Tirta baru saja pulang setelah membuntuti Casya siang tadi seorang diri mulai bersama pria yang bersamanya sampai sendirian ke butiknya dan tidak lagi keluar setelah itu. Dia menunggu informasi apa yang akan didapatkan oleh Key, setelah siang tadi menyuruhnya pulang sendiri lebih dulu.
Tubuhnya sudah lengket dan bau asam. Iseng dia mencium baunya sendiri. "Masih wangi, kok," ujarnya. Untung saja tidak ada siapa-siapa tidak asisten ataupun sahabatnya.
***
Selesai mandi dia membuka wardrobe dengan tetap meletakkan handuk di leher dan sesekali mengeringkan rambutnya yang sudah agak mulai memanjang. Ponselnya berdering menandakan ada panggilan masuk.
"Halo?" sapanya tanpa melihat siapa yang memanggil.
"Biasakan salam atau apa gitu. Kebiasaan!" sembur orang di seberang.
"Hehehe, maaf ya, Ma. Kirain tadi asisten atau si Key." Tirta mencoba merayu mamanya.
Ya, orang yang menghubunginya adalah sang mama, yang selalu memarahinya jika berbuat salah dan hanya mamanya yang berani memakinya sedemikian rupa.
"Kamu ngga lupa ‘kan, acara besok? Itu lo anak tantemu akan bertunangan. Jangan sampe ngga datang ya!" Tirta menghembuskan napas panjang sekali. Sebenarnya dia malas, bukan apa-apa, kadang saudara dari mamanya itu kebanyakan munafiknya. Dia bukan tidak pernah berada di saat kesusahan, justru dia pernah mengalaminya.
"Liat nanti aja ya, kalau ngga sibuk banget." Tirta mulai berdalih. Bukan mamanya tidak tahu, justru sangat tahu tapi memang kadang tidak bisa dipaksakan kehendak seseorang.
"Kamu selalu gitu." Mama dengan segala ambekkannya berujar lagi, “Kalau kamu ngga datang, mama ngga mau bicara sama kamu lagi!" Aduh, mama drama queen banget sih, tapi jelas nggak mungkin dibilang dong. Yang ada dia akan dimaki dan dikeluarkan dari kartu keluarga. Oh, No!
“Iya, iya, gimana Tirta mau dapat jodoh sih, kalau mama suka banget maksa-maksa gini?" dumelnya. Udah kaya emak-emak aja dia. Ya kan siapa tahu dengan tidak ikut dia bisa dapat jodoh, dasar pemikiran yang aneh.
"Lagian mana ada hubungannya sama ke sana? Ada-ada aja kamu.” Dia kira mamanya ngga bakalan fokus, eh, ternyata…
“Kamu pikir mama ini bisa dibodohi, ha? Tapi ngomong-ngomong, siapa yang kamu incar? Jangan gangguin anak orang kalau kamunya yang ngga jelas ah! Mama ngg suka!" kata mamanya menasehati.
"Ngga kok, Ma, cuma masih ngincar aja. Soalnya juga kayanya ini susah ditakluinnya," ucapnya sambil nyengir.
"Iya, kamu jangan suka celap-celup, ngga baik. Entar bibit tumbuh di mana- mana, mama yang pusing." Dia terkekeh mendengar ucapan mama yang nyeleneh.
"Nggak lah, Ma, tenang aja."
"Oke deh, besok jangan lupa ya!"
"Iya."
Setelah panggilan dimatikan, dia melihat email yang dikirim oleh Key, membaca sekilas lalu meletakkan kembali gawainya dan memulai pekerjaan kembali.
***
"Nek." Seorang wanita memanggil.
"Non sudah pulang?" tanya salah seorang asisten.
"Sudah, Bik. Nenek mana ya?"
"Di halaman belakang kayaknya, Non. Nenek lagi senang menanam bunga akhir-akhir ini," ujarnya. Casya mengangguk mengerti.
"Ke belekang dulu kalau gitu ya, Bik." Setelah pamit dia berlalu.
Dia melihat neneknya sedang bersenandung sambil menyirami tanamannya. Lalu kembali duduk sambil melanjutkan rajutannya. Memang nenek sangat suka merajut dan menjahit, itulah kenapa Casya senang mendesain. Yang orang tidak banyak tahu adalah hasil rajutan neneknya yang dia desain ulang untuk dimodifikasi. Dia senang membuat orang memakai apa yang dia buat.
Casya mengendap-endap sambil mencoba mengatur langkah. Dia ingin mengejutkan neneknya, tapi malah yang terjadi ….
"Siapa?" Nenek bertanya.
Dia hanya diam. Senang melihat nenek mengomel sambil memperlihatkan giginya yang masih putih walau sudah tidak lagi lengkap.
"Jangan buat aku memukulmu, ya! Dasar...."
Lalu ketika nenek akan menyiram kembali, tiba-tiba, hap, Casya memeluk nenek dari belakang.
"Aww, ya ampun, ternyata kamu. Nenek sudah feeling sih, walau ragu. Tapi ternyata memang beneran kamu,” katanya sambil mengelus tangan Casya.
"Aku rindu banget sama Nenek." Dia semakin membenamkan kepalanya di lekukan leher neneknya.
"Untung nenek belom ada sakit jantung, walau udah banyak sakit yang menempeli tubuh ini. Untuk yang satu itu masih kuat dan selalu bersyukur. Kamu jangan kagetin nenek mulu. Entar kalo nenek lewat gimana?"
Casya langsung melepaskan pelukannya. "Apaan sih, Nek? Ngga nyambung banget, " jawabnya kesal.
Dia tahu kapan aja kita bisa berpulang, tapi dia ngga suka nenek bilang begitu karena setelah kakek tidak ada, tidak ada yang sayang dengan tulus selain nenek. Tidak juga Paman Risyad dan Rayhan karena mereka punya keluarga. Sekalipun mereka baik, tidak selalu ada untuknya, berbeda dengan nenek.
"Casya ngga suka Nenek bilang begitu," rajuknya.
"Lah, kan memang iya dong kalau kamu kagetin nenek." Nenek justru terkekeh.
"Sudah, Nenek cuma bercanda kok," ujarnya sambil mengelus punggung Casya.
"Nenek, ngga lucu lawakannya," kesalnya menghentakkan kaki lalu masuk ke dalam rumah.
"Ckckck, anak itu ngambekan trus. Bibit kakek sama bapaknya ya begitu," rutuknya.
"Nek, masak apa?" tanyanya.
"Kamu baru turun bukannya basa-basi sedikit langsung nanyain masakan nenek. Sudah lapar ya?" goda nenek.
"Iya dong. Masakan nenek selalu ter the best banget tau. Lagian kemana lagi aku cari masakan seenak ini?”
"Kamu belajar masak semua resep nenek aja. Biar suatu saat kalau rindu bisa masak sendiri," ucap nenek yang sebenarnya ada makna tersirat di dalamnya.
Namun, Casya yang memang sudah lapar atau karena tidak fokus akhirnya hanya mengangguk. "Aku udah bisa beberapa. Tapi belum semuanya, Nek. Kayanya lama deh baru bisa semua dan seenak nenek gini."
Casya mencicipi sup iga dan tumis seafood buatan nenek yang tanpa micin memang sangat enak. Makanan favorite dia banget deh.
"Nanti kalau bisa, cari pendamping yang bisa masak ya!"
"Hem," gumamnya.
"Eh, anak ini dibilangin kok cuma 'hem' doang sih?!" sungut nenek.
"Iya, Nek, iya." Casya menghentikan makannya. "Lagian belum ada kok, Nek" lanjutnya lagi.
Nenek yang tahu dia menyukai Sky akhirnya mengalihkan topik pembicaraan.
"Maudya udah baikan?" tanya Nenek.
"Udah lumayan, masih di rumah sakit tapi. Dua hari lagi kayanya boleh pulang."
"Rawat jalan masih?"
"Kayaknya sih iya, sampai lukanya hilang. Ini sih juga udah sembuh cuma kan koma selama lebih dari dua tahun, fungsi organ-organnya masih kaku, jadi masih mencoba latihan gerak di rumah sakit dulu, Nek," jelasnya.
"Oh, ya sudah. Kamu makan dulu ya, nenek mau selesaikan rajutannya, nanti datang aja di perapian ruangan kakek."
"Siap Bos." Nenek terkekeh melihatnya.
***
"Jadi, siapa lekaki yang bersamanya tadi, Key?"
"Rayhan anak Pak Risyad, Bos. Pasti Anda kenal dengan dia. Anak angkat nenek dan kakeknya Nona Casya."
Aha, Tirta mengangguk mengerti.
"Mereka dekat banget, ya?"
Key merasa bingung dengan sikap dan pertanyaan Bosnya ini. Kalau namanya sepupu walau tiri dan jauh jika tidak ada masalah pasti dekat, tapi dia ragu untuk berucap.
"Ya, lumayanlah, Bos."
"Kenapa lumayan? Kenapa ngga dekat banget atau jauh banget?"
Semakin bingunglah Key atas pertanyaan itu.
"Tidak tahu, Bos," jawabnya sambil menggeleng.
"Oke. Silakan keluar. Sebentar lagi aku mau pergi ke rumah mama."
"Iya, Bos," ujar Key.
"Key ...."
"Ya, Bos?"
"Belikan aku kado dua buah. Bunga dan Boneka!” ujarnya.
Key hanya mengangguk dan pamit untuk membeli pesanan bosnya itu. Dia tidak bertanya tapi pasti itu untuk orang terdekat. Dia tahu sepupunya akan bertunangan. Dan tidak peduli dengan kado yang satunya. Bukan urusanku, pikirnya.
***