"Bagaimana dia sembuh secepat itu? Apakah mereka benar-benar sekuat itu!?" suara Amicia terdengar sedikit cemas di sebelahku.
Cewek itu menuruni tangga dengan keringat yang masih mengucur deras, raut wajahnya menunjukkan campuran perasaan ngeri dan kagum kepada Dreyfus, yang sekarang malah membawa lebih banyak orang.
Kengeriannya pasti disebabkan oleh kemampuan bertarung Dreyfus yang berada di atas rata-rata, ditambah fakta bahwa dia adalah keturunan manusia tak bernyawa, Bephidza.
Sedangkan kekaguman Amicia yang tampak sekilas, bisa jadi disebabkan karena Dreyfus berhasil lepas dari kutukan Yared dengan waktu yang cukup cepat.
Entah dengan cara apa, Dreyfus dapat lepas dari perintah Yared. Satu hal yang pasti, adalah pria menyebalkan itu jauh lebih kuat daripada kami. Aku harus mengakui fakta tersebut, karena aku dan Amicia sudah pernah merasakan kuatnya kutukan Yared.
Kutukan pemegang kunci penginapan itu bak sebuah rantai besi yang melilit dengan kuat, bukan hanya tubuhku, namun juga semua hasratku. Aku tidak ingin merasakan perasaan mengerikan itu lagi, sehingga sebisa mungkin, aku tidak akan menjadikan Yared musuhku.
Beberapa saat kemudian selagi aku larut dalam pikiranku, Yared sudah ikut bergabung dengan kami di depan jendela lantai dua, untuk melihat kejadian yang terjadi luar Arnmeny.
Berbeda dengan Amicia yang melontarkan banyak pertanyaan, Yared hanya diam saja melihat Dreyfus kembali dengan membawa teman-temannya.
"Lass!" raung Normen dari lantai dasar. "Cepat, kita kehabisan waktu!"
Teriakan Normen memaksa kami bertiga menuruni tangga itu bersama, setelah melihat sekilas pemandangan menakutkan di luar gerbang desa.
"Dia memang sekuat itu, karena dia bahkan bisa memanggil teman-temannya untuk membantu," gumamku. "Kita harus memiliki rencana matang jika ingin melawan Dreyfus dan kelompoknya.
Amicia maupun Yared, tidak menanggapi gumamanku. Namun, aku tahu kalau mereka juga memiliki pemikiran yang sama denganku. Mereka berdua pasti juga memiliki keraguan untuk mengalahkan Dreyfus, seperti terakhir kali.
Dari ujung mataku, aku melihat mimik wajah Yared yang menuruni tangga di sebelahku dengan cemas, mungkin ini pertama kalinya kekuatan, yang juga anugrahnya tidak mempan untuk seseorang.
Meskipun Yared sudah memberi tahu kami, bahwa Dreyfus kemungkinan besar akan lepas dari kutukannya. Namun, melihat korbannya dapat melepaskan diri secepat ini, pasti sebuah hal baru bagi Yared.
Kami tiba di lantai dasar dengan cepat, karena tidak ada satu pun di antara kami yang membuka mulut. Kedatangan Dreyfus terlalu mengejutkan bagi kami, hingga Amicia yang terlalu banyak bicara, juga bungkam.
Di lantai dasar, tiga makhluk sudah menunggu kami di luar rumah. Normen yang duduk diatas Anyx si serigala, dan Orion meringkik di belakang tunggangan Normen itu. Syukurlah, Orion sangat peka, sehingga aku tidak perlu memanggil dia.
Melihat Anyx di depan rumah Dreyfus, membuatku membayangkan wajah warga desa ini, saat serigala besar itu melenggang santai di jalanan desa. Para warga desa ini, malah akan semakin takut ke luar rumah, jika ada serigala besar yang berjalan santai di delan rumahnya.
"Cepat, Yared kau naik ke Anyx, sedangkan mereka berdua bersama Orion!" perintah Normen.
Aku dan Amicia saling berpandangan dengan gelisah, karena Yared dan Normen akan bersama. Aku cemas kalau mereka berdua akan bertarung di tengah jalan. Karena seingatku, wajah Yared tidak menunjukkan ingin bertemu secara baik-baik dengan Normen.
Kecemasan kami ternyata tidak berarti, sebab Yared hanya mematuhi perintah Normen tanpa bertanya apapun. Semoga anak itu tidak melakukan hal-hal aneh di belakang Normen.
Karena Yared tidak menolak untuk duduk di belakang Normen, maka aku dan Amicia langsung naik ke punggung Orion dengan cepat.
Sesuai perintah Normen, kami harus cepat keluar dari desa ini. Dreyfus kemungkinan besar sedang mengejar kami, dan ingin membunuh kami, yang berani mempermalukannya.
Aku sendiri juga ingin bergegas keluar dari desa ini, daripada harus bertarung dengan Dreyfus dan teman-temannya. Sebuah pilihan yang terbentang di depan kami, memang hanya meninggalkan desa ini.
"Ayo bro, ikuti Anyx!" perintahku ke Orion sambil menepuk lehernya. Kudaku meringkik merespon perintahku, namun ada yang aneh dengan ringkikannya. Sebuah respon yang tidak memiliki semangat sama sekali, bukan seperti Orion yang biasanya.
"Tetap di belakangku, kali ini kita akan langsung ke Hutan Hitam, dan kalian sudah memenangkan pertaruhan," putus Normen, lalu dia memacu Anyx untuk mulai berlari.
Pria tua itu masih ingat soal taruhan yang dia buat dengan kami. Berdasarkan taruhan tersebut, Orion dan Anyx akan berlomba selama tiga perhentian, hingga sampai ke Hutan Hitam.
Dari tiga perhentian itu, kami sudah sampai di Arnmeny, yang adalah perhentian pertama. Jika menghitung Hutan Hitam sebagai perhentian terakhir, maka seharusnya kami masih harus berhenti di satu tempat lagi.
Tetapi, Normen baru saja memutuskan kalau kami akan langsung ke Hutan Hitam, tanpa berhenti di satu tempat lagi. Hanya ada dua alasan, mengapa Normen memilih untuk langsung ke Hutan Hitam, dan membiarkan kami memenangkan pertaruhan hanya dengan satu perlombaan.
Pertama, karena situasi genting yang sedang terjadi sekarang. Pak tua itu adalah orang yang menusuk d**a Dreyfus, tempat jantung si wajah bulat itu berada. Namun, Dreyfus malah menertawakan tusukannya, dan sanggup memojokkan Normen di tengah pertarungan tiga lawan satu.
Bukan hanya soal harga dirinya sebagai seorang kepala pengawal Raja Donater, namun juga soal nyawanya sendiri yang terancam, jika masih memaksakan diri untuk melawan Dreyfus sekali lagi.
Ditambah, sekarang Dreyfus membawa enam orang temannya, yang bisa jadi berasal dari ras manusia tak bernyawa. Melawan satu orang yang tidak bisa mati sudah sangat sulit, apalagi harus melawan tujuh orang yang tidak dapat dilukai.
Kemungkinan kedua, soal alasan Normen memutuskan agar kami langsung ke Hutan Hitam, adalah karena pak tua itu sudah melihat Orion di kecepatan tertingginya.
Arnmeny yang seharusnya ditempuh dalam waktu dua hari dengan lari kuda biasa, dibuat Orion hanya dalam waktu dua jam. Bahkan aku dan Amicia masih sempat berbincang, sekaligus berdebat dengan Dreyfus, hingga Normen datang dalam wujud udara kosong.
Alasan kecepatan Orion yang di luar akal, bisa menjadi sebuah penegasan untuk Normen, agar langsung mambwa kami ke Hutan Hitam. Usulan itu akan membuat Anyx dan dirinya hanya kalah sekali dalam perlombaan, alih-alih tiga kali.
Selama aku sedang bergelut dengan pikiranku, aku menyangka kalau Orion sudah membawaku dan Amicia ke Hutan Hitam. Nyatanya, kuda itu tidak bergerak satu langkah pun.
Aku pikir perintahku ke Orion sudah jelas, tetapi dia sama sekali tidak bergerak dari depan rumah Dreyfus. Kedua kaki depannya mengetuk tanah dengan gelisah, ada yang aneh dengan sahabatku ini.
"Kau kenapa bro?" tanyaku sambil menepuk lehernya dengan lembut. "Kau tidak suka berada dibelakang Anyx?"
Orion tidak menjawabku, melainkan hanya mendengus. Apa yang dia sembunyikan di situasi darurat seperti ini? Sudah tidak ada waktu untuk menyimpan rahasia, karena sekarang sudah waktunya kami lari.
"Orion, aku ikut denganmu," putus Amica mendadak, lalu dia turun dari punggung Orion. "Lass, boleh pinjam Oborotni?"
Aku memandang Amicia dengan tajam, sambil bertanya-tanya, apayang dia lakukan sekarang? Kenapa dia turun dan mengatakan akan membantu Orion? Kenapa juga dia meminjam Oborotni?
"Kalian kenapa?" tanyaku sebal. "Sudah tidak ada waktu untuk bermain-main, cepat naik!"
Amicia tidak bergeming, dia malah membuka telapak tangannya untuk meminta pedangku. Dari wajahnya aku sadar kalau dia sudah membulatkan tekad, dan artinya tidak ada yang bisa menghentikannya.
Aku menarik nafas panjang untuk menenangkan diri. "Oke sebenarnya kalian kenapa? Jelaskan padaku, aku akan membantu"
"Lihat sekelilingmu Vhirlass Udhokh," jawab Amicia dingin. "Apa kau tidak merasa bahwa kita pernah melihat pemandangan ini?"
Seolah kata Amicia adalah perintah, kedua mataku mulai memandang sekitar. Desa Arnmeny yang beberapa jam lalu masih tenteram, berubah menjadi mimpi buruk.
Sebagian besar rumah di dekat gerbang masuk desa, sudah mengeluarkan asap besar yang berasal dari anak panah api milik teman-teman Dreyfus.
Bagian pusat Arnmeny, tempat kami sekarang berdiri, masih belum terdampak oleh api itu. Sedangkan rumah-rumah yang dekat dengan gerbang desa, sudah habis dilahap api.
Aku terlalu fokus dengan pelarian tim kami, hingga tidak mendengar suara orang-orang yang berteriak ketakutan, menangis, marah, dan memohon di kejauhan.
Setelah aku melihat keadaan desa ini, aku akhirnya dapat mengerti alasan Amicia dan Orion berhenti. Orang-orang di desa ini, mereka semua sedang ketakutan, dan beberapa dari mereka, mungkin sedang mengumpulkan keberanian untuk melawan Dreyfus meskipun hasil akhirnya sudah jelas.
Deretan rumah disekitar kami terbuat dari batu, sehingga tidak akan dilalap api seperti rumah lain yang terbuat dari kayu. Dari kejauhan aku melihat para wanita, dan anak-anak mulai mendatangi area rumah besar disekitar kami.
Mereka berlarian ke arah kami, atau lebih tepatnya, ke arah rumah berbahan dasar batu. Kebanyakan dari mereka menangis, karena harta bendanya yang habis, dan suami mereka yang mungkin berjuang mempertahankan desa ini dari kehancuran.
Aku tidak sadar saat tiba-tiba setetes air mata, jatuh dari bola mataku. Aku membayangkan bahwa mungkin beginilah situasi Rebeliand saat diserang. Dan semua ini terjadi, karena kami memprovokasi orang gila macam Dreyfus.
Jika kami lari, maka sudah bisa ditebak, kalau akhirnya desa ini akan menjadi kosong dan luluh lantak seperti Rebeliand sekarang. Malahan bisa jadi malah lebih buruk daripada Rebeliand.
Desa yang dulunya indah ini, akan menjadi tempat yang dipenuhi tumpukan mayat, alih-alih desa kosong seperti Rebeliand. Amicia benar, pemandangan ini terasa sangat akrab, karena kami sudah menebak bagaimana akhirnya.
Sekali lagi aku menarik nafas panjang, namun kali ini bukan untuk berlari tapi untuk mencabut dua pisau kembarku. Aku sudah memutuskan akan melakukan apa.
"Kita lindungi desa ini," janjiku. Aku melempar Oborotni yang tersampir di punggungku kepada Amicia, yang dibalas secuil senyuman oleh cewek itu. "Aku tidak mau melihat sebuah desa hancur, karena kesalahan kita."
"Nah, itu Lass yang kukenal!" seru Orion dengan semangat. Kuda itu memutar tubuhnya, sehingga membelakangi kami. "Aku akan menolong orang-orang lebih dahulu, untuk mengungsi ke daerah rumah berbatu ini, dan kalian coba tahan orang-orang gila di depan gerbang."
Aku mengangguk atas perintah Orion, lalu melihat kepergian kuda itu untuk melakukan misinya.
"Apa ini pilihan yang benar?" tanyaku memastikan. "Jika kita mati disini, maka tidak ada seorangpun yang akan menyelamatkan warga Rebeliand."
"Aku tahu," jawab Amicia, sorot matanya menunjukkan kalau perasaanya juga sama campur aduknya denganku. "Tapi inilah yang harus kita lakukan Lass, kita berdua sadar akan hal itu."
Amicia benar, perasaanku juga berkata demikian. Kami harus mengalahkan Dreyfus dan golongannya, untuk menyelamatkan desa ini, meskipun kami mati. Hatiku sangat yakin, kalau sudah melakukan sesuatu yang benar.
Aku menoleh ke belakang, membayangkan bahwa jalan itu yang seharusnya kami tempuh untuk lari dari tempat ini. Namun, sekarang kami malah menyongsong maut dengan mendekati kumpulan orang gila pimpinan Dreyfus.
"Kuatkan hatimu Vhirlass Udhokh," kata Amicia, dia menepuk punggungku pelan lalu mulai berlari ketengah kekacauan Desa Arnmeny. "Kita bantai orang-orang gila itu dan selamatkan warga desa ini. "
Senyum di bibirku perlahan semakin melebar, setelah melihat punggung sahabatku berlari dengan berani ke sebuah pertempuran yang mustahil kami menangkan. Aku tidak boleh membiarkan dia sendirian.
Dan begitulah, kami berdua menyongsong maut yang terbentang di depan kami.