Lagi-lagi kenapa harus sama lelaki itu terus sih? Dari tadi Tirta menggerutu karena biasanya dia tidak pernah senewen seperti ini. Lagian kenapa hanya karena seorang wanita yang baru beberapa kali dia temui harus seperti ini?
Ngga elit banget kan dia? Harusnya sih wanita-wanita itu yang biasa melemparkan diri padanya. Tapi, ini apa? Dia yang mengejar-ngejar, ralat, dia hanya membuntuti. Lalu apa bedanya Tirta? Arrrghh... Dia memukul kepalanya sendiri bagaikan orang bodoh di siang bolong.
“Kamu kenapa?” Si Mama yang heran sendiri melihat anak lelakinya bagai orang sinting akhirnya bertanya.
“Eh, ngga ada, Ma,” singkatnya. Dia sedang malas berbicara, entah kenapa. Karena Casya yang tidak melihatnya atau juga karena dia memang sudah tidak semenarik itu? Ah, tapi ngga mungkin, batinnya.
“Kamu teh kaya orang gila. Mama jadi takut sendiri.” Dia melotot mendengar perkataan mamanya.
“Apaan sih, Mama! Anaknya dibilang gila,” kesalnya.
“Ya, habisnya kamu kaya orang ngga waras, mukul kepala sendiri. Lagian ya, mama bilang kaya orang gila. Bukan doain kamu. Kamu teh ngga budeg kan ya?” Si mama mulai ngedumel.
Dia mendelik, kembali mendengar mamanya bicara. Astaga, seenggak jelas itukah dia? Masa iya dia terlihat begitu banget. Kan, ngga lucu ya Tiba-tiba dia jadi bahan tertawaan di rumah tantenya. Mana adiknya yang bocor itu udah sama pasangannya lagi.
“Kamu sih, Mas, punya gandengan. Masa kalah sama adikmu. Mama malu kamu jomblo terus, anak mama ya cuma dua. Masa kamu dilangkahi sama adikmu sih. Mama maunya sih kamu dulu.”
Ya, pasti setiap orang tua ingin anak tertuanya lebih dulu agar tidak melangkahi dan juga kan anak tertuanya sudah kepala 3, harusnya sudah matang dan mapan. Dia meneliti lagi wajah anaknya dengan seksama.
“Mama perhatiin, kamu ngga jelek-jelek amat yak. Tapi kenapa kamu belum dapat jodoh ya?” Mama berpura-pura berpikir. Tirta mendengus.
“Ya namanya jodoh, Ma, apaan sih. Kalau adek maunya duluan ya ngga apa-apa,” jawabnya cuek.
“Ya, ngga apa-apa sih. Orang juga kalau nungguin kamu kelamaan. Nunggu mama udah ngga ada.”
Tirta kembali melotot. “MAMA!” bentaknya.
“ASTGAA, kamu bentak mama?! Anak durhaka?!” hardik emak-emak yang emang selalu merasa paling bener.
Tirta memutar matanya malas. “Biasa aja. Mama ngga usah drama queen.”
Tidak menunggu lama, mama menghajarnya dengan tas tangan. Yaa tidak sakit, cuma kan dia lagi nyetir.
“Udah dong, Ma, lagi nyetir ini. Entar kita berdua tamat,” ujarnya membuat mama kembali mendelik. “Kamu tuh ya?!”
“Udah, Ma, entar lagi deh disambung. Udah mau nyampe,” katanya sambil nyengir lebar.
Tirta menghembuskan napas dan memperbaiki tatanan rambut juga pakaian sambil mengambil hadiah yang akan dibawa. Dasar emak-emak. Tetep aja penampilan paling utama walau udah ngomel-ngomel.
***
Sedangkan Casya yang menyendiri di kantor terpaksa memaksa otaknya untuk bekerja tanpa bantuan siapa pun, sebab Ray sedan di cafe membantunya mengelola restoran juga sedang menata kembali menu-menu di sana atas perintahnya.
Sekarang dia sudah berada di tempat biasa dia menghilangkan penat bersama Sky dan Maudy kala dulu masih kuliah. Tapi beberapa tahun ini hanya dia dan Sky, lalu sekarang? Dia sendiri? Ke mana perginya kedua orang yang dulu selalu bersamanya? Tidak ada yang tahu sebab dia pun tidak mengerti tentang dirinya.
“Boleh duduk?” Seseorang bertanya sampai ia mendongak.
“Fathur?” Melirik ke kiri dan kanan, “sama siapa?”
Kemudian dia bertanya lagi, “Sendirikah?”
Fathur terkekeh.
“Bisa satu-satu tidak, Ibu Casya Yang Terhormat? Mulut saya hanya satu.”
Casya mendelik dan menyilakan untuk duduk.
“Saya pikir tadi salah orang, ternyata tidak,” ujarnya.
“Ya, saya Fathur si juara kelas, sang juara umum saingannya Arga. Kabar saya baik dan saya tidak sendiri. Saya sama Nuril. Tuh,” tunjuknya ke seberang toko dari tempat duduk mereka.
“Katanya mau beli sesuatu. Dan kebetulan ketemu kamu.”
Casya yang mengikuti arah pandang yang ditunjukkan Fathur kembali menatap. “Kamu sendiri bagaimana?”
“Bagaimana apanya?” Casya yang tidak fokus atau dia sengaja berpura pura bodoh? Entahlah.
“Kabarmu.” Fathur menatapnya lekat, membuat dia canggung seketika.
“Baik,” singkatnya. “Kapan kamu akan menikahi Nuril?” Mengalihkan topik pembicaraan memang jagonya.
“Kapan dia akan siap. Katanya nunggu Maudy agak lebih sehat dulu.”
Casya tahu bahwa Nuril juga bukan hanya sekedar sepupu bagi Maudy. Begitu pun Maudy menganggap Nuril.
“Kamu tahu kan, bagaimana hubungan mereka. Sama seperti kamu menganggap Maudy. Aku yakin jika Maudy tidak kehilangan ingatannya, dia akan sangat menempel denganmu melebih Nuril bahkan mamanya sendiri.”
Iya, dia sangat ingat itu bahkan ketimbang Nuril pun dia lebih baik merepotkan Casya. Entah, itu alasannya saja agar mengganggu Casya atau apa pun itu, Casya tetap senang. Sebenarnya dia lebih tua sedikit daripada Maudy hanya saja dia yang telat masuk sekolah juga dulu dia sempat setahun berhenti. Kalian pasti sudah tahu apa penyebabnya. Casya hanya mengangguk mengerti.
“Kamu sendiri? Kapan punya pasangan?” Mencoba mengulik kembali perasaan Casya.
“Ha? Kamu bilang aku?” Menunjuk dirinya sendiri. Fathur mengangguk membenarkan.
“Ya, siapa lagi?”
Ya siapa lagi memangnya selain dia di sana. Tidak mungkin Fathur menunjuk orang lain atau berbicara sesantai itu. Eh, tidak santai juga, dia selalu formal sih.
Mencoba mengelak namun sepertinya sulit.
“Hem, ekhemm...” Dia pura-pura mengatur suara. “Tunggu dapat pasangannya aja.”
Jawaban aman pikirnya, namun dia lupa kalau Fathur pengacara. Ya sepertinya dia akan gagal.
“Semua orang juga lihat kalau bukan itu yang kamu tunggu. Kamu....”
“Fathur! Casya.”
Jika memang Tuhan berkehendak akhirnya memang gagal. Untung saja Nuril langsung cepat datang.
“Ya, hai, Ying?” Sapa Casya. Mereka memang sempat dua kali bertemu di rumah sakit, tapi yang pertama belum sempat ngobrol karena keburu Casya pulang. Kedua ya tapi tidak banyak sebab ada beberapa orang selain mereka di sana termasuk Sky.
“Kamu ngga bilang tadi kalau nemuin Casya. Kok aku jadi berasa selingkuhan ya,” rajuknya membuat Fathur dan Casya terkekeh.
“Cas, kalau begitu, kapan-kapan kita nge-time bareng ya. Biar bisa cerita banyak.” Yang diangguki oleh Nuril dengan semangat pastinya. Casya hanya tersenyum.
“Kita duluan ya!”
***
Mencoba mengalihkan perhatiannya setelah sibuk seharian bekerja. Sendirian lagi, kurang apa lagi coba dia. Banyak kurangnya, karena dia sendirian kurang disayang aja. Iya dia tahu tapi ngga perlu dikasihani.
Akhirnya dia pulang, mencoba cari penghiburan yang awalnya mau main-main ke Lembang atau ke mana aja tapi kok kejauhan. Dan keputusan terakhir sampailah dia di tempat ini. Penuh hiruk-pikuk sama kaya di jalanan kota siang hari. Tapi jelas ini musiknya juga bisa membangunkan orang sekompleks, tapi kenapa dia betah?
Sepertinya Casya hampir mabuk. Untung saja yang punya bar ini adalah temannya. Jadi, kemungkinan dia masih aman walau tidak turun ke lantai dansa.
Seorang pria datang ingin mengajak one night.
“Hai, cantik. Duduk sendiri aja?” Seringainya muncul hanya saja karena Casya terlalu mengantuk, bukan mabuk, dia malas menanggapi. Justru dia kalau mabuk akan mengoceh dan dia akan minum lebih banyak lagi.
“Sombong amat, Neng. Ditanyain ngga dijawab.” Si pria mencoba memegang lengannya yang langsung dihempaskan oleh Casya. Merasa tidak terima, dia mencoba menarik namun akhirnya, “Pergi lo dari sini!!”
Suara seseorang yang cukup tajam di pendengaran membuat dia menciut dan mulai menjauh pergi.
“Sudah berapa botol dia minum?”
“Ngga banyak, Ta. Dia memang selalu gitu. Cuma satu botol juga ngga habis dia malah ngantuk. Bukan mabuk walau dia pernah mabuk juga,” ungkapnya menjelaskan.
Dia tahu siapa Tirta makanya dia ngg mau cari masalah.
“Kamu kenal dia?” Tirta mencoba mengorek informasi.
“Kenal, teman SMA gue. Cukup akrab walau ngga dekat banget. Dia humble tapi judes,” kekehnya ketika menjelaskan tentang Casya yang diangguki oleh Tirta.
Lama Tirta terdiam menunggu Casya bangun sampai dia ingin ke kamar kecil. Casya bangun dan memesan taxi sebab dia tadi memang tak membawa mobil.
Sampai di lobi, dia menunggu taxi itu sambil memegangi kepalanya yang sudah mulai pusing sedang Tirta yang keluar bingung dan bertanya pada pria pemilik bar. Hanya menggeleng mengatakan tak tahu. Mungkin sudah keluar. Tirta mendengus dan mengejarnya.
Ternyata dia belum jauh bahkan masih berkesempatan pikirnya, lalu melajukan mobilnya sampai Casya menyetop dan masuk. Mengatakan alamat rumahnya, menyuruhnya melaju. “Agak cepat ya, Pak!” suruhnya membuat Tirta melongo seketika.
Dia tidak percaya sudah selama ini tidak terlihat bagai di telan bumi oleh wanita ini, lalu tiba-tiba menyuruhnya mengantar dia bagaikan sopir. Memangnya aku suruhannya apa, batin Tirta.
“Ayo, Pak, jalan. Saya tambah deh uang tipsnya,” erangnya sambil memegang kepalanya. Dia mengatakan takkan pulang ke rumah nenek sebab dia tak mau membuat nenek khawatir jadi lebih baik dia ke apartemen aja dulu. Jika ke butik, takutnya Rayhan besok datang dan karyawannya juga melihat dia sehancur ini. Mau diletakkan di mana mukanya?
Tirta yang disuruh pun hanya mengikuti saja yang tidak masuk akalnya dia disangka supir. Tapi ...
“Hooekkk.” Casya muntah membuat Tirta mengerem mobilnya mendadak dan....
“MOBIL GUE!!!” teriaknya tapi yang diteriakkan sudah terkapar lemah.
Ampun dah tuh mobil bau muntahan. Kasian amat ya Bang Tirta.
“ASTAGA!!” Dia menepuk jidat dengan segala sumpah serapah dan ampunannya.
***