Apa sih yang ada di pikirannya semalam? Astaga, kenapa dia bisa seteledor itu sih?!
Author :
Dia tertidur dan entah berapa lama dia pun tak tahu sampai dia mengerjap pelan, gelap. Gelap? Dia bahkan lupa di mana dia terakhir semalam sebelum berakhir di sebuah mobil. Mobil? Astaga, benar sekali mobil seseorang dia ingat memesan taxi, tapi?
Oh, dia salah besar. Apakah sopir taxinya marah? Dia melihat keadaannya, masih aman pikirnya. Dia melihat si sopir taxi yang rupanya juga tertidur.
“Pak, bangun! Pak!” Beberapa kali membangunkan sambil mengguncang lengan si sopir dari kursi belakang.
“Hem, ya?” Sepertinya si sopir tidak berniat menanggapi atau sudah malas. Mungkin saja dia hanya kasihan. Bagaimana tidak? Tertidur di mobil orang dan ditunggui bak putri raja? Ampun deh, Cas, auto tepuk jidat.
“Pak, maaf ya, menunggu saya lama. Saya minta maaf kalau karena saya, Bapak harus menunggu lama.” Dia merasa tidak enak. “Tapi akan saya ganti, Pak, semuanya. Ini deh saya kasih uang tipsnya udah beberapa jam nungguin saya. Sekarang jam berapa ya?” Dia bertanya karena tidak melihat di mana ponselnya berada.
“Pukul satu dini hari.” Singkat dan jelas.
“Oh, berarti saya tertidur sudah dua jam?” Dia mencoba mengingat.
“Tiga jam lebih tepatnya.”
“Ah, ya maaf, Pak. Saya akan berikan ongkos Bapak.” Sembari mengeluarkan uang seratus ribuan sebanyak lima lembar.
“Memangnya saya ada tampang sopir taxi?” Si sopir bertanya seolah dia bukanlah sopir taxi yang membuat pipi Casya menglembung.
“Memangnya bukan? Ah, ya ini dia untung masih cukup, ini buat Bapak satu juta ya. Mohon diterima dan maafkan saya kalau saya salah,” ujarnya.
“Kamu memang salah. Tidur kok kaya kerbau. Eh, bukan, lebih tepatnya kaya beruang hibernasi.” Entah apa yang salah, Tirta mencoba memprovokasi. “Kamu pikir uang kamu bisa membayar waktu tiga jam berharga saya?” Astaga kenapa dia seperti emak-emak tidak dapat jatah dari suaminya, sih?
“Bapak kok nyolot, sih? Saya kan sudah minta maaf. Kenapa bilang begitu? Mau tambah? Bisa saya tambah uangnya.”
Casya mulai kesal dengan ulah si sopir taxi. Dia mencoba bersabar dengan meredam emosinya. Dia gampang emosi, sangat bahkan. Tapi entah kenapa dia bisa bersabar kali ini, bahkan ayahnya saja pasti sudah dia maki dalam hati lalu mematikan panggilan sepihak.
“Ya sudah, ini, Pak.” Dia mencoba bersabar dan memberikan uangnya tepat di kursi depan.
“Terima kasih....” Belum sampai dia keluar, baru saja akan membuka pintu, si sopir menyela, “Kamu perhatikan baik-baik sekali lagi jika mau naik taxi dan lihat sikon dong! Kalau tidak bisa minum, jangan minum!” sinisnya.
“Anda kenapa ikut campur urusan saya? Dan siapa sih Anda?” Casya menunjuk kesal.
“Kalau tidak tahu, jangan ikut campur masalah orang lain. Anda seperti penguntit saja. Saya kan sudah minta maaf.” Dia kemudian mengeluarkan semua unek-uneknya dari tadi . “Kalau tidak terima katakan saja! Jangan seolah saya tidak bertanggung jawab.” Lalu keluar dengan menghempaskan pintu mobil orang dengan sangat kuat seolah akan patah.
Untungnya besi dan mobil bagus. “Ampun deh. Untung kamu tahan, Bil,” ucap Tirta pada mobilnya.
Dia melihat Casya sempoyongan menuju apartemennya. “Ckckck, masih ngantuk, ngalur ngidul ngga kuat mabuk mau sok – sokan mabuk lagi, padahal seperempat botol saja tidak habis. Dasar!”
Setelah memastikan Casya menghilang di balik lift menuju apartemennya, dia juga akhirnya memarkirkan mobilnya di basement dan menuju apartemnnya.
Tidak ada yang tahu sama sekali bahwa mereka tinggal di unit apartemen yang sama dengan lantai beda dua tingkat. Bukan, Tirta tidak mengikuti sampai sana hanya saja dia baru dua hari ini tahu setelah Casya pulang dari pesta waktu itu dengan mengikuti ke sini. Ternyata, mereka satu apartemen yang sama.
***
Dan seolah tersadar, Casya melihat sekelilingnya dan untung saja dia berada di apartemennya. Ampun deh, pikirnya. Kenapa dia harus seperti orang b**o sih semalam? Kurang sial apa hidupnya? Belum cukup perdebatan yang tak berguna masa harus dengan sopir taxi?
Dering ponselnya terdengar. Dia melirik sedikit, untungnya dia sudah selesai mandi dan bersih jadi tidak akan ada yang curiga apalagi nenek. Ya, nenek yang menghubunginya pagi ini.
Sebenarnya tidak termasuk pagi sih, dia saja bangun pukul 8 pagi, menjerit karena terkejut tapi ya sudahlah, memang hari ini dia hanya ingin ke cafe lalu pulang istirahat.
“Ya, halo, Nek?”
“Kamu sedang apa?”
“Baru selesai mandi. Nenek lagi apa?”
“Mandi? Baru siap? Kamu bangun jam berapa sih?”
“Eh, itu anu, Nek, telat karena semalam begadang.” Tak pandai memang dia berdalih kepada nenek.
“Kamu ngapain tadi malam?” Nenek mulai curiga tampaknya
“Ya ampun, ngga ngapa-ngapain dong, Nek. Seriusan deh, cuma sekedar hiburan aja pulangnya kemaleman.” Dia mencoba berdalih.
“Nek, serius. Casya ngga akan ngelakuin hal di luar batas. Percaya deh, ngga bakalan aku hancurin kepercayaan nenek.”
“Ya, nenek percaya. Sarapanlah, kalau kamu bekerja jangan lupa istirahat ya! Minta Rayhan bantu kamu.”
“Iya Nek, makasih ya udah perhatikan dan khawatirin Asya.” Memang nama kecilnya Asya yang diberikan ayahnya kepadanya. Dulu dia sangat senang dengan nama itu, sebab selain orang terdekatnya, tidak ada yang memanggil dia dengan nama itu, kecuali satu orang. Ya, orang yang sama ketika hatinya patah pertama kali setelah ayahnya mendua.
Suasana siang ini sangat cerah dan terik mulai menyengat. Untungnya dia memakai pakaian yang menyerap keringat juga panjang agar tidak terlalu panas. Dia tadi mengajak Rayhan keliling saung di sawah, tempat makan dan santai di dekat Bogor. Jauh? Ya lumayanlah dua jam juga untuk ke sini karena ngga terlalu macet.
Jika macet bisa sampai empat jam-an. Nah, mereka akan pulang malam nanti. Entah apa yang membuat Casya mengajak Ray tadi dan beruntungnya Rahyan malah setuju aja.
Drrrrtttttt!!
Getaran panjang ponselnya menyadarkan dia dari lamunan yang bahkan belum dimulai. Dia melirik gawai itu dan melihat pop-up di layar. ‘Sky’ ngapain, batinnya.
Casya akhirnya membaca pesan itu, ‘kamu mau ikut ke rumah sakit?’
Dia mencoba menahan diri agar tak membalasnya. Dan berhasil. Dia berhasil kali ini. Tapi, dering ponselnya mengejutkannya. Untungnya dia tak menjatuhkan ponsel itu ke lantai. Untung saja dia sedang duduk. Dasar Sky, hujatnya.
Kenapa lagi sih? Dia menghubungi hanya ingin mengatakan Maudy sudah pulang ke rumah? Untuk apa ? Untuk membuatnya sakit hati? Tidak lagi, biar saja. Cukup sampai di sini dia bertepuk sebelah tangan. Mulai sekarang dia tetap menjadi Casya yang dulu selalu tersenyum dan ceria seperti tidak terjadi apa-apa.
Sedetik, dua detik, tiga detik. Tidak terasa lima menit berlalu. Dia tidak mengangkat panggilan itu dan menahan diri untuk tak memanggil ulang begitu juga dengan ponsel yang tergeletak di lantai. Sampai panggilan itu berhenti dan meletakkan gawainya di kursi lalu bersiap akan memulai petualangan hari ini bersama Rayhan.
***