Sahabatku menghentikan langkahnya, namun kedua matanya terus memandang lekat ke satu titik, melalui jendela rumah yang sudah setengah hangus dilahap api.
Aku mengikuti arah pandangannya, dan ternyata dia melihat penuh kebencian ke arah Dreyfus. Di matanya ada kemarahan yang begitu terasa, meskipun dia tidak berkata satu kata pun.
"Cia, kau tidak boleh bertindak gegabah," ujarku sambil mencoba terdengar setenang mungkin. "Kita harus berpikir tenang, karena lawan kita tidak dapat dibunuh oleh apa pun."
"Hanya Dreyfus, hanya orang gila itu," gumam Amicia. "Hanya dia yang merupakan ras Bephidza."
Aku tidak tahu alasan Amicia menebak identitas dari keenam teman Dreyfus, namun cewek itu terdengar seperti sedang meyakinkan dirinya sendiri, alih-alih berkata dengan penuh keyakinan.
"Lalu, apa rencanamu?" tanyaku. "Jangan sampai kau berpikir bahwa kau akan... Jangan berpikir itu!"
Amicia mengedikkan kepalanya ke arah rerumputan yang ada di sekitar pemanah terdekat berdiri. "Ada banyak semak belukar di sekitar mereka, kita bisa mengendap di belakang mereka."
"Kalau ternyata mereka tidak bisa dibunuh seperti Dreyfus?" pungkasku.
"Maka kita yang mati," sahut Amicia santai. "Bukankah kau sudah siap mati, saat mengikutiku dan Orion?"
Cewek ini menanyakan sesuatu yang sangat menohok. Namun, dia memang mengingatkanku akan apa resiko yang terbentang di depanku, saat memutuskan untuk melawan Dreyfus. Seharusnya aku sadar, bahwa kematian memang adalah hal yang pasti bagi kami.
"Bagaimana, masih mau melanjutkan?" tanya Amicia.
Aku mengumpulkan keberanianku, sekaligus mengingatkan diriku terhadap motivasi yang membuatku malah mengikuti kegilaan Amicia dan Orion.
Aku menolong Arnmeny, karena kami sudah tahu rasanya saat satu desa hancur. Aku menolong Arnmeny, karena aku tidak ingin desa ini menjadi seperti desaku, Rebeliand.
Memang bukan sebuah alasan yang kuat, tetapi melihat para warga Arnmeny yang ketakutan, membuatku sadar bahwa inilah yang terjadi di Rebeliand, tiga malam lalu.
Seluruh warga kami ketakutan, sedangkan aku dan Amicia berada jauh di Donuemont, sedang mencuri Oborotni. Keputusanku sekarang, tetap sama dengan keputusanku beberapa menit lalu.
"Jadi, kita akan melumpuhkan dua pemanah itu, dari sisi yang berbeda?" tanyaku memastikan.
Amicia yang sejak tadi memasang wajah serius, akhirnya kembali menampakkan senyumnya. "Betul, kita akan mencoba untuk menyongsong kematian."