Parte Six

1016 Kata
Melemparkan tubuhnya ke atas ranjang karena dia sangat lelah. Tidak ada waktu untuk membersihkan diri hanya mengganti pakaian dengan piyama lalu masuk ke alam mimpi. Kring...kring... Casya mematikan alarmnya dan kembali tidur. Mentari sudah menampakkan sinarnya tidak ragu tersenyum malu-malu. Dia sudah bersinar terang menunjukkan seolah mampu mengalahkan dunia. Casya bergerak gelisah dan tidak tampak nyenyak lagi dalam tidurnya. Melirik jam pada nakas dan akan lanjut tidur ketika smartphone pintarnya berdering. 'TUA BANGKA IS CALLING.’ "Halo." Tanpa ada salam apa pun. Dia sedang malas berbasa-basi. "Kamu lagi ngapain? Sudah ke kantor?" Dia mengernyit bingung melihat kenapa tumben sekali Si Tua itu perhatian padanya. Pasti karena ada maunya saja, pikirnya. "Belum. Masih di apartemen." Tidak tau saja jika dia sangat malas berbicara dengannya pagi-pagi begini. "Kamu kenapa malas sekali? Bagaimana bisa perusahaan kakekmu itu akan maju kalau kamu saja seperti ini? Pantas saja semua hanya terus di tempat." Pria tua di seberang mulai mengomel pagi-pagi sekali dia, batinnya. "Bangun! Kamu harus ke restoran lebih dulu. Kamu akan dibantu sama Paman Risyad untuk mencarikanmu koki pengganti." Oh, ya, dia lupa dua minggu lalu kokinya mengundurkan diri karena harus mengikuti istrinya yang orang bule itu untuk tinggal di Jerman. Astaga, lelaki bucin itu tidak terlihat sudah 30 tahun mengingat dia sangat mencintai istrinya. Membuat iri saja, pikirnya. "Kamu masih dengar tidak? Cas?" tanya ayahnya. "Ha? Ah, yaaa." Dia masih mendengar ayahnya mendengus kesal sangat kuat akibat tidak mendengarkannya. "Ya sudah. Nanti Rayhan yang akan bantu kamu di kantor percetakan. Kamu urus butikmu saja untuk saat ini, masih aman." Memangnya dia siapa, pikir Casya. Iya sih, dia masih berhak atas kekayaan yang kakek punya karena dia hanya mengolah saja. Yang dia miliki hanya butiknya. Tapi tetap menguntungkan kok. "Ya, saya matikan," ucapnya singkat. 'Klik' Panggilan dimatikan sepihak. Dia malas ribut pagi-pagi seperti ini dengan ayahnya yang tidak pernah merasa puas itu. Melihat jam di smartphonenya, pukul 09.00 pagi. "APA? HA?" teriaknya saking terkejutnya. "Pantas saja Si Tua itu cerewet, ternyata sudah jam 9 pagi. Siapa yang ingin punya anak perempuan bangunnya kelamaan?" monolognya. "Iya sih, ngga akan ada. Tapi apa pedulinya. Bodo amat." Casya lalu bergegas ke kamar mandi. *** Dia baru saja sampai di restorannya dan langsung menuju ke ruangan ketika salah satu karyawan wanitanya, mengatakan paman Risyad dan anaknya menunggu. "Maaf, Paman, aku terlambat." Senyumnya mengembang melihat Paman yang dia sayangi datang. "Ya, putriku sudah bangun ternyata," godanya senang. Casya dan Rayhan tertawa. "Cas, ayahmu sudah mengatakan kamu butuh koki baru, ya? Yang lama kenapa?" "Oh, ya Paman, sudah pindah dan mengundurkan diri." "Tidak karena kamu pecat atau bukan karena tidak tahan denganmu, ‘kan?" Casya cemberut memajukan bibirnya yang membuat Rayhan gemas melihatnya. "Kokinya laki-laki atau perempuan gimana, Cas?" Akhirnya setelah dari tadi hanya jadi pendengar, Rahyan berbicara. "Terserah. Dua-duanya juga boleh. Selama ini masih satu sih. Cuma ngeliat beberapa saat kemarin agak rame kewalahan si Prasta. Dan sekarang dia pindah, karyawan yang lain kewalahan soalnya masak sambil ngelayani. Kan repot," jelasnya. "Oke deh kalau gitu. Rayhan punya temen koki. Bisa kayanya bantu kamu." Paman Risyad menyarankan. "Biar paman bantu kamu di kantor percetakan. Kamu fokus di butik aja dulu. Katanya mau ada Fashion Show, 'kan?" Paman bertanya. "Iya, Paman. Terima kasih ya, Ray. Kenapa ngga kamu aja sih yang jadi kokinya? Kan kalau kamu aku bisa ngapelin tiap hari," kerling Casya menggoda Rayhan. Paman Risyad hanya tersenyum, tapi Rayhan malu, salah tingkah, dan sekaligus senang. "Ekhem, gimana yaa? Entar pacar kamu marah lagi," godanya balik dengan sikapnya yang salah tingkah. "Ya ngga, dong. Gimana?" tawarnya. "Hehehe. Aku ngga pandai masak. Cuma masak rumahan doang. Ngga seenak koki profesional, Cas." Casya mencibir, terus aja merendah, pikirnya. "Ya udah deh. Kamu mah merendah terus," katanya. "Hemm, ya sudah, Paman ke kantor dulu. Kamu ajari aja apa yang mesti dikerjakan Rayhan. Dia yang bantu kamu kontrol restoran dan cafe ini ya. Nanti dia bisa hubungi temannya." Setelah mengucapkannya, Paman Risyad permisi duluan ke kantor. "Jadi gimana?" tanya Rayhan. Casya yang bingung pun bertanya, "Apanya yang gimana?" "Ya cemceman kamu lah." "Ngga ada. Udah sana kerja. Entar kita bahas itu lagi." Casya sedang malas membahas tentang hubungan. Pasti ujung-ujungnya ngga ada yang bakalan nyangkut juga. "Ya udah deh, kalau ada, kabari ya. Kalau belum, mana tau aku masih bisa daftar," ucap Rayhan cengengesan tapi ketika melihat Casya akan melempar sesuatu, dia buru-buru keluar sampai pintu ruangan itu berbunyi keras. "Sayang banget pintunya, untung tahan," gumamnya pelan. Tapi sebelum Rayhan pergi jauh dia kembali berkata, "Cas, nanti makan siang bareng yaaaaa!” Setelahnya tidak ada suara lagi terdengar. "Gendeng deh pakai teriak segala!" monolognya. *** "Mau kemana, Cas?" Rayhan langsung menyerbu dengan pertanyaan. "Makan. Ikut ngga kamu?" "Yuk lah, sekalian cuci mata," ucapnya. "Kenapa ya, Paman Risyad bisa punya anak kaya kamu? Dia kalem loh, kamunya selengean banget." Casya menggerutu, memberikan kunci mobil pada Rayhan. "Makan di mana?" Rayhan mengabaikan ucapan Casya tadi, justru dia malah bertanya balik. "Pondok Geprek, dekat butikku ya, Ray." "Lah, nanti aku gimana balik ke resto?" "Jalan kaki," jawabnya kesal. Rayhan pun mendengus. "Enak aja sih kamu!" "Ya, pakai aja. Aku bisa ke butik sendiri. Kan ada desain yang belom selesai," ujarnya. "Oke deh." Entah kebetulan atau memang takdir, mereka selalu bertemu Tirta yang melihat Casya ada di sana. Dan bersama seorang pria yang berbeda dengan yang kemarin. "Siapa ya?" tanya Tirta pada dirinya sendiri. "Siapa, Pak?" tanya seorang klien di depannya. "Ah, bukan apa-apa. Maaf ya, salah orang kayanya." Sungkan dia meminta maaf. "Ya, baiklah, Pak. Kita sepakati ya. Bos saya sudah setuju saja kok. Kalau begitu, tidak mengurangi rasa hormat saya. Saya pamit duluan ya, sudah ada janji dengan suami saya." Tirta hanya mengangguk ketika si client pamit lebih dulu. "Key?" panggilnya. "Ya, Bos?" "Siapa lelaki itu?" tunjuknya pada orang yang tepat berada di sebelah Casya. Kebetulan sekali Rayhan menghadap Tirta, jadi langsung terlihat wajahnya tanpa ada halangan. "Saya akan cari tau, Bos" ucap Key bersemangat. "Bagus!" "Saya tunggu. Kamu boleh lebih dulu ke mobil, saya akan di sini dulu." Key yang mengerti segera berlalu. Siapakah gerangan? Kenapa banyak sekali pria yang ada di dekatnya? Dia itu sebenarnya polos atau bagaimana sih? Batinnya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN