Aku teringat cerita ayahku tentang perlombaan lari antara kelinci dan kura-kura. Seharusnya, kelinci dapat menang dengan mudah, namun karena kesombongannya, dia malah tertidur di tengah perlombaan.
Hasilnya, kura-kura yang sangat gigih menjadi pemenangnya. Saat itu, ayahku mengatakan bahwa di kehidupan nyata, jangan pernah meremehkan siapa pun lawanmu.
Selalu lakukan yang terbaik, karena kemampuan bukan yang faktor utama untuk memenangkan pertandingan, melainkan usahamu yang terbaik.
Hari ini, kami hampir saja kalah, karena menganggap remeh Anyx, si serigala bermuka seram. Seharusnya aku tidak layak menganggap remeh sang serigala, terlebih dengan Normen yang menungganginya.
"Serigala itu bukan main cepatnya!" gerutu Orion dengan suara yang sangat keras untuk mengatasi deru angin. "Tetapi dia tetap bukan tandinganku, aku Orion, pelayan Cyprian yang agung!"
Aku tidak menanggapi kesombongan Orion yang tumpah ruah, menepuk punggungnya adalah hal paling logis yang bisa kulakukan sekarang. Sebuah tepukan yang berarti percepat-lari-dan-tutup-mulutmu.
Amicia yang duduk di belakangku juga tidak mengucapkan sepatah kata pun saat mengetahui kalau Normen sudah tidak jauh dibelakang kami, dia setuju kalau sekarang sudah bukan saatnya bersantai.
Tepukanku di leher sang kuda terbukti manjur, Orion langsung mempercepat larinya seperti diawal perlombaan, bahkan lebih cepat dari sebelumnya.
Kesombongan Orion memang berbanding lurus dengan kemampuannya, jadi mau tidak mau kami yang dipunggungnya hanya berusaha bertahan untuk tidak terjatuh.
Orion dalam fase kecepatan penuh, adalah hewan yang tak terkajar oleh makhluk apa pun. Aku yang berada di punggungnya sudah tidak dapat melihat sekitarku, karena yang terlihat hanya garis dengan berbagai warna.
Kecepatan si kuda abadi sudah membuat lingkuangan di sekitar kami gagal menunjukkan wujudnya.
"Sebentar lagi kita sampai di Arnmeny!" Orion mengumumkan. Matanya masih menatap lurus kedepan "Kita bisa menyelesaikan perlombaan pertama hanya dalam waktu dua jam, alih-alih dua hari!"
Aku tidak pernah pergi sejauh ini, hingga ke Arnmeny, tapi mengingat Normen mengatakan bahwa waktu normal yang dibutuhkan untuk sampai ke Arnmeny dari Donuemont adalah 2 hari maka aku percaya saja.
Namun, sekarang Orion menyelesaikan jarak tempuh itu hanya dalam waktu 2 jam, entah aku harus bereaksi apa kali ini. Sepertinya aku harus mulai membiasakan diri untuk melihat hal-hal menakjubkan yang dilakukan Orion.
Sejak kuda ini membuka identitas aslinya padaku, maka Orion sudah tidak pernah menahan untuk menyembunyikan kekuatannya. Benar, aku harus mulai membiasakan diri dengan Orion si kuda abadi.
"Itu Arnmeny, kita sampai!" Orion kembali berteriak, lalu perlahan dia menurunkan kecepatan, hingga akhirnya kami berhenti di depan desa kecil yang asri itu dengan selamat.
Aku dan Amicia turun dari punggung Orion, lalu kami mulai mengamati keadaan desa Arnmeny. Mungkin bagi Amicia, sekarang adalah kunjungan kesekian kalinya ke desa ini, namun bagiku adalah pertama kalinya.
Arnmeny memiliki tampilan luar yang kurang lebih sama seperti desaku. Sebuah pos penjagaa untuk memeriksa tamu yang akan masuk, rumah-rumah besar dengan bahan kayu, dan padang rumput yang mengapit desa ini.
Hanya saja suasana desa ini tampak lebih suram. Siang hari di Rebeliand penuh dengan tawa dan keceriaan, sedangkan desa ini tampak sepi. Ada perasaan yang kukenali muncul dari desa ini.
"Mereka sedang ketakutan akan sesuatu," kata Amicia, yang anehnya sesuai dengan pikiranku.
"Biasanya ada banyak orang di depan sini untuk menawarkan penginapan, atau minuman dari bisnis mereka masing-masing," Amicia mulai menjelaskan.
"Namun, sekarang mereka tetap di dalam rumah masing-masing, meskipun tahu ada dua orang asing di pintu masuk desa mereka," sambungnya.
"Apa para tentara perak itu melewati desa ini?" gumam Orion.
Pemikiran Orion membuatku bergidik, aku membayangkan orang-orang desaku diangkat secara paksa melewati banyak desa dan menjadi tontonan banyak orang.
Jika benar tebakan Orion yang terjadi, maka suasana suram di desa ini sangat bisa dimaklumi. Melihat hampir seratus orang diculik, bukan sebuah pemandangan yang akan membuatmu mimpi indah pada malam harinya.
Terlebih, pemandangan mengerikan itu dapat dengan mudah mengubah desa yang awalnya penuh semangat, menjadi desa yang sangat suram seperti Arnmeny.
"Daripada membuat dugaan yang malah membuat semakin cemas, lebih baik kita masuk ke desa ini," usul Amicia.
Aku tahu kalau cewek itu juga cemas hanya dari sorot matanya, namun dia mencoba terlihat kuat, dengan berkata, "Semoga orang yang akan kutemui masih tinggal disini."
"Bagaimana dengan Normen?" tanyaku. "Menurutku, setidaknya kita harus menunggu Normen di gerbang masuk desa, untuk bersama masuk ke dalam desa ini."
"Orion bisa diandalkan," tegas Amicia singkat. Cewek iblis itu memandang Orion tajam, hingga akhirnya si kuda abadi yang menundukkan moncongnya lebih dahulu.
Setelah mengalahkan Orion dalam pertandingan tatap mata, Amicia mengalihkan pandangannya padaku. "Kau dan aku akan berkencan di sepanjang jalan desa ini," ujarnya sambil menunjukku.
Putri Ekkehard mulai membuat lelucon gila lagi, yang cukup untuk membuat tubuhku menggeliat. Membayangkan berkencan dengan gadis seperti Amicia adalah sebuah mimpi buruk di siang bolong, tetapi membantahnya juga hanya membuang waktu.
Ocehannya akan berhenti jika aku dengan segala kerendahan hati, cukup berjalan di sebelahnya sambil diam tanpa kata. Amicia adalah tipe orang yang ingin kemauannya terpenuhi.
Setelah mengelus kepala sahabatku, yaitu Orion, aku mulai mengikuti Amicia yang sudah melenggang ke dalam desa. Cewek itu memang tidak memiliki rasa takut sedikit pun.
Menyusuri jalan desa Arnmeny membangkitkan kenangan indah tentang Rebeliand. Rumah, jalan, barisan toko roti, penginapan, dan kandang kuda di desa ini sangat mirip dengan Rebeliand.
Aku hampir bisa melihat orang-orang Rebeliand menyapaku di jalan utama desa ini, tempat ini membuatku semakin rindu warga Rebeliand.
Aku melirik Amicia yang berjalan di kiriku, dia juga hanya diam. Meskipun Amicia lebih banyak menghabiskan waktu di luar Rebeliand, namun dia tetap warga Rebeliand.
Ekspresi cewek itu sudah membuatku mengeri bahwa dia juga merindukan rumah, sahabat-sahabat, dan keluarganya ada di Rebeliand, bukan hal aneh jika dia juga rindu dengan desanya.
Kami menyusuri jalan desa Arnmeny dalam keheningan, hingga akhirnya kami tiba di pusat desa. Aku menganggap begitu, karena rumah-rumah dideretan ini memiliki ukuran yang lebih besar daripada deretan rumah yang sudah kami lewati.
Jajaran rumah di daerah pusat ini memiliki ukuran yang kira-kira sama dengan rumah keluarga Ekkehard, namun rumah besar disini lebih megah daripada di desa kami.
Jika di Rebeliand semua rumah memakai kayu yang langsung dibeli dari Donuemont, namun di desa ini rumah besar dibangun dengan batu. Jadi rumah besar dipusat desa ini terlihat sangat megah.
Batu yang menjadi bahan dasar dari rumah-rumah di pusat desa Arnmeny, adalah bebatuan berwarna putih yang mengkilap, namun ada juga yang membangun rumah mereka dengan bahan dasar batu hitam, yang tak kalah mengkilapnya dengan batu putih.
"Pirus dan Obsidian, danau di balik desa ini menghasilkan kedua batu itu," bisik Amicia padaku.
Sekali lagi, dua buah nama asing harus kujejalkan masuk ke otakku. Kekesalanku kepada Amicia karena dia tahu banyak hal, berubah menjadi rasa kagum, saat dia baru saja memperlihatkan pengetahuannya soal bebatuan.
Aku lumayan bersyukur dengan diriku, karena aku tidak dikutuk oleh pengetahuan, seperti Amicia. Cewek ini bahkan tahu nama bebatuan, yang sebenarnya tidak terlalu penting untuk kehidupan nyata.
"Siapkan mentalmu, kita akan bertemu orang yang sangat menyebalkan," ujar Amicia mendadak, setelah itu dia menarikku ke sebuah rumah di kiri jalan.
Rumah yang kami tuju adalah sebuah rumah besar, namun bukan yang terbesar disini. Tetapi soal keindahan, aku harus mengakui kalau rumah ini adalah salah satu yang paling indah dibandingkan rumah lain.
Rumah ini bukan hanya dibangun dengan batu, melainkan batu putih mengkilap yang dihaluskan, lalu di pilar rumah ini dihiasi dengan batu berbagai warna yang juga sama mengkilapnya, sehingga daripada rumah lebih layak disebut kuil.
Terbersit di pikiranku, kalau pemilik rumah ini adalah seseorang dengan jiwa seni yang tinggi. Aku akan belajar untuk membuat rumah pribadiku, dari pemilik rumah ini secara langsung.
Amicia mengetuk pintu rumah besar itu cukup keras, hingga hampir terdengar seakan dia ingin mendobraknya. Peringatan darinya sebelum kami menuju rumah itu tergiang di pikiranku, kira-kira orang seperti apa yang sangat menyebalkan, bahkan bagi Amicia yang juga menyebalkan?
Pintu terbuka setelah Amicia sudah mengetuk selama hampir sepuluh menit. Seorang pria berwajah bulat muncul dari balik pintu rumah itu.
Wajahnya tampak sangat aneh bagiku, dua matanya terlalu bulat, bibirnya terlalu tebal, hidungnya terlalu besar, dan rambutnya berwarna abu-abu perak yang juga terlalu mencolok. Penampilan dirinya tampak sangat berlebihan, sehingga kesan pertamaku tentang orang ini adalah 'orang aneh'.
"Oh ternyata kau si wanita ular," pekiknya. Suara si wajah bulat mirip seperti ringkikan kuda, terlalu kecil untuk seorang pria, namun juga tidak dapat disandingkan dengan suara wanita.
"Hai Dreyfus! Boleh aku masuk?" sapa Amicia dengan mencoba terdengar riang, namun aku mengerti kalau dia sangat terpaksa melakukannya.
Dreyfus si pria berwajah aneh itu mengamatiku dari ujung kaki hingga mata kami bertemu. Dia seperti menimbang sesuatu, hingga akhirnya setelah beberapa menit yang terasa panjang akhirnya Dreyfus tersenyum padaku. Sebuah senyum yang membuat sekujur tubuhku menggigil.
"Silahkan masuk," ujar Dreyfus dengan nada ramah yang terdengar palsu. Kedua tangannya memberi isyarat kepada kamj, agar masuk ke dalam rumahnya.
"Semoga kalian memiliki tawaran yang menarik untukku," ujarnya sambil menutup pintu di belakang kami.
Mendengar soal Dreyfus yang menyebut tawaran, membuatku melirik Amicia, namun cewek itu hanya membalas lirikanku dengan anggukan pelan. Apakah wanita iblis ini kembali menawarkan sesuatu yang aneh tanpa berdiskusi denganku?
Dreyfus membawa kami ke sebuah ruanganx yang tebakanku adalah ruang tamunya, dan mempersilahkan kami duduk di kursi kayu yang sama indahnya dengan tampilan luar rumahnya.
Meskipun aku curiga dengan setiap benda di rumah ini, namun aku tetap duduk di kursi itu karena rasa penasaranku yang lebih besar dari kekhawatiranku. Rasa penasaran untuk menduduki sebuah kursi yang tampak sangat mahal.
"Jadi apa yang kamu mau dariku, Amicia?" tanya Dreyfus di saat aku baru saja mengagumi keindahan kursi miliknya, dan merasakan pantatku baru saja memuja kenyamanan kursi si pemilik rumah. "Dan pertanyaan kedua, apa yang bisa kamu beri padaku, sebagai ganti dari permintaanmu?"
Amicia tidak duduk sepertiku, dia tetap berdiri sehingga posisinya lebih tinggi daripada Dreyfus. Namun, meskipun tinggi badan si pemilik rumah tidak lebih tinggi dari Amicia, si wajah bulat itu tidak terlihat terintimidasi sama sekali. Malahan dia terlampau santai berbicara dengan Amicia.
Baru kali ini, aku melihat seseorang yang tampak santai, namun juga mengerikan di saat bersamaan. Berbeda dengan tatapan Normen yang ramah, tatapan Dreyfus menyiratkan kebencian murni dari setiap lekuk di wajahnya.
"Aku mau barang yang kutitipkan padamu enam bulan lalu," jawab Amicia. "Dan aku sudah membayar untuk menitipkan itu."
"Untuk mengambilnya juga perlu bayaran," ujar Dreyfus dengan tegas. "Barang yang kau titipkan itu sangat berbahaya untuk nyawaku, namun aku masih menjaganya selama enam bulan. Jadi aku masih perlu dibayar bukan?"
Mungkin inilah yang membuat Dreyfus disebut Amicia sangat menyebalkan. Orang ini sangat kaya, jika dilihat dari rumah dan barang kepunyaannya, namun dia selalu ingin dibayar. Seakan, dia sangat mencintai uang lebih dari apa pun.
Aku sangat ingin memukuli si wajah bulat ini, tetapi aku tidak bisa berkata apapun, karena barang yang Amicia titipkan padanya pasti sangat penting, sehingga cewek ini juga terlihat sedang berusaha meredam emosi.
Rasa penasaranku juga sangat meluap, akan identitas barang yang dititipkan Amicia ke orang ini. Kira-kira, barang sepenting apa, yang dititipkan Amicia pada orang selicik dan seserakah Dreyfus?
"Bagaimana kalau aku meminta sesuatu yang kalian punya sekarang?" imbuh Dreyfus. Sorot mata Dreyfus terlihat licik, dan aku merasa ada percikan keserakahan di bola matanya yang tertuju padaku.
Dreyfus menunjukku dengan jari telunjuknya yang pendek. "Aku mau benda yang tersampir di punggung temanmu."
Ternyata Amicia benar, orang ini memang sangat menyebalkan.