Parte Twelve

1159 Kata
Casya menunggu dijemput oleh Sky. Dia menyempatkan membeli ice cappucino dicampur boba. Katanya kalau dicampur lebih terasa enak. Perasaan Casya biasa aja. Mungkin karena sedang nge-trend saja. "saja, Nona, boleh saya duduk di sini?" Dia sedikit terkejut karena dia pikir tidak ada orang. Memang kedai ini jarang sepi, hanya saja seperti jam makan siang akan sedikit sepi berbeda jika menjelang atau sesudahnya. "Ah, ya boleh. Silakan!" Bosan menunggu Sky yang kelihatannya akan sedikit lama, dia memainkan gawainya dan melihat sosial media yang ada. Ting! Sebuah pesan masuk. Sky : Maaf terlambat sedikit. Sabar menunggu, Nona! Send to Sky : Ok... Setelah membalas pesan Sky, dia kembali memainkan gawainya, lupa bahwa ada seorang yang memperhatikannya tidak jauh dan seorang yang mencari informasi tentangnya. "Maaf, pacar Nona kah?" tanya pria itu. Sedangkan seorang pria tidak jauh dari kedua orang itu menggeram melihat kelakuan keduanya terlebih temannya yang sok akrab itu. "Mending si Key yang mendekati Casya kalau begini caranya. Dasar teman kurang ajar!" geramnya. "Pesan apa, Pak?" Seorang waiter berbicara padanya. "Nanti saja," jawabnya ketus. "Baiklah." Setelah waiter itu pergi, dia memperhatikan kembali kedua orang yang berada seberang meja tersebut. *** "Ya?" menoleh kepada orang yang bertanya. "Itu!" tunjuknya pada hp Casya, "yang kamu lihat dari tadi," katanya. Sontak Casya melihat ponsel yang ada di tangannya. Menggeleng tidak tapi kemudian mengangguk juga. Si pria terkekeh melihat gelagat Casya yang panik dan ragu-ragu. "Kenapa?" tanya Casya bingung, sebab tidak ada angin dan hujan tiba-tiba saja orang di sampingnya terkekeh. Yang ditanya menggeleng, menandakan tidak ada apa-apa. Namun, Casya yang tidak mudah percaya melirik kanan dan kiri. "Tidak ada. Jangan panik gitu. Kamu kenapa? Lagi enggak menganggap saya gila, ‘kan?" tanyanya mengeringkan mata. "Tidak ada. Tapi memang saya menganggap Anda kurang waras tadi," jawabnya tegas dalam setiap kata yang dia ucapkan. "Hahahahaha." Orang itu justru tertawa terbahak. "Dan untungnya saya masih waras. Biasanya langsung saya hajar orang kaya Anda ini. Apalagi tidak jelas," sinisinya. Memang sepertinya beberapa hari ini pertahanan dirinya bagus dan emosinya lebih baik. Karena biasa bila dia melihat orang seperti pria di depannya ini pasti langsung dia tinju. Minimal kena bogem mentah tangan kanannya deh. "Dan tidak tahu kenapa pertahanan diri saya lumayan bagus saat ketemu Anda," ucapnya. "Boleh kenalan tidak?" pintanya balik. Mengulurkan tangannya. Tapi, Casya yang masih bingung melihat antara wajah dan tangan pria itu justru berseru, “Ops, maaf. Nama saya Bayu," ujarnya. Menurunkan tangannya dan mengering jahil. Casya pikir itu bukan untuknya. Dia hampir saja pergi meninggalkan orang itu, tapi sebuah ucapan akhirnya menghentikannya. "Tidak baik orang yang ingin berkenalan ditinggal begitu saja. Buatlah Nona cantik tidak ingin berkenalan dengan saya. Apalah daya pria biasa ini, setidaknya ucapkan satu-dua patah kata seperti mengucapkan maaf saya tidak bisa berkenalan dengan Anda, harusnya begitu, Nona," jelasnya. "Agak terlihat tidak sopan jika harus pergi tanpa pamit." "Memangnya Anda siapa saya harus berpamitan segala?" "Tidak ada. Hanya saja, saya sendiri tadi berpamitan pada Anda ketika ingin duduk di sampingmu. Walau saya tahu bahwa ini tempat umum dan siapa pun bebas untuk datang." Memang begitu seharusnya. "Seandainya saya tidak begitu, Anda pun pasti merasa tidak nyaman bukan?" Kembali Bayu membalik tanya. "Maaf, saya tidak berfikir begitu." Ya enggak mungkin dong, Casya mengaku. Bisa jadi dia ditertawakan karena tidak konsisten dengan pilihannya sendiri. "sendiri, Nona. Mungkin nanti kita bisa...." Belum sempat Bayu berucap, seseorang menepuk pundaknya mengajak pergi. "Hei, dude, gue belom selesai ngomong sama Nona. Ah, ya maaf gue tidak mengetahui namanya." "Sudah, ayo!" ajaknya. "Maafkan temanku yang kurang ajar ini, Nona," ujar Tirta. Ya orang itu adalah Tirta. "Dia memang kadang kurang obat. Maklumi dia yang sedikit aneh," jelasnya. Padahal dia tahu Bayu pasti akan memakinya. Anggukan Casya membuat smirk di wajah Tirta muncul sekilas. "Ayo!" ajaknya pada Bayu yang masih melongo bak kerbau dicucuk hidungnya. *** "Hei, Tirta k*****t!!" teriak Bayu di pelataran parkir. Untung saja tidak terlalu banyak orang. Bayangkan jika mereka berdua saling memaki? Apa yang akan dikatakan oleh orang-orang? Bahwa ada dua pria tampan namun sayang mereka menyukai sesama jenis kan tidak lucu jika tubuh mereka segede gaban malah disangka gay. "Hei, yaaa, Tirta!" Bayu menghadangnya ketika Tirta akan masuk ke dalam pintu kemudi. "Masuk atau kutiggal?" ancamnya. "Oke, oke. Tapi urusan kita belumlah usai." Dia akhirnya masuk ke dalam mobil dan membanting pintu sebagai bentuk protesnya. "Sudah," ujarnya. Tirta hanya mengangguk. Dan memperhatikan Casya yang mereka tinggal di belakang melalui kaca spion. Setelahnya, seorang pria yang dulu juga pernah dilihatnya mengajak masuk. "Hei!" tegur Bayu kembali, "kau sebenarnya mendengarku tidak? Atau sengaja membuatku malu di depan Nona tadi?" rutuknya kesal. "Diamlah, Bayu!" Itu adalah sebuah perintah bukan permintaan maaf. "Apa? Aih, Ta, come on dude! Apa-apaan ini?" Bayu tahu bahwa Tirta tidak mungkin marah berkepanjangan padanya. Tapi ada batasan di antara mereka sekalipun mereka sahabat seperti saudara. Pasti tidak akan sama apabila temanmu mengganggu orang yang kau sayangi atau keluarga yang dekat denganmu. Termasuk kekasih, bukankah begitu? "Hei, dude. Kau tahu bahwa tadi lu sendiri yang nyuruh gue buat deketin dia dan nanya tentang dia secara perlahan. Tapi kenapa...?" Ucapan itu terhenti ketika Tirta mengangkat sebelah tangannya agar Bayu berhenti berbicara. Dering gawai di saku Tirta menghentikan perdebatan mereka sebentar. Ingat! Hanya sebentar saja. "Apa?" tanya Tirta. "Gue ngerasa aneh sama lu," balas Bayu. "Aneh gimana?" "Tadi kan lu sendiri yang nyuruh gue buat deketin Casya, kenapa lu malah buru-buru banget? Trus itu, mempermalukan gue lagi!" "Gue justru membuat lu biar ngga malu di sana. Semakin lama lu yang mempermalukan diri lu sendiri. Dan, gue nyuruh lu deketin dia buat cari informasi karena Key sedang sibuk," katanya mengangkat ponsel di tangannya lalu meletakkan kembali di saku jasnya. "Bukan buat pedekate dengan dia. Dan lagi, lu lama. Ternyata lebih bagus Key," cibirnya menambahi. Seketika Bayu bungkam. Dasar memang teman kurang ajar. Itulah kenapa kita sebenarnya tidak terlalu baik dekat dengan orang lain. Karena dia akan semakin kurang ajar. *** Casya akan pergi tetapi Amel, teman beda kantor dengannya yang bekerja di gedung yang sama, menyapa. "Hai, Ibu Casya. Apa kabar?" kerlingnya jahil. "Apaan sih, Mel. Ngga usah panggil gue ibu di luar kantor, deh. Lagian kantor kita beda juga kali," ucapnya. "Gue berasa tua kali ya dipanggil ibu," sambungnya terkikik. Mereka terbahak bersama sampai klakson mobil menghentikan tawa keduanya. "Itu?" tunjuknya pada mobil Sky. "He’em, iya dia," jawabnya. "Masih sama dia?" tanya Amel. "Ha? Emang gue pernah sama dia?" tanya Casya bingung. “Dasae si Bambang. Ini kan lu lagi sama dia," toyor Amel. "Hahaha, iya ya. Tapi, btw, lu ubah nama anak orang jadi Bambang entar maknya marah loh." Casya melambaikan tangan pada Sky yang keluar dari kemudi mobil. Entah dia merasa bahwa Casya kelamaan atau apa yang jelas ketika dia bersedekap pinggang, Casya merasa Sky jauh lebih tampan. Sayangnya KAKU. "Hei, sorry," ujar Sky. Amel berpamitan dan berlalu setelah mengucapkan kalimat semangat untuk Casya. "Semangat Casya!!" Membuat Casya meringis dan Sky yang heran sampai menekuk antara mata dan dahinya yang membuat Casya tersenyum. Hampir saja kelepasan tertawa. Karena lucu. Untungnya tidak jadi. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN