Parte Fourteen

1330 Kata
Bayu sampai ke apartemen Tirta dengan sesak menahan nafas karena berlari dari lobi. Untung saja dia masih ingat naik lift, jika tidak dia akan kehabisan nafas. "Dasar lu ya! Sembarangan ninggalin gue sendirian. Untung ada Key di sana," marahnya. Mendobrak pintu dengan kencang yang ditanggapi Tirta hanya dengan menaikkan sebelah alisnya. "Gue haus." Langsung saja Bayu menuju lemari pendingin dan membukanya tanpa tedeng alih meminta izin. "Ngga ada alkohol?" tanya Bayu heran. Gimana tidak heran, biasanya Tirta tidak akan pernah mengosongkan lemari pendingin dari alkohol. "Mencoba hidup sehat," singkatnya. Jawaban yang jelas membuat Bayu tercengang. Tirta adalah orang yang tidak pernah lepas dari alkohol dan Bayu jelas tahu alasannya. Tapi kenapa sekarang? Semua terlihat berbeda. Ada yang tidak beres menurut Bayu. "Kenapa?" Ragu Bayu bertanya. "Hanya ingin saja," jawabnya mengedikkan bahu. "Enggak biasanya. What's wrong with you, dude?" "Kita bahas yang lain aja, Bay," ucapnya menerawang jauh. Melangkah ke arah balkon menikmati angin sore. Tapi jangan lupakan tatapan tajam di kilat matanya yang memancarkan sebuah kemarahan. "Bay?" panggilnya. "Ya? why?" jawab Bayu. "Gue mau lu ikutin Casya dan jaga dia dari jauh." Itu lebih terdengar sebagai sebuah perintah. "Karena Key bakalan sibuk banget bantuin gue," jelasnya tanpa harus diminta. "What's?" teriak Bayu. Dia bingung benar-benar tak paham jalan pikiran Tirta. Kalau bukan karena temannya sudah pasti dia menghajar kepala Tirta dengan botol minuman yang dia pegang sekarang. "Seperti yang gue jelaskan. Key sibuk ngurusin kerjaan gue." Dia menghela nafas terasa berat. "Sean bantuin Arga. Dan Arga juga punya masalah sendiri. Gue ngga selalu bisa di dekat Arga bantuin setiap masalah dia. Key bantuin kerjaan gue dan gue bantuin kerjaannya Arga. Dan gue minta bantuan lu buat pantau Casya sampai beberapa lama." Jujur saja dia ingin mendekati Casya dan menarik wanita itu dalam hidupnya secepat mungkin tapi dia juga harus sedikit banyak berfikir jika ingin melibatkan orang lain dalam hidupnya. "Tapi buat apa, Ta?" tanya Bayu tak percaya. Jujur dia tidak mengerti untuk apa dia mengikuti wanita itu. "Kalau lu suka sama Casya, lu bisa dekati dia, jebak dia buat sama lu terus," sarkas nya. Tanpa diduga oleh Bayu, bahwa Tirta melempar botol minumnya yang hampir kosong mengenai pundak Bayu. Untung saja tidak mengenai kepala Bayu, sampai biru. Walaupun tidak terlalu parah pasti bakalan sakit dan membiru di pelipis Bayu. "Salah gue apa si, Ta?" kesalnya. "Gue cuma nanya. Dan gue dilempar botol. Gue cuma ngirim kertas ke Casya lu tinggalin gue. Masalahnya di mana?" marahnya. "Harusnya kan gue yang marah kenapa lu yang marah sih?" Dia menghempaskan tubuhnya pada sofa single di ruang tamu. "Dia bukan perempuan yang seperti itu, Bay" ujarnya. "Lalu perempuan yang bagaimana?" tanya Bayu tegas. "Gue cuma mau bantuin Arga sebentar dan memikirkan cara gue ke depannya buat narik dia ke hidup gue. Dan harus benar-benar dipikirkan." Ya, dia hanya ingin memastikan sesuatu bahwa selama ini dia tidak salah mencari tahu segala hal tentang seorang Casya. "Buat apa Tirta?!" tekan Bayu. Tirta tidak mungkin memberi tahu pada Bayu tentang Casya dan seseorang lagi yang ingin dia kenalkan pada Casya. Bagaimana jika Casya tidak menerima dan menolak? Bukan, Casya bukan bagian dari sakit hatinya. Dan bukan orang yang harus dia manfaatkan. Tapi bagaimana pun dia harus membawa Casya dalam hidupnya. Entah, itu cinta atau bukan, dia menginginkan wanita itu. "Lu dengerin gue ngga sih?" "Dengar. Gue cuma minta bantuin lu buat jagain dia buat gue, Bay. Cuma itu." Jelas Bayu pasti melakukannya walau tidak diminta karena mereka adalah sahabat. Tapi ada beberapa hal yang Bayu tidak tahu tentang Tirta bahkan saudara dan mamanya pun tidak tahu tentang ini. Entah bagaimana reaksi mereka nanti. Itu biarkan dipikirkan belakangan. "Lu suka sama dia?" Terdengar tidak yakin, tapi bisa jadi setelah hampir sepuluh tahun? "Serius, Ta? Kalau iya tanpa lu minta pun gue bakalan jagain dia buat lu, tapi kalau ngga, mending lu cepat tinggalin dia." "Gue ngga tahu." Tirta mengedikkan bahu dan berlalu ke bar kecil di dekat dapur. "Anjir, kalau emang lu suka dia dekati dengan baik-baik, Ta. Tapi kalau ngga mending lu jebak aja dia dan jadikan One Night Stand doang," ujar Bayu jelas. Yang mana seketika mendapat timpukan botol minum kembali dari Tirta. "Ampun deh, Ta. Suka banget sih timpuk hari ini. Kaya cewek lagi datang bulan aja, sensi," kesalnya. "Cewek PMS aja ngga gitu banget deh." "Gue laper ini. Habis kejar-kejaran," katanya melangkah ke dapur. "Sama siapa?" tanya Tirta. "Hantu," ketusnya yang membuat Tirta terkekeh. "Ampun, lemari pendingin ngga ada makanan yang enak? Lu ngga belanja?" "Habis. Gue lupa belanja. Biasa si bibik yang belanja, ini udah seminggu dia pulang kampung. Mama udah lama enggak ke sini. Hampir dua minggu, jadi kosong deh." "Eh, tapi tunggu dulu. Apa ini?" Bayu mengambil makanan tapi bukan seperti makanan kebanyakan. Ini makanan sehat yang biasanya dimakan oleh anak-anak. Walaupun orang dewasa memakannya, tapi biasnya diperuntukkan untuk anak-anak lebih banyak. Dan pikiran Bayu langsung melayang pada Tirta, yang tidak mungkin memakan ini yang selama dia tahu. "Makanan anak-anak, juga ada beberapa sosis dan nugget? Sayur brokoli? Bukan lu banget," katanya mengangkat semua bahan makanan itu, yang seketika membuat Tirta sedikit panik tapi tidak dilihat oleh Bayu karena fokusnya hanya pada objek yang dia pegang. "Ha? Ah, bukan kayanya itu punya ponakan gue deh,” sergah Tirta dan kebetulan Bayu hanya manggut-manggut setelah paham. "Ponakan lu yang mana? Bukannya lu punya adek cewek yang masih mau tunangan? Dan kemarin juga—" Tapi kalimatnya dipotong oleh Tirta. "Tante jauh. Termasuk keluarga deket. Tapi, yah lu tahu sendiri saudara gue gimana sifatnya. Lagi pula enggak semuanya bisa gue ceritain, Bay. Yang penting ya begitulah karena jarang ketemu. Kemarin dia datang bersama cucunya tanpa sepupu gue ikut," ujarnya. "Ohhhhh.” Untung aja, batin Tirta mengelus dadanya. "Tapi kok tumben datang ke apartemen lu?" Ngga biasanya Tirta menerima orang lain walaupun itu saudaranya, selain mama dan adiknya termasuk si mbok yang menjadi ART-nya. Tidak ada satu pun orang yang datang ke sini kecuali Bayu, Sean, dan Arga. Oh, jangan lupakan Key. "Oh, mereka datang bersama mama dua minggu lalu," ujarnya enteng. "Tapi lu bilang mama lu datang dua minggu lalu? Dan makanan ini udah dua minggu yang lalu? Kelihatannya masih baru, kok," kata Bayu sambil membolak-balik makanan itu. "Apa mungkin ini beberapa hari lalu?" "Itu dua minggu lalu cuma beberapa hari lalu gue jumpa mereka di suatu acara dan kebetulan bawa makanan yang sama. Kebetulan itu ponakan gue suka banget sama gue, jadi dia kasih. Dan ternyata ada titipan juga dari mama makanya dititipkan sama tante gue," terangnya. "Oh. Tapi ngga biasanya mama lu nitipin apa-apa sama saudara, biasanya kalau bukan kita, ya Key kan?" selidiknya. "Gue juga enggak tahu." Tirta mengedikkan bahu seolah dia sendiri pun bingung. Obrolan mereka terhenti karena Tirta masuk ke dalam kamar sedangkan Bayu memasak untuk dirinya sambil terus berfikir ada sebuah kejanggalan. *** Tirta sedang menyendiri, melihat sebuah figura dengan gambar yang lucu. Menghembuskan nafasnya dengan keras dan kasar tanda bahwa dia lumayan lelah. Akhirnya dia menghubungi seseorang untuk memastikan sesuatu. Ketika dering gawai berhenti, sebuah suara menyapa. "Halo, Tuan," sapa orang di seberang sana. "Bagaimana keadaannya?" "Baik, Tuan. Dia masih sedih sampai semalam. Dia akan selalu begitu setiap pulang dan berpisah dari Tuan." Mendengar apa yang wanita itu jelaskan, dia menghembuskan kembali nafasnya. "Maafkan saya. Bisa jaga kan dia untuk saya?" "Tenang saja, Tuan, saya akan selalu menjaganya untuk Tuan. Kami digaji untuk itu," ucapnya. "Terima kasih. Katakan padanya bahwa saya memang belum bisa tinggal bersama dengannya." "Baik, Tuan." *** "Udah?" Tiba-tiba Sky datang. "Yeah, done," ujarnya. "Langsung pulang nih?" Yang diangguki oleh Casya. "Oke." Casya sampai di apartemen diantar Sky. Pembicaraan yang lama dengan Maudy sedikit memberi Casya kecerahan dalam hal perasaan. Tidak seharusnya dia selama ini menahan Sky dalam hidupnya yang suram. Sky punya kehidupan sendiri sama seperti dirinya. Terlebih mereka adalah sahabat yang sudah kenal lama. Tapi, tidak semua hal tentang mereka pribadi dibawa dalam persahabatan. Dan seharusnya tidak semua hal mereka saling menolak dan menahan. Harusnya, terlalu banyak kata seharusnya sampai mereka lupa bahwa mereka hanya sekedar sahabat. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN