"Tadi siapa?" tanya Sky to the point sekali.
Casya mengernyitkan dahi bingung. "Yang mana? Oh, Amel? Kan kamu kenal. Dia adalah orang yang bekerja di gedung yang sama, tapi beda perusahaan.”
Setelah mengucapkan oh, Sky hanya terdiam. Maksudnya bukan yang itu, tapi gimana ngasih tahu Casya ya, batinnya.
"Bukan itu," ralatnya.
"Lalu yang mana ? Yang jelas dong, Sky!" kesal Casya.
"Ah, tidak apa-apa. Maaf ya, aku lama jemput kamu.”
"Tumben kamu minta maaf?" ucap Casya menoleh pada Sky. "Lagian biasanya juga telat, ‘kan?” Perkataan Casya memang benar tapi kok rasanya Sky tidak terima ya?
"Ya, kamu tahu sendiri pekerjaan aku banyak banget, ‘kan?" jelasnya. "Jadi sekali lagi maafin ya?" pintanya. Mudah sih memaafkan Sky, hanya saja Casya sekarang memang sudah kebal dengan semua itu.
"Ya mau gimana lagi? Ngga bakalan kembali seperti semula, ‘kan? Namanya juga udah telat. Ya, terpaksa aku juga ngga kerja setelah makan siang karena mau jenguk Maudy juga." Casya tahu yang menjadi prioritas utama Sky tetaplah Maudy.
"Kan kamu bosnya. Masa bos harus diatur sama kerjaannya sih? Karyawan dong yang diatur bos dan waktu pekerjaan. Nona Besar harusnya bebas," kerling Sky.
"Aku juga bebas kantor kok walau ada rapat juga nanti. Yah, ngga terlalu penting sih. Masih bisa dihandel. Makanya tadi aku kejar semua rapat dan pertemuan sebagainya. Sisanya bisa besok atau lusa," terangnya.
"Kamu mah memang bebas dan juga suka banget menerapkan bos di atas segalanya dan tidak pernah salah. Entar karyawannya ngikut tahu rasa. Kadang karyawan tuh dikasih hati mintanya jantung," cibirnya.
"Pengalaman ya, Buk?" goda Sky.
"Ya makanya baik boleh, tapi jangan dikasih hati mulu. Tegas juga dong!" ujarnya.
"Aku mah baik tapi tegas kok di kantor. Cuma ya aku kadang emang enggak bisa se-tanpa hati itu pecat karyawan walau salah. Aku pertimbangkan semua baik dan buruknya.”
Sky mengangguk tanda mengerti. "Paham sih sebenarnya aku sama konsep kerja kamu. Hanya saja kadang mereka perlu diberi sedikit pelajaran."
"Dengan cara memecat? Ngga deh. Nanti fuly. Eh, kita mau makan di mana?" Pertanyaan yang dari tadi yang ingin dia tanyakan.
"Mau kamu?" Dia malah balik bertanya.
"Kenapa mau aku?"
"Ya, bisa aja kamu mau makan sesuatu? Seperti orang ngidam yang harus kesampaian?"
Seketika pukulan kecil menghantam pundaknya.
"Awww… Kamu penyiksaan, Sya."
"Biar aja. Lu kira gue apa sampai ngidam?"
"Kali aja. Aku….” Belum sempat ucapannya terhenti karena Casya menutup mulutnya sebab dering ponsel Casya terdengar.
"Siapa?" tanya Sky.
"Nenek."
"Jawab aja. Biar aku yang bicara."
Akhirnya Casya menerima panggilan itu.
"Halo, Nek?"
"Jadi kan kamu bisa datang?"
"Ya, Nek. Baru juga hari Kamis. Besok Casya sore ke sana sampai Minggu deh," ujarnya.
"Bagus!" ucap nenek.
"Sama Sky, Nek." Tiba-tiba Sky menyahut.
"Wah ada Sky, ya? Oke nenek besok masak banyak deh."
"Buat apa?" tanya Casya bingung.
"Iya, Nek, masak aja yang banyak. Casya pelit soal makanan, Nek. Dia sering enggak bagi kalau dimasakin sama nenek.” Dia berkata sebenarnya.
"Kamu ngga boleh gitu lho, Sya. Nanti rezekimu sempit." Casya terbelalak mendengar ucapan nenek. Sedangkan Sky malah cekikikan di kemudi.
"Nngga kok, Nek. Sky aja yang lebay nih," rajuknya.
"Ya sudah, besok aja Sky ya. Biar nenek masak banyak. Kalau gitu sudah dulu."
***
Sedang di dalam mobil dua orang lelaki yang cukup tampan mengikuti mobil yang baru saja sampai di sebuah restoran.
"Kita ngapain ke sini sih, Ta?" tanya Bayu. "Kita kan tadi udah makan siang," katanya yang masih belum paham apa maksud temannya itu.
"Eh, kita bukan mau makan. Ya kali makan mulu. Perut lu bengkak entar tau rasa!"
"Jadi ngapain ke sini, Bambang?" Mereka berdua asik berdebat ketika dua orang keluar dan memesan tempat.
"Lu keluar duluan. Gue nyusul di belakang. Lu sebisa mungkin jangan keliatan oleh Casya. Entar dia curiga," perintah Tirta.
"Dasar!!" Ingin memaki pun percuma. Tirta duluan keluar dengan dalih ke kamar mandi. Alasan aja batin Bayu.
Akhirnya tanpa persiapan apa-apa, Bayu pun keluar. Mencari tempat yang sulit dijangkau pandangan sepasang manusia di sana. Tapi jangan katakan dia Bayu jika tidak bisa menyusun sebuah rencana yang membuat Tirta kesal setengah mati.
***
"Mau pesan apa?" tanya Sky.
"Apa aja deh. Soalnya masih kenyang juga."
"Cuma minum cappuccino, kenyang?" Terdengar tidak yakin karena biasanya Casya akan memesan banyak tanpa sisa dia menghabiskannya.
"Biasanya juga seabrek, Buk," sindirnya.
"Nyindir, Pak?" ucapnya sinis.
"Hahaha. Ya gak dong! Kan biasanya begitu," ujarnya.
"Maksud lu gue gemuk gitu? Tapi kayanya iya deh." Tampak tak yakin dengan perkataannya.
"Eh, btw malam Minggu nongkrong di rumah nenek. Emang lu mau, Sky?"
"Mau lah. Masa ngga sih?"
"Tumben."
"Ya ngga kenapa-kenapa," katanya.
Pesanan mereka datang dan mereka makan dengan hening sampai seorang waiter kembali datang memberi secarik kertas pada Casya.
"Maaf, Mbak, ini ada titipan," katanya.
"Oh, ya? Dari siapa, Mbak?"
"Ngga tahu, Mbak. Orangnya di sebelah sana tadi." tunjuknya pada meja di sebelah pojok tapi ketika dia melihat tidak ada siapa pun.
"Eh, maaf, Mbak, tadi ada kok orangnya di sana,” ujarnya tidak enak.
"Ah, tidak apa-apa."
"Siapa, sih?" Sky menyahut setelah dari terdiam mengamati kedua orang itu berbicara.
"Tidak tahu, Mas."
Sedangkan Casya hanya mengedikkan bahunya tanda tak tahu.
"Mana sini aku liat!" pinta Casya namun kelihaian Sky patut diacungi jempol.
"Hai, Nona Casya. Boleh berkenalan? #penggemarmu." Sky membacakannya dengan pekan tapi masih bisa didengar oleh Casya dan si waiter.
"Kalau begitu saya permisi, Mbak, Mas," pamitnya undur diri.
"Siapa sih? Sini aku lihat!" pintanya.
"Enggak tahu," ujar Sky melirik kiri-kanan. "Kamu punya teman lain? Atau penggemar gitu?" tanyanya.
"Enggak ingat." Dia menggeleng pelan. "Siapa sih? Iseng banget dia," tuduh Casya.
"Hati-hati kamu!” kata Sky memberi peringatan. "Kamu sih suka banget ketemu orang baru diladeni aja," sungutnya,
"Kok kamu yang marah sih?" kesal Casya.
"Ya udah makan lagi aja. Ngga usah dipikirin."
"Iya. Heran deh," tukasnya.
***
"Aduh, kenapa bisa yang baca laki itu duluan sih?" Bayu malah bersungut-sungut.
"Kan untung gue bisa sembunyi. Kalau ngga, bisa ketahuan ini," katanya.
"Ketahuan apa?" Suara di belakangnya mengejutkannya.
"Ha? Ah, bukan apa-apa," ujarnya cepat.
"Gue mencium bau-bau kebohongan dan sepertinya lu harus jalan kaki untuk pulang kali ini," ancam Tirta.
"Ya elah, Ta, gue cuma ngirim secarik kertas buat Casya," akunya.
"Sama siapa? For what?"
"Sorry, rencana mau ngerjain elu sih. Eh, nggak taunya dibaca sama tuh cowok yang dekat sama Casya,” ujarnya.
"Sky Blue?" pertanyaan sekaligus pernyataan.
"Lu kenal sama cowok itu?"
"Kenal gitu aja. Pernah kerja sama bisnis sama dia," entengnya berucap.
"Ohh, ohh," ucapnya.
"Eh, btw kenapa lu selalu ngikutin Casya? Kan lu cuma mau kenal dia aja. Lu udah tahu dan kenal kenapa masih—" Pertanyaan Bayu terhenti ketika dia melihat kilatan mata Tirta dan sekilas smirk dikedua bibirnya. Antara yakin dan tidak sebenarnya Bayu tidak yakin, hanya saja seorang Tirta juga manusia, ‘kan?
"Gue cuma tertarik aja. Ngga lebih kok," tegasnya.
"Gue nggak bilang apa-apa kok. Atau lu sendiri yang ngerasa?" Bayu bertanya balik.
"Apa?"
"Casya," pancing Bayu.
"Hem. Ada lah." Dan berlalu pergi.
"Lu mau balik ngga? Atau tinggal aja di sini? Mana tau lu mau cari mangsa.” Dan dia benar-benar pergi.
"Ya, tunggu!" kejar Bayu. "Gila si Tirta ninggalin gue sendiri. Udah dua kali gue satu hari ini kaya orang gila. Dasar teman k*****t!" sungutnya sampai di parkiran.
Dia mencari mobil Tirta dan sebuah mobil berhenti di depannya.
"Ayo, Pak, naik!" ajak Key asisten Tirta.
"Thank's Key," ucapnya
"Untung ada lu. Emang dasar bos lu kurang ajar banget sama gue." Bayu terengah-engah karena berlari mengejar Tirta.
"Iya, Pak," ucap Key.
"Kok lu mau sih, bertahan sama bos kaya dia?" tanya Bayu. "Gue sih ogah, Key. Tapi, kenapa lu bisa ada di sini?" tanyanya.
"Pak Tirta yang nyuruh saya" ucapnya polos. "Oh" kata Bayu,
"Ha? Apa?" ulangnya.
"Bapak Tirta Yang Terhormat yang nyuruh saya, Pak," tegas Key sekali lagi.
Bayu menganggukkan kepalanya tanda mengerti. "Oh, gue tahu sekarang, pantesan," ujarnya. "Lu udah tahu berarti? Dan dari tadi di sini?"
"Ndak tahu, Pak. Kalau di sini baru aja. Hanya saja saya ada pekerjaan tadi di suruh Pak Tirta dan kebetulan memang di sekitar sini. Makanya saya cepat datangnya," jawabnya.
"Oke. Trims Key."
Dassar b*****t emang si Tirta, batin Bayu.
***
Sedangkan Casya dan Sky sampai di rumah sakit menjenguk Maudy. Setelah perdebatan mereka tadi sedikit banyak kembali renggang. Padahal baru dua hari mereka kembali akrab.
"Hai, Dy? Apa kabar?"
"Baik, Sya. Sky mana?" tanyanya.
"Ngga tahu tutuh.Casya mengedikkan bahu. "Kali aja ada perlu. Tadi katanya sebentar ke toilet samping sekarang kagak muncul," jelasnya lebih rinci.
"Oh. Biar aja. Hehe mana tahu dia mau ketemu pacarnya," kata Maudy polos.
"Heh, iya kali," ujar Casya.
"Kamu ngga sibuk, 'kan? Kita ngobrol banyak ya hari ini. Juga tentang Sky," pinta Maudy. Yang hanya diangguki oleh Casya. Mau bagaimana lagi dia sayang sih sama Maudy. Yang Maudy tidak tahu aja bahwa dia dan Sky tidak memiliki kekasih. Ah, sudahlah.
***