Ada banyak sekali orang yang menyebalkan, yang membuatku ingin memukul wajahnya barang satu atau dua kali.
Suatu ketika, Solastra Wornd pernah membuat emosiku tersulut, karena dia melakukan sesuatu yang sangat bodoh. Hal tersebut adalah membiarkan Amicia keluar dari Rebeliand dengan menunggangi Orion.
Saat itu pos utara hampir menjadi arena bertarung antara aku dan Solastra, hanya karena dia menganggap enteng saat Amicia membawa kudaku pergi.
Selain itu, ada juga kejadian saat aku pergi dengan Orion ke Laut selatan. Seseorang yang kemungkinan besar adalah nelayan setempat, dengan tanpa permisi mengayunkan dayungnya ke kepalaku.
Bersama kepalaku yang cukup sakit, aku menahan diri agar tidak langsung menyerangnya, namun jawaban orang itu membuatku kesal setengah mati.
Dia menganggapku seorang monster yang menyamar, karena selama hidupnya, dia tidak pernah melihat seorang manusia dengan rambut berwarna putih. Kesimpulannya, banyak orang menyebalkan yang tersebar di seluruh penjuru Adon.
Dari sekian banyak orang yang menyebalkan itu, orang bernama Dreyfus yang ada di depanku ini, langsung berada di puncak daftar orang-orang yang menyebalkan bagiku.
Sikap dan karakternya yang membuat emosi siapa pun akan tersulut, tidak ada yang dapat menandingi.
Aku berdiri dari kursiku, lalu menegaskan, "Pedang ini tidak akan pernah masuk da—"
"Oke pedang itu akan jadi milikmu," Amicia memotong kalimatku. "Tetapi sebelumnya, kembalikan barang milikku."
"Kau gila!" bentakku pada Amicia, namun cewek itu hanya memandang lekat kedua mataku.
Caranya memandangku membuatku akhirnya dapat perlahan menenangkan diri. Amicia bukan orang bodoh, dia pasti punya rencana, selain itu, aku juga tidak mau bertengkar dengan Amicia di depan orang aneh ini.
Menunjukkan kelamahan kami di depan Dreyfus, bisa jadi malah mengakibatkan hal yang buruk bagi kami. Sebisa mungkin, aku dan Amicia harus tetap tampak di pihak yang sama.
"Kau tidak merencanakan sesuatu yang bodoh kan, Amicia Ekkehard?" Dreyfus mengangkat alisnya. Sepertinya, dia juga tidak percaya kalau Amicia akan langsung setuju dengan syarat yang dia berikan.
"Berikan barangku, dan kau akan dapat pedang ini," ulang Amicia dengan tegas. Cewek itu mengambil Oborotni, benda yang diinginkan Dreyfus dari punggungku. "Kita akan bertukar saat aku melihat barangku."
Amicia terdengar sangat protektif dengan barang yang dia titipkan kepada Dreyfus, lalu apa alasannya menitipkan barang penting itu kepada pria yang menyebalkan seperti Dreyfus?
Bahkan Amicia rela menukar pedang sehebat Oborotni, yang merupakan barang taruhan kami dengan Normen, hanya untuk barang yang dia titipkan kepada orang ini. Barang apa yang lebih penting daripada pedang sehebat Oborotni?
"Barang itu selalu kubawa," Dreyfus mengeluarkan kotak kecil dari saku celananya, lalu dia menggoyangkan kotak itu di depan kami. "Lihat? Aku tidak pernah membiarkan barang berbahaya ini jauh dariku."
Selama beberapa saat, kedua mata Amicia mengamati kotak itu dengan seksama. Mungkin dia memastikan jika kotak yang dipegang Dreyfus, memang benar-benar barang yang dia titipkan enam bulan lalu.
"Kau sungguh akan menukar pedang dengan kotak itu?" bisikku di telinga Amicia. Entah seberapa penting benda itu bagi Amicia, namun menurutku bantuan Normen lebih penting daripada isi dari kotak itu.
Jawaban Amicia atas pertanyaanku adalah mengangguk tanpa melepaskan pandangannya, dari kotak di tangan Dreyfus. Cewek ini sudah menjadi Amicia yang tidak ingin didebat oleh siapa pun.
"Kalian merencanakan sesuatu?" tanya Dreyfus curiga, karena bisikan mendadakku ke telinga Amicia. "Kalau kalian melakukan hal bodoh, maka kupastikan isi kotak ini akan kuhancurkan tepat di depan kalian.
Ancaman Dreyfus tidak membuat Amicia gentar atau terintimidasi, dia tetap memfokuskan dirinya ke kotak itu. Namun, genggamannya terhadal Oborotni semakin rapat, dia pasti sedang merencakan sesuatu diotaknya.
Melihat Amicia memutar otak membuatku juga tidak ingin tinggal diam. Aku harus mencari cara agar dua benda itu tetap kami miliki, dan secepatnya kabur dari tempat ini.
Amicia memang memiliki kebiasaan buruk seperti ini, yaitu melakukan sesuatu di luar rencana yang sudah dibuat. Mengenalnya selama hampir delapan tahun, tidak membuatku terbiasa dengan kebiasaannya itu.
Mungkin, cewek itu memang sangat susah untuk mempercayai siapa pun. Sehingga, dia selalu memiliki rahasia, di dalam rahasia lain. Untuk dapat mengerti Amicia, dibutuhkan waktu yang sangat lama.
Tatapa Amicia yang tajam, tidak membuat Dreyfus takut, meskipun sudah jelas bahwa dia kalah jumlah. Apakah dia menyembunyikan sesuatu?
Sikap Dreyfus yang tenang cukup mengganggu pikiranku. Jangan bilang, kalau orang ini juga adalah seorang penyihir, atau si wajah bulat ini malah memiliki kemampuan yang membuat dia menjadi pembeda dalam pertarungan?
Ada berbagai macam rencana yang muncul di otakku, namun tidak ada satu rencana pun yang berani untuk kulakukan. Alasan utamanya adalah karena Dreyfus belum menunjukkan kekuatan aslinya.
Sebagian besar dari diriku berharap kalau Dreyfus hanya seorang manusia biasa, tanpa kekuatan menakutkan seperti Yared, Normen, maupun Knox. Namun, aku tahu kalau harapan tersebut hanya harapan kosong.
Selagi aku sedang bergelut dengan pikiranku sendiri, sesuatu atau seseorang seperti mendekat ke arahku dengan kecepatan tinggi. Masalahnya, tidak ada siapa pun yang ada di dekatku.
"Beri aku jalan, agar bisa memakai pedang itu," sebuah suara bersama angin berdesir masuk ke telingaku. Apakah aku sudah menjadi gila, karena terlalu pesimis untuk melawan Dreyfus?
Suara itu kembali berbisik lirih ke telingaku, "Ini saya, jadi tolong buat sebuah pengalih perhatian untuk orang ini."
Tunggu, sepertinya aku mengenal suara ini. Suara tegas yang anehnya terdengar ramah, suara ini adalah suara khas orang tua. Benar, ini suara Normen! Dia pasti ada di sebelahku dalam wujud udara kosong.
Aku berusaha menenangkan diri agar dapat berpikir jernih, lalu kakiku mulai perlahan mundur sedikit dari tempatku sebelumnya. Rencana yang dibisikkan Normen membuatku sedikit mengerti cara kerja sihirnya.
Sihir Normen bukan merubah wujudnya menjadi udara, melainkan menjadi tidak terlihat, jadi dia masih bisa terluka jika seseorang melukainya tepat di posisinya sekarang.
Karena itulah dia memintaku memberi jalan untuknya, agar bisa memakai Oborotni yang saat ini berada di tangan Amicia. Melawan Dreyfus yang misterius, dengan pedang yang memiliki kekuatan, adalah rencana yang bagus.
Meskipun ada kemungkinan kalau Normen akan kabur membawa Oborotni, namun aku tidak memiliki pilihan lain saat ini.
Satu-satunya cara mengalahkan Dreyfus adalah mengeluarkan potensi terbaik dari Oborotni, dan yang dapat melakukannya hanya Normen.
"Kita letakkan dua benda yang akan kita tukarkan, bersamaan diatas meja," usul Dreyfus, di wajahnya terdapat senyum licik.
"Asal kau tahu, jika kau mencoba membodohiku, maka trikmu malah akan membuatmu terbunuh hari ini, Nona Amicia."
Amicia mengangguk pelan, dia setuju dengan usulan Dreyfus. Perlahan keduanya mulai meletakkan benda di tangan masing-masing ke atas meja di depan kami. Dreyfus memiliki ekspresi sangat tenang sedangkan raut wajah Amicia sangat waspada.
"Ah, sepertinya kalian mengundang teman yang mengganggu," ujar Dreyfus selagi jarak tangannya yang memegang kotak, berhenti sangat dekat dengan meja.
Amicia memandangku meminta penjelasan, namun aku hanya bisa mengangkat kedua bahuku untuk tutup mulut. Semoga Normen sudah berada dekat dengan pedang itu sekarang.
Kejadian selanjutnya sangat tidak terduga, Oborotni yang tersarung dalam genggaman Amicia mendadak melayang keluar. Selanjutnya, perlahan Normen muncul dari udara kosong dengan pedang miliknya yang sudah berada dalam genggamannya.
Di tangan Normen, pedang itu menunjukkan kekuatan aslinya, kekuatan yang membuat Normen sampai membantu kami. Ternyata kekuatan pedang ini memang sesuai deskripsi Normen, Oborotni adalah sebuah gudang senjata.
Pedang yang kucuri itu berubah menjadi sebuah tombak panjang di tangan Normen, dan secepat kilat, pria tua itu langsung menusuk d**a si wajah bulat, tempat jantungnya berada, sebelum dia sempat menghindar.
Serangan Normen pasti mematikan untuk manusia biasa, tetapi akhirnya kewaspadaan Amicia yang tidak membuka pertarungan melawan Dreyfus, sekaligus keraguanku untuk memulai pertarungan dengan orang aneh ini terjawab.
Dengan tombak yang tertusuk tepat di jantungnya, malah membuat Dreyfus tertawa keras. Tidak ada ekspresi ketakutan yang tampak di wajahnya, malahan dia terlihat sangat bersenang-senang, di situasi yang tidak menguntungkan baginya.
"Kau tidak tahu siapa aku?" cemooh Dreyfus, senyum di wajahnya semakin liar. Orang itu mencabut tombak Normen yang menancap di dadanya, sambil meraung, "Aku adalah Dreyfus Bephidza."
Normen kembali menyiagakan tombaknya, meskipun serangannya di patahkan dengan mudah, tetapi kepala pengawal Raja Donater ini tidak menunjukkan ekspresi terkejut dari wajahnya.
Selain dapat melakukan sihir, Normen juga merupakan petarung yang tenang. Dia adalah tipe orang yang membaca situasi dengan perhitungan tepat, untuk dapat menang dalam sebuah pertarungan.
"Amicia Ekkehard! Terakhir kali sudah kuingatkan, namun ini balasanmu?" raung Dreyfus sambil memandang penuh amarah ke Amicia.
Sedangkan orang yang dia teriaki itu malah mencabut pedang bermata duanya, dari belakang punggungnya.
"Kau terlalu sombong Dreyfus," sergah Amicia, dia menyiagakan pedang kesayangannya, yang juga sangat mematikan di tangannya. "Kali ini aku benar-benar akan membunuhmu."
Melihat situasi yang suram membuatku mau tidak mau mencabut dua pisau kembarku.
Kami sudah kelelahan setelah membantai prajurit kerajaan Donater di rumah Normen tadi pagi, dan sekarang kami harus bertarung dengan orang gila yang malah tertawa saat jantungnya ditusuk.
"Master Lass hadang belakangnya! Jaga dia agar tidak kabur!" perintah Normen, lalu dia beralih ke Amicia. "Nona Amicia tahan dia dari depan!"
"Pak Tua, orang ini adalah keturunan ras tak bernyawa dan kurcaci, sehingga butuh strategi matang untuk membunuhnya," jelas Amicia, sambil mulai bergerak sesuai perintah Normen.
Sekali lagi, Amicia merahasiakan sebuah informasi sepenting identitas Dreyfus kepadaku. Andai saja dia mengatakan hal tersebut, mungkin aku tidak akan menyetujui permintaannya untuk bertemu orang ini.
"Benar sekali pak tua, kau butuh strategi untuk membunuhku," ejek Dreyfus diiringi dengan tawa keras. Orang gila berwajah bulat ini terlihat sangat menikmati dikepung oleh kami bertiga.
"Selain itu, aku tidak akan kabur, jadi tidak perlu repot menjaga rute pelarianku," ujarnya sambil melirik ke arahku. "Malah sebaliknya, aku berjanji akan membantai kalian."
Dreyfus yang hanya sendirian, langsung menerjang Amicia yang berdiri paling dekat dengannya. Orang gila itu benar-benar tidak memiliki rasa takut, dia menyerang Amicia dengan tangan kosong sambil tertawa.
Berbeda denganku yang hanya mahir menggunakan dua pisau kembar, Amicia adalah cewek yang sanggup menggunakan pedang, tombak, pisau dan busur panah sama baiknya.
Dreyfus yang tidak tahu soal itu, malah dengan bodohnya menyerang putri tunggal Ekkehard.
Serangan Dreyfus dapat dihindari oleh Amicia, lalu sahabatku itu mulai menyerang si wajah bulat dengan pedangnya.
Namun, setiap serangan Amicia tidak ada gunanya, karena setiap sayatan ke tubuh Dreyfus seolah tidak dapat membuat si wajah bulat merasa kesakitan.
Tidak cukup hanya menyerang Amicia, Dreyfus mulai menyerang Normen dan aku dengan membabi buta. Gerakan bertarungnya sangat liar seperti binatang buas, namun kami bertiga tidak dapat menembus pertahanannya.
Orang ini sungguh kuat, karena dia berhasil membuat masing-masing dari kami terpojok. Bahkan sekilas, aku dapat melihat dari sudut mataku, bahwa Normen mengganti senjatanya beberapa kali, dan hasilnya sama saja. Tidak satu pun serangannya berhasil melukai Dreyfus.
Dreyfus menyerang kami bergantian, namun tidak pernah kehilangan momentum untuk melepaskan beberapa pukulan, atau tendangan ke tubuh kami. Dia berada di atas angin, meskipun dia sedang melawan tiga petarung yang hebat.
Jika semua senjata kami tidak mempan sama sekali untuk menyerang tubuh Dreyfus. Maka kemungkinan besar, andai pertarungan ini berlanjut, maka kemenangan sudah pasti ada di pihak si wajah bulat ini.
"Hanya ini saja kemampuan kalian!" teriak Dreyfus, matanya berkilat tajam. "Bagaimana kalau salah satu dari kalian kuambil nyawanya, untuk meningkatkan semangat kalian?"
Orang gila itu melompat ke Normen lalu melepaskan tendangan ke perut pria tua itu, dia memanfaatkan momentum itu untuk menerjang Amicia.
Dia membuat gadis itu terlempar cukup jauh, sebelum akhirnya berlari ke arahku dan melepaskan sebuah pukulan menyakitkan di tulang rusukku.
"Sudah kuputuskan, aku akan membunuh si lemah ini terlebih dahulu," desis Dreyfus yang sekarang duduk di atasku, dia mengunci kedua tangan maupun kakiku dengan mudah.
Ternyata beginilah akhir riwayatku, bahwa aku dibunuh oleh ras setengah kurcaci, dan setengah makhluk aneh yang bahkan tidak terluka saat kami bertiga menerjangnya tanpa ampun.
Mungkin mimpi untuk menyelamatkan warga Rebeliand, adalah sebuah keinginan yang terlalu tinggi.
Aku sudah pasrah, namun Dreyfus yang menggila, tiba-tiba menjadi hening. Tangan orang gila itu sudah mengepalkan tinju dan bersiap menghabisiku, tetapi tangannya berhenti di udara.
Dia mematung dan wajahnya... untuk kali pertama aku melihat raut wajah Dreyfus yang ketakutan.
"Apa ini!?" Dreyfus memaksakan diri untuk berbicara. "Kalian semua tidak memiliki kemampuan sihir, kenapa badanku tidak bisa digerakkan?"
"Kau memang kuat Dreyfus," Amicia berdiri perlahan, sebagian besar tubuhnya sudah dihiasi memar, pelipis cewek itu berdarah, namun di bibirnya terdapat senyum kemenangan.
"Tetapi kami memiliki orang dengan kekuatan paling mematikan, saat dalam keadaan terancam," imbuhnya.
Orang paling mematikan saat dalam keadaan terancam? Jika tebakanku benar, maka si culun itu sudah berhasil mengejar kami sampai kesini.
Amicia merogoh sakunya dan dia mengeluarkan seekor kadal berwarna biru, ekor kadal itu putus.
Ternyata kadal tersebut bukan kadal biasa, binatang itu perlahan membesar hingga akhirnya berubah menjadi orang yang kukenal. Yared si pemuda kunci.
"Hai Master Lass," sapa Yared ramah, lalu pandangan matanya beralih ke Dreyfus
Dia berkata pelan kepada orang gila itu, "Larilah ke selatan dan jangan pernah berhenti sampai kau sembuh dari kesombonganmu!"
"Kau gila! Tidak mung—"
Ucapan Dreyfus terhenti saat kakinya seolah seperti memiliki otak sendiri, dan dia mulai berdiri dari atasku lalu melangkah ke arah pintu keluar rumahnya.
"Kau tidak bisa melakukan ini padaku! Tuan tolong lepaskan sihirmu!" rengek Dreyfus, namun kakinya terus melangkah menjauh dari kami.
Yared tidak bergeming dengan rintihan Dreyfus, si culun itu hanya menatap Dreyfus yang perlahan menambah kecepatannya, hingga hilang dari pandangan kami.