Definition of Love; 49

2154 Kata
"Ngomong-ngomong gimana ceritanya kamu bisa pacaran sama tiga cowok yang kemarin kita temuin di mall?" Ya, begitulah manusia. Ada beberapa dari mereka yang begitu mudah penasaran akan sesuatu. Tidak peduli meski hal itu akan menyakiti perasaannya, tidak peduli meski hal itu akan membuatnya terluka, mengganggu kesehariannya, atau berakhir membuatnya kepikiran beberapa waktu ke depan. Mereka yang mudah penasaran dengan beberapa hal tidak akan memperdulikan dirinya sendiri sebelum pertanyaannya terjawab. Mereka akan terus mengorek sampai benar-benar mendapatkan jawaban dan membuat perasaannya lega, meski pada akhirnya itu melukai perasaannya sendiri. Karena ada manusia yang berpikir bahwa lebih baik bertanya, daripada harus dihantui rasa penasaran secara terus-menerus. Lebih mudah bertanya, daripada harus memendam dan membuat pikirannya malah terganggu. Banyu salah satunya. Meski tahu bahwa pertanyaannya akan mendapatkan jawaban yang tidak menyenangkan, ia tetap ingin mengetahuinya. Terlebih lagi karena hal itu berurusan dengan Stella. Dan jika jawaban Stella nanti akan membuatnya bereaksi tidak jauh berbeda saat dirinya mengetahui bahwa tiga cowok yang saling berteman dekat pernah berpacaran dengan Stella. Itu mungkin akan menyakitkan, tapi ia tetap ingin mendapatkan jawaban. Rasa penasarannya dimulai bahkan sejak pertama kali ia bertemu dengan Stella. Mungkin karena sejak dulu sudah terlalu dekat dengan Stella, ia jadi ingin mengetahui apa yang menyebabkan perubahan besar dalam diri Stella.  Gadis itu tidak terlihat seperti seseorang yang sedang menyembunyikan banyak rahasia, tapi berhasil membuat Banyu ingin mengorek banyak informasi darinya. Semakin hari rasa penasaran itu semakin berlanjut. Banyu ingin mengetahui bagaimana kehidupan Stella sepenuhnya. Ada beberapa jawaban yang sudah terjawab mengenai kehidupan masa lalu Stella, tapi kejadian kemarin di mana dirinya mengetahui fakta baru tentang Stella, Banyu kembali diliputi rasa penasaran ingin mengetahui bagaimana Stella bisa terjebak dalam lingkungan pertemanan empat cowok? Karena amarah Banyu sudah mereda, dan karena dirinya sudah berjanji pula pada Stella untuk berusaha menjadi yang terbaik sebisanya, maka ia ingin mengetahui semuanya tanpa terkecuali dan berusaha untuk menerimanya agar nanti tidak ada satu pun kecurigaan dan prasangka lagi. Keduanya sedang duduk saling berhadapan di atas ranjang. Banyu menatap Stella lekat. Gadis itu duduk bersila sambil memegang bantal guling. Nampak terkejut saat Banyu melontarkan pertanyaan tadi. “Kenapa kamu malah nanya pertanyaan kayak gitu? Aku gak mau kalau nanti kamu udah tahu jawabannya, kamu bakal bersikap kayak tadi lagi. Sumpah demi apa pun itu benar-benar nyiksa aku. Aku gak nyaman kalau kita diam-diaman dan gak saling bicara kayak orang asing.” Banyu pun sangat tidak nyaman jika mengingat kejadian semalam sampai tadi pagi. Kalau saja Bi Siti tidak memperhatikan Stella, mungkin saja ia masih mendiamkan Stella dan tidak mau berbicara dengan gadis itu. Tapi sekali lagi, Banyu benar-benar ingin tahu kebenarannya langsung dari mulut Stella. “Aku janji gak akan marah dan bakal berusaha nerima penjelasan kamu.” Banyu mengangguk mantap, “walaupun mungkin ada beberapa bagian yang bakal bikin aku marah, tapi rasanya itu lebih baik, daripada aku gak tahu apa-apa sama sekali, dan terus-terusan penasaran kayak gini. Aku janji gak akan marah lagi.” Melihat keseriusan di wajah Banyu, Stella mengalah dan memilih untuk membuka semuanya. Tentang lembar-lembar kisah masa lalu yang menurutnya cukup buruk. “Setelah pindah lagi ke Jakarta, aku benar-benar gak punya banyak teman dan cuma ngabisin waktu di luar aja. Buat orang kayak aku, yang gak punya temen perempuan buat diajak hang out bareng, beruntungnya mukaku ini cukup menarik perhatian. Yang pertama aku kenal itu Aris.” Stella memandang Banyu. Berusaha mencari tahu apakah Banyu marah mendengar dirinya menyebutkan nama tersebut, tapi rupanya wajah Banyu tidak memberikan reaksi yang ia pikirkan barusan. Membuatnya memilih untuk melanjutkan. “Aku kenal sama dia waktu aku lagi minum di salah satu klub malam. Kalau gak salah waktu itu dia datang sama pacarnya atau temannya gitu, aku gak tahu. Tapi dia ngedeketin aku. Biasalah, namanya klub malam pasti dipenuhi sama orang-orang kayak gitu. Rasanya wajar aja kalau kita saling ngobrol walaupun sama orang yang gak kita kenal.” Banyu sedikit kesal mendengar beberapa kalimat terakhir Stella. Menurutnya, di mana pun dirinya berada atau sedang apa pun dirinya, mengobrol dengan orang yang tidak dikenalnya bukanlah hal yang wajar. Ia ingin protes, tapi sudah berjanji untuk berusaha menerima penjelasan dari Stella. Jadilah mulutnya tetap bungkam. “Kita ngobrol banyak, saling tukeran nomor telepon, setelah itu mulai sering ketemu, mulai sering jalan berdua dan akhirnya mutusin buat pacaran. Aku sih oke-oke aja karena Aris itu walaupun kelihatan b******k, dia gak pernah selingkuh dan dia juga gak pernah kelihatan jalan sama perempuan lain. Waktu dia bilang pengen pacaran sama aku dan bakal jadiin aku perempuan satu-satunya, dia benar-benar lakuin hal itu.” “Terus kenapa kalian putus dan kenapa kamu bisa kenal sama teman Aris?” Banyu bertanya tidak sabar. Stella berdeham pelan untuk mengingat kejadian detailnya, tapi ia tidak berhasil mengingat keseluruhannya. “Aku lupa gimana caranya aku bisa kenal sama Tirta, tapi kayaknya itu terjadi waktu Aris ngajak aku ketemu sama temen-temen dia. Mungkin itu kali pertama aku ketemu sama Samuel, Tirta dan Aldo.” Stella menyipitkan mata karena tidak terlalu yakin apakah itu benar atau tidak. “Tirta cakep. Diam-diam dia deketin aku di belakang temannya, dan aku sama sekali gak merasa keberatan karena Tirta itu beda sama Aris.  Tentu aja aku respect banget sama orang yang setia, tapi Tirta bener-bener beda dan punya jiwa petualang yang gak dimiliki sama Aris. Kita berdua saling jalan di belakang Aris. Bukan cuma jalan-jalan biasa aja, tapi Tirta juga ngajarin aku  tentang dunia fotografi dan bikin aku senang sama dunia itu.” “Terus?” Banyu menuntut agar Stella bercerita lebih banyak lagi. “Ya, aku milih buat ninggalin Aris, dan terang-terangan bilang ke Aris kalau aku deket sama temennya yang namanya Tirta. Di situ Aris sama sekali gak marah. Mungkin karena dia sadar tampangnya cakep dan dia bisa dapetin perempuan yang lebih baik dari aku.” “Dan akhirnya kamu pacaran sama Tirta?” Mendapat anggukan kepala dari Stella, Banyu benar-benar merasa jengkel. Ia tidak tahu apakah dirinya harus mengapresiasi Aris yang memiliki pemikiran dewasa dan tidak marah saat Stella memilih meninggalkannya hanya untuk pergi bersama temannya, atau marah karena Aris justru membiarkan hal itu terjadi. Karena kalau Aris menghentikannya, mungkin saja semuanya tidak akan serumit ini. “Pacaran sama Tirta bikin aku nemuin hal-hal baru yang sebelumnya gak pernah bikin aku tertarik. Aku diajak jalan-jalan ke beberapa tempat di Jakarta yang bahkan selama aku tinggal di Jakarta dulu gak pernah aku datangi. Dia beda aja gitu. Tapi karena posisinya akulah yang b******k dan mudah tergoda sama orang lain, Tirta gak istimewa lagi begitu aku kenal sama Samuel.” Banyu benar-benar tidak kuat. Di satu sisi ia ingin membekap mulut Stella, mengatakan bahwa sudah cukup ceritanya, tapi di sisi lain ia masih ingin mendengarkan dan mengetahui cerita keseluruhannya. "Waktu itu aku ketemu Samuel di klub. Dia minum banyak banget. Awalnya aku datang sama Tirta, tapi tiba-tiba dia minta buat pulang duluan karena ada urusan kerjaan katanya. Aku minta sama dia buat tinggal lebih lama, dan dari situ aku ketemu sama Samuel yang awalnya gak aku tahu bahwa ada dia di situ. Karena kita berdua udah kenal waktu aku masih pacaran sama Aris, kita berdua ngobrol santai aja gitu. Toh, udah ketemu juga beberapa kali." "Jadi intinya selama kamu pacaran sama Aris atau sama Tirta, kamu itu pernah ketemu dan jalan bareng sama mereka Samuel?" Stella mengangguk. "Paling Aldo aja yang jarang ngumpul. Karena dia itu super sibuk." Banyu mengusap wajahnya frustrasi. Tidak tahu harus bereaksi bagaimana.  "Waktu ketemu sama Samuel, dia cerita alasan kenapa dia minum banyak banget. Katanya, dia baru putus dari pacarnya karena pacarnya mau kuliah di luar negeri. Pacarnya sih ngajak LDR, tapi Samuel gak mau. Soalnya katanya itu bakal berat banget buat dia, dan akhirnya dia milih putus. Di situ aku tahu bahwa Samuel itu orangnya humoris banget. Aku mikir bahwa sifat utama Aris yang setia, sifat utama Tirta yang suka berpetualang dan mempelajari hal baru, terus sama sifat Samuel yang humoris, kalau mereka adalah satu orang, aku mungkin bakal nyaman banget dan bisa jatuh cinta." "Jangan bilang setelah pertemuan kamu sama Samuel, kamu akhirnya milih putus.  dari Tirta?" tembak Banyu. Dan, wow. Stella mengangguk. Reaksi yang sebenarnya sudah Banyu duga, tapi masih memberikan efek keterkejutan yang sama seperti sebelumnya. "Aku salut banget sama pertemanan mereka. Mereka gak marah sama sekali waktu aku beralih ke lain hati,  dan itu adalah teman terdekat mereka." Hal seperti itu tidak seharusnya diberi apresiasi? Banyu berteriak dalam hati. Sekarang ia tahu bahwa sejak awal memang Stella lah yang salah. Gadis itu yang terang-terangan datang ke kehidupan mereka, lalu terang-terangan melukai tanpa merasa berdosa sama sekali. Mereka bukannya memiliki ikatan pertemanan yang kuat, tapi karena sadar bahwa tidak ada gunanya mempertahankan gadis seperti Stella. Kalau mau, ya, ambil. Toh, dia sisa gue. Begitulah pemikiran Banyu. "Terus setelah itu kamu pindah lagi ke lain hati karena kamu bosen sama Samuel gitu? Kamu mutusin Samuel dan jalan sama Aldo? Bener?" Stella bertepuk tangan heboh sambil nyengir lebar. "Wah, hebatnya Banyu!" pujinya berlebihan, "tapi sayangnya kamu salah. Kali ini Samuel yang mutusin aku karena dia tahu Aldo tertarik sama aku. Dan dia juga tahu kalau akhirnya aku bakalan mutusin dia karena Aldo jelas jauh lebih segala-galanya dibandingkan dia." Kalau saja Stella laki-laki, Banyu sangat ingin memukul kepalanya dengan keras agar Stella sadar bahwa yang dilakukannya sangat keterlaluan. Agar Stella mengerti bahwa mengenal banyak laki-laki tidak selalu berakhir baik.  "Hubungan aku sama Aldo itu yang paling lama. Satu tahun lebih, dan kita putus waktu malam itu. Malam pertama di mana aku ketemu sama kamu. Dia sebenernya baik. Bisa dibilang dia yang paling sempurna dibandingkan teman-temannya yang lain. Dia humoris di waktu yang tepat, setia, dan mau berpetualang kalau aku ajak. Kurangnya satu? Aldo itu cowok keras. Dan kayaknya kamu tahu itu." Stella melirik Banyu sebentar lewat ekor matanya, "dia gak suka orang lain nyentuh apa yang udah jadi milik dia. Mungkin itu yang bikin Samuel milih ngelepas aku, daripada ngancurin pertemanannya dan bikin Aldo pakai cara kasar buat ngerebut aku dari dia. Aura Aldo itu beda. Dia yang paling b******k. Bahkan tiga temannya pun selalu ngikutin apa yang dia mau. Karena Aldo emang punya semuanya. Dia bisa ngendaliin orang lain semau dia. Aku udah ceritain hal itu." Banyu mengangguk setuju. Hanya satu kali lihat saja ia tahu bahwa Aldo bukanlah seseorang yang bisa diajak berkompromi. Satu kali ia bertemu dengan Aldo dan langsung berharap bahwa ia tidak akan pernah ditemukan lagi dengan laki-laki itu.  Sebagai laki-laki, Banyu tahu bahwa di antara Aris, Tirta, Samuel dan Aldo, Aldo lah yang paling berbahaya. Mungkin bicaranya selalu tenang, tapi di matanya terlihat jelas bahwa Aldo bukanlah orang yang bisa memanfaatkan segala macam cara untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Ada kekejaman dalam tenang bicaranya. Orang seperti Aldo jauh lebih berbahaya dibandingkan laki-laki b******k mana pun. Mungkin teman-temannya sama brengseknya, Banyu melihat itu, tapi Aldo memiliki sisi mengerikan di dalam dirinya yang disembunyikan dari dunia. Banyu tidak tahu pasti apa itu, hanya saja feeling-nya mengatakan demikian. Aldo orang yang berbahaya. Stella pun mengatakan hal itu. Jadi sudah pasti itu benar adanya. "Terus selama kamu pacaran sama mereka berempat, kamu pernah tidur sama mereka?" Stella langsung menatapnya.  Ia memiringkan kepala dengan wajah cemberut. "Aku udah bilang hal itu, jadi kayaknya gak perlu diceritain lagi. Aku gak mau kamu lebih sakit hati lagi setelah dengar pembicaraan yang gak ngenakin itu," ujar Stella menolak bicara lebih banyak lagi. Untuk yang satu itu Banyu setuju dengan Stella. Ia sendiri juga tidak yakin bahwa kepalanya masih bisa menampung kalimat umpatan yang sejak tadi ditahannya. "Kamu tenang aja." Stella meletakkan bantal guling yang sejak tadi dipegangnya di samping tubuhnya. Ia bergerak mendekati Banyu dan memeluknya tanpa permisi, "aku mungkin gak sebaik Stella yang dulu kamu kenal, tapi aku bakal berusaha buat gak nakal lagi. Aku janji. Kamu percaya 'kan sama aku?" Banyu diam. Setelah mengetahui siapa saja yang pernah berhubungan dengan Stella kemarin, dan mengetahui kisahnya malam ini, Banyu tidak tahu apakah dirinya bisa mempercayai Stella sepenuhnya atau tidak. Tapi pelukan Stella selalu tulus tanpa dibuat-buat. Ia rasa tidak ada salahnya mempercayai Stella.  Nanti, mungkin ada saatnya di mana Stella lupa dengan janjinya sendiri, Banyu tidak berharap hal itu akan terjadi, tapi kalaupun memang benar terjadi, maka ia hanya perlu menuntun Stella kembali ke jalan yang benar. "Aku percaya, tapi bukan berarti kesalahan kamu bisa menghapus kekecewaan yang aku rasain sepenuhnya. Jadi jangan paksa diri kamu, kita cuma perlu berusaha buat jadi lebih baik. Saling percaya satu sama lain dan saling berjuang buat mempertahankan rumah tangga kita. Oke?" Stella mendongak. Menatap wajah Banyu dari bawah. Ia mengangguk mengiyakan. "Ya, udah. Untuk malam ini kayaknya udah cukup cerita-ceritanya, jadi mendingan kita berdua tidur aja." Dan begitulah kisah itu berakhir.  Banyu melepaskan pelukan Stella dan mulai berbaring. Gadis itu mengikuti dan meminta tangannya sebagai bantal. Stella bukan perempuan baik, begitu pula dengan dirinya. Ia pernah melukai orang lain, perkataannya kerap tidak terkontrol, dan ia bukanlah manusia yang sempurna tentunya. Daripada menghakimi dan menuntut Stella untuk berubah demi dirinya, rasanya lebih baik kalau dia dan Stella sama-sama belajar untuk menjadi lebih baik.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN