Parte Five

1039 Kata
Sial, hari ini Casya memang benar-benar sial. Mana dia tidak ada bawa baju ganti dan mana basah hampir semua lagi gaunnya itu. "Arghh, sial!" gumamnya pelan. "Casy, kamu tidak apa-apa, ‘kan” Casya hanya menggeleng. "It’s okay, Adrian. Aku baik-baik saja." "Kamu butuh baju ganti? Aku bisa mendapatkannya untukmu atau paling tidak bisa meminjam punya Mama." Adrian memang tulus meminta maaf, "Aku akan peringatkan pelayanku itu." "Tidak usah, Adrian." Casya menahan tangannya. "Dia hanya tidak sengaja," ujarnya. "Maaf, Nona. Maafkan saya," ujar si pelayan karena takut dengan tatapan Adrian. "Ya, tidak apa-apa. Pergilah, kembalilah bekerja. Kau tidak lihat Adrian yang menjadi bosmu malam ini sangat menyeramkan?" Dia mencoba mencairkan suasana dengan humornya yang garing walau tahu si pelayan sudah menunduk takut dengan tatapan Adrian. "Sudah, Adrian. Dia hanya tidak sengaja." Si pelayan benar-benar meminta maaf. Adrian menarik nafas kemudian mengeluarkannya secara perlahan."Ya sudah, kembalilah bekerja." Si pelayan pergi dan Casya pamit ke kamar kecil. "Adrian, aku ke toilet sebentar." Adrian hanya mengangguk. Mengikuti bagai penguntit, bukan gayanya. Berapa kali harus ditegaskannya bahwa dia tidak suka mengurusi kehidupan orang lain. Tapi jujur saja, dia pun bingung dengan tindakannya sekarang. Dia mengikuti seorang wanita yah, memang cantik juga menawan, tapi dia tidak pernah sebegitu tertariknya dengan wanita mana pun, mungkin setelah ini pun, dia tidak akan tertarik atau justru menemukan tambatan hatinya. Apakah ini yang terakhir, dia sepertinya tidak yakin. "Arrgghh, sial. Kenapa sih? Mana aku ngga ada bawa ganti lagi. Gimana sih ini?" monolognya. "Aku hubungi Sky sajalah." Casya is called Sky.... "Halo?" "Sky, bisa kirimkan pakaian tidak?" "Untuk apa sih, Casy? Aku mengantuk, baru pulang melihat Maudy di rumah sakit." Casya mencebik, memang semenjak Maudy sadar terhitung Casya masih dua kali menjenguk sahabatnya itu. Justru Sky sangat rajin bahkan rela meninggalkan pekerjaannya demi Maudy seorang. Kadang dia harus sabar, menghela napas agak panjang. “Ya sudah deh. Tidak usah." Klik. Panggilan pun dimatikan. Sky melihat layar ponselnya yang tiba-tiba saja hitam. Dia mengernyit aneh. "Kenapa Casya?" tanyanya dalam hati. Tapi akhirnya diurungkannya mengirim pakaian untuk Casya. Kembali tidur, tapi tidak bisa. Akhirnya dia bangkit. "Ah, wanita bikin susah saja," gerutunya. Sedangkan seorang pria meminta seorang pelayan wanita memberikan jaketnya pada wanita yang sekarang berada di dalam toilet itu. "Ini, berikan jaket saya pada Nona Casya." Membuat si wanita yang dimintai tolong pun bingung. "Kenapa tidak Bapak sendiri yang memberikan?" "Dia sedang marah padaku. Biasa sepasang kekasih yang berhubungan memang begitu bukan?" kerlingnya membuat pelayan itu merona merah mengangguk mengerti. "Baik, Pak. Akan saya berikan." "Terima kasih." Lalu pelayan itu pergi dari sana. Casya yang menggerutu pun akhirnga keluar. “Mbak Nona Casya?" sapa si pelayan. Dia menoleh ke kanan kiri tapi memang hanya dia yang berada di sana dan memang namanya yang dipanggil oleh wanita itu tadi. "Ya, Mbak, saya?" ragunya menyahut. "Ini jaket untuk Nona." "Dari siapa? Saya tidak memesannya." Ya, memang dia tidak memesan bahkan tidak mengatakan kepada siapa pun selain Sky. Itu pun kalau dia datang. Tidak mungkin dia baru bangun datang secepat itu. Dia benar benar tidak kepikiran sama sekali. Otaknya tiba-tiba saja buntu. "Katanya kekasih Nona. Waktu saya tanya kenapa tidak memberikan langsung, dia mengatakan bahwa kalian sedang bertengkar dan Nona tidak mau bertemu dengannya.” Casya semakin bingung mendengar penjelasan si pelayan itu. Kemudian dia teringat seseorang. "Oh, mungkin Adrian," serunya senang. "Ah, padahal aku sudah bilang tidak usah. Baik sekali memang Adrian itu." Perkataan Casya membuat si pelayan mengernyit bingung sebab jelas-jelas bukan Adrian yang memberikan. Dia bukan tidak mengenal Tuan Adrian yang sedang mengadakan acara ini. Jelas dia tahu walau tidak pernah berbicara, hanya saja kan dia pernah bertemu. Namun melihat betapa senangnya wanita di depannya ini, akhirnya dia hanya mengangguk saja. "Oh, ya, bilang terima kasih ya padanya dan terima kasih juga padamu." Si pelayan hanya mengangguk. "Kenapa masih di sini? Saya mau pulang dulu,” ujarnya. "Baik. Sama-sama, Nona," ucapnya kemudian berlalu. Casya berlalu dari sana. Dia tidak tahu siapa yang memberinya jaket itu, tapi yang pasti dia sangat berterima kasih. Sebenarnya dia tidak yakin itu dari Adrian, namun tetap saja dia berterima kasih. Sebab jika menunggu berlama-lama semakin membuat si pelayan heran melihatnya dan dia pun bingung perihal siapa yang memberi bantuan padanya. Sesekali dia melihat ke belakang seperti ada bayangan namun tak terlihat ada orang. Ah, mungkin hanya pikiranku, saja batinnya. Dia menaiki lift dan ketika sudah sampai di lobi, dia langsung keluar melewati satu lorong yang sepi. Seketika dia merinding tapi ketika menoleh tetap tidak melihat siapa-siapa. Sampai di depan dia langsung menuju mobilnya dan benar saja Sky datang. "Cas," panggilnya. "Sky, kamu datang?" Dia heran sebab tadi Sky mengatakan tak ingin datang. "Terpaksa," jawaban Sky terlihat tidak ikhlas tapi tetap saja membuat Casya tersenyum. "Ayo, biarkan mobilmu supirku yang bawa," ajaknya menarik tangan Casya untuk digenggam. Casya sebenarnya senang, tapi dia melihat sekelebat orang yang berjalan cepat menuju parkiran juga memakai topi. Siapa ya? Apakah aku kenal, pikirnya. Ketika dia menoleh, “Kok ngga ada ya?" Dia bergumam kecil tapi Sky yang masih bisa mendengar pun bingung. "Apa?" Casya terkejut. “Ah, bukan. Aku seperti melihat orang yang kukenal tadi.” Dia mencoba mengalihkan pembicaraan agar Sky tak semakin penasaran. "Jaket siapa? Katanya ngga bawa baju?" Casya yang ditanya tiba-tiba pun melihat ke arah jaket yang dia kenakan. "Oh, punya Adrian atau mungkin temannya." Casya menjawab santai. "Apa? Kamu sadar ngga sih, kalau barangnya bukan dari Adrian kenapa diterima gitu aja?" Casya yang tadi diam tersentak mendengar nada kesal Sky. "Ya, ngga apa, Sky. Cuma baju doang. Kalaupun bukan dari Adrian pasti dari temannya. Ngga akan apa-apa.” Casya mencoba mendinginkan Sky. "Jangan dibiasakan, Cas, kamu sebenarnya terlalu polos," ucap Sky. Casya sebenarnya senang jika Sky mencoba menghawatirkannya, tapi bukankah teman memang saling mengkhawatirkan itu lumrah ya? Tidak apa selagi Sky belum menolaknya jauh, dia tidak akan menyerah. Tirta yang berpikir sudah aman akhirnya keluar, tapi ternyata dia salah. Sky melihatnya keluar dari parkiran yang bersembunyi di antara mobil-mobil lain yang diyakininya bukan milik pria itu. Jangan-jangan dia orangnya, batin Sky. Yang sayangnya, dia tidak bisa melihat wajah Tirta karena dia menggunakan topi dan menunduk. Tidak jelas, namun jika beberapa kali bertemu nanti pasti dia akan paham. Tapi buat apa dia memberi jaket ini pada Casya? Sky tidak bisa berpikir. Otaknya seakan buntu. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN