Kau yang membuat Aku pertama kali menangis
Gerimis belum juga redah dari semalam namun tak menghalangi ku untuk menjalani rutinitas setiap Minggu jogging ke Taman Surapati, sekali - sekali ku lihat ke arah jendela Gerimis belum juga redah.
" Bu Thaufik mau jogging dulu " Kata ku pamit saat melihat Gerimis sedikit meredah.
" Iya hati-hati " Sahut Ibu nya dari dapur yang masih sibuk menyiapkan dagangan Pagi.
Aku lewati lorong Gang yang masih gelap meski ada cahaya lampu diantara teras -teras rumah,lalu melewati rel kereta api yang menjadi pembatas menuju jalan raya. Aku seminggu dua kali melakukan jogging ke Taman Surapati.
Sesampai Terminal Manggarai Aku mulai star jogging menelusuri jalan Raya Saharjo dengan ayunan langkah lari kecil, menelusuri jalan Raya Minangkabau.
Samar - samar terdengar suara yang memanggil ku dari belakang.
" Thaufik..." Panggil suara itu.
Aku seperti kenal suara itu.
" Mutia...." Gumam ku dalam hati. Aku tetap mengayunkan langkah lari kecil tanpa menoleh kebelakang, Aku takut kalau - kalau bukan Mutia yang memanggil ku. Langkah lari kaki ku semakin kecencang menelusuri jalan beraspal.
" Fik....!! " Panggil suara itu lagi dari belakang.
Aku menoleh kebelakang ternyata benar Mutia yang memanggil ku, Dia bersama Lusi di Pagi ini,seketika itu
juga perasaan ku bercampur aduk tak menentu setiap kali jumpa dengan nya.
" Duluan ya...." Jawab ku sambil memberi isyarat lambaian tangan sambil lari kecil ku menelusuri jalan aspal yang berselimut dingin nya Pagi, ditambah rasa tak menentu bila bertemu dengan Mutia.
" Fik bareng.... " Teriak Mutia.
Aku mendengar itu pura-pura tak mendengar nya,Aku tetap mengayunkan langkah lari ku meninggal kan Mutia sama Lusi dibelakang.
Kira-kira 2 km lagi sampai ke Taman Surapati dengan mengambil jalan pintas Masjid Sunda Kelapa yang tak jauh dari Taman Surapati.
Sesampai di Taman Surapati Aku masih melakukan lari kecil enam putaran mengelilingi Taman, sebelum masuk untuk melakukan senam setelah lari. Sambil berlari kecil pandangan ku terus mencari Mutia yang dalam Taman, rasa senang bisa bertemu Mutia saat jogging membuat ku seperti ingin menujukkan ini lah aku meski perasaan ku saat ini bercampur aduk.
Jujur ada rasa suka yang timbul meski perhatian itu terdengar dari teman - teman,mereka bilang kalau Mutia suka membicarakan ku saat jam istirahat, begitu juga saat Aku tak ada di sekolah. Hal-hal yang membuat ku penasaran untuk mengetahui apa arti sebenar nya tapi Aku hanya bisa menyimpan rasa keinginan ku dalam hati,mungkin juga rasa simpati Mutia
karena aku selalu menang dalam pertandingan Tri Lomba antar kelas berturut - turut. Aku selalu membawa kelas ku juara, begitu juga bila ada pertandingan antar sekolah Aku tak pernah absen untuk menjadi wakil di setiap pertandingan antar sekolah.
Mungkin itu yang membuat Dia ada rasa kagum,apa yang udh aku lakukan untuk nama sekolah. Putaran akhir Aku mengelilingi Taman terlihat Dia duduk dibangku dalam Taman asyik ngobrol dengan Lusi,lalu Aku masuk kedalam Taman untuk melakukan senam setelah berlari tadi.
Jam 6.30 Pagi Aku bergegas pulang dengan ambil jalan pintas lewat jalan Menteng Sukabumi yang tak begitu jauh ke rumah ku.
Diperjalanan pulang Aku berpapasan lagi dengan Mutia,Lusi yang baru aja keluar dari Warung.
" Hai Fik...ketemu lagi " Sapa Lusi.
" Iya Lusi..." Jawab ku sambil menatap Dia yang berdiri disamping Lusi, Mutia pun menatap ku dengan wajah sedikit kesal karena tadi Aku tak berhenti sedikitpun saat dipanggil.
" Bareng yuck pulang nya " Ajak Lusi.
Aku benar-benar merasakan detak jantung begitu cepat berdetak serta lidah ku terasa keluh untuk menjawab, seperti orang bego saat Lusi mengajak pulang bareng.
" Kho g dijawab " Sahut Lusi.
" Mana mau Thaufik jalan bareng sama kita Lusi " Celetuk Mutia dengan nada kesal.
" Waah jangan bilang gitu donk " Jawab ku sedikit gugup.
" Emang Iya kho! Kenapa tadi g mau berhenti sebentar saat dipanggil " Sahut Mutia dengan ketus.
Wajah ku langsung pucat tak mengira Mutia bilang seperti itu, Aku hanya diam tak berani lagi menjawab nya.
" Udh lah Mutia mungkin Thaufik saat lari g mendengar kalau kita panggil"
Kata Lusi memenangkan kekesalan Mutia.
" Iya benar Aku tadi itu g terdengar jelas saat lari " Jawab ku.
Akhirnya Aku, Mutia serta Lusi jalan barengan pulang
Aku memutuskan mengikuti ke inginan mereka jalan bareng.
" Aduuuh Mutia kenapa kamu ngomong seperti itu, kamu g tahu kalau Aku merasakan sesuatu tapi g bisa diucap " Kata dalam hati dalam perjalanan pulang.
Dalam perjalanan Aku hanya sebagai pendengar setia, mereka yang lebih banyak ngobrol Aku hanya sekali - sekali ikut dalam obrolan mereka karena Mutia masih memasang raut wajah kesal dengan ku.
" Fik besok tunggu Aku di Stasiun ya kita ke sekolah bareng " Ajak Lusi sambil melirik ke arah Mutia.
Aku yang melihat itu hanya diam dan menerka - nerka apa yang direncanakan Lusi.
" Iya.... " Kata ku.
Sesampai di jalan Menteng Sukabumi Aku pamit pisah dengan mereka karena rumah ku udh dekat.
" Fik antar sampai di Terminal Manggarai lah, kan kamu bisa naik perahu eretan pulangnya " Pinta Mutia buka suara mencegah ku pisah dari mereka.
" Iya lah Fik... " Kata Lusi ikut nimbrung buka suara.
" Pasti g mau ...." Celetuk Mutia ketus.
" Iya deh... " Sahut ku melihat wajah Mutia masih cemberut.
" Gitu donk...." Gerutu Mutia.
Aku pura-pura tak dengar gerutuan Mutia karena aku g mungkin marah dengannya. Aku tatapan mata nya saat Dia mengerutu ada sesuatu yang ku rasa Dia ingin aku ada dengannya.
25 menit perjalanan ada waktu yang membuat ku sedikit mengenal karakter Dia sesungguh nya. Semakin terlihat Terminal Manggarai dikejauhan di sepanjang jalan beberapa kali aku mempergoki Dia melirik kearah ku dengan wajah tertunduk malu saat aku membalas dengan senyum.
" Terima kasih ya Fik udh antar sampai sini " Kata Lusi
" Fik pulang dulu... " Kata Mutia suaranya pelan.
Sesampainya di Terminal Manggarai.
" Iya hati-hati dijalan... " Jawab ku sambil berdiri memperhatikan mereka menyeberang jalan. Akupun bergegas pergi setelah bayangan mereka berdua tak terlihat lagi, Aku nyeberang jalan menuju dimana perahu eretan ada yang tak jauh dari Terminal.
Jam 6.20 Pagi Aku berangkat sekolah dengan sedikit berharap bertemu Mutia lagi seperti janji Lusi kemarin, sesampai di Stasiun Manggarai Aku duduk di peron penumpang menunggu mereka datang. Tak lama mereka pun terlihat dari kejauhan ke luar dari pintu gerbang Depo karena mereka pun setiap berangkat sekolah selalu lewat Stasiun Manggarai jalan pintas sampai ke sekolah, Dia tersenyum melihat ku dari kejauhan Aku pun membalasnya dengan senyum sedikit tegang takut Lusi mengetahui bahwa Aku membalas senyuman Mutia.
Mutia selalu jalan bersama Lusi meski beda kelas, mereka berdua selalu bersama mungkin karena rumah nya berdekatan dengan Lusi. Disepanjang jalan menuju sekolah, Aku mengikuti langkah kaki mereka dari belakang nya.
" Fik aku masuk duluan ya..." Seru Mutia.
Aku menjawab dengan senyum karena mulut ku seperti terkunci bila berhadapan dengan Mutia susah mengucap, Aku langsung nongkrong diwarung si Abang kumpul dengan teman-teman.
" Fik loe bareng Mutia sama Lusi bukan tadi?" Tanya Iwan tiba-tiba ingin tahu.
" Ah g Wan, kalau bareng mah gue ada disamping mereka donk saat jalan " Jawab ku mengelak.
" Gue kira bareng.... " Sahut Iwan.
Selang tak berapa lama terdengar bunyi besi yang di pukul Pak Yono
" Teng...teng..teng... " Tanda masuk kelas.
Anak-anak yang ada diwarung si Abang bergegas masuk pintu gerbang sekolah.
Anak-anak kelas 3B hening saat Bu Ida kepala sekolah yang sementara merangkap menjadi Guru Geografi masuk kedalam kelas.
" Selamat Pagi anak-anak " Kata Bu Ida memberi salam.
" Pagi Bu... " Balas anak-anak kelas 3B.
" Anak-anak kumpulkan ulangan hari sabtu kemarin ya.." pinta Bu Ida sambil meletakkan tas di atas meja.
Aku beranjak dari bangku kelas untuk mengambil buku ulangan Geografi teman-teman,selesai terkumpul lalu ku taruh di meja Bu Ida.
" Ini Bu buku ulang Geografi nya " Kata ku.
" Terima kasih Fik... " Kata Bu Ida.
" Iya Bu.... " Jawab ku, lalu balik ketempat duduk ku di belakang.
" Wiwi Ibu minta tolong kamu tulis ini dipapan tulis ya " Kata Bu Ida memanggil Wiwi untuk mencatat pelajaran Geografi. Wiwi langsung kedepan.
" Halaman ini sampai sini ya yang kamu catat " Seru Bu Ida sambil memberikan buku pelajaran Geografi.
" Iya Bu..." Jawab Wiwi
" Ibu mau kekantor dulu jangan ada yang ribut ya! Saat teman kamu mencatat pelajaran di papan tulis nanti Ibu balik harus sudah semau mencatat " Kata Bu Ida dengan suara yang begitu merdu dan berwibawa.
" Iya Bu.... " Seru anak kelas 3B serentak.
" Fik... " Panggil Mutia pelan.
" Ya......" Jawab ku menoleh kearah Mutia.
" Ambilin buku PR Geografi ku ya, Aku belum isi PR nya " Kata Mutia sambil menutup mulut nya takut suaranya terdengar teman - teman di kelas.
Aku mendengar itu hanya bisa mengelengkan - geleng kepala.
" Ambilin ya Fik, Aku mau isi sekarang " Pinta Mutia.
Aku pun langsung ke meja Bu Ida ambil buku Mutia disana.
" Kho diambil lagi Fik buku nya " Tegur Wiwi tiba-tiba yang melihat sedang mengambil buku.
" Ada yang lupa... " Jawab ku sambil berlalu balik ke meja ku.
Tak lama Mutia menghampiri meja ku sambil mesem-mesem.
" Fik beli keripik Singkong pedas dua bungkus donk" Kata Mutia pura-pura. Aku yang udh tahu maskud Mutia, langsung memberikan keripik singkong sama buku PR Geografi nya.
" Terima kasih Fik,nanti minta tolong taruh lagi ya " Sahut Mutia suaranya seperti berbisik.
" Iya..." Jawab ku.
Selang beberapa menit Mutia menghampiri Aku lagi sambil memberi kan buku PR nya. Akupun langsung beranjak ke meja Bu Ida menaruh buku Mutia disana,untung aja teman - teman dikelas tak begitu memperhatikan Aku yang bulak - balik ke depan hanya Wiwi yang sedikit curiga melihat kelakuan ku.
Pelajaran Geografi udh selesai, tinggal pelajaran Agama yang kebetulan Bu Erna tidak bisa hadir hari ini hanya memberi kan buku catatan ke Wali kelas. Biasa bila ada Guru yang berhalangan mengajar ruang kelas pasti sedikit gaduh,apa lagi kelas 3B kelas yang sedikit dikenal anak-anaknya nakal.
Teng....teng... teng bunyi bel tanda jam istirahat Sekolah sedikit keras suaranya.
" Fik beli keripik pedas dua. " Tiba-tiba ada suara dari balik jendela kelas. Aku langsung menoleh ternyata Mutia yang beli.
" Baru aja tadi beli udh beli lagi " Guman ku dalam hati.
" Ini keripik nya... " Sahut ku sambil memberi keripiknya.
" Fik nanti malam kerumah ya,bareng sama Anto.." Suaranya terdengar pelan mungkin takut ada yang tahu.
" Iya.. " Jawab ku sambil memberi kembalian uangnya.
" Benar ya datang " Seru Mutia lagi seakan mengharapkan Aku datang.
"Emang ada acara apa sih...?" Tanya ku penasaran.
" Pokoknya harus datang awas g datang " Sahut Mutia.
" Iya datang... " Seru ku memastikan Aku akan datang ketempat nya.
" Awas kalau bohong..! " Kata Mutia lagi dengan mimik wajah cemberut.
Aku pun menganggukan kepala memberi keyakinan akan datang.
Anak-anak bersorak-sorak kegirangan mendengar kabar dari Wiwi Pak Irwan Bahasa Indonesia berhalangan masuk.
" Anto gantiin donk nulis didepan " Teriak Wiwin memanggil Anto.
" To tolong ganti Wiwi nulis catatan dari Pak Irwan " Kata ku.
" Iya Fik...." Sahut Anto langsung
kedepan meneruskan tulisan Wiwi.
" Terima kasih ya To " Kata Wiwi sambil memberikan buku catatan pelajaran Bahasa Indonesia ke Anto.
Bersamaan selesai Anto menulis catatan pelajaran Bahasa Indonesia, terdengar bunyi bel yang di pukul Pak Yono tanda pulang sekolah.
" Fik nanti malam jangan lupa samper aku kerumah ya " Bisik Anto menghampiri ku sambil memberi kan buku catatan tadi.
" Iya... " Kata ku.
Aku langsung kedalam kantor sekolah memberikan buku catatan pelajaran Bahasa Indonesia saat masuk didalam hanya ada Pak Warto Guru PMP.
" Pak Warto ini buku catatan pelajaran Bahasa Indonesia, sudah selesai dicatat semua..." Kata ku.
" Terima kasih Fik... " Jawab Pak Warto.
Aku pulang selalu paling akhir diantara teman-teman, maklum jadi ke Tua kelas begini lah risiko nya.
" Pak Yono pulang dulu ya.... " Kata ku saat keluar dari pintu gerbang sekolah.
" Hati-hati Fik dijalan...." Sahut Pak Yono yang berdiri didepan pintu gerbang.
" Iya Pak Yon..." Jawab ku
" Fik pulang bareng... " Panggil suara dari Warung si Abang.
Aku perhatikan ternyata Mutia yang memanggil, lalu Dia berlari kecil menghampiri ku yang masih berdiri didepan pintu gerbang sekolah. Seketika itu juga perasaan ini bercampur aduk, detak jantung keras berpacu kuat karena baru kali ini Aku jalan pulang berdua dengan orang yang Aku suka.
" Kho belum pulang?" Tanya ku sedikit gugup.
" Iya memang belum pulang " Jawab Mutia senyum-senyum sambil menatap ku.
" Lusi kemana....?" Tanya ku terbatah-batah
" Udah Aku suruh pulang duluan, kamu lagi sakit ya Fik? " Kata Mutia yang melihat wajah ku sedikit pucat
" G kho ,ayo kita pulang sama-sama " Kata ku mengalihkan omongan Mutia.
" Iya Fik... " Sahut Mutia sambil menatap mata ku.
Di sepanjang jalan pulang Aku mengucap kata - kata yang di ulang - ulang, beda dengan Mutia yang begitu lancar.
" Fik nanti Malam jangan g datang ya, awas kalau g datang... " Kata Mutia sambil mengancam.
" Iya aku datang kho... " Sahut ku.
Tak terasa sampai juga di Stasiun Kereta Manggarai Aku dan Mutia lalu duduk - duduk sebentar di bangku peron.
" Kamu g takut lewat sana sendiri? " Tanya ku saat duduk di peron.
" Hmmm takut sih Fik,kamu antar Aku ya sampai rumah..." Kata Mutia
" Ya udh nanti Aku antara kerumah kamu " Sahut ku.
Setengah jam Aku bersama Mutia duduk diperon Stasiun sambil melihat naik turunnya penumpang kereta, sekali-sekali Aku melirik ke arah Mutia
" Mau kah Kau jadi pacar ku " Bisik hati kecil ku buat Mutia.
" Ayo ngapain curi - curi pandang " Celetuk Mutia yang mengetahui Aku memandanginya terus.
" Ah g curi pandang kho " Kata ku yang tersentak kaget dengan suara Mutia tadi,Aku merasa kan malu karena ketahuan.
" Benar g curi pandang nih..?" Tanya Mutia sambil mesem-mesem melihat ku salah tingkah.
" Ayo sekarang Aku antar kamu pulang ya " Kata ku karena suasana yang membuat ku tersudut.
" Malu ya ketahuan... " Canda Mutia
" Udh ah jangan bahas itu... " Kata ku sambil beranjak dari bangku peron.
Mutia pun ikut beranjak dari bangku peron dengan tawa kecil terlihat di wajah yang ayu atas kejadian tadi.
" Fik genggam tangan ku donk " Seru Mutia.
Untuk pertama kali nya Aku dibuat seperti patung seakan nafas berhenti sejenak, keringat dingin mulai membasahi wajah ku yang tak percaya Mutia meminta tangannya digenggam.
" Fik kho diam aja sih...?" Tanya Mutia.
" G apa-apa kho... " Jawab ku sambil
mengengam tangan Mutia dengan erat, begitu lembut kulit tangan nya dan ku merasakan kan genggaman tangan Mutia sama dengan ku yang tak ingin melepasnya.
" Terima kasih ya Fik udh membuat ku gembira hari ini " Kata Mutia
" Iya Aku juga senang kho..." Sahut ku.
" Ayo Fik lewat sini... " Kata Mutia saat melewati jembatan kecil yang menuju kearah rumah nya.
Ada rasa sejuk, bahagia, suka dan ingin selalu seperti ini setiap hari, Akupun menebak - nebak apa kah Mutia merasa apa yang ku rasa saat ini.
" Itu rumah ku Fik yang warna hijau " Kata Mutia menunjukkan rumahnya.
Aku terus ikuti langkah kakinya menuju kediaman Mutia,terlihat di kejauhan ada Lusi didepan rumah Mutia yang asyik bermain dengan anak kecil.
" Hai Fik...." Sapa Lusi yang melihat ku mengantar Mutia pulang.
" Eh Lusi... " Balas ku.
" Tumben main kesini? " Tanya Lusi dengan raut wajah keheranan.
" G tadi Aku ketemu Mutia lagi duduk Stasiun, terus Aku nawarin diri mau diantar pulang begitu...." Kata ku.
" Oh gitu.. " Jawab Lusi.
Mutia yang melihat Lusi banyak tanya pelan - pelan melepas ngengaman tangannya dari tangan ku, untung aja Lusi tak memperhatikan itu. Mutia bergegas masuk kedalam rumah karena kesal melihat Lusi ngomong seperti tak suka dengan Aku.
Aku masih berdiri didepan rumah Mutia mendengar omongan Lusi yang sedikit kurang bersahabat.
" Lusi Aku langsung pulang ya " Kata ku
" G masuk dulu ke rumah Mutia! " Seru Lusi..
" G Aku langsung balik pulang aja " Jawab ku bergegas pulang.
" Mu Thaufik mau pulang tuh " Teriak Lusi.
Tak terdengar suara jawaban Mutia dari dalam rumah nya.
" Lusi Aku pulang dulu tolong bilang ke Mutia ya " Kata ku.
Akupun meninggalkan Lusi didepan rumah Mutia tanpa pamit lagi ke Mutia, tak lagi menoleh kebelakang langkah kaki terus mengikuti jalan yang tadi Aku lalui bersama Mutia.
Dari kejauhan Aku mendengar suara samar-samar memanggil - manggil nama ku, itu suara Mutia tapi Aku tetap meneruskan jalan membiarkan suara itu.
Pas jam 19.00 Malam, Aku bergegas ke rumah Anto.
" Mau kemana nih anak bujang? " Tanya Ibu ku saat melihat Aku rapih sedikit.
" Kerumah teman yang ulang tahun " Jawab ku.
" Pulang jangan Malam - malam ya Fik " Kata Ibu ku.
" Iya Bu, Ayah kemana Bu?" Tanya ku.
" Biasa lagi urusin anaknya Pak Masun " Sahut Ibu.
" Oh kirain kemana Ayah, dari tadi Thaufik g lihat Ayah dirumah sih.." Seru ku.
" Sebentar lagi juga pulang Ayah mu Fik " Kata Ibu ku sambil rapih - rapih kamar tidur.
" Thaufik berangkat ya Bu... " Seru ku pamit jalan ke rumah teman.
Untung malam ini cuaca bersahabat sinar cahaya bulan, bintang yang menambah suasana tambah asyik.
Aku lewati Terowongan Manggarai menuju rumah Anto yang tak jauh dari Terowongan.
" Assalamualaikum " Kata ku memberi salam sambil mengetuk pintu rumah Anto, tak lama pintu pun terbuka.
" Pak ada Anto? " Tanya ku.
" Ada Fik, Anto lagi mandi silahkan masuk " Jawab Bapaknya Anto.
" Eh ada nak Fik, Anto lagi mandi tunggu aja " Tiba-tiba suara Ibu nya Anto yang keluar dari kamar.
" Iya Bu " Kata ku sambil cium tangan Ibu nya Anto
" Fik sebentar ya " Kata Anto baru aja keluar dari kamar mandi.
15 menit Aku menunggu Anto sambil ngobrol sama ibu Bapak nya, tak lama Anto muncul dengan gaya rambut John Travolta itu udh ciri dari Anto dimana tempat.Aku sering senyum sendiri kalau sudah lihat gaya Anto seperti ini.
" Pak, Bu saya pamit dulu ya mau kerumah teman sama Anto " Kata ku.
" Iya nak Fik hati-hati " Jawab Ibu, Bapaknya Anto.
Aku, Anto jalan menuju rumah Mutia yang tak begitu jauh dari rumah Anto hanya beda Rw.
Sayup - sayup terdengar suara Music Bonny M terdengar dari rumah Mutia menambah suasana menjadi meriah, ketika Aku sampai didepan rumah Mutia bersama Anto ku perhatikan hanya Usman,Bonny,Rizal teman kelas ku yang ada di rumah Mutia teman-teman yang lain tak ada yang datang atau tak di undang. Tiga teman kelas ku pun mereka duduk di depan Teras, beda dengan Rianto, Harry ada didalam ruang tamu bersama teman - teman Lusi yang lainnya. Aku tahu Mutia masuk dalam Geng Borju yang ke tuanya Rianto,
Akupun g tahu ini acara apa, Aku hanya tahu Mutia meminta ku datang Malam ini. Eh Zal, Bon,Man jam berapa kalian sampai sini? " Sapa ku menghampiri ke mereka bertiga.
" Setengah tujuh Fik... " Jawab Rizal.
" Fik ayo masuk... " Kata Anto mengajak ku masuk kedalam.
" Aku disini aja To sama Rizal, Bonny, Usman " Sahut ku.
" Nanti Mutia marah Fik " Seru Anto.
" Bilang aja Aku di luar sebentar " Jawab ku.
" Ya udh Aku masuk ya... " Kata Anto.
" Iya nanti Aku nyusul kedalam " Jawab ku.
Sepintas dari luar aku melihat Mutia duduk berdampingan dengan Rianto lagi asyik ngobrol begitu akrab seperti orang pacaran, ada sedikit rasa iri dalam hati ku kecil ku melihat Mutia asyik dengan Rianto.
" Bonny Mutia ulang tahun ya? " Tanya ku.
" Iya Fik, Dia ultah.... " Jawab Bonny.
" Oh gitu.... " Sahut ku.
" Emang g di kasih tahu sama Mutia " Seru Rizal.
" G cuma disuruh datang aja... " Sahut ku.
" Oh ternyata hari ini Mutia berulang tahun,pantas menyuruh aku datang kerumah nya " Gumam ku dalam hati.
Mutia seperti nya belum tahu kalau Aku udh datang kerumah nya karena masih asyik aja ngobrol dengan Rianto bagi ku tak ada masalah tapi
ada satu hal yang membuat ku kurang nyaman Malam ini, tatapan teman teman Lusi dan beberapa anggota Geng Borju begitu terasa tak suka dengan ke hadir ku.
Aku melihat itu hanya tersenyum dalam hati dan Akupun tak ingin memperlihatkan ketidak sukaan ku, terutama Geng Borju yang menatap nya bukan sebagai teman.
" Hai Fik tumben kesini...." Sapa Harry yang baru aja keluar dari ruang tamu, saat melihat ku ada didepan rumah Mutia.
" Iya nih Anto tadi ajak Aku main kesini " Kata ku.
" Bagus kalau gitu, ya kaget aja kamu bisa ada disini " Jawab Harry.
Aku tersenyum mendengar omongan Harry.
" Eh loe Har ngomong apa sih!" Sahut Rizal tiba-tiba kesal mendengar omongan Harry.
" Ah gue cuma tanya aja kho..." Jawab Harry dengan nada cuek.
" Ya tanya g begitu kali, Bego...! Gue gebuk juga loe banci...." Sentak Rizal mulai emosi.
" Kho eloe yang emosi... " Sahut Harry.
Rizal yang dari tadi duduk di Teras langsung berdiri ingin menghantam Harry, Aku langsung mendekati Rizal untuk melerai mereka supaya g ribut.
" Zal udh jangan..... " Kata ku menenangkan kan Rizal.
Tanpa pikir panjang Aku langsung menghantam Harry hingga jatuh dalam got didepan rumah Mutia.
Seketika itu juga suasana jadi gaduh karena tetangga rumah Mutia berteriak keras. Bonny,Usman langsung membangunkan Harry dari dalam got dekat rumah Mutia.
" Mutia teman kamu ribut nih " Panggil tetangga Mutia sambil berteriak.
" Mutia sih Thaufik ribut.. " Teriak Yuni memanggil Mutia.
Mutia mendengar itu langsung kedepan rumah bersama Rianto.
" Mana Thaufik ...? " Tanya Mutia mencari ku.
" Itu Dia lagi duduk disana " Seru Usman menunjuk kearah ku.
Ketika Mutia hendak menghampiri Aku,tangan Rianto mencegah Mutia pergi mendekat ke Aku.
" Eh To Aku mau ke si Thaufik " Kata Mutia.
" Udh biar aja Dia disana, kenapa kamu harus menghampiri nya " Kata Rianto mencegah Mutia.
" Eh To kamu kenapa sih larang Aku kesana? " Tanya Mutia.
Terdengar jelas suara Mutia karena kesal dengan Rianto, Aku langsung beranjak dari tempat duduk menghampiri Mutia yang ada disamping Rianto.
" Eh To kamu kenapa? " Tanya ku.
Saat memdekati mereka.
" Fik kamu g salah tanya Aku kenapa? seharusnya Aku yang tanya" Kata Rianto.
" Udh buat ribut masih aja cari alasan" Kata Rianto lagi.
" Bisa g aku yang tanya Thaufik, ini acara ku " Celetuk Mutia dengan suara keras membuat Rianto terdiam tapi tatapan nya masih tertuju kearah ku sedikit membuat Aku ingin mengebuk juga kalau bukan dirumah Mutia.
" Mutia Aku minta maaf udh membuat acara kamu rusak gara - gara Aku " Kata ku memotong omongan mereka berdua.
" Sebenar ada apa sih jadi ribut begini Fik? " Tanya Mutia.
" Biasa lah laki-laki Mu... " Jawab ku.
" Biasa kenapa....! " Sahut Mutia penasaran dengan jawaban ku.
" Dia g suka Aku datang kesini " Jawab ku sambil menatap mata Mutia.
" Oh karena itu kamu pukul Harry " Sahut Mutia.
" Iya, Aku minta maaf udh buat keributan sekalian pamit pulang " Jawab ku.
Mutia diam setelah mendengar alasan ku memukul Harry, Dia langsung pergi ke dalam lagi.
" Waah gila loe Fik orang sampai masuk got loe hantam..." Kata Rizal sambil menghampiri ku saat aku termenung karena Mutia langsung masuk kedalam tanpa menjawab apa yang Aku udh katakan.
" Diam-diam loe gawat Fik, Gue pikir loe tuh cuma nenangin gue aja. Eh ternyata orang itu sekalian loe embat juga " Kata Rizal lagi yang masih g percaya Aku melakukan itu.
" Biasa aja Zal yang penting orang itu bisa terdiam udh cukup " Jawab ku.
" Iya juga sih,tapi Gue kaget aja sih tiba-tiba loe hantam banci itu" Jawab Rizal.
" Fik disuruh masuk sama Mutia " Panggil Anto dari depan pintu.
" Aku pulang aja To bilang ya ke Mutia " Sahut ku.
Anto mendengar jawaban ku langsung masuk kedalam.
" Fik bareng pulang nya " Kata Rizal yang dari tadi ada disamping.
" Ayo... " Jawab ku.
Baru aja beberapa langkah meninggal kan rumah Mutia.
" Fik mau kemana? " Panggil Mutia melihat Aku pergi.
" Aku pulang ya... " Kata ku sambil menoleh ke belakang.
" Fik kho pulang..." Sahut Mutia dengan wajah cemberut.
Aku meneruskan langkah kaki ku tanpa menoleh ke Mutia lagi yang berdiri didepan rumah, ku tinggalkan acaranya Mutia karena Aku pikir disitu bukan tempat ku berkumpuldengan Geng Borju.
Semenjak kejadian itu di kelas heboh mereka ingin tahu kejadian sebenar nya, anehnya ada sebagaian teman kelas atau teman lain sedikit mulai jaga jarak dengan ku. Yang g habis pikir Anto sahabat ku yang paling dekat pun berubah seketika, tak lagi menyapa saat bertemu dikelas Aku hanya tersenyum melihat perubahan sahabat satu ini.
Dikantin terlihat jelas perubahan itu tapi Aku g ambil pusing dengan mereka. Mutia pun saat berpapasan tak lagi menyapa apa lagi senyum, Aku memahami karena Dia masih kesal dengan ku. Aku tahu Mutia masuk dalam Geng Borju karena Harry anggota nya.
" Hai Rianto ada masalah lagi kah atau ada yang aneh ? " Tanya ku karena gerak-gerik ku seperti diperhatikan apa lagi saat masuk ke Kantin Bibi Neng.
Rianto diam,Aku sengaja lakukan itu biar mereka tahu jangan pernah merendahkan orang. Mutia yang ada bersama Rianto pasang wajah cemberut melihat ku menegur Rianto.
Aku perhatikan Rianto pergi ke Wc, Aku buru-buru keluar dari kantin lalu mengikuti nya ke Wc saat itu juga Aku langsung hantam Rianto tanpa banyak tanya karena semalam seperti nya Dia menantang ku.
" Loe jago kan.... " Kata ku sambil menghantam perut Rianto hingga tersungkur di pintu Wc.
" Maaf Fik... " Sahut Rianto.
" Udh begini loe cuma ngomong maaf sama gue " Jawab ku.
Aku tendang lagi perut Rianto dengan sekuat tenaga membuat Dia menangis minta ampun,
" Malam loe tantang gue loe To, awas loe bilang ke Wali kelas " Kata ku.
Meninggalkan Rianto di Wc,perasaan ku puas sekali bisa menghantam Rianto sekarang.
" Sekali aja dihantam Thaufik masuk got tuh si Harry. Gue yang kesal sama si Harry, si Thaufik yang hantam tuh" Kata Rizal.
Aku mendengar suara Rizal ngomong itu dari belakang Musollah sekolah saat aku lewat samping.
Untung aja saat itu suasana di Wc sepi jadi g ada yang tahu Aku hantam Rianto.
Kelas 3B heboh melihat wajah Rianto lebam saat Dia masuk kekelas.
" To ribut sama siapa? " Tanya Mutia kaget melihat wajah Rianto lebam sambil menghampirinya.
Anto, Harry yang bangku nya dekat dengan Rianto langsung menoleh ke arah ku seperti nya mereka curiga Aku yang melakukan itu.
" Eh Anto, Harry ada apa loe lihat - lihat ke gue " Kata ku sambil menunjuk ke mereka.
" Ini si Thaufik mau nya ribut aja " Celetuk Mutia melihat ku marah ke Anto sama Harry.
" Kamu ribut sama siapa? " Tanya Mutia lagi.
" Aku g ribut tadi jatuh di Wc " Jawab Rianto.
Dari tempat duduk ku, terus ku memperhatikan Rianto akan ngomong apa sama Mutia begitu juga dengan Geng Borju nya.
Selang berapa menit Pak Agus Guru Olahraga masuk kelas, Dia terkejut juga melihat wajah Rianto.
" Kamu kenapa? " Tanya Pak Agus.
" Tadi jatuh di Wc Pak " Jawab Rianto.
" Coba sekarang kamu pergi ke kantor, minta obat disana " Kata Pak Agus.
Rianto diantar Anto bergegas pergi ke kantor Sekolah, teman-teman dikelas semua diam tak ada satupun yang komentar tentang wajah Rianto yang lebam.
" Fik kamu tahu g Rianto kenapa?" Tanya Pak Agus.
" Saya g tahu Pak, Dia aja g ngomong ke saya " Jawab ku pura-pura g tahu.
" Ok sekarang kalian boleh pergi kelapangan " Perintah Pak Agus.
" Fik eloe yang hantam Rianto ya " Bisik Rizal tiba-tiba dari belakang.
" Udh diam kalau udh tahu " Jawab ku.
" Emang gila loe Fik... " Sahut Rizal.
" Biar aja Dia tahu, kan semalam Dia seperti tantang gue waktu di rumah Mutia. Sekalian deh tuh waktu Dia ke Wc gue hantam, minta maaf sama nangis lagi " Kata ku.
Rizal menahan nafas mendengar pengakuan ku yang hantam Rianto di Wc saat hendak kelapangan Manggarai. Saat aku, Rizal duduk dibawah pohon Mutia lewat didepan dengan wajah cemberut melihat ku.Aku hanya bisa diam melihat Mutia berubah secepat itu hanya karena semalam Aku buat ribut di acaranya.
" Fik kho Mutia begitu sih lihat loe " Kata Rizal.
" Biar aja Zal dipikirin amat " Jawab ku.
" Kenapa Fik....? " Tanya Mutia tiba-tiba balik menghampiri Aku.
" Aduuuh, Dia dengar lagi " Gumam ku dalam hati.
" G apa - apa... " Jawab ku.
" Ah tadi Aku dengar dipikirin amat, ke Aku apa yang lain " Tegur Mutia.
" Fik aku kesini dulu ya " Kata Rizal menghindari kena marah Mutia.
" Eh Zal kho pergi sih..." Celetuk ku.
" Kho diam Fik...! " Sahut Mutia.
" Tadi itu cerita si Rizal,Aku bilang aja ke Dia mikirin amat " Jawab ku membela diri.
" Oh gitu ya,jadi peristiwa semalam kamu g merasa bersalah ya! Udh gitu pulang,dipanggil terus aja jalan " Gerutu Mutia.
" Kan aku udh minta maaf, kamu aja yang langsung masuk kerumah. Aku pulang pun g pengaruhkan buat kamu Mutia " Kata ku.
" Berarti semalam selain itu kamu cemburu ya... " Jawab Mutia.
" Waah cemburu sama siapa aku? " Aku balik tanya ke Mutia.
" Sama Aku lah kamu cemburu karena semalam Aku duduk berdua Rianto, iya kan! " Sahut Mutia yang membuat Aku kaget.
" Kenapa mesti cemburu kamu duduk dengan Rianto, itukan hak kamu duduk sama siapa aja " Kata ku.
" Kalau g mau ngaku kamu cemburu Aku akan lapor kamu tadi pukul Rianto kan " Jawab Mutia.
" Mutia kamu tuh jangan asal tuduh gitu,nanti kalau ada yang dengar disangkahnya benar " Sahut ku.
" Fik tanpa Rianto bilang Aku tahu kho kamu yang pukul Dia tadi " Celetuk Mutia seperti menyudutkan Aku.
" Sekarang ngomong kamu cemburu apa Aku lapor ke Pak Agus " Ancam Mutia.
" Aku mau tanya, kamu mau jawaban yang mana? " Aku tanya balik karena aku yakin Mutia hanya menebak - nebak siapa yang pukul Rianto.