“Kenapa kamu selalu rajin bangunin aku setiap pagi?” Stella bertanya pada Banyu saat dirinya baru keluar dari kamar mandi. Sudah rapi dengan pakaian santainya. Tak jauh dari posisinya, Banyu sedang duduk di ranjang dengan ponsel di tangannya. Matanya langsung teralihkan begitu melihat Stella yang sedang berjalan ke arahnya.
"Karena kamu gak pernah bisa bangun sendiri."
Stella duduk di tepi ranjang. "Bangun, kok. Kalau udah kenyang tidurnya tapi."
"Itu dia. Kalau gak dibiasain, kamu gak akan bisa bangun pagi. Gimana coba nanti anak kamu kalau tahu kelakuan ibunya benar-benar malas."
"Tapi 'kan dia punya ayah yang rajin."
Stella nyengir. Bahkan karena sifat Banyu yang terlalu rajin itu, dulu ibunya selalu mempercayakan dirinya pada Banyu. Ibunya tidak akan mau repot-repot membangunkan dirinya, karena memiliki sosok Banyu yang begitu bisa diandalkan. Bisa dibilang, sudah menjadi kebiasaan Banyu sejak dulu untuk membangunkannya setiap pagi.
Itu berawal sejak Banyu memutuskan untuk menjemputnya setiap pagi saat dirinya masih duduk di bangku SMP. Awalnya Banyu hanya diminta membangunkannya karena ia masih terlelap meski hari sudah siang. Esoknya, karena hal itu terus terjadi, Banyu menjadi seseorang yang menggantikan posisi ibunya. Terus menerus sampai dirinya dan Banyu berpisah karena satu hal.
Stella hanya tidak menyangka bahwa dirinya bisa menjadi gadis paling t***l yang sempat melupakan seseorang sesempurna Banyu. Sejak ikut pindah bersama orang tuanya ke luar kota, Ia sebenarnya selalu berusaha untuk menghubungi Banyu sesempit apa pun waktu yang dimilikinya. Berusaha menepati janjinya agar tidak pernah melupakan Banyu sebanyak apa pun teman baru yang ia miliki. Tapi lambat laun menghubungi Banyu tidak lagi menjadi rutinitas, memiliki banyak teman yang memberinya kebebasan membuatnya lupa bahwa ia pernah memiliki seseorang yang begitu melindunginya di Jakarta. Banyu terlupakan, dan ia merasa bahwa menghubungi Banyu bukan lagi menjadi hal menyenangkan. Terlebih karena jarak menjadi satu-satunya alasan yang membuatnya tidak perlu memikirkan atau berencana untuk bertemu Banyu.
Stella ingin mengakui bahwa dulu dirinya tidak mempedulikan Banyu lagi karena kepindahannya. Ia sudah jauh dengan Banyu dan tidak tahu kapan bisa bertemu lagi dengan Banyu. Di tempatnya yang baru, di kampusnya yang merupakan salah satu universitas terbaik, ia memiliki banyak teman yang dulunya ia kira jauh lebih baik, daripada Banyu. Bisa mengajaknya ke mana pun ia mau, membebaskannya untuk melakukan apa pun yang ia mau, dan yang pasti bisa memberikan apa pun yang ia inginkan.
Stella pernah berpikir bahwa setelah ia menemukan banyak teman baru seperti apa yang pernah Banyu katakan, Banyu menjadi orang paling membosankan yang pernah dikenalnya. Tidak mengenal nama klub malam, nongkrong bersama teman-teman di kafe, bepergian ke luar kota, atau mengikuti trend terkini. Banyu tidak pernah melakukan hal itu, dan ia pun jadi tidak melakukannya karena selalu berada di samping Banyu apa pun keadaannya.
Namun, sekarang ia sadar bahwa bukan Banyu lah yang membosankan, melainkan dirinyalah yang membuat Banyu menjadi seseorang yang membosankan.
Banyu tidak mengenal betapa menyenangkannya dunia luar, terus terang saja karena dirinya selalu menempel dengan Banyu. Ia tidak pernah membiarkan Banyu untuk bergaul secara dekat dengan orang lain. Ia yang secara tidak langsung memenjarakan Banyu, dan meminta Banyu untuk bergaul hanya dengannya saja.
Sifatnya yang kekanakan, kemauannya yang harus selalu dituruti, dan sisi manjanya yang membuat Banyu mau tak mau harus selalu ada untuknya, membuat Banyu pada akhirnya hanya terikat dengannya saja. Stella tidak tahu sudah berapa banyak penderitaan yang ia berikan pada Banyu, ia tidak tahu sudah seberapa jauh ia memberi kesusahan pada Banyu. Yang pasti pada akhirnya, Banyu lah yang paling menderita kesusahan paling parah, tapi ialah yang justru meninggalkan Banyu tanpa kejelasan apa pun.
Lalu sekarang, melihat Banyu duduk di depan matanya, Stella sadar bahwa sekali lagi dirinya membuat Banyu kesusahan dan membiarkan Banyu menanggung semuanya sendirian. Ia sama sekali tidak mencintai Banyu, tapi karena kesalahan besar yang dibuatnya, ia membuat Banyu harus terikat dengannya lagi.
“Banyu,” panggil Stella.
Banyu menatapnya intens. Kali ini ponselnya bahkan sampai diletakkan di atas ranjang agar bisa memusatkan perhatiannya hanya pada Stella.
Andainya perasaan cinta bisa dibeli, Stella akan dengan senang hati mencari hal itu dan mendapatkannya. Ia ingin meminta kepada siapa pun agar diberikan cinta. Menggantinya dengan yang ia punya. Agar ia bisa memberikan seluruh hidupnya pada Banyu yang sudah sejak lama menjaganya tanpa pamrih.
“Kenapa?” Banyu bertanya karena Stella diam cukup lama.
Stella beringsut mendekati Banyu. Awalnya Banyu diam saja dan tidak melakukan apa-apa karena tidak mengerti apa yang akan dilakukan oleh Stella, tapi bola matanya membesar saat tangan Stella perlahan bergerak menyentuh lehernya. Gadis itu mencium bibirnya secara tiba-tiba.
“Kita belum pernah ngelakuin ini,” kata Stella menjauhkan diri untuk sesaat.
Banyu tidak melakukan apa-apa karena masih terlalu terkejut. Terlebih saat Stella lagi-lagi mendekatkan diri dan mencium bibirnya. Kali ini Gadis itu bahkan tidak hanya menempelkan bibirnya saja, melainkan melumatnya lembut.
Banyu tidak ingin berbohong. Meski hati dan pikirannya menolak untuk melakukan hal itu, tubuhnya justru berkata lain. Tangannya perlahan bergerak untuk mengangkat tubuh Stella ke atas pangkuannya. Lumatan lembut yang awalnya hanya dilakukan oleh Stella, dibalas sama lembutnya oleh Banyu.
Keduanya tenggelam dalam ciuman yang yang dimulai oleh Stella. Hari masih terlalu pagi, tapi keduanya merasakan sensasi panas yang perlahan menjalar ke seluruh tubuh mereka.
Berbeda dengan Stella yang tidak merasakan sensasi lain, Banyu menemukan dirinya begitu menginginkan Stella melebihi ciuman yang saat ini tengah dilakukan. Jantungnya berdegup sangat keras, kepalanya luar biasa pening, tapi Banyu benar-benar menikmatinya.
Banyu ingin meminta lebih. Di saat hati dan pikiran yang mengatakan bahwa dirinya harus berhenti, tubuhnya justru berontak dan menarik pinggang Stella agar lebih dekat dengannya.
Ciuman keduanya berlanjut. Apa yang saat ini sedang dirasakan oleh Banyu, tidak pernah ia rasakan saat dirinya masih bersama dengan Mia. Gejolak aneh yang ia rasakan, euforia yang saat ini tengah dinikmati oleh dirinya, juga sentuhan lembut dari Stella benar-benar menjadi candu untuknya.
Tangan Banyu perlahan naik untuk meremas tengkuk Stella. Meminta Stella untuk tidak melepaskan bibirnya. Detik demi detik berlalu, saat keduanya sudah mulai kehabisan nafas, Stella menjadi orang pertama yang menjauhkan diri. Tapi hanya sesaat, karena Banyu segera menarik kembali lehernya dan mencium bibir Stella lagi.
Stella luar biasa senang melihat respon yang diberikan oleh Banyu. Apa yang ia mulai mungkin memang terlalu tiba-tiba, tapi berakhir menyenangkan karena Banyu tidak menolaknya sama sekali. Lebih dari itu, Banyu bahkan terlihat lebih menginginkannya.
Ya, Stella menyadari bahwa dirinya mungkin tidak bisa memberi Banyu cinta, tapi apa pun yang diinginkan Banyu, terutama mengenai tubuhnya, maka ia akan memberikannya dengan sukacita. Bukan hanya karena Banyu udah sah menjadi suaminya, tapi karena Stella sadar bahwa dirinya tidak bisa memberikan hal lain selain itu.
Lumatan Banyu perlahan semakin menuntut. Saat Stella memasukkan tangan kanannya ke dalam kaos yang dikenakan Banyu, ia merasakan cengkeraman Banyu menguat. Tangannya mengusap bagian perut Banyu dengan gerakan memutar. Sedikit lagi untuk menyentuh bagian d**a Banyu, sampai tiba-tiba Banyu justru menjauhkan diri begitu saja.
Napas Banyu memburu. Bibirnya digigit kuat. Ia menggeleng berulang kali dengan tatapan lurus menembus netra Stella.
“Enggak! Enggak! Aku belum siap. Aku gak bisa ngelakuin ini sama kamu.” Banyu beringsut turun dari ranjang. Menatap Stella yang juga tengah menatapnya kebingungan.
"Kenapa? Karena kamu takut nyakitin perasaan Mia? Kamu takut kalau apa yang sekarang kamu lakuin sama aku bakal berdampak pada perasaan Mia?" tanya Stella.
Banyu menggeleng. "Kenapa kamu selalu bawa-bawa Mia? Aku sama dia udah gak ada hubungan apa-apa. Kamu istriku, Cuma kamu satu-satunya orang yang berusaha aku jaga perasaannya."
Banyu pernah sangat menyayangi Stella, Banyu pernah sangat menginginkan Stella, tapi itu dulu. Sekarang, semua sudah berubah. Bukan tentang perasaannya, tapi keadaannya. Ia tidak ingin melakukannya saat dirinya tahu bahwa Stella tidak menyayangi dirinya sedikit pun.
Stella memanglah istrinya, tapi hati gadis itu? Siapa yang tahu. Banyu hanya ingin melakukan hal semacam itu atas dasar suka sama suka. Jika hanya satu pihak yang memiliki perasaan, sedangkan yang lainnya tidak merasakan hal itu, Banyu takut dirinya akan terluka nanti.
Dulu, sangat menyakitkan mengetahui Stella pergi darinya begitu saja. Bahkan saat dirinya belum menyatakan perasaan sama sekali. Ia begitu mencintai Stella, tapi gadis itu memilih pergi bersama orang tuanya. Meninggalkannya dengan luka mendalam yang tidak hilang satu atau dua bulan.
Pada intinya Stella memang betulan kembali. Tapi semuanya sudah tidak sama lagi seperti dulu. Meski Stella sekarang berstatus sebagai istri sah-nya, bukan berarti ia memiliki hak sepenuhnya atas diri gadis itu. Banyu tidak ingin terluka lagi. Akan sangat menyakitkan jika pada akhirnya ia lah satu-satunya yang bergantung pada Stella, sedangkan Stella? Suatu saat nanti Stella bisa memilih pergi dengan alasan bosan atau tidak pernah jatuh cinta padanya. Tidak ada gunanya terus bertahan tanpa adanya sedikit pun perasaan.
Untuk sekarang, Banyu hanya ingin melindungi Stella. Apa yang sedang dialami Stella akan terlalu berat jika dijalani sendirian, itulah kenapa dirinya memilih untuk turun tangan. Bukan karena ia merasa kasihan, tapi karena ia tidak ingin Stella menanggung semuanya sendirian.
"Untuk sekarang aku benar-benar belum siap ngelakuin hal itu. Kita mungkin emang suami istri, tapi aku benar-benar gak bisa ngejatuhin harga diriku dengan ngelakuin hal itu sama orang yang jelas-jelas aku tahu gak pernah cinta sama aku."
Stella merasa tertohok. Saat dirinya mengira bahwa apa yang bisa ia berikan akan meluluhkan Banyu dan membuat hubungannya dengan Banyu bisa menjadi lebih baik layaknya suami istri kebanyakan, ternyata ia salah. Ia lupa bahwa Banyu bukanlah seorang penuntut, bahwa Banyu bukanlah seorang pemaksa. Banyu tidak akan melakukan apa pun hanya berdasar pada keinginan saja. Dan itu membuatnya merasa seperti gadis penggoda. Seseorang yang jangan sangat jelas menjatuhkan harga diri seorang Banyu.
Banyu tidak pernah meminta, tapi ia terang-terangan datang. Banyu tidak pernah bersikap egois, tapi ia melakukan sesuatu tanpa memikirkan perasaan Banyu.
Stella lupa bahwa Banyu tidak seperti kebanyakan laki-laki yang pernah dikenalnya di luar sana. Banyu bukanlah seseorang yang mau mengedepankan hawa nafsunya hanya untuk kepuasan belaka. Banyu menjunjung tinggi harga dirinya sebagai kaum laki-laki, dan begitu menghormati perempuan.
"Maaf, aku gak maksud kayak gitu." Stella mengulas senyum tipis, "aku lupa kalau kamu itu bukan laki-laki sembarangan. Kamu bukan orang yang bisa tidur dengan perempuan gitu aja. Aku egois karena gak pernah mikirin perasaan kamu sejak pertama kali kita ketemu. Kamu mungkin udah banyak nahan rasa sakit, dan itu karena aku."
"Gak gitu!" sergah Banyu cepat. "Aku cuma belum siap aja. Aku gak mau kalau cuma aku nikmatin nantinya. Aku mau kita ngelakuin itu atas dasar suka sama suka, bukan karena terpaksa apalagi karena status kita yang sekarang ini."
"Tapi saat aku ngelakuin hal itu sama laki-laki yang pernah tidur sama aku, aku gak pernah benar-benar suka sama mereka. Aku mau karena aku tahu mereka suka hal itu. Aku lakuin hal itu supaya bisa bikin mereka bahagia. Berharap bisa ngelakuin hal yang serupa ke kamu, tapi aku lupa kalau kamu itu bukan mereka."
"Stella!" panggil Banyu tegas. Ia mendekati Stella yang masih terduduk di atas ranjang. Menyentuh pipi Stella lembut. "Di mata aku kamu gak kayak gitu. Jangan berusaha terlalu keras, karena kamu gak perlu ngelakuin hal itu. Selama kamu baik-baik aja, maka aku gak perlu apa pun."
Stella memandang Banyu dengan tatapan sendu. Jauh di lubuk hatinya ia sangat berterima kasih karena Banyu yang ia kenal sekarang tidak berbeda dengan Banyu yang ia kenal tujuh tahun lalu.
"Mungkin butuh waktu lama, atau mungkin gak akan pernah ada waktu di mana kamu bakal jatuh cinta sama aku. Tapi aku bakal tetep nunggu. Menunggu keajaiban." Banyu tersenyum lebar, "dan kalau nanti kita udah sama-sama nerima keadaan kita masing-masing, maka kita bisa ngelakuin hal sebebas apa pun itu. Aku gak akan nyentuh kamu sampai kamu bener-bener mau nyentuh aku. Tulus, tanpa tuntutan apa-apa."
Keduanya gagal bercinta, tapi masing-masing dari mereka sama-sama memantapkan diri untuk terus berusaha. Menjadi yang terbaik, bukan hanya untuk diri mereka sendiri, tapi untuk pasangan mereka. Banyu tidak ingin menemukan keterpaksaan dalam diri Stella, dan Stella pun tidak akan terlalu memaksa lagi. Banyu bisa menyentuhnya di mana pun jika memang Banyu menginginkannya, kapan pun selama Banyu menginginkan hal itu, tapi Banyu baru saja memberitahu dirinya bahwa Banyu tidak memerlukan hal semacam itu sebagai ucapan terima kasih.
Stella sadar bahwa sebagai laki-laki sudah pasti Banyu memiliki hasrat untuk bercinta dengannya, tapi Banyu menahannya semata-mata untuk menjaga perasaannya, menjaga harga dirinya, dan tetap menghormatinya sebagai perempuan. Perempuan yang jelas-jelas sudah kotor, tapi masih diperlakukan layaknya Ratu oleh Banyu.