Parte Four

1400 Kata
Casya melangkah dengan pelan dan anggun tetapi tidak pernah meninggalkan kesan cuek dan arogansi dalam dirinya. Kadang memang kita harus menunjukan seberapa berkuasa kita kala diperlukan. Seperti saat ini contohnya, mungkin saja dia bisa sedikit memanfaatkan keadaan agar si tua itu tidak terlalu membanggakan dirinya. Kenapa dia sangat benci ayahnya? Karena ayahnya sudah menorehkan luka untuknya. Tanpa sadar atau entah memang sadar, dia sudah tak peduli. Casya memberikan kunci mobilnya pada satpam untuk memindahkannya ke parkiran dekat lobi. Dia melewati karpet merah dari gerbang sampai masuk ke dalam ballroom hotel ini. Tidak main-main, acara ini adalah pembukaan cabang perusahaan seorang pengusaha muda yang lumayan sukses sekalian untuk merayakan anniversary orang tuanya. Mewah, sudah tidak diragukan lagi. Lihat saja, semua mobil-mobil mahal, mewah, dan antik. Orang-orangnya juga berpakaian sangat modis. Hanya dia sepertinya yang memakai pakaian simple dan agak santai walau masih terbilang sopan. Dia langsung menuju ke orang yang memiliki acara. “Selamat Adrian. Kau semakin sukses. Dan maafkan si tua itu tidak datang. Katanya ada acara lain." Adrian hanya terkekeh. Dia mengenal Casya, tidak dekat juga akrab, hanya teman biasa yang beberapa kali berpapasan dan bertemu di acara seperti ini. Tapi dia cukup mengenal bagaimana karakter seorang Casya melihat dari caranya menatap juga berbicara pada lawannya bicara. "Tidak apa-apa. Om pasti senang memiliki putri yang berbakti sepertimu." Adrian jelas menyindirnya secara halus. Dia tahu, Adrian bahkan tahu dia selalu memakai kosa kata si tua itu tanpa mau mengatakan ayahnya. "Ya, jika dia masih ingat memiliki anak seperti aku." Adrian kembali terkekeh. Sebenarnya dia tidak tahu apa permasalahan Casya dengan ayahnya. Hanya tahu bahwa tidak akur dibeberapa moment, hanya itu, tidak lebih. Karena Casya pun memang tidak pernah mau bercerita kepada orang luar dulu selain Maudy dan Sky. Kadang nenek saja dia tidak mau menceritakannya walau akhirnya nenek tahu dari si tua itu. "Apakah kalian masih bertengkar?" Bukan lagi, pikir Casya, tapi memang tidak pernah bisa disatukan bagai air dan api. "Ya, begitulah. Kau tahu sendiri, ayahku termasuk orang yang keras." Adrian mengangguk setuju. "Tapi dia adalah pebisnis yang handal dan disegani." U apa disegani jika perilakunya tidak menunjukkan itu. Handal? Kalau handal rumah tangganya takkan berantakan, begitu batinnya. Hanya dia yang tahu dan tidak perlu diucapkan tak perlu juga Adrian tahu. "Ya, ya, begitulah." Casya mengambil minuman yang di antar oleh pelayan yang kebetulan melewati mereka. Menyesapnya sedikit lalu melanjutkan, "Bagaimana kabarmu?" Adrian pun sontak tertawa. "Dari tadi baru sekarang kau menyakan kabarku. Sungguh aku kecewa, Nona Casya.” Casya yang mendengar hanya mencebik. "Ah, Tante dan Om mana? Aku ingin memberi mereka kado." Adrian melirik kiri kanan. "Ah, mungkin di sana," tunjuknya, "sebentar lagi dia akan ke sini, tunggu saja." Casya mengangguk, kembali melanjutkan minumnya. *** Semua yang dilakukannya tidak luput dari perhatian Tirta. Dia sedang berbincang dengan teman-temannya setelah menyuruh Key pulang. Tadi dia hampir saja kehilangan jejak Casya setelah masuk ke dalam ballroom karena banyaknya orang, tapi setelah dia melihat Adrian, dia tahu yang berbicara dengannya adalah Casya sebab pakaiannya jadi tanda. Sepenguntit itukah dia sampai hapal pakaian gadis itu? "Adrian memang tampan dan sangat sukses untuk ukuran pengusaha muda. Bahkan umurnya belum ada 25 tahun," celetuk salah satu temannya. "Aku dengar-dengar, dia sedang mengejar wanita yang lebih tua tidak jauh dari dia." Temannya yang wanita menimpali. "Siapa? Apakah wanita yang sedang berbicara dengannya itu?" sambung yang lain. "Aku rasa tidak. Dia tidak seperti kelihatan lebih tua. Juga sepertinya memang bukan." Secara tak sadar Tirta menyahut perkataan teman-temannya. Sontak saja beberapa temannya tadi memandang aneh ke arahnya. Dia yang merasa dipandangi pun akhirnya berkata, "Kenapa? Ada apa kalian memandangku begitu? Ada yang salah?" Salah satu temannya menyahut, " Tidak biasanya kau memperhatikan orang lain di sekililingmu. Apalagi itu perempuan yang sedang berbicara dengan Adrian di sana." "Kalian ini yang aneh. Aku tidak peduli kalian bilang aku terlalu dingin. Aku peduli malah heran. Mau kalian apa sih?" Akhirnya Tirta kesal juga. Teman-temannya sontak menggeleng serentak. "Hei, Bung, jangan terlalu dimasukan ke hati. Mereka heran saja selama ini kau tidak pernah terlihat memperhatikan orang lain, apalagi dengan wajah datarmu itu. Kami berpikir bahwa kau memang tidak sempat mengurusi orang lain. Tapi lihatlah ini, kau bahkan tahu wanita yang bersama Adrian itu bukan kekasihnya." Oh, sekarang dia paham maksud temannya. "Bukan, maksudku jika memang dia pasangan Adrian,biasanya kan menggandeng tangannya bukan malah cerita sambil terbahak. Kelihatan mereka tidak memiliki hubungan," terangnya mencoba menjelaskan. Memang begitu, bukan karena analisanya, kenyataan adalah Casya single. Itu yang dia tahu dari Key tadi. Adrian masih bercerita dengan Casya kala orang tuanya datang dan menyapa mereka. "Casya, apa kabar, Nak?" Casya yang disapa pun tersenyum sembari menjawab, "Baik, Tante, Om. Kalian bagaiamana?" Dia mencoba akrab walau kadang susah. Sebenarnya orang tua Adrian baik. Bahkan lebih baik dari ayahnya karena beberapa kali pun mereka pernah juga bertemu dalam acara seperti ini dan mereka sangat humble. "Selamat atas anniversary-nya, Tante, Om." Orang tua Adrian tersenyum. "Terima kasih, Sayang," katanya tulus. "Sama siapa ke sini, Nak?" Nah, yang ini papa Adrian yang bertanya, namanya Om Bima. Om Bima adalah sosok ayah dan suami yang menurut Casya perlu diacungi jempol jika bisa bahkan 20 jempol sekaligus. Sayangnya, tidak bisa. Kecuali, dia minta jari tangan atau kaki orang lain untuk mau meminjamkannya padanya. "Kalian cerita apa? Bagaimana kabar nenek?" Oh, ya, Casya hampir saja lupa dengan kado di tangannya. “Imi, Tan, Om, kadonya. Maaf, mungkin ngga mahal." Iya sih, mungkin dibanding yang lain ngga mahal sebab dia kan memakai hadiahnya hasil tangannya sendiri. Yap, sepasang baju couple buat pasangan itu. "Ah, tidak usah repot-repot, Cas. Tapi terima kasih, ya. Ini pasti bagus. Apa pun, Tante terima." Casya hanya mengangguk. "Oh, Casya sudah punya pasangan?" Casya yang tiba-tiba heran dengan pertanyaan Tante Irma pun mengernyit bingung. "Mama apaan, sih!" Adrian berseru. "Mama pasti mau jodohin mereka," tebak papanya. Tante Irma hanya tersenyum tulus. "Memangnya Adrian ngga pernah kenalin calonnya, Om, Tan?" Adrian yang menjadi topik pembicaraan hanya mendengus kesal. Memang ibunya selalu saja bisa mempermalukan dia. "Kali aja kalian jodoh." Tante Irma sepertinya menaruh harapan. Casya hanya tersenyum. “Nanti Adrian pasti ngenalin calonnya kok, Tan." Dia mencoba menghibur. "Ah, entah kapan, Cas. Keburu dia tua bangkotan dan Tante sudah tidak ada." Adrian pun akhirnya kesal. "Mama apaan sih bicara gitu. Jangan dong!" Casya yang melihat pun hanya tersenyum miris. Bahagianya keluarga ini. "Ya, kalau mama ngarepin kamu yang cari ngga dapat-dapat. Sedangkan anak mama cuma dua. Kalau nungguin Rani ya masih lama. Ya kan, Cas?" Meminta pembelaan Casya dan dia hanya mengangguk. "Ya sudah, jangan lama-lama sendirinya. Nikmati makannya, Cas. Tante sama Om mau menyapa yang lain dulu," ujarnya. Casya hanya mengangguk kaku. "Jangan didengerin. Mama memang gitu, akhir-akhir ini suka sensi buat aku sama papa selalu geleng-geleng kepala. Apalagi semenjak Rani di London, dia kesepian tidak ada teman main belanja dan shopping." Casya hanya mengangguk. Tante Irma mungkin hanya bercanda, tapi Casya tahu dia memang kesepian karena anak perempunya yang sekolah jauh dan rela dia lepas. Namanya juga orang tua, karena Rani perempuan, jika itu Adrian mungkin tidak terlalu kesepian sebab dia laki-laki. Mungkin saja memang dia sudah mau cucu, begitu batinnya. Di pojok sebelah kanan, seseorang memperhatikannya, memanggil pelayan. "Ada apa, Pak?" "Kamu bisa pura-pura menjatuhkan minuman ini? Di sana, wanita yang berbicara dengan Pak Adrian. Hanya menumpahkan sedikit saja." Pelayan itu mengangguk setelah Tirta memberikannya sedikit tip. Setelah pelayan itu pergi,.orang tua Adrian menyapanya, "Hai, Nak Tirta, apa kabar?" Lagi-lagi Tante Irma yang menyapa. "Baik, Tan. Tante dan Om apa kabar? Dan selamat merayakan anniversary dan keberhasilan Adrian," ujarnya tulus. Kedua orang tua itu hanya tersenyum. “Kamu sendiri juga? Kenapa sih kalian masih hobi sendiri aja? Adrian juga begitu," adunya pada Tirta. "Padahal kan kalian sudah layak memiliki pendamping. Kami juga orang tua tidak mengekang kok." Tirta yang mendengar hanya tersenyum. "Mama, ini anak sendiri kok diceritakan yang jeleknya?" Kata Om Bima. Tirta hanya terkekeh menikmati perdebatan keduanya. “Kali aja tante punya calon, bisa kok kenalkan ke Tirta," ujarnya sambil melirik pelayan pria itu yang mulai mendekati tempat Adrian dan Casya. "Ada sih. Itu sih Casya,” jawabnya sambil menunjuk Casya. "Tapi kayanya dia sulit deh buat didekati. Adrian aja tante suruh buat dekati dia." Tirta paham kenapa mereka mengobrol lama tadi, sebab tante Irma ingin menjodohkan Adrian dan Casya. Semakin membuat Tirta penasaran bagaimana seorang Casya. "Udah, Ma, kita sapa yang lain. Jangan ganggu Tirta dulu." Tante Irma mengangguk dan memberi salam sebelum berlalu. Dan Tirta mengamati si pelayan, lalu… Byur!!! ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN