Bab 21 - Orion melawan Anyx

1601 Kata
Perlombaan kecepatan lari dari kedua hewan dimulai dengan kecepatan mengagumkan milik Orion. Kudaku tidak butuh waktu yang lama untuk memimpin perlombaan, Orion si kuda abadi sudah membuktikan bahwa dirinya memiliki kelas yang berbeda dengan serigala milik Normen. Normen dan serigala menyeramkannya sudah tidak terlihat karena jauh di belakang, sehingga aku cukup yakin dengan kemenangan Orion. Di saat kemunculan Anyx dan Orion yang hampir bersamaan di dekat gerbang timur, mungkin sebenarnya Orionlah yang menyamakan kecepatannya dengan Anyx. Jika kuda ini benar-benar memperlambat larinya demi terlihat memiliki kecepatan yang sama dengan Anyx, maka Orion adalah subjek yang paling besar andilnya untuk membuat Normen ikut bertaruh dengan Amicia. Fakta lain dari Orion adalah kuda ini tahu kalan waktunya pamer, dan menyimpan kekuatannya. Andai saja dia sudah memamerkan kecepatan larinya lebih tinggi ketimbang Anyx, maka Normen tidak akan bertaruh untuk kalah. Satu lagi, Orion yang biasanya banyak mengoceh, terutama saat dia sudah membuka rahasianya yang itu padaku, sekarang dia tidak mengucapkan satu kata pun. Kuda ini sepertinya sangat ingin memastikan kami menang, sehingga dia hanya fokus memandang ke lintasan larinya. Bukan hanya Orion yang mendadak menjadi pendiam. Amicia yang duduk di belakangku hanya diam saja ditengah hembusan angin yang menerpa kami karena kecepatan Orion. "Bro, Aku yakin kalau serigala itu lebih menyeramkan dari kelihatannya!" teriak Orion mencoba mengatasi deru angin. Lebih menyeramkan dari kelihatannya, bahkan hewan abadi penjaga pulau Adon juga merasakan hawa menyeramkan dari Anyx, si serigala. Namun, Anyx hanya memiliki aura seram, bukan aura ingin membunuh. Aku juga berpikir hal yang sama dengan Orion, menurutku Anyx memang tidak seistimewa Orion yang adalah kuda abadi. Perkiraanku, minimal dia pasti memiliki kemampuan hebat yang menonjol. Normen yang sangat hebat tidak mungkin memilih tunggangan hewan biasa. Apalagi pak tua itu bercerita bahwa tunggangannya dan dia sendiri sudah bersahabat sejak kecil. Jika Anyx tidak memiliki kekuatan pada awalnya, berarti Normen yang mengajarkan sesuatu yang spesial kepada serigalanya. Memikirkan soal Normen dan Anyx yang bersahabat sejak kecil, membuatku penasaran dengan umur Normen Harv. Dia terlihat seperti pria berumur enam puluh tahunan, namun jika hanya melihat kekuatannya, maka dia bisa juga masih berusia di akhir empat puluhan. Ada banyak hal dari diri Normen yang terlampau misterius bagiku, sehingga membuatku penasaran dengan identitas asli pak tua itu. Orang ini pasti adalah sosok penting. Terlepas dengan masalah umur Normen yang masih menjadi misteri, aku juga bersyukur Normen mengubah syarat taruhan menjadi tiga perhentian, alih-alih langsung ke Hutan Hitam. Pos perhentian bagaikan tempat kami menarik nafas panjang yang damai, untuk menyelamatkan warga Rebeliand dan mencoba untuk memiliki Normen sebagai tameng kami. Jika kami berhasil menang taruhan ini, maka tim untuk penyelamatan warga Rebeliand memiliki kekuatan yang besar, karena Normen membela kami. Meskipun aku sangat jengkel karena si culun Yared malah meninggalkan kami dalam pencarian Normen, padahal kekuatan Yared sangat hebat karena bisa menjadi elemen kejutan kepada lawan kami saat dalam keadaan terdesak. Sebenarnya, samar-samar aku merasakan aura Yared yang aneh di sekitarku. Namun, aura aneh itu terasa sangat tipis, seolah si culun itu mengikuti kami dari jauh. Jika memang begitu, maka kekuatan kami semakin lebih besar lagi. "Selain itu, Arnmeny bukan danau yang berbahaya untuk berhenti!" Orion kembali berteriak mengatasi angin. "Tetapi aku sedikit cemas dengan pemilihan desa dan penginapan yang Normen pilih, karena di sekitar danau tersebut ada sekitar lima desa kecil." Aku merasa Arnmeny bukan kata yang asing di telingaku, tetapi aku lupa mendengar kata itu dimana. Mungkin salah satu dari ayah atau ibuku sempat menceritakan itu kepadaku, dan aku tidak mendengar cerita mereka dengan baik. "Aku ingat kalau ayah pernah menceritakan soal Arnmeny kepadaku!" teriak Amicia di belakangku. "Orion bisa pelankan larimu, Menurutku Anyx sudah jauh dibelakang kita!?" Amicia adalah orang yang mengusulkan adu kecepatan dengan Normen, dan sekarang dia malah menyuruh Orion untuk memelankan larinya. Meskipun aku cukup yakin jika Normen dan serigalanya jauh dibelakang kita, tetapi memastikan kemenangan di perhentian pertama akan menjadi awal yang bagus untuk kami. Jika kami memenangkan perlombaan ke perhentian pertama, maka untuk perlombaan selanjutnya akan lebih mudah bagi kami, karena beban untuk kemenangan tidak terlalu besar. Ternyata Orion setuju dengan Amicia, dia memelankan larinya hingga angin yang meniup wajah kami hanya sekedar angin sepoi-sepoi. Jika warga Rebeliand tidak dalam situasi hidup mati sudah pasti aku dan Amicia dianggap sedang kencan romantis. Orion sudah memelankan kecepatannya, hingga aku merasa bahwa kuda ini hampir berjalan. Kecepatannya membuat pemandangan sekitar kami tampak jelas. Orion ternyata mengikuti saran Normen dengan baik, untuk menjauhi jalan utama Donater di timur. Kuda garis miring sahabafku ini, membawa kami mengambil rute yang menembus memasuki hutan di pinggiran sungai Donuemont bagian timur. Orion yang sudah memelankan larinya langsung melontarkan pertanyaan ke Amicia, "Kenapa tiba-tiba memintaku menurunkan kecepatan?" "Aku ingat ayahku pernah mengajarkan sebuah puisi tentang Arnmeny," ujar Amicia. Suara cewek itu bergetar saat menyebut tentang ayahnya. "Mungkin kau tahu puisi ini, karena kata ayahku, hanya orang-orang hebat yang tahu puisi ini." "Puisi soal Arnmeny?" Orion terdengar penasaran, sekaligus antusias. "Mungkin aku tahu, coba senandungkan!" Dari belakangku terdengar tarikan nafas yang dalam dari Amicia, dan ternyata dia melakukan sesuatu yang tidak pernah kusangka akan dilakukan oleh anak seorag pencuri ternama. Amicia menyenandungkan sebuah puisi dengan merdu Ueter nan damai Kegelapan timbul di ufuk timur Matahari sembunyi Awan murka, rembulan layu Sang pemanah patah Gua Penambang semakin hitam Yang mati hilang harapan Xenia bukan lagi nirwana Ulea yang perkasa, dimana Kau? Makhlukmu mati! Ciptaanmu hilang Degeo Lenyap, Arnmeny tangguh Harapan sungguh ada Oh Dia yang ditunggu datang Dia yang berjuang, lumpuh Eruer melawan senandika Yang Benar, juga Yang Agung Mendengar puisi tersebut membuatku ingat akan kenangan indah Rebeliand, padahal isi puisi itu terdengar menyeramkan. Apakah orang-orang tua sering menyenandungkan puisi, atau mungkin puisi ini adalah jawaban akan kenanganku soal Arnmeny? Jika salah satu orang tuaku pernah mengajarku puisi ini, sudah pasti mereka tidak memiliki bakat berpuisi, karena setiap kata yang keluar dari mulut Amicia membuat puisi ini terdengar begitu indah. Orion yang terdiam cukup lama akhirnya membuka mulutnya, "Itu lagu yang diciptakan setelah perang Xenia kedua, orang-orang di Adon banyak yang mungkin sudah melupakannya, karena lagu itu menyimpan memori menyakitkan." Sebuah pertanyaan muncul di otakku, akhirnya keluar dari mulutku, "Perang Xenia? Para penjaga yang diciptakan oleh Ulea yang Agung berperang satu sama lain?" Orion menggelengkan moncong panjangnya. "Hanya satu Xenia yang memberontak, aku tidak tahu namanya, tetapi Xenia itu adalah Xenia yang bertugas sebagai pelindung matahari." Tanpa aba-aba maka aku dan Amicia langsung melihat ke langit di atas kami, sebuah bola kuning yang biasa memberi cahaya bagi Ueter, ternyata memiliki seorag pelindung yang memberontak pada Penciptanya. "Apa yang dilakukan Ulea terhadap Xenia itu?" tanya Amicia pelan. "Apakah sampai sekarang Xenia itu masih menguasai matahari?" Pertanyaan Amicia membuat langkah Orion semakin memelan, sepertinya dia tidak nyaman membahas topik ini. Ada suasana muram yang menguar dari tubuh kuda ini. "Legenda mengatakan, dia bersembunyi di suatu tempat," ujar Orion setengah berbisik, lalu kuda itu menarik napas panjang. "Legenda juga mengatakan, kalau dia sedang mempersiapkan pasukan untuk merebut matahari lagi." Aku yang tidak terlalu paham dengan urusan makhluk-makhluk yang jauh berkuasa di atas sana, langsung menyela, "Merebut matahari? Bukankah seharusnya Ulea tinggal membunuhnya?" "Jaga ucapanmu Lass!" hardik Orion tiba-tiba. "Xenia memiliki kuasa jauh diatas kita, selain itu Ulea adalah Sang pengasih sehingga dia tidak akan membunuh ciptaanNya sendiri." Fakta bahwa Orion diciptakan oleh Xenia yang bernama Cyprian membuatku mengerti alasannya marah kepadaku, tapi caranya menjelaskan soal Ulea membuat Orion sangat mirip dengan ayahku. Mereka teramat mengasihi Ulea bahkan ketimbang nyawa mereka sendiri. Bahkan kuda ini barusan membentakku, karena aku berkata hal-hal yang tidak pantas tentang Ulea. Mungkin kadar kepercayaan Orion malah jauh di atas ayahku. Pantas saja Orion betah bersamaku, bisa jadi alasannya karena keluargaku menyembah makhkuk yang sama, dengan yang dia sembah. Pasti dia merasa memiliki ikatan dengan ayahku, yang juga menyembah Ulea. Selain Orion dan ayah ibuku, aku juga sangat mengenal keluarga Ekkehard yang taat menyembah Ulea, jadi dalam perjalanan ini kemungkinan besar hanya aku yang tidak percaya penuh dengan Ulea. Kelicikan, pencurian dan hal-hal jahat yang pernah dilakukan Amicia bukan berarti membuat dia tidak religius, justru sebaliknya Amicia selalu berdoa sebelum melakukan apa pun. Aku cukup penasaran dengan isi doa cewek itu, apalagi saat dia berdoa sebelum melakukan pencurian, sebuah hal yang pasti merugikan orang lain. Tetapi karena kami bersahabat cukup lama, jadi kami tidak pernah mencoba membahas topim sensitif tersebut. Aku hanya cukup menjauh saat Amicia melakukan kegiatan religiusnya, sedangkan cewek itu juga tidak pernah memaksaku untuk melakukan ritual yang dilakukannya. Sekarang kudaku pun terang-terangan mengatakan bahwa dia adalah penyembah Ulea sama seperti Amicia. Sehingga aku merasa terasing, padahal kami seharusnya memiliki tujuan yang sama. Alasanku sulit percaya dengan Ulea sepenuhnya, adalah karena sesembahan Amicia maupun Orion itu sangat tidak masuk akal. Saat ayahku membahas soal Ulea, selaku ada pertnyaan yang muncul di otakku, seperti, mungkinkah makhluk seberkuasa itu ada? Jika ada, kenapa dia membiarkan Ueter yang damai ini rusak karena ciptaannya sendiri? Terlebih setelah tragedi mengerikan yang menimpa Rebeliand baru-baru ini. Jika si pencipta bernama Ulea itu ada, maka seharusnya dia menolong Rebeliand dan seluruh warganya. Aku tidak tahu dengan keluarga yang lain di Rebeliand, namun dua di antara tiga belas keluarga di Rebeliand sudah menyembahnya, bukankah seharusnya Ulea menolong orang-orang yang menyembahnya? Selagi aku memikirkan soal eksistensi Ulea, perlahan pandanganku memudar, karena tiba-tiba sekelilingku bergerak dengan cepat. Sahabatku mulai berlari dengan kecepatannya yang paling tinggi. Aku tersentak dari lamunanku saat Orion kembali mempercepat larinya ke level teratas, di belakang kami, sudah pasti ada sesuatu yang membuatnya kembali memamerkan kekuatannya. Rasa penasaran memaksaku menoleh ke belakang dan aku mengerti alasan sahabatku mengencangkan larinya, karena hidup mati seluruh warga Rebeliand bergantung pada kemenangan Orion. Di belakang kami, seekor serigala hitam dan pemiliknya, Normen yang berada di atasnya sudah berlari sangat dekat dengan kami.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN