Definition of Love; 47

1841 Kata
"Kamu kenapa diam aja dari tadi? Marah sama aku?" Banyu mengabaikan pertanyaan Stella. Ia memilih duduk di sofa. meredam amarah yang sejak tadi dipendamnya. Banyu tidak pernah merasa sangat bodoh di hadapan orang lain, Banyu tidak pernah merasa sangat malu di hadapan orang lain. Tapi tadi, Banyu benar-benar merasa menjadi pecundang di hadapan teman-teman Stella. Tiga laki-laki yang tadi ditemuinya berhasil menunjukkan bahwa mereka jauh lebih mengenal Stella, dibandingkan dengan dirinya yang sudah berteman dengan Stella sejak SMP. Yang membuat Banyu tidak habis pikir, bagaimana bisa Stella mengencani tiga orang secara bergantian? Tentu tidak masalah jika tiga orang tersebut tidak dalam satu lingkungan yang sama. Dalam artian mereka tidak berteman satu sama lain, tapi yang Stella lakukan sangat tidak wajar, gadis itu berkencan dengan tiga laki-laki dari satu circle yang sama. Dan yang membuat Banyu lebih jengkel lagi, tiga laki-laki tersebut nampaknya tidak masalah sama sekali meski mereka berpacaran dengan seseoang yang bisa dibilang merupakan 'bekas' dari teman mereka. Hal itulah yang membuat Banyu sangat marah. Karena dengan menerima Stella, mereka seolah sedang menikmati permainan yang sudah dimulai salah satu dari mereka. Dan Aldo, menjadi orang paling berengsek dari tiga orang lainnya. Karena terang-terangan menikmati tubuh Stella, tapi tidak mau bertanggungjawab saat tahu bahwa Stella mengadung anaknya. Kalau lo ogah nerima kenyataan, gue siap ambil Stella lagi kalau lo mau buang dia. Perkataan Samuel terngiang di telinga Banyu. Mengusiknya dengan cara paling sialan yang sebelumnya belum pernah Banyu rasakan. Stella adalah istrinya, tapi Samuel bisa mengatakan hal itu dengan mudahnya. Dan Banyu merasa bahwa dirinya tidak bisa menyangkalnya sama sekali. Banyu sadar bahwa Samuel berani mengatakan hal itu karena Samuel tahu bahwa Stella tidak bisa tahan hanya dengan satu laki-laki saja. Samuel tahu bahwa Stella bisa dengan mudahnya perpindah ke lain hati saat merasa bosan atau menemukan yang lebih baik. Dalam hal ini Banyu merasa kalah dari Samuel karena Samuel menjadi orang yang lebih mengenal Stella dalam hal seksualitas. Ia menjadi yang terbodoh karena sama sekali tidak mengetahui bahwa Stella bisa bercinta dengan siapa saja. Bahkan meski itu adalah teman dari seseorang yang merupakan mantan kekasihnya. Banyu marah, Banyu tidak terima, Banyu merasa sangat kecewa, tapi di saat bersamaan Banyu juga tahu bahwa Stella tidak salah dan ia tidak berhak marah. Masa lalu Stella, masalah percintaan Stella di masa lalu adalah urusan Stella yang harusnya sudah tidak perlu dikhawatirkan lagi, karena Stella sudah menjadi istrinya. Tapi tetap saja rasanya sangat menyakitkan mengetahui bagaimana Stella di masa lalu. Karena Banyu cukup mengerti bahwa hanya dirinyalah yang memiliki perasaan dalam status pernikahannya. "Banyu, kamu masih gak mau ngomong juga sama aku?" Stella kembali bertanya karena Banyu tak kunjung buka suara. Tetap tidak ada jawaban. Banyu masih diam dengan tatapan kosong. Masih enggan menanggapi Stella. Sampai beberapa menit kemudian, saat tatapan Stella masih tertuju pada Banyu, barulah Stella meendapatkan tanggapan dari Banyu. Banyu balas menatapnya, tapi bukan tatapan yang biasanya Stella dapatkan, melainkan tatapan dingin nan menusuk. Jenis tatapan mengerikan yang baru pertama kali Stella dapatkan dari sosok selembut Banyu. "Ke-kenapa?" tanya Stella ragu-ragu. Banyu terdiam beberapa saat dengan tatapannya yang masih menusuk. "Apa bener yang tadi kamu omongin di mall? Apa bener kalau kamu sama tiga cowok tadi pernah pacaran?" "Iya. Kenapa?" Banyu kembali patah hati. Bahkan karena terlalu patah hati dirinya tadi, ia sampai merasa tidak kuat untuk melanjutkan mengelilingi mall. Hatinya terlalu perih. Ia bahkan tidak sadar bahwa setelah perkataan terakhir yang dilontarkan oleh Samuel, ia langsung menarik paksa tangan Stella untuk keluar dari mall. Sepanjang perjalanan, Banyu bahkan tidak pernah mengajak Stella berbicara sama sekali. Mobil yang dikendarainya berkecepatan tinggi. Beberapa kali Stella mengeluh karena dirinya mengedarai mobil terlalu cepat, tapi tidak ia pedulikan sama sekali. "Apa aja yang udah kau lakuin sama mereka?"tanya Banyu. "Kenapa kamu nanya kayak gitu?" Banyu tahu bahwa pertanyaan tersebut sangat tidak sopan, mungkin jawaban dari Stella hanya akan menyakitinya sendiri, mungkin malah melukai perasaan Stella, tapi ia tidak punya pilihan lain. Daripada diselimuti perasaan penasaran sepanjang hidupnya, lebih baik ia bertanya langsung saja. Anggaplah ia sangat egois, tapi ia benar-benar hanya ingin memastikan sesuatu. Karena Banyu ingin melegakkan hatinya, dan menenangkan amarahnya. "Kamu sendiri udah tahu aku kayak gimana. Dari awal udah aku bilang ke kamu kalau aku itu bukan perempuan baik-baik. Aku udah kasih tahu kamu kalau aku udah tidur sama banyak laki-laki. Aku bahkan terang-terangan ngasih tahu kamu kalau aku di-drop out dari kampus karena ngelakuin hubungan intim di kampus. Apa dari ceritaku yang satu itu kamu gak bisa nyimpulin sendiri kalau aku itu perempuan dengan perangai bejad?" "Aku gak nanya tentang masa lalu kamu yang itu, Stella, aku nanya apa aja yang udah kamu lakuin sama tiga cowok tadi?" Banyu menegaskan kembali pertanyaanya. "OKE!" Stella berteriak. Ia memandang Banyu yang duduk di seberangnya, "apa yang mereka bilang itu bener. Aku emang pernah pacaran sama mereka bertiga. Gak cuma itu. Kalau kamu bener-bener mau tahu semuanya, aku bahkan pernah tidur sama mereka. Puas kamu?" Banyu terdiam cukup lama. Meresapi setiap kata yang keluar dari mulut Stella. Ternyata memang jauh lebih menyakitkan dari dugaannya. Sangat wajar jika Samuel berani mengatakan hal-hal semacam itu di mall, karena Stella seperti seseorang yang dengan terang-terangan membuka pintu untuk siapa pun. Laki-laki seperti Samuel, Aris, Tirta dan Aldo adalah jenis laki-laki yang dengan senang hati datang dan pergi, bertahan dan kembali, tergantung kapan Stella membuka pintu. Seseorang seperti mereka biasanya tidak datang karena sepenuhnya jatuh cinta, tapi karena mereka sadar bahwa Stella bisa memberikan apa yang mereka minta. Jenis permintaan yang seharusnya tidak pernah dikabulkan oleh perempuan yang belum memiliki suami. Mereka datang karena mereka bisa mendapatkan apa yang tidak mereka dapatkan dari perempuan lain. Dan Stella memberikan itu secara cuma-cuma. Tidak peduli Stella pernah berhubungan dengan siapa saja, selama mereka bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan, maka mereka akan dengan senang hati menerima Stella. Terlalu muak dengan apa yang terjadi, Banyu memilih berdiri dan meninggalkan Stella untuk naik ke kamarnya. Gadis itu mengejarnya. Mengikutinya sampai ke dalam kamar dan melupakan barang belanjaannya yang tertinggal di atas meja. Suasananya berubah menjadi tidak menyenangkan. Meski tadi pagi keduanya terlihat biasa-biasa saja dan cenderung harmonis, karena satu kejadian di mall, mereka mengalami pertengkaran untuk pertama kalinya dalam rumah tangga mereka. “Aku benar-benar gak ngerti sebenarnya kamu itu marah karena apa? Di mana letak kesalahan aku? Coba kamu sebutin supaya aku paham dan bisa perbaiki itu. Kalau kamu cuma diam-diaman kayak gini mana mungkin aku paham dan tahu alasan kenapa kamu marah.” Banyu menatap Stella. Keduanya berdiri tak jauh dari pintu kamar mereka. “ Kamu mau tahu kenapa aku marah? Karena aku udah gak kenal lagi sama kamu, Stella. Aku benar-benar gak ngerti gimana seorang Stella yang dulu aku kenal polos, gak pernah mau berhubungan sama cowok kecuali aku, gimana bisa jadi seliar ini? Gimana bisa kamu bersikap seterbuka itu sama laki-laki?” "Bukannya aku udah pernah bilang kalau aku itu bukan Stella yang lama." "Iya, aku tahu!" tukas Banyu cepat, "aku tahu, tapi bukan itu maksudku." "Terus apa?!" Banyu menatap Stella sendu. “Aku cuma mau bilang, aku cuma mau ngasih tahu kamu. Kamu bebas mau suka sama siapa aja, kamu bebas mau berhubungan sama siapa aja, bahkan kamu bebas mau berhubungan intim sama siapa aja. Tapi seharusnya kamu mikir sebelum mau ngelakuin hal itu. Kamu gak bisa nyerahin tubuh kamu gitu aja sama empat orang yang berada dalam satu lingkungan pertemanan yang sama. Apa kamu gak sadar kalau kamu udah masuk dalam permainan mereka? Dengan kamu ngebiarin empat orang itu berhubungan badan sama kamu, sama aja kamu kayak jadi mainan buat mereka,” tutur Banyu. “Terus kenapa? Selama aku dapat apa pun yang aku mau, aku siap ngasih sesuatu sebagai imbalan.” Adakah orang lain yang seperti Stella? Sekarang Banyu bertanya-tanya, kenapa banyak sekali perempuan zaman sekarang yang mudah memberikan tubuhnya hanya karena satu atau dua kesenangan? Mereka tidak sadar bahwa kebanyakan laki-laki saat sudah diberi sesuatu, maka mereka akan ketagihan dan terus minta lagi dan lagi. Kalau sudah begitu yang salah bukan hanya pihak laki-lakinya saja, tapi pihak perempuannya juga. Tidak sembarang orang bisa mendobrak pintu jika pemilik rumah tidak terang-terangan membukakan pintu. Ada beberapa orang yang memang pada dasarnya b******k, tapi ada juga yang b******k karena pancingan sesuatu. Karena merasa bahwa mereka dipersilakan oleh si pemilik rumah. Banyu mengembuskan napas lelah. “Kamu tahu apa yang tadi dibilang sama Samuel sebelum pergi?” “Apa?” “Dia bilang dia siap ambil kamu kalau suatu saat kamu dibuang sama aku. Kamu tahu apa arti dari perkataanya?” Stella menggeleng tidak mengerti. Meminta Banyu menjelaskan lagi. “Itu artinya dia siap terima kamu balik, gak peduli kamu itu udah tidur sama siapa aja. Dia lagi ngelecehin kamu, Stella! Dia lagi terang-terangan bilang kalau kamu itu perempuan gampangan yang mudah bosan dan mudah lari ke lain hati. Dia secara gak langsung lagi ngasih tahu aku kalau kamu itu bisa tidur sama siapa aja.” Banyu benar-benar tidak mengerti. Sangat tidak mengerti kenapa bisa-bisanya Stella memiliki kepribadian seperti itu? Dulu, Stella memang kerap menggodanya. Gadis itu suka sekali memamerkan tubuhku saat sedang memakai celana pendek atau tank top. Tapi Banyu tahu bahwa itu hanya candaan saja. Stella tidak pernah benar-benar serius dengan apa yang dilakukannya. Di sekolah, Stella memang akrab dengan banyak temannya, tapi hanya sekadar obrolan antar teman saja. Selebihnya Stella tidak pernah dekat dengan laki-laki mana pun kecuali Banyu saja. Jika ada yang mendekati, Stella akan dengan lantang mengatakan bahwa ia hanya ingin menjalani kesehariannya bersama Banyu saja. Stella juga mengatakan pada siapa pun yang mendekatinya bahwa ia adalah gadis merepotkan. Tidak akan ada yang tahan dengannya kecuali Banyu seorang. Tapi siapa sangka, candaan kecil yang kerap Stella lakukan saat zaman sekolah dulu berubah menjadi serius. Jika dulu Stella hanya memamerkan tubuh semampainya hanya pada Banyu, sekarang ada banyak jajaran laki-laki yang mengaku telah menikmati Stella. Mereka mengantri untuk bisa mendekati Stella lagi. "Kamu gak bisa sembarangan tidur sama siapa aja, Stella. Kehormatan kamu seharusnya bisa kamu jaga dengan baik. Hari ini aku tahu bahwa ada banyak laki-laki yang mau ngedapetin kamu lagi. Ada banyak laki-laki yang siap sedia saat kamu ngebuka pintu buat mereka. Jadi kalau bisa, aku minta supaya kamu mau nutup pintu buat empat orang yang tadi kamu sebutin. Tolong, Stella." Untuk pertama kalinya Stella mendengar Banyu memohon kepadanya. Suaranya terdengar putus asa sekali. Dan ia merasa bersalah karena tadi malah mengobrol dengan tiga mantannya. Karena kalau ia bisa mengabaikan tiga orang tersebut, maka pertengkaran ini tidak terjadi. "Maaf, Banyu…," lirih Stella. Banyu mengembuskan napas. Ia pun sadar bahwa sejak tadi dirinya sangat menyudutkan Stella. Setelah memilih untuk menikahi Stella, seharusnya ia bisa menerima Stella apa adanya. Tidak menghakimi masa lalu Stella dan pengungkit kembali apa yang sudah terjadi kala itu. Tapi emosinya justru sudah lebih dulu mengambil alih, dan Banyu tidak bisa menahannya. "Udahlah, aku capek. Aku mau istirahat aja. Maaf, karena aku kamu jadi gak bisa belanja lebih lama lagi." Banyu memutar tubuh. Menjauhi Stella dan berakhir melemparkan tubuhnya ke atas ranjang. Meski sudah berusaha untuk mengerti, meski sudah dengan ikhlas menerima permintaan maaf dari Stella, tetap saja rasanya menyakitkan. Dan Banyu masih belum bisa menerima semuanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN