bc

Istri Rahasia CEO Gay

book_age18+
250
IKUTI
2.1K
BACA
contract marriage
HE
forced
arrogant
boss
blue collar
bxg
office/work place
like
intro-logo
Uraian

Melya Kencana Putri dan ranjang sudah seperti kesatuan yang sulit untuk dipisahkan. Hobinya yang selalu bergonta-ganti pasangan justru membuat dia kena batunya. Dia harus menikah dengan seseorang yang sama sekali tidak dicintainya.

Lain hal dengan Pangeran yang begitu dingin yang selalu menganggap semua perempuan itu adalah makhluk yang harus dihindari, bahkan dia sempat dikira gay karena tidak pernah berhubungan dengan perempuan.

Akan tetapi, Pangeran justru harus menikah dengan Melya yang hobinya berpetualang di ranjang bersama dengan para lelaki. Tipe wanita idealnya sangat jauh berbanding terbalik dengan sosok Melya. Namun, entah bagaimana bisa, justru takdir mempersatukan mereka berdua dalam sebuah pernikahan.

Si penggoda dan si anti cewek, akankah mereka bisa berhasil menjadi pasangan hidup yang saling melengkapi? Atau, justru mereka harus berpisah karena kontrak yang sudah hampir jatuh tempo? Yuk, kita ikuti kisah Melya dan juga Pangeran di sini!

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1. Perkara Pulpen
"Thanks buat hari ini, Say. Gue selalu puas dengan pelayanan lo!" ucap seorang wanita yang baru saja selesai keluar dari mandi. "My pleasure, Honey. Bukankah gue emang selalu yang terbaik untuk lo, Sayang?" Yuda mencolek dagu wanita itu dengan senyum genit. Melya Kencana Putri adalah wanita berusia 33 tahun yang bekerja di sebuah perusahaan sebagai sekretaris. Namun, tanpa orang ketahui jika dia juga bekerja sebagai model. Walaupun tidak terikat, tetapi untuk sekali berjalan di atas catwalk, penghasilan yang didapat cukup banyak. "Kamu mau ke mana, Honey? Kenapa buru-buru sekali?" tanya Yuda saat melihat Melya yang tengah memakai pakaian di depannya. "Sorry, Beb. Hari ini gue ada jadwal buat ketemu sama salah satu klien. Katanya, sih, dia mau pesan mebel cukup banyak, tapi nggak tahulah. Pokoknya, see you next time, Say!" Setelah memberikan sebuah kecupan singkat di bibir si berondong, atau partner ranjangnya, Melya pergi begitu saja. Yuda melambaikan tangan sambil membalas flying kiss dari si Melya. Matanya berubah hijau, apalagi setelah wanita yang beberapa bulan ini menjadi partner ranjangnya memberikan satu gepok uang bernilai 5 juta di atas ranjang. "Gak sia-sia gue morotin itu orang. Sekalinya main, gue bisa foya-foya bareng temen gue," ujarnya tersenyum licik. Dalam perjalanan, Melya coba menghubungi Senja--pemilik Perusahaan Indah Permai– untuk bertanya di mana titik lokasi dia harus bertemu dengan klien dan setelah mendapatkan alamat, wanita tersebut segera meluncur. Sesekali, dia melihat ke arah kaca spion di depan, mencoba membenahi tatanan rambut dan juga melihat bagaimana make up nya yang ternyata masih oke. "Ah, sial. Kenapa harus meninggalkan jejak, sih?" Melya mengeluh ketika melihat bercak merah di bagian leher. Dia pun berdecak, apalagi saya tak membawa syal. "Ah, bodo amat. Yang penting urusan klien harus segera diselesaikan hari ini juga." Melya pun menginjak pedal gas untuk menambah kecepatan laju mobilnya. Dia sesekali menggerakkan bibir untuk mengikuti lirik lagu yang kini tengah diputar. Wanita cantik dan seksi itu seolah tidak kehilangan akal membuat dirinya happy, walau sendiri. Hidupnya sudah rumit, jadi tidak ingin menambah keruwetan dengan memikirkan hal sepele seperti bekas cupang di leher jenjangnya. "Ini tempatnya, 'kan? Wah, Senja kali ini dapat tangkapan besar. Gak nyangka gue," ujarnya sedikit memuji ketika melihat gedung pencakar langit yang akan jadi klien mereka. Semua keberhasilan Senja dalam menjalankan bisnisnya memang tidak luput dari campur tangan dia dan juga karyawan PT. Indah Permai sendiri. Dia tidak iri, justru senang ketika melihat temannya sukses. Karena baginya, hidup itu harus dinikmati, bukan untuk dinyinyiri. Setelah memarkirkan mobilnya di pelataran parkir yang ada di belakang gedung. Melya kemudian berjalan menuju resepsionis dan dia ternyata harus berjalan memutar agar sampai di lobi. "Selamat siang, Mbak. Apa Tuan Pangerannya benar bekerja di kantor ini?" tanyanya sopan. Setelah mendengar jawaban sang resepsionis membuat Melya mengangguk, kemudian berjalan menuju lift di mana saat itu keadaan cukup lengang, hanya ada dua orang di dalam. Kini, setelah dirinya menekan angka 27, wanita tersebut memilih untuk bersandar. Jujur, setelah permainannya tadi, tubuh masih terlalu lelah belum lagi sedari pagi dia belum sarapan. Denting lift menyadarkan Melya. Karena terlalu sibuk melamun hingga membuatnya tidak sadar jika kini dirinya hanya seorang diri. Sepatu high heels yang dipakai kini tengah menginjak lantai paling atas milik Mahija Grup. Dirinya langsung menuju ke bagian meja di mana seorang wanita sudah berdiri menyambutnya. "Selamat siang, Mbak. Apa Tuan Pangeran ada di dalam?" Melya menunduk sopan kepada perempuan cantik bernama Amel yang diketahui sebagai sekretaris dari pria tersebut. Sejujurnya, lidahnya terlalu kelu, apalagi saat mengucapkan nama seseorang yang dianggap begitu berlebihan. Pangeran? Apa nama itu tidak begitu membebaninya? Atau, setidaknya untuk masalah tampang juga harus seimbanglah. Jangan hanya nama saja bagus, cakep, tapi orangnya justru jomplang. "Apa Anda Bu Melya?" Suara wanita di depan sana mengagetkan Melya yang tengah sibuk mengurusi perkara nama klien barunya. "Benar, saya sendiri. Jadi, apa bisa saya bertemu dengan Tuan Pangeran?" Amel Mentari lalu melihat ke arah Melya dengan tatapan kurang bersahabat. Ditambah penampilan wanita di depannya yang cukup menjijikkan. Bagaimana tidak? Tanda merah di leher itu jelas sangat membuat orang bakalan berpikiran yang iya-iya. "Baiklah, silakan masuk. Anda sudah ditunggu oleh atasan kami!" Melya pun mengetuk pintu kaca di depannya, kemudian masuk setelah mendengar si pemilik ruangan menyuruh masuk. Sesaat, dia heran ketika melihat ruangan CEO yang begitu kosong dan hanya diisi oleh satu meja kerja, juga kursi, terakhir satu lemari yang berisi beberapa dokumen. Tidak ada sofa, ataupun tempat yang bisa diduduki untuk menerima tamu. “Silakan duduk!” ucap pria itu datar. Pangeran Altezza Mahija menatap sosok tamunya dengan pandangan dingin. “Ganteng, sih. Tapi, kok kayaknya dingin. Aduh, ogah banget nih gue kalau ngurusin orang yang kayak gini. Mending gue ngomong sama bu Jedir yang ketahuan cerewetnya minta ampun. Eh, tapi gak, ding. Pilihannya sama-sama membuat kepala gue mau meledak,” batinnya menggosip. “Kamu tuli?” “Apa?” Melya sedikit terperanjat ketika mendengar nada sarkasme keluar dari mulut pria di depannya. Dia pun mencoba menahan emosi saat orang yang baru saja ditemui sudah melontarkan kata-kata kasar. “Maaf, Tuan. Anda tadi bicara apa?” tanyanya sekali lagi. “Gak penting.” Pria itu mendengkus. “Jadi, apa saya sudah boleh melihat desain-desain dari mebel kalian?” tanya pria itu dengan datar seolah di wajahnya tidak ada ekspresi dan hanya bisa berbicara dengan ketus. "Sabarin aja, Mel. Anggap aja itu orang lagi coba mengasah mulut yang udah setajam belati tetangga!" batin Melya masih mencoba tersenyum. Melya pun kemudian mengambil katalog di mana dia sudah menyiapkan desain-desain yang memang menjadi best seller di perusahaan mereka. Dia bahkan menjelaskan tentang bahan yang digunakan dan juga rincian tentang harga dan juga lain-lainnya tanpa diminta. Pangeran sendiri mendengarkan sambil melihat-lihat foto dari produk tersebut. Dia cukup tertarik pada salah satu mebel di mana di sana terlihat terlihat begitu sederhana, tetapi tetap elegan. Si pria tampan merasa mebel tersebut memang pantas berada di ruangannya yang sepi. "Baiklah, kalau begitu saya memesan yang ini dan tolong nanti kamu bicarakan dengan sekretaris saya karena ada beberapa ruangan yang juga membutuhkan mebel di sana!" "Baik, Tuan Pang," jawab Melya yang merasa memanggil nama si klien terlalu panjang. Maka dari itu, dia mencoba mempersingkatnya. Beruntung, Pangeran masih sibuk melihat-lihat katalog hingga tidak mendengar. Jika sampai tahu, alamat Senja bakalan kehilangan pelanggan hari ini. Namun, ketika dirinya hendak menulis, pulpen yang digunakan justru terjatuh. Melya pun mencoba mengambil, tetapi bukannya dapat, benda panjang itu justru terpental hingga cukup jauh karena ulah kaki di depan sana. "Ish!" "Apa yang kamu lakukan? " tanya Pangeran seraya memutar kursinya ke samping. "Maaf, saya cuma mau ambil pulpen itu." Melya menunjuk ke bawah kursi Pangeran. Melya pun berjalan dan hendak meraih pulpen itu, sayang tubuhnya mendadak limbung hingga ia harus mencari pegangan agar tak jatuh. Melya tak sadar bahwa ia baru saja mendorong tepian kursi Pangeran hingga menyebabkan dirinya jatuh berlutut di hadapan pria itu. Ia membelalak, menyadari bahwa ia berada tepat di depan pusaka Pangeran! Bahkan kedua tangannya memegang paha Pangeran. Oh, tidak! Ini memalukan sekali. Pangeran tak kalah terkejut dengan aksi Melya yang mendadak. Ia hampir protes, tetapi dari pintu depan seseorang sudah lebih dulu berteriak! "Pangeran, apa yang kamu lakukan sama wanita itu?"

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.2K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

TERNODA

read
199.0K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.8K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.0K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
65.4K
bc

My Secret Little Wife

read
132.2K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook