Definition of Love; 50

2112 Kata
Banyu dan Mia paling pandang bingung. Suasana terasa canggung sekali di antara mereka. Duduk saling berseberangan, mereka hanya bisa saling menatap sesekali, dan kembali mengalihkan pandangan karena tidak tahu harus berkata apa. Setelah berakhirnya hubungan antara Banyu dan Mia, keduanya benar-benar tidak pernah menghabiskan waktu bersama lagi. Meski sekadar makan malam bersama Rangga yang ikut serta. Tentu karena semuanya sudah berubah. Meski tidak bisa dipungkiri bahwa masih ada perasaan yang tidak bisa dihapus sepenuhnya. Waktu gagal membuat Mia berpaling dari Banyu. Alasan terbesarnya karena ia dan Banyu sudah berhubungan sangat lama. Sudah saling mengenal sebagai sepasang kekasih yang hampir tidak pernah bertengkar serius. Alasan utamanya karena keduanya masih satu kantor. Sekeras apa pun Mia berusaha, situasi sangat tidak mendukung. Ia tidak mau bersikap kekanakan dengan memilih lari dan mengundurkan diri dari perusahaan. Setiap kali bertemu dengan Banyu, Mia selalu berusaha agar dirinya tidak bersitatap dengan Banyu secara langsung. Kalau tidak ada masalah atau tidak ada yang perlu dibicarakan, maka Mia akan memilih untuk menghindar, daripada memulai pembicaraan yang tidak perlu. Begitu pula dengan Banyu. Banyu yang paling sadar bahwa dirinyalah yang bersalah. Maka dari itu Banyu tidak berusaha untuk mendekatkan diri pada Mia. Bukan karena dirinya ingin memutus hubungan atau memutus tali silaturahmi, tapi karena ia tidak ingin membuat Mia terluka lebih jauh lagi. Lalu sekarang tiba-tiba keduanya duduk di meja yang sama. Tidak ada yang berbicara sejak lima belas menit yang lalu. Mia sejak tadi berusaha untuk sibuk dengan ponselnya, dan Banyu hanya mengetuk-ngetukkan jemarinya di atas meja karena tidak tahu harus melakukan apa atau harus berkata apa. Makanan yang dipesan sudah datang lima menit lalu, tapi tidak ada satu pun dari mereka yang mulai menggerakan tangan untuk makan. Suasananya benar-benar tidak bagus untuk mereka. Sangat canggung dan dingin. *** Dua puluh menit sebelumnya. Banyu, Mia dan Rangga sedang berada di sebuah restoran. Ketiganya baru saja memesan makanan mereka. Banyu memesan chicken steak, Rangga memesan spaghetti carbonara dan Mia memesan baked salmon. Ini adalah makan malam pertama mereka setelah Banyu menikah dengan Stella. Rangga yang merencanakan semuanya karena menurutnya hubungan antara Banyu dan Mia sudah terlalu jauh. Bukan berarti Rangga ingin kembali menyatukan Banyu dan Mia. Tentu saja ia tidak akan melakukan hal itu karena keduanya adalah teman terdekatnya. Banyu sudah memilih kehidupannya sendiri begitu pun dengan Mia, jadi ia tidak akan mengganggu keputusan keduanya. Alasan kenapa Rangga meminta Banyu dan Mia untuk makan malam adalah untuk memperbaiki hubungan Banyu dan Mia yang sudah sangat renggang. Setidaknya agar keduanya bisa mengobrol layaknya teman biasa, daripada memilih untuk saling menjauh karena hubungan yang sudah tidak baik lagi. Namun…. “Bentar, kayaknya gue harus ngangkat telepon dulu. Soalnya ini dari calon bini gue. Kalau gak diangkat nanti bakal ada perang dunia ketiga.” Rangga mengangkat telepon yang beberapa kali bergetar di atas meja. Hal itu membuat Banyu dan Mia saling pandang. Tiba-tiba saja perasaan Banyu merasa tidak enak setelah Rangga mengangkat teleponnya. Entah karena apa Banyu pun tidak tahu. Ia hanya merasa bahwa akan terjadi sesuatu. “Aku lagi mau makan malam sama Banyu sama Mia. Biasalah, tadi ‘kan aku udah bilang sama kamu.” Hening untuk sesaat. Rangga memandang Banyu dan Mia bergantian. “Gak akan lama, kok. Aku cuma makan aja jadi paling setengah jam juga udah selesai. Nanti setelah itu aku langsung mampir ke rumah kamu, deh.” Lagi-lagi Rangga memandang Banyu dan Mia secara bergantian. Seolah ingin mengatakan sesuatu dan Banyu tidak tahu apa itu. Sampai kemudian…. “Ya, udah. Aku ke rumah kamu sekarang juga.” Perkataan Rangga sukses membuat Banyu membulatkan mata. Reaksi yang diberikan Mia juga tidak jauh berbeda, gadis itu memandang Rangga tidak percaya. Setelah Rangga menutup teleponnya, Rangga nyengir lebar dan berulang kali meminta maaf pada Banyu dan Mia. “Biasalah, pacar gue itu emang manja banget. Mau makan malam aja harus sama gue. Katanya di rumahnya lagi gak ada siapa-siapa jadi dia mau makan di luar aja. Padahal gue udah bilang buat nunggu setengah jam lagi sampai kita bertiga selesai makan malam dan gue janji bakal nemenin dia setelah itu, tapi dia nolak dan minta gue dateng sekarang juga.” “Jadi maksud lo sekarang lo bakal pergi gitu aja?” “Ya,abisnya gimana? Daripada nantinya dia ngamuk-ngamuk gak jelas, mendingan gue berangkat ke rumah dia sekarang juga. Gue masih sayang nyawa dan gue gak mau dia berubah jadi monster kalau gue sampai telat datang ke rumah dia.” “Tapi lo itu udah pesan makan di sini. Nanti siapa yang makan kalau lo udah pulang? Siapa juga yang bakal bayar?” “Tenang aja.” Rangga memiringkan tubuhnya dan merogoh saku belakangnya. Mengeluarkan dua lembar uang seratus ribuan dan langsung meletakkannya di atas meja tepat di depan Banyu, “kalau kurang tolong lo bayarin dulu. Gue janji nanti bakal gue ganti. Terus soal pesanan gue, kalian bisa makan itu. Pokoknya terserah kalian mau diapain.” “Bukan itu maksudnya. Kita ‘kan makan malam di sini karena ajakan lo, jadi kenapa malah lo yang ninggalin kita berdua?” Rangga nyengir lebar. Ia menyatukan kedua tangannya dan menatap Banyu menyesal. “Gue juga sebenernya gak mau ninggalin kalian berdua, secara 'kan gue yang ngerencanain buat semuanya supaya hubungan kita kayak dulu lagi gitu. Tapi 'kan namanya masalah gak bisa dikontrol. Masalah aja gak bisa gue kontrol apalagi harus ngontrol pacar gue, itu mustahil. Kalau sekarang gue gak langsung ke rumah dia yang ada dia malah bakal marah dan besok Bumi udah gak ada lagi.” Berlebihan sekali. Rangga berbicara seolah-olah jika kekasihnya marah maka dunia akan kiamat. “Ya, udah, deh. Gak usah pakai basa-basi lagi. Pokoknya kalian berdua makan aja dengan tenang. Gue balik.” Rangga berdiri dan segera berlalu begitu saja tanpa berpamitan lagi. Sempat Melambaikan tangan pada Banyu dan Mia, tapi setelah itu benar-benar meninggalkan Banyu dan Mia berdua. Memulai kecanggungan yang segera tercipta di antara keduanya. *** “Em, kayaknya cukup deh kita diam-diamannya. Emang agak canggung sih, tapi makin gak enak kalau gak ada yang mulai ngomong.” Pada akhirnya Mia memilih angkat bicara. Merasa bahwa keadaan sudah terlalu berlebihan, semakin dirinya diam, semakin menegangkan pula situasi yang dirasakannya. Mia paham mungkin Banyu merasa tidak enak untuk memulai pembicaraan. Banyu mungkin merasa bersalah karena sejak awal Banyu lah yang memilih meninggalkannya. Untuk itulah Mia memilh berbicara duluan agar Banyu hanya perlu meneruskan pembicaraan saja. “Maaf, aku cuma bingung mau ngomong apa,” sahut Banyu. Mia mengangguk mengerti. Ia menujuk makanan Banyu. “Ayo mulai makan malamnya aja. Makin dingin nanti makanannya makin gak enak.” Ia mulai menggerakkan tangan untuk memakan makannya sendiri. Diikuti Banyu yang juga mulai makan. Hanya beberapa suapan. Karena tahu bahwa Stella pasti sedang menunggunya di rumah, Banyu tidak ingin makan terlalu banyak atau nanti ia tidak bisa makan bersama Stella. “Kenapa gak dihabisin? Bukannya kamu itu paling benci sama orang yang buang-buang makanan?” Sepertinya Banyu harus memuji Mia karena gadis itu masih mengenalnya dengan baik, dan mau menyebutkan kebiasaanya tanpa ragu sedikit pun. “Gak pa-pa, aku udah kenyang aja.” Pada akhirnya karena merasa tidak enak makan sendirian, Mia juga menghentikan makannya. Hanya tersisa sedikit di piringnya, tentu tidak lebih banyak dari apa yang ada di piring Rangga. “Ngomong-ngomong, gimana hubungan kamu sama Stella?” tanya Mia. Mia tahu, bahwa tidak ada gunanya menyesali apa yang sudah terjadi. Keputusan yang diambil Banyu mungkin menghancurkan hatinya, memporak-porandakan kehidupan bahagianya, tapi tidak ada gunanya menghakimi keadaan yang jelas-jelas tidak berpihak padanya. Banyu memilih melepasnya bukan tanpa alasan. Itu yang Mia percaya. Keputusannya mungkin memang sedikit keterlaluan, tapi ini benar-benar sadar bahwa dirinya tidak memiliki pilihan lain selain menerima kenyataan. Awalnya memang berat. Sekarang pun masih terasa amat menyakitkan saat mengingat bagaimana Banyu memutuskan hubungan dengannya. Tapi pelan-pelan Mia ingin belajar untuk mengikhlaskan. Ia tahu itulah satu-satunya yang bisa ia lakukan. “Kita berdua baik-baik aja. Kadang emang ada satu dua masalah yang bikin kita berantem dan banyak adu mulut, tapi akhirnya kita berdua sadar kalau kita udah nikah dan harus selesain semuanya dengan cara baik-baik.” Entah kenapa Mia turut senang mendengarnya. Mungkin karena ia tahu bahwa Banyu pada akhirnya tidak menderita dengan kehidupannya yang sekarang. Mau tak mau ia harus mengakui, bahwa laki-laki sebaik Banyu memang harus bahagia. “Aku ikut seneng dengernya.” Mia tersenyum, “lucu, ya? Sebelumnya kita selalu senang kalau bisa jalan berdua. Ada banyak rencana yang belum terlaksana. Yang pada akhirnya cuma jadi angan-angan semata. Sekarang situasinya udah benar-benar beda. Bahkan cuma sekedar buat nyapa kamu aja udah terasa mustahil banget buat aku.” Berlaku juga untuk Banyu. Apa yang Mia katakan benar adanya. Hanya karena satu dua perubahan, kedekatan yang dulu sudah terjalin berubah menjadi perasaan asing yang sulit dilawan. Sama seperti apa yang dirasakan oleh Mia, ia pun jadi sungkan untuk menyapa lebih dulu. Awalnya Banyu kira itu lebih baik karena ia tidak perlu bersusah payah mencari topik yang pas di tengah hubungan yang telah berakhir. Ia hanya perlu mengendalikan diri agar tidak menimbulkan sesuatu yang bisa memancing kembali perasaan masa lalu yang berusaha ia hilangkan. Namun, sekarang Banyu sadar bahwa pemikirannya salah. Memutuskan tali silaturahmi membuat segalanya justru semakin terasa sulit. Menghindari sesuatu tanpa tahu alasannya sangatlah menyulitkan. Ia hanya bisa terus berlari karena tidak mengerti sepenuhnya apa yang harus diperbaiki. Sekarang Banyu tahu bahwa selama ini ia hanya lari dari rasa takutnya. Ia takut melihat reaksi Mia jika dirinya memulai pembicaraan lebih dulu. Ia takut Mia menatapnya dengan sorot kebencian meski sebelumnya Mia sendiri yang mengatakan bahwa Mia sudah mengikhlaskan hubungannya dengan Stella. Tapi memangnya siapa yang akan benar-benar menerima saat kekasihnya diambil darinya? Pada dasarnya mulut memang selalu bisa berbohong. Siapa pun tahu bahwa mulut mungkin bisa mengatakan iya, tapi hati belum tentu bisa dengan mudahnya membenarkan hal itu. Mia mungkin saja memendam apa yang sebenarnya dirasakannya saat datang ke pernikahannya. Susah payah menyunggingkan senyum demi menyembunyikan jeritan di hatinya. Jika Stella adalah gadis kekanakan yang tidak pernah bisa menyelesaikan permasalahannya sendiri dan selalu mencari jalan pintas, maka Mia adalah gadis dewasa yang terkadang marah, tapi selalu bisa menyelesaikan masalahnya. Sejauh ini, Mia adalah gadis paling tangguh yang Banyu kenal. Kalau bisa, Banyu hanya ingin meminta agar laki-laki yang nantinya bersama Mia adalah laki-laki yang bisa mengimbangi Mia. Dalam artian, karena Mia adalah gadis yang baik, maka siapa pun yang ingin memilikinya haruslah bisa memperlakukan Mia dengan sangat baik pula. Karena jika jodoh adalah cerminan diri, maka Mia pantas mendapatkan yang terbaik. “Aku juga salah di sini. Aku gak berusaha buat nyapa kamu duluan. Hari ini, kalau Rangga gak ngajak kita buat makan malam bareng, mungkin kita masih saling ngehindar.” Mia mengangguk setuju. “Apa kita harus berterimakasih sama Rangga?” tanyanya kemudian. Banyu menggeleng tidak setuju dengan yang satu itu. “Aku malah bakal marahin dia.” Ia menunjuk makanan yang dipesan Rangga. Makanan tersebut masih utuh belum tersentuh. “Aku malah bakal marahin dia karena udah dengan seenak jidatnya mesen makanan tapi gak dimakan. udah gitu dia juga kabur gitu aja ninggalin kita berdua.” Mia tergelak. Itulah Banyu yang dikenalnya. Ia senang karena Banyu sudah bisa berbicara lebih santai padanya. “Dia pasti bakal cari banyak alasan, dan pada akhirnya kamu gak bakal marahin dia,” komentar Mia. Itu sudah sering terjadi. Karena sudah kenal lama dengan Banyu dan Rangga, Mia sudah sangat mengenal keduanya. Rangga adalah orang yang paling sering menggoda Banyu. Karena tahu Banyu sangat tidak suka dengan orang suka membuang makanan, Rangga sering sekali menggoda Banyu dengan menyisakan makanan di piringnya. Kalau sudah begitu, Banyu akan memarahi Rangga dan mengeluarkan jurus ceramahnya. Mereka akan adu mulut. Rangga akan beralasan perutnya sudah kenyang atau mengatakan bahwa dirinya tidak menyukai makanan yang disisakannya. Lalu Banyu akan memaksa Rangga menghabiskan makanannya. Meski begitu, pada akhirnya Banyu lah yang mengalah dan membiarkan Rangga melakukan apa pun yang diinginkannya. Mengingatnya benar-benar berhasil membuat Mia mengulas senyum tipis. Walaupun keadaanya sudah jauh berbeda, Mia sangat senang bahwa kenangan itu masih terasa manis saat mengingatnya. Itu artinya dirinya tidak benar-benar membenci keadaan yang sekarang. “Ya, udah. Mendingan sekarang kamu pulang. Istri kamu pasti lagi nunggu kamu di rumah.” Mia tersenyum. Banyu mengangguk setuju. Ia bahkan bisa membayangkan sekarang Stella sedang duduk di sofa. Gadis itu mungkin sedang memainkan ponsel, atau tidak sengaja tertidur karena terlalu bosan. “Kamu pulang sama siapa?” tanya Banyu. “Kamu gak perlu khawatir, aku bisa naik taksi.” Banyu mengangguk lagi. Ia memanggil pelayan untuk membayar makanan yang dipesannya. Saat Mia ingin mengeluarkan uang, Banyu menolaknya dan mengatakan bahwa dirinyalah yang akan membayar makanan Mia. Awalnya Mia menolak, merasa tidak enak. Katanya, ia sudah bukan siapa-siapa Banyu lagi. Tapi begitu Banyu mengatakan bahwa dirinya membayar makanan seorang teman, Mia menerimanya dan akan mentraktir Banyu lain kali sebagai balasan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN