Bab 8. Speechless

1010 Kata
"Dasar laki gila! Mana ada istri ditinggalin begitu aja di sini. Untung gue gak bego-bego amat buat inget nama hotel yang jadi tempat gue tinggal. Bisa jadi gelandangan gue di sini kalau sampai gak tau arah." Mulut wanita cantik itu kini tengah sibuk mengunyah ayam crispy yang dibelinya. Matanya mengedar ke arah sekitar di mana ada beberapa orang Indonesia yang tengah berjuang mencari nafkah di Korea. "Jadi kangen, deh, sama bestie. Apa gue telepon aja yah?" Melya pun kemudian mengutak-atik ponselny dan mencoba menghubungi Senja yang ada di Indonesia. Perbedaan waktu 2 jam tak menyurutkan niatnya untuk mengganggu si sohib. "Senja, lu lagi ngapain? Kerja, ya? Gue bete, nih. Temenin, dong!" Terdengar decakan dari seberang telepon dan hal itu tidak menyurutkan niat Melya mengganggu sang sahabat. "Udah tau gua lagi kerja ngapain bantu lo! Lagian, bukannya lo tuh lagi bulan madu, yah? Jadi, nggak usah ngadi-ngadi, deh!" Melya cemeberut. Dia mengibaskan rambutnya yang tergerai panjang ke belakang. Lehernya yang ditutupi slayer membuat penampilan semakin cantik. "Lo kok kayak gitu sama gua, Bes? Tau nggak, sih, Bes. Kalau gue tuh ditinggalin sama suami gue, tanpa uang sepeserpun di sini. Kurang ajar nggak laki gue?" Curhatan itu keluar begitu saja. "Lah, kok bisa? Emang lo habis ngapain, sih? Kok bisa dia ninggalin elu? Atau, lo nya aja kali ya habis main serong di sono!" sahut Senja dibarengi dengan kikikan geli setelahnya. "Bisalah. Nyatanya gue udah sendirian di sini." Melya lagi-lagi melihat ke arah sekitar. Dirinya merasa bebas berbicara lantaran tidak akan ada orang yang kepo kepada dirinya. "Kalau dekat mah udah gue samperin, Mel. Sorry! Lo mau gue hubungin suami lo?" tanya Senja khawatir di seberang telepon. "Lagian, kok, bisa sih dia ninggalin sahabat gue yang cantik dan seksi? Apa dia gak takut kalau lo bakalan diculik?" "Hush! Situ kalau ngomong suka bener, deh!" kelakar Melya sambil menutupi tawanya agar tidak membuat pengunjung lain terganggu. Melya memang belum menceritakan tentang perjanjiannya dengan Pangeran. Bukan karena takut, melainkan waktunya kurang pas. Lagi pula, Senja juga sudah banyak pikiran. Jadi, dia memilih untuk tetap bungkam hingga tiba saatnya rahasia itu terungkap. "Lagi di mana, nih? Di sini udah jam 11.00. Bukannya lebih cepat 2 jam di situ?" tanya Senja mulai mencari pembahasan lain. "Habis makan gue. Laper, dari kemarin sore lupa nggak makan," jawab Melya jujur. Seringainya langsung mengembang. "Bestie, gue mau cerita!" "Apaan? Kayaknya lo seneng banget. Bukannya lo habis ditinggal suami, kok, malah sumringah gitu. Coba cerita ke gue!" Melya terkikik. "Gue sama Pangeran udah goal, Beb!" akunya riang. "Wah, gercep banget lo. a***y! Jadi kalian udah langsung ngegolin aja. Lo emang bener-bener, ya, Mel. Tancap gas terus!" Senja tertawa terbahak mendengar kegilaan Melya yang baru saja menghabiskan malam pertama dengan sang suami. "Bukan begitu, Nja! Mertua gue tuh yang ngasih obat perangsang ke minuman laki gue. Jadi, ya gue sih ngikutin alur aja." "Seriously?" tanya Senja speechless. Melya mengangguk. "Eoh. Gue mau jujur sama lo, Nja." "Apaan? Lo gak usah bikin gue penasaran, deh!" Senja terlihat tidak sabar. "Sebenarnya, laki gue itu jijik sama gue, bahkan ngelihat gue aja kayak barang najis gitu," cerita Melya sambil tersenyum miris. Namun, itu tak bertahan lama karena setelahnya dia langsung tersenyum. "Tapi, nyatanya dia nggak sanggup menolak pesona gue yang seksi!" "Lebih gilanya lagi, dia itu gak bisa yang namanya bikin itu, tuh!" "Bikin apaan? Lo kalau mau cerita gak usah setengah-setengah, deh!" Senja kini sudah berdiri, berjalan tak sabar akan kelanjutan cerita dari Melya. "Itu, loh, cupang, Bestie!" Setelah menyebutkan hal tersebut, Melya harus menjauhkan ponselnya. Telinganya langsung berdengung kala teriakan dia seberang begitu memekakkan. "Kaget Lo, 'kan?" Senyumnya mengembang lebar. "Njir. Masa, sih? Dipta aja yang masih bau kencur aja suka iseng nyupang lengan gue." Senja terlihat membuka kelakuan tengil kekasihnya. "Gak yakin gue. Pasti di dalem ada, 'kan?" Melya menggoda. "Gak usah mancing-mancing di air keruh, deh. Udah, ah. Oh, iya. Bilang sama laki lo! Pesenam mebel dia udah kelar. Jadi, nanti total kekurangannya bisa dilunasi setelah barang sampai!" Melya mengangguk. "Udah dulu, yah! Gue udah kebelet, nih pengin kencing!" "Telepon aja suami lo! Gak usah gengsi gitu, deh. Lagian sejak akpan Melya punya malu? Bukannya urat malu lu udah putus, yah?" "Sialan lo, Nja! Tapi, bener, sih. Kayaknya kalau hidup malu-malu tuh gimana gitu? Aduh segan banget, deh. Ya udahlah. Nanti, gue telpon lagi si Pangeran Sableng itu. Kalau perlu gue teror aja sekalian! Suruh siapa ninggalin istrinya di sini," jawab Melya menyeringai. Setelah itu, panggilan pun diputus. Melya segera menghubungi nomor sang suami. Sekali, dua kali, ketiga kali, sampai yang ke-10 kali, akhirnya panggilan baru diangkat dan ucapan pertama Pangeran pun benar-benar membuat Melya jengkel, sejengkel-jengkelnya. "Bisa gak sih itu mulut gak usah kek cabai? Pedes amat!" sindirnya ketus. "Gak usah bawel, deh. Apaan?" Terdengar nada suara Pangeran yang seperti baru saja bangun tidur. "Enak banget itu orang. Gue di sini tinggal cuma buat dia lanjut tidur. Dasar laki kentut! Awas aja nanti kalau udah ketemu. Bakalan gue bales!" Melya mendumel kesal dalam hati. Setelah itu, dia berusaha untuk menekan amarah yang ada di dalam hatinya. "Jemput gue!" "Siapa kamu nyuruh-nyuruh?" "Gue istri lo, Tuan Pangpang yang terhormat!" jawabnya tak kalah ketus. "Jemput? Ogah! Kamu punya kaki, 'kan?" Melya rasanya ingin membanting ponsel yang sedang dia pegang. "Gue masih manusia, jadi kaki gue masih berfungsi dengan baik! Pokoknya gue gak mau tahu lo harus jemput gue sekarang juga!" "Aku bilang gak, ya, gak!" Pangeran bersikukuh. Melya menggeram marah. "Ok. Kalau lo emang gak mau jemput gue sekarang. It's ok. Tapi, gue bisa minta jemput sama bunda, kalau gak ayah. Biar mere–" "Iya-iya, aku jemput sekarang! Gak usah ngancem-ngancem!" Pangeran mengumpat dengan sikap Melya yang seenaknya pada dia. "Makasih, Sayang! Gitu, dong jadi laki. Lo kalau masih mau hidup damai dan sejahtera, gak usah bikin gue keluarin tanduk gue. Ok, Say– ha-lo! Lah, malah dimatiin. Dasar PangPang ganteng. Untung muka lo ganteng maksimal, coba gak? Bakalan gue slepet pake sempaknya Patrick!" ancamnya sambil menggelengkan kepala melihat kelakuan random Pangeran. Sementara itu, Pangeran yang baru saja turun dari kamarnya dikejutkan dengan kehadiran seseorang yang sama sekali tidak dinyana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN