Definition of Love; 48

2021 Kata
Stella tersenyum lebar saat melihat Banyu perlahan membuka matanya. "Kamu udah bangun?" tanyanya bersemangat. Mungkin karena terkejut melihat Stella bangun lebih dulu daripada dirinya, Banyu langsung menyibak selimut dan bangun dari posisinya berbaringnya. Di dekatnya, Stella duduk di tepi ranjang masih menggunakan piyamanya. "Kamu ngapain?" tanya Banyu seperti seseorang yang baru saja melihat maling masuk ke dalam rumahnya. Stella terkekeh geli. Ia memperhatikan Banyu yang duduk di depannya. Karena sangat jarang melihat Banyu saat baru bangun tidur, hari ini menjadi salah satu hari paling bersejarah dalam hidupnya. Banyu lucu saat itu. Menggemaskan sekali. Itu yang Stella pikirkan. Persis seperti kepribadiannya, bahkan saat sedang tidur pun Banyu terlihat sangat tenang. Tidak sering merubah posisi tidurnya, apalagi sampai mendengkur. Dan setelah bangun, tingkat kelucuannya semakin bertambah. Matanya sedikit menyipit karena masih menyesuaikan cahaya di sekitarnya. Rambutnya berantakan. Dan wajah bangun tidurnya benar-benar manis. Bagi siapa pun yang akrab dengan Banyu, mereka akan menertawakan jika melihat Banyu baru bangun tidur. Mereka mungkin akan berpendapat jika sosok Banyu yang baru bangun tidur sangat bertolak belakang dengan sosok Banyu yang seperti biasanya. Stella pun beranggapan demikian. Ia beruntung karena menjadi perempuan yang bisa melihat Banyu sesuka hatinya. Tidak hanya melihat sisi serius seorang Banyu atau sisi menenangkan seorang Banyu, tapi juga bisa melihat sisi manis dan menggemaskan yang jarang ditunjukkan oleh Banyu di dunia luar. "Tidur kamu nyenyak?" tanya Stella. Banyu tidak menjawab pertanyaan Stella. Ia justru menatap Stella penuh selidik. "Kenapa jam segini kamu udah bangun tidur? Pasti ada sesuatu. Ngaku coba!" selidiknya curiga. "Apaan sih kok nanyanya kayak gitu? Emangnya gak boleh kalau aku bangun duluan? Aku 'kan mau tahu gimana kamu pas bangun tidur." "Oh," sahut Banyu singkat. Ia beringsut turun dari ranjang dan langsung berjalan ke arah kamar mandi. Meninggalkan Stella tanpa berkata-kata lagi. Hal itu membuat Stella cemberut. Ia tidak suka melihat Banyu mengabaikan dirinya. Padahal sebenarnya ia bukan hanya ingin melihat wajah Banyu setelah Bangun dari tidur. Bukan itu saja. Alasan kenapa dirinya sudah duduk di samping Banyu bahkan sebelum Banyu bangun, adalah karena semalaman ia tidak bisa tidur sama sekali. Sejak pertengkaran kemarin, Banyu belum berbicara lagi padanya. Dua kalimat yang tadi Banyu katakan selepas membuka mata adalah kalimat pertama yang Stella dengar sejak kemarin. Stella benar-benar dibuat bingung. Ia bertanya-tanya tentang bagaimana memperbaiki hubungannya dengan Banyu? Setelah mengetahui apa yang terjadi pada masa lalunya, mungkin Banyu sangat kecewa. Mungkin juga Banyu merasa malu karena memiliki seorang istri yang sudah tidur dengan banyak laki-laki. Memikirkannya saja benar-benar membuat Stella pusing bukan kepalang, dan membuatnya tidak bisa tidur semalaman. Stella tidak bisa membayangkan bagaimana jika Banyu memilih untuk menceraikan dirinya? Didiamkan saja sudah membuatnya ketar-ketir, apalagi jika sampai diceraikan? Itu mungkin akan menjadi mimpi paling buruk baginya. Anaknya tidak akan memiliki seseorang yang mau mengakuinya. Banyu jelas memiliki alasan untuk pergi darinya, kapan pun Banyu bisa mengatakan kepada kedua orang tua bahwa anak yang dikandungnya bukanlah darah daging Banyu. Maka masalah selesai dan Banyu bebas dari tanggung jawab. Lalu, bagaimana dengan dirinya? Mengemis pada Aldo sekalipun belum tentu membuahkan hasil yang baik. Karena itu sejak semalam Stella berusaha keras untuk memikirkan cara agar Banyu mau berbicara lagi dengannya dan mau memaafkannya. Ya, meskipun pada akhirnya tidak ada satu ide pun yang menurutnya cocok. Pertama, ia bukanlah perempuan yang bisa memasak, jadi sangat tidak mungkin untuk merayu Banyu lewat makanan. Kedua, ia juga tidak bisa membereskan rumah. Bukan tidak mungkin nantinya rumah akan berubah seperti kapal pecah jika dirinya mencoba untuk membuat Banyu bangga. Yang ketiga, ia tidak pernah merayu siapa pun sejak bertahun-tahun lamanya. Laki-laki biasanya akan selalu datang tanpa diundang. Ia tidak peduli jika dirinya membuat kesalahan. Jika mereka tidak mau memperbaiki hubungan maka berakhirlah sudah. Stella tidak pernah meminta maaf, atau melakukan hal berarti lain yang untuk mendapatkan maaf seseorang. Mungkin dirinya yang dulu bisa dengan mudah meminta maaf pada Banyu, dan Banyu akan dengan mudah memaafkan dirinya. Tapi masalahnya, permasalahan yang sekarang sedang ia hadapi jauh berbeda dengan kejadian di masa lalu. Dulu, hanya ada masalah masalah kecil seperti terlambat bangun, tersedak saat makan, tidak memperhatikan saat guru menjelaskan di depan kelas, tidak sengaja tertidur saat ujian, atau terlalu memaksa Banyu untuk melakukan apa pun yang diinginkannya. Banyu akan dengan mudah memaafkan dan melakukan apa pun yang ia inginkan hanya bermodalkan muka memelas saja. Sekarang tentu tidak bisa dengan cara itu. Stella sadar bahwa dirinya sudah banyak melakukan kesalahan yang amat fatal dalam hidupnya. Ia tidak bisa hanya sekadar meminta maaf pada Banyu, karena yang dilakukan bukan hanya menimbulkan rasa kecewa untuk Banyu, tapi juga mempermalukan dirinya sendiri. Tapi bukankah diam saja tidak ada gunanya? Stella turut beringsut turun dari ranjang. Ia segera pergi ke kamar mandi. Mengetuk pintu kamar mandi beberapa kali. "Banyu-Banyu, aku juga mau mandi! Aku masuk ke dalam, ya?" teriaknya lantang. Di dalam sana, Banyu langsung menyahut, "Gak. Kamu mandi setelah aku!" Menolak Stella mentah-mentah. "Tapi aku mau mandi sekarang." Stella menempelkan tubuhnya ke pintu. Tangannya bergerak membuka pintu kamar mandi perlahan-lahan. "Stella!" Banyu balas berteriak dengan nada lebih tinggi. Stella kicep. Ia segera menjauh dari pintu dan memilih duduk di ranjang sambil menunggu Banyu selesai mandi. *** Di meja makan. Masih tidak ada yang berbicara. Perang Dingin antara Banyu dan Stella masih berlangsung. Keduanya tidak ada yang memulai pembicaraan sama sekali. Banyu memang sedang tidak ingin berbicara pada Stella dulu, sedangkan Stella terlalu takut untuk memulai pembicaraan setelah mendengar teriakan Banyu tadi di kamar mandi. Bi Siti bahkan dibuat keheranan. Pasalnya setiap pagi, Banyu dan Stella selalu banyak bicara. Sebenarnya bukan hanya berlaku saat sarapan saja, tapi saat makan malam juga. Mereka selalu membicarakan banyak hal, entah penting atau tidak penting, intinya setiap kali berada di meja makan, keduanya selalu saling mengobrol. Bi Siti tidak tahu harus senang atau justru khawatir. Kabar baiknya, Banyu dan Stella menghentikan kebiasaan buruk mengobrol saat berada di meja makan. Kabar buruknya, hal seperti itu justru membuat suasana menjadi sangat tegang dan tidak menyenangkan. "Mas Banyu mau sarapan pakai apa? Mau saya ambilin?" Bi Siti bertanya karena tidak ada satu pun di antara Banyu dan Stella yang menggerakan tangan untuk mengambil sarapan. Banyu yang pertama mendongak dan menatap Bi Siti sekilas. "Nasi goreng aja, Bi," sahut Banyu tenang. Bi Siti mengangguk dan mulai menyendokkan nasi goreng ke piring Banyu. Tidak lupa pula untuk mengambilkan telur mata sapi dan diletakkan di atas nasi goreng. "Kalau Non Stella mau sarapan pakai apa?" tanya Bi Siti beralih pada Stella. "Roti sama selai strawberry aja, Bi." Stella menjawab tanpa menatap Bi Siti. Seperti apa yang dilakukannya untuk Banyu, Bi Siti juga langsung menyiapkan sarapan untuk Stella. Rasanya benar-benar aneh melihat majikannya saling diam, padahal biasanya terlihat sangat harmonis dan saling memberi perhatian. Stella, meskipun banyak bicara dan terlalu banyak meminta, setiap malam dirinya tidak ragu untuk menunggu Banyu pulang di sofa. Tidak mau makan duluan sampai Banyu pulang. Sedangkan Banyu, tidak perlu ditanya lagi. Banyu lah yang paling banyak memberi perhatian. Tidak ragu untuk menggerakan tangan menyiapkan sarapan untuk Stella padahal posisinya Stella lah yang menjadi istri. Apa yang Stella katakan, selalu didengarkan dengan penuh perhatian. Dan apa yang Stella minta selalu diberikan tanpa banyak pertanyaan. Bi Siti tahu Banyu bukanlah orang yang banyak bicara. Karena sudah bekerja dalam waktu yang cukup lama bersama Banyu, Bi Siti cukup terbiasa melihat Banyu lebih banyak diam, daripada memulai pembicaraan. Tapi setelah kedatangan pertama Stella ke rumah, Bi Siti melihat sisi lain Banyu yang membuatnya tidak tahan untuk tidak tersenyum. Bagaimana cara Banyu memperlakukan Stella bisa dibilang sangat manis, dan menjadi lebih manis saat keduanya sudah menikah. Tentu aneh saat keduanya menjadi lebih pendiam dari biasanya. "Non," panggil Bi Siti. Stella mendongak dengan mulut mengunyah. Bertanya, "Kenapa, Bi?" "Non Stella gak tidur? Kok kantung matanya hitam?" Stella mengerjapkan mata. Ia menelan roti yang masih berada di mulutnya dan langsung meneguk s**u putih yang sudah disiapkan oleh Bi Siti. Bi Siti hanya bisa tersenyum. Karena tepat setelah dirinya menanyakan apakah Stella tidur atau tidak, Banyu langsung menoleh ke arah Stella. Ia pamit untuk pergi menjemur pakaian. Memberikan waktu untuk keduanya. Begitu Bi Siti sudah tidak terlihat lagi, Banyu menggeser kursinya agar lebih dekat dengan Stella. Ia menyentuh dagu Stella dan memaksa Stella agar melihat ke arahnya. Dan persis seperti apa yang dikatakan oleh Bi Siti, kantung mata Stella sedikit menghitam. "Kamu gak tidur?" tanya Banyu marah. Stella diam. Banyu melepaskan tangannya dan menatap Stella lekat-lekat. "Aku tanya sekali lagi, kamu gak tidur?" Kali ini nada bicara Banyu lebih lembut. Membuat Stella luluh hingga akhirnya memilih untuk mengangguk. Banyu yang awalnya masih kesal dan tidak mau berbicara dengan Stella, berbalik menjadi merasa bersalah. "Kenapa gak tidur?" Banyu bertanya lagi. Tatapannya melembut. Meluruhkan semua kemarahan yang sejak kemarin dipendamnya. "Abisnya aku gak bisa kalau didiemin sama kamu. Semalaman aku mikir apa yang harus aku lakuin supaya kamu mau maafin aku, tapi gak ada satu pun yang nyangkut, karena aku tahu aku itu emang gak berguna. Aku gak bisa ngelakuin apa pun yang bisa dilakuin perempuan lain di luar sana." Banyu menggigit bibir bawahnya. Bertanya pada dirinya sendiri kenapa ia bisa sekejam itu pada Stella? Pasti Stella sangat tersiksa sejak kemarin, tapi ia merasa bahwa hanya dirinyalah yang terluka. Saat Banyu merasa bahwa dalam pernikahannya, dirinyalah yang paling dewasa dan bisa menanggapi sesuatu dengan cara yang dewasa, pagi ini ia justru disadarkan justru bahwa ialah yang paling kekanakan. Banyu memilih diam untuk memendam amarahnya tanpa mau membicarakan baik-baik dan memulai lagi semuanya dari awal. Ia hanya menghakimi Stella dan merasa menjadi yang sempurna karena melihat banyaknya kekurangan Stella. Banyu lupa bahwa kekurangan terbesarnya adalah ia tidak bisa menerima masa lalu kelam Stella. Ia tidak mau berdamai dengan hal itu dan memilih lari. "Maaf…," lirih Banyu akhirnya. Stella menggeleng kuat-kuat. Ia mengambil tangan Banyu dan menggenggamnya erat. "Kamu gak salah. Di sini, aku yang salah. Aku yang terlalu buruk buat kamu, jadi kamu gak perlu minta maaf karena akulah yang seharusnya ngelakuin itu. " Sekarang Banyu sadar bahwa dirinya belum benar-benar dewasa. Ia sadar bahwa saat dirinya mengatakan akan menikahi Stella, saat itu ia tidak memikirkan tentang seberapa sulitnya pernikahan yang tidak dilandasi dasar saling cinta. Hanya mengandalkan tekad dengan alasan ingin menutupi aib Stella. Banyu lupa bahwa tekad kuatnya harus dibarengi dengan keikhlasan tanpa toleransi. Ia harus bisa menerima Stella sepenuhnya. Bukan hanya tentang Stella yang mengandung anak orang lain, bukan hanya tentang Stella yang jauh berbeda dengan gadis impiannya, tapi juga tentang bagaimana Stella di masa lalu dan mencoba berdamai dengan hal itu agar ke depannya hatinya bisa lebih lapang lagi. "Bukan cuma kamu yang buruk, aku juga sama buruknya. Sekarang aku sadar bahwa aku belum benar-benar siap untuk menikah. Aku belum siap untuk menerima masalah serius ini dan belum tahu gimana cara menghadapinya." "Jangan bilang kalau kamu bakal menceraikan aku?" Stella bertanya panik. Banyu memperlihatkan senyum tipis yang saja kemarin belum Stella lihat kemudian menggeleng pelan. "Aku gak akan ngelepas kamu. Aku cuma mau bilang kalau aku emang benar-benar belum siap buat jadi suami yang baik atau ngebangun rumah tangga yang sempurna, tapi mulai hari ini aku janji kalau aku akan berusaha sebaik mungkin. Bukan cuma buat kamu atau anak kita, tapi untuk mendewasakan diri aku juga." Stella tahu bahwa Banyu yang ia kenal tidak akan pernah mementingkan dirinya sendiri. Banyu selalu mendahulukan kepentingan orang lain. Sesakit apa pun, atau semenderita apa pun dirinya, Banyu akan tetap bertahan jika itu berurusan dengan orang-orang di sekitarnya. "Makasih." Tak lelah Stella mengucapkan satu kata itu pada Banyu. Ia tertawa ringan di tengah kondisi matanya yang berkaca-kaca. Tahu bahwa air mata akan menetes dari mata Stella, Banyu menggerakan tangan untuk menghapusnya sebelum air mata itu jatuh ke pipi Stella. "Janji sama aku kalau kamu gak akan pernah berhubungan sama tiga cowok tadi atau Aldo. Bisa?" pinta Banyu. Stella mengangguk cepat. Ia mengangkat tangan Banyu dan menggenggamnya dengan tangan miliknya juga. Kemudian menciumnya dua kali. "Aku janji. Aku akan berusaha buat ngimbangin kamu. Aku bakal rubah diri aku dan gak akan mengkhianati kamu." Keduanya saling melempar tatapan hangat. Tidak peduli bahwa apa yang mereka lakukan membuat sarapan mereka tertunda dan menjadi dingin. Mereka pun tidak sadar bahwa di celah pintu belakang rumah mereka yang terbuka, ada Bi Siti yang tersenyum melihat keduanya berbaikan dan sudah saling berbicara lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN