Sepeninggal Dreyfus Bephidza yang terkena kutukan (atau anugerah) dari Yared, kami mulai mengurusi luka di tubuh masing-masing.
Kau bisa berubah jadi binatang?" tanyaku kepada si culun Yared, sambil membasuh luka sayatan di paha dan kakiku.
Aku masih takjub dengan kemampuan Yared, yang baru saja dia pamerkan. Pria penjaga kunci penginapan ini, tidak hanya memiliki anugerah yang hebat, tetapi juga memiliki kekuatan untuk berubah wujud menjadi seekor kadal. Sebuah kekuatan yang juga sangat berguna di pertempuran.
Selain itu, alasanku menyapa Yared, adalah karena aku merasa bersalah karena menyebutnya pengecut, padahal entah sejak kapan, dia sudah berada di kantong Amicia menunggu saat yang tepat untuk muncul.
"Kenapa? Anda takut padaku, Tuan Lass?" goda Yared, sambil menyunggingkan senyum menyebalkan padaku. "Aku baru belajar untuk berubah menjadi hewan-hewan kecil, karena untuk berubah menjadi hewan besar, diperlukan tenaga dan kekuatan yang sama besarnya."
Bahkan dia bisa berubah menjadi hewan besar, jika tenaga dan kekuatannya cukup. Aku sudah membulatkan tekadku untuk segera belajar ilmu sihir sekecil apa pun.
Setelah membalas sapaanku, Yared beralih ke Amicia, yang memang seharusnya menjadi pusat perhatian, karena kotak kecil yang ada meja. "Aku penasaran dengan isi kotak itu, bisa beri tahu kami apa isinya?"
Amicia si pemilik kotak langsung menyambar benda kecil itu, dan memasukkannya ke kantong celananya. "Tidak ada pertanyaan soal ini," putusnya.
"Lalu apa yang akan kita lakukan, lanjut ke Hutan Hitam? atau tinggal disini beberapa hari?" tanyanya untuk mengobah topik.
Baru kali ini, aku melihat Amicia begitu defensif dengan sebuah topik. Otakku mencoba mengingat benda penting, yang kira-kira dimiliki oleh cewek itu, namun tidak ada satu pun barang yang muncul di otakku.
Rasa penasaranku akan isi kotak itu malah semakin menurun, karena melihat sikap Amicia yang seolah tidak ingin seorang pun melihat isinya. Justru sebaliknya, aku malah ingin menjaga kotak itu untuk terus tertutup, alih-alih membukanya.
"Kita tinggal disini untuk malam ini," Normen memutuskan. Pria tua itu memegang tombak besar yang sebelumnya berupa pedang, dengan gaya yang sangat biasa.
"Aku akan bertanya ke warga sekitar, apakah tentara Preant yang katanya," putusnya. Dia mengerutkan keningnya, lalu berkata, "Sekaligus mencari penyebab tentang perubahan suasana di desa ini."
Ternyata Normen juga menyadari suasana desa ini yang suram, dan dia juga mengatakan bahwa ada perubahan di desa ini. Artinya pak tua ini pasti pernah ke desa ini setidaknya sekali.
Mungkin, karena dia kepala pengawal Raja Donater, sehingga sesekali dia harus berkunjung ke sini, karena desa ini masih dibawah kedaulatan Donater.
"Ah dan satu lagi, Oborotni harus aku kembalikan padamu Master Udhokh," tambah Normen, dia melempar tombak yang dia pegang. Tombak itu menyusut kembali menjadi pedang saat berada di udarax hingga akhirnya sampai ke tanganku dalam wujud sebilah pedang.
Normen Harv sepertinya memang tidak pernah ingin menyimpan Oborotni, jika senjata itu masih belum menjadi miliknya. Dia tidak ingin memakai senjata hebat itu, jika sang senjata menolak untuk mengeluarkan potensi terbesarnya.
"Kalau begitu kami akan tinggal disini," usul Amicia, dia memandang ke sekeliling rumah. "Aku, Lass, dan Yared akan berpencar untuk menemukan sesuatu yang berguna dari rumah ini, Dreyfus pasti menyimpan banyak barang berharga di setiap sudut rumah ini."
Jika Amicia mengatakan begitu, berarti Dreyfus tidak hanya menerima titipan barang dari Amicia, namun dari banyak orang. Mungkin, itulah alasan mengapa si wajah bulat itu memiliki banyak uang untuk membangun rumah megah ini.
Tetapi, memikirkan soal Dreyfus, membuat aku cukup penasaran dengan asal-usul orang itu. Selama perjalanan ini, aku sudah bertemu dengan banyak hal aneh, seperti kudaku yang berbicara, pelayan yang memiliki anugrah besar, dan prajurit tua yang dapat mewujud menjadi udara kosong.
Daftar itu seolah tidak mau berhenti, dengan kemunculan Dreyfus yang mengaku tidak bisa dibunuh, dan kekuatan Oborotni yang ternyata bisa berubah menjadi tombak, atau mungkin senjata apa pun.
Aku masih ingat saat Dreyfus meneriakkan namanya seperti gemuruh perang, tanda bahwa nama itu menunjukkan jati dirinya yang wajib ditakuti semua orang.
Dreyfus Bephidza.. apakah nama belakangnya merupakan identitas dirinya? atau nama itu merupakan milik keluarga tersohor di kota ini? Apa hubungan nama itu, dengan kemampuannya, yang membuat dia kebal saat diserang.
"Kau tidak tanya soal Dreyfus? Karena kalau soal pedang yang dapat berubah itu, aku tidak tahu," ujar Amicia, yang ternyata berjalan di belakangku, padahal aku tadi sempat melihatnya berbelok di depanku.
"Bukannya tadi kau tidak naik tangga?" kataku kesal. "Atau kau hanya ingin menceramahiku?"
"Tentu tidak dong," sahutnya riang. Amicia melangkah cepat, dan sekarang cewek itu berada disebelahku. "Aku hanya ingin berbincang santai denganmu."
Lagi, selera humor Amicia yang aneh mulai kambuh. Aku berharap ada cowok lain yang bisa menggantikan posisiku, karena aku sudah cukup lelah dengan sikap sok mesranya padaku jika kami sedang berdua.
Aku tidak membencinya, Amicia adalah sahabat terbaik yang bisa kuandalkan selain Orion. Tetapi sejak awal kami adalah sahabat, tidak bisa lebih. Bahkan dengan wajah cantiknya, dan semua kelebihannya, dia akan tetap menjadi sahabatku.
Bagiku, dia tetap anak berusia tujuh tahun yang belajar menjadi pencuri besar bersamaku. Dia adalah gadis menyebalkan dan sedikit mengerikan, begitulah aku ingin mengenal Amicia. Aku tidak bisa membayangkan cewek ini menjadi sesuatu yang lain.
"Lass, kau sungguh tidak penasaran soal Dreyfus Bephidza?" Amicia mengulangi pertanyaannya.
"Apakah ada banyak orang seperti dia?" akhirnya aku mengajukan pertanyaan, "Atau kekuatannya adalah sebuah kekuatan yang melambangkan bahwa dia bagian dari ras tertentu?"
"Aku tidak tahu secara detail," jawab Amicia, kedua matanya tetap memandang lurus ke lorong yang ada di depan kami. "Yang kutahu adalah orang itu memiliki darah setengah kurcaci, dan setengah manusia tak bernyawa, mungkin keduanya bisa dibilang ras."
Kurcaci? Jadi orang yang menjadi lawan kami tadi adalah setengah kurcaci? Kupikir makhluk seperti itu sudah menjadi legenda, karena menurut cerita ayahku, mereka adalah kaum yang menggali gunung atau masuk kedalam hutan dan tidak hidup berdampingan dengan manusia lagi.
Teryata Dreyfus adalah setengah kurcaci, fakta itu menjelaskan tinggi badan maupun wajahnya yang aneh. Ayahku juga bercerita bahwa kaum kurcaci memiliki tinggi badan yang lebih rendah daripada manusia.
"Aku sempat bertanya ke beberapa orang soal Bephidza, karena setiap kali marah, maka Dreyfus akan menyebut nama belakangnya dengan sangat bangga," sahut suara dari kamar di sebelah kami, yang ternyata berasal dari mulut Yared.
Dia sedang membuka laci meja satu persatu, meskipun aku tidak mau tahu akan barang apa yang dia incar di rumah Dreyfus. Karena sampai saat ini, aku dan Amicia belum menggeledah satu pun benda di rumah ini.
"Aku bahkan tidak yakin apakah anugrahku akan tetap aktif, hingga Dreyfus sampai ke ujung paling selatan Ueter," ujar Yared datar. "Ras Bephidza terkenal karena kekebalan mereka akan sihir."
Aku tidak dapat membedakan jenis-jenis kekuatan sihir. Bagiku, anugerah yang dimiliki Yared, memiliki sifat magis yang sangat kuat, sehingga sulit untuk melepaskan diri.
Aku dan Amicia pernah merasakannya sekali, jadi kami tahu rasanya, bahkan Yared terlihat sangat santai saat menggunakan anugerahnya kepada kami. Yared tidak siaga sedikit pun, dikala kami sudah terkena efek dari anugerahnya.
Namun, sekarang dia mengatakan secara gamblang kalau kekuatannya mungkin tetap tidak bisa membendung Dreyfus. Jika memang itu yang terjadi, maka cowok menyebalkan itu memang sungguh memiliki kekuatan yang besar.
"Jadi dia sekuat itu...," gumam Amicia, "Ah Yared, apakah kau tahu arti nama belakangnya?"
"Bephidza adalah nama manusia tak bernyawa yang pertama," Yared menjelaskan, namun mata dan tangannya masih sibuk menggeledah isi setiap laci di ruangan tempat dia berada.
"Karena Bephidza adalah pendirinya, maka nama ras itu disebut Bephidza. Mereka adalah sekumpulan makhluk yang mirip seperti manusia, namun mereka tidak memiliki perasaan, apalagi nyawa. Jadi, hidup mereka hanya untuk mencari kesenangan," imbuh Yared.
"Maksudmu dia menimbun kekayaan dan berhasil membangun rumah ini hanya untuk kesenangan?" sergahku.
"Mungkin begitu, aku juga tidak yakin dia membangun rumah ini," ujar Yared sambil mengangkat alisnya, lalu memandang ke seluruh ke sekeliling ruangan itu. "Aku pernah ke tempat ini sekitar empat tahun lalu, dan rumah ini sudah berdiri, namun pemilik rumah ini bukan Dreyfus."
"Tunggu, apa kau berpikir kalau Dreyfus adalahorang yang membunuh pemilik rumah sebelumnya?" tebak Amicia.
Pertanyaan itu membuat Yared beralih ke Amicia. Kali ini, Yared mengangkat kedua bahunya. "Mungkin begitu, aku merasa seorang ras Bephidza, tidak akan merasa puas hanya dengan bisnis penitipan."
Badanku mulai menggigil mendengar fakta itu, jika ternyata Dreyfus membunuh pemilik rumah ini, dan dialah yang menyebarkan teror di desa ini, bahkan yang paling buruk hingga memeras penduduk desa ini, maka desa ini benar-benar patut dikasihani.
Mendengar Yared menyodorkan kemungkinan bahwa Dreyfus bisa jadi turut andil sebagai penyebab suasana di desa ini berubah, seperti terakhir kali Normen, maupun Amicia berkunjung ke tempat ini.
Kami bertiga akhirnya memutuskan untuk kembali berpencar, pembicaraan singkat mengenai Dreyfus. Yared mengajukan diri terlebih dahuku, karena dia ingin memeriksa deretan kamar di lantai ini lebih teliti lagi.
Amicia naik satu tingkat lagi ke loteng di lantai tiga, dan aku kembali turun ke lantai dasar. Setidaknya, kami harus menemukan sesuatu yang berguna untuk perjalanan kami.
Lantai dasar rumah ini memiliki tiga ruangan lain, selain ruang tamu yang kami jadikan arena bertarung. Tiga ruangan itu adalah dapur, satu kamar tidur dan kamar mandi. Ketiga ruangan lain itu pun sama besarnya dengan ruang tamu, aku sangat kagum dengan kemegahan rumah ini.
Hari ini terjadi banyak kejadian tak terduga. Selain Dreyfus yang ternyata memang tidak memiliki nyawa, ada juga Yared yang selama ini bersembunyi di kantong Amicia tanpa sepengetahuanku (Apakah Orion tahu?).
Meskipun sudah kesekian kalinya, namun aku tetap kecewa saat Amicia menyembunyikan sesuatu dariku.
Aku mencoba mengingat alasan Yared ikut dengan kami saat berada di Donuemont, kalau tidak salah, dia ingin bertemu Normen Harv.
Tetapi Yared tidak mengatakan apapun saat tadi mereka berdua sudah bertemu, hingga akhirnya Normen keluar untuk mencari informasi dari warga desa. Apakah Yared ingin berbicara empat mata dengan Normen?
Lagi-lagi aku terlalu memikirkan orang lain. Sekarang wargaku sudah diculik selama sekitar tiga hari, dan waktu masih terus berjalan. Perkiraanku, beberapa jam lagi sudah larut malam. Aku berharap mereka masih bertahan.
Menyusuri rumah megah itu menimbulkan perasaan yang campur aduk, terlebih karena kecurigaan kami bahwa Dreyfus sudah membunuh pemilik asli rumah ini.
Aku menarik diriku untuk masuk ke kamar tidur satu-satunya di lantai ini, karena menurutku pasti tidak ada apa pun, di dapur maupun kamar mandi.
Kamar ini hanya sedikit lebih kecil daripada kamar tempatku mencuri Oborotni di rumah Normen. Mengingat kejadian itu, membuatku ingin mencoba mengubah bentuk pedang dipunggungku ini persis seperti yang dilakukan Normen di ruang tamu tadi.
Tetapi aku menekan diriku untuk tidak melakukan hal-hal tak berguna karena waktu yang sempit. Aku akan berlatih dengan pedang ini saat memiliki banyak waktu luang.
Aku mulai mencari dengan teliti ke setiap sudut kamar. Membuka laci meja kecil, lemari pakaian, lemari senjata, hingga bawah ranjang. Tetapi, tidak ada barang aneh maupun senjata yang bisa digunakan. Akhirnya aku memutuskan untuk keluar dari ruangan itu.
Saat aku sedang menimbang untuk lanjut mencari di lantai ini, atau membantu yang lain, tiba-tiba sesuatu mengagetkanku. Normen Harv menerjang masuk dengan terengah-engah dengan peluh yang menetes di wajahnya, dia terlihat seperti dikejar oleh segerombolan binatang buas.
"Panggil mereka semua! Kita pergi dari sini sekarang!" Dia berteriak sembari mengatur napasnya, lalu setelah napasnya sudah mulai kembali stabil, pria tua itu kembali berteriak, "Cepat! tidak ada waktu lagi!"
Aku langsung menaiki tangga dengan cepat tanpa pikir panjang, situasinya pasti sangat berbahaya hingga Normen berteriak seperti itu. Dan akhirnya aku mengetahui apa yang ditakutkan Normen saat melihat api besar dari jendela di ujung tangga secara sekilas.
Rasa penasaranku lebih besar, aku menengok ke jendela itu dan aku mengerti alasan Normen sangat takut.
Tujuh orang berbaris di gerbang desa, lima dari mereka memegang pedang, sedangkan dua sisanya terus memanahkan busur api ke tengah desa. Beberapa kali mereka terlihat berdiskusi dengan orang yang berdiri di paling tengah, sehingga aku menyimpulkan orang di tengah adalah pemimpin.
Aku memincingkan mataku, berharap melihat lebih jelas wajah orang ditengah. Mata yang kelewat bulat, hidung yang terlalu besar, wajah bulat dan tubuh pendek.
Sial! Dreyfus Bephidza sudah kembali, dan dia membawa enam orang temannya kali ini.