"Banyu, menurut kamu bajunya bagusan yang mana?” Stella bertanya. Di tangannya terdapat dua setel gaun dengan warna yang berbeda. Yang satu merupakan gaun dengan lengan pendek, sedangkan yang satunya lagi adalah gaun tanpa lengan.
Karena merupakan hari libur Banyu, keduanya memutuskan untuk pergi ke mall. Banyu awalnya mengajak Stella untuk berkunjung ke rumah kedua orang tuanya, tapi Stella menolak dengan alasan dirinya ingin pergi berbelanja karena sudah lama tidak pergi ke mall. Banyu hanya menuruti saja, karena Stella memang benar, sejak gadis itu menikah dengannya, ia terlalu sibuk bekerja sampai tidak pernah terpikirkan untuk mengajak Stella berbelanja.
Mungkin agak sedikit keterlaluan, karena Banyu mengabaikan orang tuanya hanya untuk menemani Stella berbelanja. Tapi Banyu tidak ada pilihan lain selain mengikuti kemauan Stella. Kalau Stella tidak mau pergi ke rumah orang tuanya, ia akan pergi ke mana pun gadis itu menginginkannya karena ia tahu Stella pasti bosan jika hanya berdiam diri di rumah. Pergi ke rumah orang tuanya sendiri hanya akan mengundang banyak pertanyaan. Kenapa Stella tidak ikut? Dan akan ada embel-embel setelah pertanyaan tersebut, seperti mengenai alasan kenapa Stella tidak ikut? Apa terjadi sesuatu pada Stella? Atau pertanyaan lainnya.
Banyu terlalu lelah untuk menghadapi pertanyaan-pertanyaan semacam itu dari orang tuanya. Mereka hanya tahu bahwa dirinya menikah dengan Stella atas dasar keterpaksaan yang berawal dari tragedi, mereka pastilah menduga bahwa ia dan Stella saling mencintai atau semacamnya. Karena itu Banyu terlalu bingung jika pada akhirnya harus menjawab pertanyaan ke mana Stella? saat ia tahu gadis itu sendiri yang tidak ingin menemui orang tuanya.
Bukannya Stella menolak untuk datang, hanya saja Stella berkata bahwa dirinya lebih menginginkan untuk pergi ke mall, ketimbang bertemu dengan mertuanya. Ya, mau bagaimana lagi, pada akhirnya Banyu berakhir berkeliling mall bersama Stella. Di tangannya sudah terdapat dua paper bag yang isinya merupakan pakaian Stella. Kini gadis itu kembali memilih dan meminta pendapatnya, seperti sebelum datang ke toko yang saat ini tengah dikunjunginya.
Banyu memperhatikan kedua baju saat Stella mengangkat dua gaun tersebut di depan matanya. Menggeleng tidak setuju karena menurutnya dua gaun tersebut terlalu terbuka. Yang satu memang gaun dengan lengan, tapi bagian dadanya terbuka lebar. Kalau Stella mengenakan gaun tersebut sama saja seperti sedang memamerkan barang berharga miliknya. Lalu yang satunya tanpa lengan dan bagian dadanya tertutup, tapi terlalu pendek. Jika Stella mengenakannya sama saja seperti sedang memamerkan paha jenjangnya.
Mungkin untuk kebanyakan orang itu terkesan biasa, tapi Banyu tidak suka jika Stella mengenakan pakaian semacam itu. Sebelumnya Stella memilih satu setel jumpsuit pendek, saat itu Banyu mengatakan bahwa Stella sudah memiliki banyak pakaian seperti itu. Tapi Stella kekeuh dan tetap ingin membeli jumpsuit tersebut. Katanya yang model seperti itu Stella belum memilikinya. Yang kedua Stella memilih atasan dengan model peplum.
Tidak jauh beda dengan apa yang sekarang tengah Stella pilih, gadis itu pada dasarnya hanya memilih pakaian saja sejak tadi.
“Gimana kalau udahan aja beli pakaian-pakaian yang semacam itu. Kenapa gak nyari pakaian yang lebih tertutup dan panjang gitu?”
Stella kembali meletakkan dua gaun yang tengah dipegangnya ke gantungan. Mencampurkannya dengan gaun lain yang ada di sana.
“Jadi maksud kamu mulai sekarang aku harus pakai pakaian yang jauh lebih tertutup gitu? Gak sekalian aja kamu nyuruh aku pakai pakaian syar'i? Kayak gamis atau pakaian lain yang tertutup, biar aku kelihatan kaya lontong yang baru dikeluarin dari panci. Gitu maksud kamu?”
Banyu tergelak mendengar protesan dari Stella. Ia tidak bisa membayangkan Bagaimana jadinya jika Stella memakai pakaian semacam itu. Karena cantik dan berwajah kalem meski pada dasarnya sangat barbar, Stella mungkin akan dipanggil Ustadzah nantinya.
“Gak gitu maksud aku, aku cuma kesel aja kalau kamu gampang banget pakai baju yang ngumbar aurat. Aku itu ‘kan suami kamu, jadi aku jelas gak suka kalau kamu terang-terangan buka toko buat orang lain.”
Gantian Stella yang tergelak. Ia menarik tangan Banyu untuk keluar dari toko. Mengabulkan permintaan Banyu untuk tidak membeli pakaian lain yang tidak disukai Banyu.
“Kamu itu ternyata cukup posesif juga, ya? Pantes aja Mia marah banget waktu tahu kamu bakal nikah sama aku. Karena kamu emang lucu dan ngelindungin banget apa yang jadi milik kamu.”
“Bukan gitu maksud aku.” Banyu masih saja mengelak meski terang-terangan melarang Stella untuk membeli pakaian yang terbuka, “aku itu bukannya posesif, aku cuma heran aja. Dulu itu ‘kan kamu hampir gak pernah pakai gaun, kamu gak suka pakai pakaian merepotkan kayak gitu. Kamu bilang jalannya jadi ribet lah, kayak baju yang kekurangan bahan lah, terus juga katanya gak nyaman di badan kamu. Tapi sekarang kamu justru suka banget pakai pakaian kayak gitu. ‘Kan aneh tau.”
Stella tidak menyangka bahwa Banyu memperhatikan hal-hal sekecil itu. Di saat dirinya sudah tidak mengingat kepribadiannya di masa lalu, Banyu justru masih menyimpannya dengan baik. Di saat dirinya hanya mengetahui bahwa ia adalah gadis manja yang selalu mengandalkan Banyu, Banyu justru mengetahui setiap detail dalam dirinya. Seolah sedang memberitahu pada dunia bahwa tidak dulu, tidak juga sekarang, Banyu masihlah menjadi seseorang yang paling mengenalnya.
“Kamu mau tahu gak” Stella bertanya.
Banyu balik bertanya, “Apa?”
“Aku itu suka pakai gaun awalnya karena dulu pas zaman kuliah ada satu teman dekat aku ulang tahun. Nah di acaranya itu diwajibkan buat pakai gaun warna putih. Dan cowoknya harus pakai setelan warna putih juga. Karena udah diundang dan gak mau jadi temen yang gak setia kawan gitu, aku akhirnya datang sesuai dengan permintaan teman aku.” Stella tergelak. Teringat kejadian tersebut.
"Dan kamu tahu apa yang terjadi selanjutnya?" sambung Stella.
Banyu kembali bertanya, "Kenapa?"
"Setelah aku datang ke acara itu, banyak banget cowok yang berusaha ngedeketin aku pasti. Katanya malam itu aku jadi perempuan paling cantik di pesta temen aku. Bahkan ngalahin si pemilik acara. Temenku itu sampai kesel karena bukan dia yang jadi trending topik besoknya, tapi aku."
"Jadi maksudnya karena kamu menerima banyak pujian, kamu berusaha buat terus-terusan dapat pujian itu dengan cara pakai pakaian yang lebih feminim gitu?"
Stella bertepuk tangan heboh. Beberapa pengunjung mall terang-terangan memperhatikannya, tapi Stella tidak peduli. "Pinter banget sih, kamu," puji Stella.
Banyu hanya menggeleng. Tidak percaya bahwa kebiasaan lama Stella hilang hanya karena satu kebetulan yang terjadi dalam hidupnya.
"Aku itu baru sadar kalau ternyata aku cantik banget kalau pakai pakaian yang lebih feminim dan memperlihatkan kesan perempuannya."
Sekarang Stella bersikap terlalu percaya diri. Membuat Banyu tanpa sadar meloloskan dengkusan halus.
"Kamu pasti bangga 'kan punya istri secantik aku?"
"Percuma cantik kalau gak bisa apa-apa. Kamu bahkan gak bisa bangun pagi, gak bisa nyiapin sarapan buat aku, gak bisa ngerapiin tempat tidur apalagi masakin buat aku. Satu-satunya kelebihan kamu itu, ya, emang karena kamu cantik. Dan aku gak ngeliat hal lain di dalam diri kamu yang harus aku syukuri atau aku banggakan."
Jujur sekali. Stella merengut kesal mendengar tanggapan jujur yang dilontarkan oleh Banyu. Sepertinya Banyu memang benar-benar tidak peduli bahwa dirinya sedang berada di tempat umum.
"Aku gak bisa ngakuin hal itu karena itu emang kebenarannya." Stella menghentakkan kakinya kesal, "tapi kok lebih terdengar menyebalkan kalau kamu yang ngomong?"
Banyu terkekeh pelan. Ia meminta maaf kepada Stella karena sudah mengatakan hal sekejam itu. Tak lupa menambahkan usapan halus di kepala Stella agar gadis itu merasa nyaman dan melupakan rasa kesalnya.
Keduanya kembali melanjutkan langkah menyusuri area mall. Stella dengan tenangnya menggandeng tangan Banyu dan sesekali menyandarkan kepalanya di lengan Banyu. Menegaskan kepada siapa pun yang terang-terangan melirik Banyu bahwa Banyu sudah menjadi miliknya dan tidak akan pernah tertarik pada perempuan lain.
Tepat saat keduanya ingin menaiki eskalator, Mereka serempak melihat ke arah depan saat ada suara yang memanggil nama Stella.
"Stella!"
Nyaring sekali. Banyu dan Stella serempak menghentikannya langkah. Menatap tiga orang laki-laki yang sedang berdiri beberapa meter di depan mereka. Dua di antaranya saling memegang bahu. Terlihat akrab sekali.
"Kamu Stella, 'kan?" Salah satu laki-laki yang paling pertama sampai di depan Banyu dan Stella bertanya lebih dulu. Dua orang lainnya segera menyusul. Ketiganya berdiri berdampingan.
"Samuel, ngapain di sini?" Stella balik bertanya dengan wajah penuh binar. Seperti perempuan yang senang bertemu dengan laki-laki yang telah lama tidak ditemuinya.
"Ahh, gila. Enggak nyangka gue kita bisa ketemu di sini. Gue kira setelah putus dari Aldo, kita bertiga gak akan pernah ngeliat lo lagi. Tapi ternyata dunia emang sesempit itu, ya."
Aldo? Kenapa cowok yang dipanggil Samuel oleh Stella membawa-bawa nama Aldo? Banyu bertanya-tanya dalam hati. Tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
"Kayaknya emang gak mungkin kalau kita gak bakal ketemu lagi. Soalnya kita 'kan masih tinggal di suatu kota yang sama. Pasti ada lah satu atau dua kesempatan kayak gini yang mempertemukan kita lagi."
Banyu ingin marah. Ia tidak tahu kenapa Stella terlihat begitu akrab dengan laki-laki di depannya? Tapi di sisi lain ia juga merasa bahwa tidak ada gunanya ia marah saat dirinya sama sekali tidak mengerti apa-apa.
"Gimana kabar lo?" Samuel bertanya. Matanya sekilas melihat ke arah Banyu yang hanya bisa diam.
"Gue baik. Gimana kalian?"
Samuel menatap dua temannya. Mereka mengangguk bersamaan dan mengatakan bahwa mereka juga baik-baik saja.
"Ngomong-ngomong ini siapa? Gebetan baru lo?"
Stella dengan tenangnya menarik Banyu semakin mendekat dan memeluknya kian erat. "Bukan. Dia ini bukan sekadar gebetan atau pacar baru gue, dia suami gue," jawabnya percaya diri.
Tiga orang di hadapan mereka memberikan reaksi heboh. Samuel bertepuk tangan, sementara dua lainnya saling pandang sebelum akhirnya meledakkan tawa dengan kencangnya.
"Lo? Punya suami? Gak salah?" Samuel tertawa. Ia menatap Banyu tidak percaya, "pakai pelet apa lo sampai cowok kalem kayak gini bisa takut sama lo? Pasti gampang banget 'kan manfaatin dia?"
Sekarang Banyu benar-benar marah. Kedua tangannya saling mengepal dengan tatapan siap memancarkan sorot peperangan. Ia sangat tidak terima dengan apa yang dikatakan oleh Samuel.
"Oke-oke. Cukup bacot gak jelasnya." Stella menoleh ke arah Banyu, "Banyu, mereka ini mantan pacar aku. Yang dari tadi ngomong namanya Samuel." Stella menunjuk laki-laki dengan jaket hitam, kemudian beralih menunjuk laki-laki dengan kaos navy. "Yang pakai jaket namanya Aris. Yang satunya lagi namanya Tirta."
Bola mata Banyu membulat dengan mulut setengah terbuka. Telinganya jelas masih baik-baik saja, tapi ia ingin memastikan apa Stella baru saja menyebutkan bahwa tiga laki-laki yang sedang ada di hadapannya adalah mantan Stella? Tiga-tiganya?
Laki-laki yang bernama Aris mengangkat tangan. "Nama gue Aris. Gue pacar pertama Stella," katanya memperkenalkan diri.
Tirta ikut mengangkat tangannya. "Gue Tirta. Pacar kedua Stella," sambungnya.
Yang terakhir Samuel turut mengangkat tangannya juga. "Gue Samuel. Pacar ketiganya Stella." Bibirnya menyunggingkan senyum lebar, "sebenernya ada satu lagi, cuma dia gak ikut sama kita karena sibuk ngurusin kantor bokapnya."
Laki-laki terakhir yang disebutkan oleh Samuel pastilah Aldo. Banyu bisa menduganya dengan sangat jelas. Yang tidak ia pahami sekarang adalah, apa benar yang dikatakan tiga laki-laki di hadapannya mengenai hubungan mereka dengan Stella?
"Gak usah kayak orang kaget gitu. Mereka bertiga ini ngomong apa adanya, kok. Mereka ini emang mantan aku, dan itu bukan kebohongan."
Seolah bisa membaca kebingungan yang tergambar jelas di wajah Banyu, Stella menjelaskan semuanya dengan singkat. Tapi bukannya menjawab apa yang membuat Banyu bertanya-tanya, Banyu justru dibuat pusing oleh fakta tersebut.
"Gue kira cewek kayak lo gak akan bisa suka sama satu cowok aja, tapi ternyata sekarang lo malah udah punya suami." Samuel tergelak. Dua temannya ikut tergelak juga.
Tirta menambahkan, "tapi kasihan suami lo ini. Soalnya dia kelihatan terlalu polos dan gak tahu apa-apa. Dia bahkan gak tahu kalau dia itu nikmatin bekas kita bertiga."
Banyu tidak kuat lagi. Ia ingin lari, tapi yang didengarnya justru suara tawa Stella.
"Omongan kalian masih b******k kayak biasanya aja, ya? Udah sana pergi! Ke luar angkasa sekalian!" usir Stella dengan nada gurauan.
Tapi tiga cowok di depannya benar-benar mengikuti apa yang Stella katakan. Ketiganya bergerak menjauhi Banyu dan Stella. Sebelum pergi, tepat di samping Banyu, Samuel menghentikan langkah dan menepuk bahu Banyu dua kali.
Samuel berkata, "Semoga bahagia, Bro. Walaupun sisa kita, Stella tetep menawan, kok. Kalau lo ogah nerima kenyataan, gue siap ambil Stella lagi kalau lo mau buang dia."
Lalu, Samuel pergi begitu saja.
Banyu benar-benar marah. Sangat marah sampai dirinya ingin mengunyah kepala seseorang. Bukan karena apa yang dikatakan oleh Samuel, karena ia memang sudah mengetahui fakta itu, ia tahu Stella sudah tidur dengan banyak laki-laki. Ia hanya marah karena saat ini ia benar-benar seperti seorang pecundang.
Selalu ada saat di mana Banyu begitu mengenal Stella. Sampai ia merasa seperti dilemparkan kembali ke masa lalu. Stella yang manja, yang benar-benar hanya mengandalkan dirinya, yang benar-benar membuatnya harus melakukan hal kecil hanya untuk memanjakan Stella. Itu adalah saat-saat yang benar-benar Banyu nikmati. Saat di mana dirinya seperti kembali ke masa lalu dan tidak peduli dengan keburukan apa saja yang pernah Stella lakukan sebelum bertemu dengannya lagi.
Namun, selalu ada pula saat-saat di mana Banyu benar-benar tidak mengenal Stella sama sekali. Banyu merasa asing. Ia seperti bertemu dengan orang baru dengan kepribadian yang berbeda, kebiasaan yang berbeda, dan cara hidup yang berbeda pula. Itu bukanlah Stella yang dikenalnya, tapi Stella yang seperti itu benar ada. Dan itu persis seperti Stella yang baru saja dilihatnya beberapa saat lalu.
Liar, tidak terkontrol, dan memiliki dunia yang berbeda.