Parte Eight

1115 Kata
Casya baru saja pulang dari rumah sakit menemani nenek melihat Maudya, tapi yang terjadi justru dia seperti kembali kepada keadaan beberapa tahun silam. Di mana dia selalu muncul di antara Sky dan Maudy. Begini banget ya nasibnya. Dari tadi di rumah sakit dia hanya tersenyum kaku dengan tangan terkepal tak kala Sky selalu membantu Maudy. Untungnya orang tua Maudy tak ada di sana, tadi hanya ada nenek dan Sky walau nenek tahu perasaanya dia hanya tak ingin membuat nenek memikirkannya lebih banyak lagi. Mencoba pura pura tersenyum dengan segala macam hal candaan yang menurutnya garing yang dicoba Sky untuk menghibur Maudy tanpa tahu perasaannya. Yang jadi masalah adalah, Sky tahu perasaannya tapi seolah tidak peduli. Dasar lelaki b******k, batinnya. Teringat percakapannya dengan Sky tadi, membuat dia menyadari bahwa kadang cinta yang dia punya tidak bisa dipaksa. "Kenapa kamu masih mengharapkan Maudy?" "Ha? Kamu sendiri?" "Aku? Kenapa denganku? tanyanya seperti orang bodoh. Sky yang paham kalau Casya mencoba mengalihkan hanya mengehembuskan nafas keras seolah masalah mereka berat atau memang sengaja diberatkan Entahlah. "Kamu sendiri? Kapan mencari kebahagiaanmu?" Casya tidak bisa mengelak lagi, Sky memang sengaja, dia tahu itu. "Kamu ..." Dia tercekat, "segitu ngga maunya aku suka sama kamu? Sampai aku harus menghentikan perasaanku?" Dia termenung, setelah semua yang terjadi dan Sky tahu tapi tetap saja perasaan itu tidak terbalas. Bertepuk sebelah tangan dan semakin menjauh dari segala yang ada membuatnya menyadari bahwa ternyata cintanya lagi-lagi tak dianggap. Bukan salah siapa pun, dia yang terlalu berharap kepada orang yang tidak peka sampai orangnya tahu tapi ternyata perasaan orang lain tidak bisa dia paksa. "Segitu ngga maunya kamu ada orang yang suka padamu begitu dalam sampai harus menghapuskan perasaannya untukmu? Aku tidak pernah tahu kalau selama ini kamu merasa tidak nyaman, Sky." Pandangannya dan Sky bertemu seolah ada kecamuk yang disimpan dalam hati. "Bukan begitu, Casy, hanya saja selama ini aku tidak nyaman dan...." "Merasa terbebani? Aku ngga tahu kalau selama ini perasaanku membebanimu." "Jangan paksa aku untuk melupakanmu dengan cepat, move on, Sky. Tapi aku berjanji akan menyimpannya sendiri tanpa melibatkan kamu. Jika suatu saat aku tidak berhasil, aku tidak akan menyusahkanmu. Jika pun aku berhasil, aku berjanji tidak akan pernah melibatkan kamu dalam perasaanku. Tapi kamu, jika suatu saat rasamu kembali tak terbalas maka kita bisa impas." Casya berlalu dari sana namun belum sampai jauh, dia kembali berhenti dan menoleh sejenak. "Jika suatu saat kamu kembali menyukai orang yang tidak menyukaimu, jangan salahkan perasaanmu yang membuat orang itu juga terbebani." Setelahnya Casya benar-benar berlalu. Sampai dia tak menoleh lagi. Sky melihatnya sampai tak terlihat dari pandangan mata. *** Ketika dia menuruni tangga, dia melihat nenek ada di ruang tengah sedang membaca majalah. "Nek, Casya ke butik sebentar ya." "Oke, kalau nanti tidak pulang, kabari nenek." Dia mengangguk setelah mengucap salam dan berlalu. Sampai di butik, dia langsung masuk ke ruangannya. Setelah mengatakan pada pegawainya yang masih ada di sana untuk tidak menerima tamu lalu mengunci pintu, dia menumpahkan semua kekesalannya hari ini. Benar-benar mengeluarkan semuanya sampai tuntas "Tidak. Sky tidak akan pernah kembali masuk ke dalam hatiku. Di.a akan musnah setelah aku move on. Ngapain mikirin dia yang ngga penting," ujarnya. Calling Rayhan.... "Halo, Casy?" "Kamu di mana?" "Cafe, kenapa?" "Temani jalan jalan yuk, Ray!" "Ke mana? Tunggu bentar ya, aku jemput kamu?" "Ngga usah deh. Aku duluan aja entar jumpa di mall biasa aja." "Shopping?" tebak Ray. "Bisa jadi." "Oke." Mematikan panggilannya, dia bergegas. *** Dia sampai lebih dulu dan menunggu Ray di sebuah Coffe Shop, sembari menunggu dia mengantri memesan Espresso. "Espresso satu ya, Bang." "Baik." Si pelayan membuatkan pesanannya tanpa tahu bahwa seseorang yang selama ini mencarinya begitu dekat. Tapi yang terjadi dia justru tidak peduli, bermain game di smartphonenya lebih menarik daripada melihat Tirta di belakangnya. "Ini, Mbak, Espressonya satu," ucap si pelayan. "Terima kasih." Setelah membayar, dia hendak berbalik dan menuju kursi yang kosong untuk menunggu Ray. Lalu, 'BRUK, BYUR’ "Aduh, apaan sih? Untung aja handphonenya ngga basah. Duh basah deh bajunya," gerutunya. "Maaf ya, saya buru-buru. Kalau kamu basah ganti saja bajunya, kirim ke saya nanti saya lundry kan baju kamu," katanya tanpa melihat Tirta yang sebenarnya sengaja menabraknnya tadi. Tirta yang sengaja ingin tahu reaksi Casya, mengerut bingung. Dia tidak basah hanya saja kenapa perempuan ini berbicara tanpa melihatnya? Ego! Egonya terusik karena biasa semua wanita memperhatikannya namun satu wanita yang tidak sama sekali terusik dengannya, begitu santai, meminta maaf, dan mengirimkan pakaiannya untuk di laundry? Sungguh unik, pikirnya. "Eh … saya…." "Aduh, maaf ya. Saya buru-buru. Ini kartu nama saya. Silakan jika mau ganti rugi. Sekali lagi maaf." Casya berlalu ketika melihat Rayhan datang. "Hai!" Rayhan yang di panggil melambaikan tangan. "Hai." Sedangkan itu. "Siapa, Mas?" "Oh, eh, teman," ucap Tirta seadanya. "Kok buru-buru banget?" "Oh, iya, ada perlu." Ya, Tirta sedang bersama adiknya menemani belanja karena pasangannya sedang sibuk. Kebetulan. Tapi yang tidak kebetulan ketika dia sengaja menunggu di belakang Casya memesan coffee dan menabrakkan tangannya dengan coffee Casya. "Oh, ya udah. Yuk balik, Mas!" "Ya, kamu sudah siap?" "Udah dong. dari tadi juga. Mas aja yang serius banget sama si Mbaknya." Tirta terkekeh mendengar pernyataan adiknya. "Ah, kamu bisa aja." "Aku tahu sesuatu deh kayanya." Adiknya tampak berfikir seolah itu adalah hal yang berat. "Mas suka sama si Mbaknya ya?" "Ha? Kata siapa?" "Alah, jangan nyangkal deh, Mas," goda adiknya. "Nggak lah. Mana mungkin," jawabnya ragu sebab sekarang saja dia seperti tidak mengenali dirinya ketika berhadapan dengan Casya. "Siapa, Dek?" Tiba tiba mamanya ikut menimpali. "Oh, ini Mah, Mas lagi suka sama perempuan." Adiknya berucap kalau hal itu adalah biasa namun tidak baginya karena dia tahu seperti apa mamanya. Lihatlah sebentar lagi. "Oh, ya? Siapa, Dek?" "Nggak tau, Ma, ngga kenal. Tapi kayanya si cantik, kelihatan dari belakang. Adek cuma lihat rambutnya aja." "Kamu ngga pernah bilang sama mama?!" Kan benar, mamanya langsung nodong. Dasar adiknya, memang tidak bisa diajak kompromi. Ketika akan menjawab, pesan masuk ke ponselnya. Adik Manis : Mas, maaf deh. Lupa. Janji ngga akan bilang, tapi traktir yaa, (emot senyum meleedek) Dasar, adik durhaka! Dia merutuk dalam hati. Bagaimana tidak, memang adiknya sengaja bukan karena dia tak tahu. Karena tadi ketika adiknya memiinta sesuatu yang mahal, dia tak mau membelikan. Bukan masalah uangnya, hanya saja adiknya kadang tidak tahu tempat. Mamanya pasti akan mendukung adiknya jika tahu dengan dalih, 'udahlah, Mas, kasih aja. Kamu kaya miskin gitu.' Mau bagaimana lagi adiknya adalah anak perempuan satu-satunya. Lihatlah, sekarang mamanya menagih dan adiknya tersenyum penuh kemenangan. Dasar!! "Nanti, Ma, kalau udah jadi calon beneran." "Jadi belum dapat? Kok dia bisa nolak kamu? Pesona kamu udah ngga mempan ya, Mas?" Tirta hanya terkekeh. “Besok-besok deh, Ma, bahas ini lagi." Dia malas, entar ngga akan ada habisnya. Apalagi mamanya. Dasar emak-emak rempong, batinnya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN