Banyu dan Stella saling pandang saat mendengar suara ketukan pintu. Keduanya sedang berjalan di lantai utama. Hendak pergi untuk makan malam di restoran. Mereka bertanya-tanya siapa yang datang malam-malam?
"Apa mama kamu?" Stella yang pertama bertanya.
Banyu menggeleng. "Gak tahu. Mungkin mamaku, mungkin juga papamu," sahutnya.
Keduanya lantas berjalan lebih cepat menuju pintu. Stella yang paling semangat untuk membukakan pintu. Dan saat pintu terbuka, seseorang yang berdiri di sana membuatnya membulatkan mata untuk sesaat. Kemudian Stella bergerak cepat untuk memeluk orang itu.
"Bi Siti!" seru Stella heboh.
Bi Siti yang ternyata tadi mengetuk pintu hanya berdiri kaku karena terkejut mendapatkan pelukan tiba-tiba dari Stella.
Banyu geleng-geleng kepala melihat Stella yang begitu senang melihat asisten rumah tangga mereka kembali setelah satu minggu izin cuti. Meski baru belum lama tinggal di rumah yang sama dengan Bi Siti, Stella pasti merasa sudah sangat dekat dengan wanita berusia lima puluhan itu. Maklum saja, semua urusan yang berkaitan dengan Stella dan pekerjaan rumah tangga, semuanya diurus oleh Bi Siti. Stella hampir tidak pernah melakukan apa pun selama tinggal di rumah Banyu. Bi Siti yang memenuhi semua kebutuhannya tanpa terkecuali. Itulah sebabnya Stella terlihat begitu senang melihat Bi Siti.
Pelukannya pun terlihat tulus sekali. Tidak dibuat-buat. Mungkin karena sifat keibuan yang dibawa oleh Bi Siti cenderung membuat Stella nyaman berada di dekat wanita itu. Banyu senang. Setelah mendengar apa yang sudah dilalui Stella semenjak ibu kandungnya yang meninggal, ia sempat merasa kasihan dan tidak tega pada Stella, tapi sekarang Stella seolah sedang memberi tahu bahwa dirinya memiliki seseorang yang bisa memberinya kehangatan layaknya ibunya dulu.
Stella seperti sedang mengatakan bahwa dirinya memang belum sembuh sepenuhnya. Lukanya masih begitu terasa setiap kali mengingat ibunya, tapi setidaknya sekarang Stella memiliki obat untuk menghilangkan sedikit kerinduannya pada sosok seorang ibu.
Banyu tenang dibuatnya. Ia tahu bahwa sebanyak apa pun usaha yang ia kerahkan untuk membahagiakan Stella, sebanyak apa pun dia memberikan hadiah yang diinginkan Stella, semuanya tidak selalu terlihat berarti. Ada kalanya pelukan seorang ibu sangat diperlukan. Banyu tidak bisa memberikannya, ibunya pun sibuk dan tidak bisa selalu memanjakan dirinya apalagi memanjakan Stella, tapi dengan adanya Bi Siti, Banyu bisa melihat kebahagiaan lain di raut wajah Stella.
"Dia orangnya emang kayak gitu, Bi. Mungkin selamat tinggal di sini Stella udah ngerasa deket banget sama Bibi. Makanya pas ngelihat Bibi pulang dia seseneng itu. Karena sejak beberapa hari lalu emang gak ada yang ngurusin dia," ujar Banyu tersenyum. Menjawab kebingungan Bi Siti.
Alhasil, Bi Siti melepaskan tas yang sedang dipegangnya hanya untuk membalas pelukan Stella sama hangatnya. Ia mengusapi bahu Stella lembut, dan sesekali berpindah ke surai panjang Stella. Pelukannya erat sekali. Memancarkan kerinduan yang begitu mendalam. Sebagai seorang ibu, Bi Siti bisa merasakannya.
"Bibi kok lama banget sih cutinya?" Stella melepas pelukan. Menatap Bi Siti cemberut.
"Maaf, Non," sahut Bi Siti menyesal.
"Bibi tahu, gak?" Stella langsung bercerita, "selama Bibi gak ada, aku itu berasa sengsara banget. Banyu gak bisa masak, terus akunya juga gak bisa masak. Kita berdua itu udah kaya dua anak yang ditinggalin sama orang tuanya. Kita itu setiap malam harus keluar buat makan malam di restoran. Terus kalau sarapan itu selalu aja pakai roti tawar sama selai. Gak ada tuh nasi goreng buatan Bibi yang paling enak. Sampai bosen aku," tuturnya diselipkan keluhan berlebihan.
Bi Siti tertawa kecil. Dan seolah tidak puas dengan curhatannya barusan, Stella kembali melanjutkan ceritanya.
"Udah gitu gak ada yang ngegosok cucian sama sekali. Banyu bisa nyuci, tapi dia gak bisa ngegosok pakaiannya. Untung aja sebelum dia pergi Bibi udah ngegosok banyak baju buat Banyu. Jadi pas dia ke kantor dia, gak kayak gembel yang ditinggalin di pinggir jalan."
Mendengar kalimat terakhir yang dilontarkan oleh Stella, banyak mengangkat tangan dan melayangkan jitakan kecil untuk Stella.
"Emang bener, kok!" Stella mengusapi kepalanya, "Udah gitu nih, Bi, pas waktu siang itu aku berasa bosan banget. Udah kayak anak hilang yang bisanya cuma muter-muter di dalam rumah. Gak ada temen, gak tahu mau ngapain, gak ada yang bisa diajak ngobrol, udah gitu gak ada camilan enak yang biasanya dibuat terus ditaruh di kulkas buat nemenin aku nonton. Pokoknya ngenes banget," sambungnya.
Sontak saja Banyu dan Bi Siti tertawa. Stella terlalu jujur dalam membicarakan tentang penderitaannya selama ditinggal oleh Bi Siti.
"Ya, udah. Nanti semua baju yang udah dicuci dan belum digosok langsung Bibi gosok. Udah gitu nanti Non Stella bisa ngobrol sama Bibi kalau Non bosan."
Stella jingkrak-jingkrak seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan lolipop dari orang tuanya.
"Terus gimana keadaan suami Bibi?" Banyu bertanya. Lupa bahwa seharusnya itulah yang ia tanyakan sejak awal. Tapi karena Stella sejak tadi terus merengek seperti anak kecil, ia sampai lupa untuk bertanya mengenai alasan utama yang membuat Bi Siti meminta cuti.
"Suami saya udah hampir sembuh, Den. Sekarang udah pulang dan dirawat sama anak saya. Dia yang minta saya buat balik kerja karena takut Den Banyu kecewa dan milih mecat saya karena terlalu banyak libur."
Banyu terkekeh pelan. "Mana mungkin saya menatap Bibi. Bibi 'kan udah lama kerja sama saya. Malahan saya kira Bibi bakal balik ke rumah ini setelah dua atau tiga minggu, ternyata baru satu minggu udah balik ke sini."
"Gak pa-pa, Den. Kebetulan suami saya keadaannya udah membaik, jadi saya gak perlu terlalu khawatir. Udah gitu ada yang ngurus juga di rumah."
Banyu mengangguk mengerti. Jika memang begitu baiknya maka ia juga turut senang. Karena mulai sekarang ia tidak akan terlalu kerepotan lagi.
Sekadar informasi, Banyu mempekerjakan Bi Siti sejak dirinya masih berkuliah. Lebih tepatnya saat dirinya memilih untuk tinggal sendiri karena orang tuanya membeli rumah baru. Saat itu gaji untuk Bi Siti masih dari orang tuanya, tapi setelah ia bekerja, ia membayar sendiri.
Jika dihitung-hitung mungkin sekitar lima atau enam tahun Bi Siti sudah bekerja dengannya. Dan selama itu Banyu ingat bahwa Bi Siti tidak pernah meminta cuti dadakan. Wanita itu mengurusnya dengan amat sangat baik layaknya orang tuanya sendiri. Dan seperti Stella, sebenarnya kemarin pun ia dibuat cukup kerepotan karena tidak ada Bi Siti.
"Untung aja Bibi udah pulang, soalnya kalau sampai Bibi benar-benar baru pulang setelah tiga minggu, aku yakin rumah ini bakal berubah kayak kapal pecah. Banyu bakal benar-benar jadi gembel karena pakaiannya yang kusut, dan aku bakal gila karena terlalu bosan."
Untuk kedua kalinya Banyu mendaratkan jitakan di kepala Stella. Mulut gadis itu benar-benar licin. Bicaranya tidak bisa disaring dan menggunakan kosakata seenak jidatnya. Padahal….
"Pertama, aku gak akan jadi gembel, karena di zaman sekarang banyak laundry yang tinggal kita datangin buat ngurus pakaian kita. Yang kedua, gak usah ngomong seolah-olah kamu gak nganggap aku ada. Tadi kamu bilang bakal gila cuma karena bosan, gak baik tau!" ceramahnya membuat Stella cemberut.
"Tapi 'kan kamu kerja. Cuma di rumah pas malam hari aja. Palingan kita ngobrol sebentar terus selebihnya dihabisin buat tidur waktunya. Iya, 'kan?"
"Tapi 'kan setiap malam kita pergi ke luar buat makan malam. Itu juga 'kan salah satu obat buat ngilangin rasa bosan."
"Tapi 'kan—"
Sebelum Stella kembali membalas ucapan Banyu, Bi Siti mengangkat kedua tangannya kemudian berkata, "Udah-udah gak usah ribut. Kalian berdua itu 'kan suami istri, Jadi jangan terlalu banyak adu mulut kayak gini. Gak baik." Membuat Banyu dan Stella akhirnya memilih diam mendengar nasihatnya.
"Ngomong-ngomong kalian berdua mau ke mana? Ini udah malam, lho."
Banyu dan Stella saling pandang. Keduanya memperhatikan setelan mereka masing-masing. Kemudian sama-sama tergelak karena sadar bahwa kedatangan Bi Siti membuat mereka lupa apa yang sebenarnya ingin mereka lakukan.
"Kita itu mau makan malam di restoran, Bi. Sampai lupa." Stella tergelak, "Bibi masuk, yuk! Pasti Bibi capek banget. Kita makan dulu, Bibi tunggu di rumah aja. Nanti kita beliin makanan juga buat Bibi."
"Eh, gak usah." Bi Siti malah mengambil tasnya yang tergeletak di lantai lantas mendorong Banyu dan Stella bersamaan menggunakan masing-masing tangannya, "ngapain makan di restoran segala? Bibi bisa kok buatin makanan buat kalian berdua sekarang juga. Kayaknya ada beberapa sisa bahan makanan yang seharusnya masih bisa dipakai kalau kalian emang bener-bener gak masuk sesuatu selama bibi pergi. Jadi kalian gak usah pergi ke luar."
Stella berseru senang. Ia segera menggandeng tangan Bi Siti dan menariknya menuju dapur. Mengatakan betapa ia merindukan aroma dan rasa dari masakan Bi Siti.
***
Harus menunggu satu jam lebih sampai semua masakan yang dibuat oleh Bi Siti tersaji di atas meja. Susah payah Stella menahan rasa lapar sejak tadi. Mengabaikan suara perutnya yang sudah berbunyi bahkan sebelum Banyu pulang kerja.
Namun, setelah berbagai macam lauk tersaji di atas meja, aroma yang mengalir lembut memenuhi indra penciuman Stella membuat penantiannya terbayar. Stella rindu sekali dengan masakan dari wanita yang saat ini tengah melayaninya seperti anak sendiri, dan sekarang ia bisa menikmatinya sampai puas.
"Bi, ayo Bibi makan sama kita aja!" Stella berbicara setelah Bi Siti menyajikan lauk terakhir.
Tapi Bi Siti justru menggeleng. "Aden sama Non Stella makan aja. Nanti Bibi bisa nyusul. Bibi mau gosok pakaian kalian berdua dulu."
"Gak perlu digosok sekarang, Bi. Lagian besok aku juga libur kerjanya. Jadi bisa Bibi kerjain besok aja. Sekarang pasti bibi capek banget habis perjalanan, terus tempat-tempatnya bikin makanan buat kita juga, jadi mendingan Bibi istirahat aja." Banyu kembali berbicara.
"Gak pa-pa, Den. Bibi gosok pakaian dulu, baru setelah itu langsung istirahat."
"Ahh, Bibi." Stella mengeluh manja, "Jangan capek-capek, dong! Sekarang itu udah malam tahu, jadi jangan kerja terus. Mendingan makan aja sama kita, ngegosoknya bisa dikerjain besok, kok. Kalau perlu aku bantuin, deh, besok."
Sontak saja Banyu langsung menatap Stella. "Emangnya kamu bisa ngegosok baju?" tanyanya tidak percaya.
"Enggak," sahut Stella lempeng.
"Tadi katanya mau bantuin Bi Siti. Kalau kamunya aja gak bisa gosok, gimana cara bantuinnya?" Banyu bertanya lagi.
"Aku bantuin pakai doa aja. Terus aku juga bisa nemenin Bi Siti gosok supaya Bi Siti ada temen ngobrol dan gak ngerasa bosen. Katanya segala sesuatu yang dilakukan sambil ngobrol itu gak kerasa dan cepat selesai."
Banyu mengembuskan napas lelah. Terserah Stella mau mengatakan apa. Ia tidak peduli lagi. Apa yang keluar dari mulut Stella yang berhubungan dengan urusan rumah tangga memang hanya akan berisi omong kosong saja.
"Kamu itu emang gak bisa kalau gerak berlebihan. Jangankan bantuin gosok, kamu bahkan terlalu malas bangun tidur. Kalau gak aku bangunin, kamu gak akan bangun sampai adzan subuh.”
Stella menatap Banyu kesal.Tidak teima karena Banyu berani-beraninya membawa-bawa salah satu kebiasaan buruknya untuk membenarkan pendapatnya. belum lagi Banyu juga menambah kalimat seolah-olah Banyu selalu direpotkan olehnya. Tidakkah Banyu sedang membanggakan dirinya sendiri?
“Jadi kamu nyesel nikah sama. cewek pemalas kayak aku?”
“Aku gak bilang kayak gitu.” Banyu membela dirinya sendiri, “aku cuma ngasih tahu kamu kenyataan tentang diri kamu sendiri. Barangkali kamu merasa tertampar dan besok bisa mulai bangun pagi.”
“Aku gak akan bangun pagi cuma karena merasa tertampar.”
Banyu terdiam untuk beberapa saat. Tergelak saat menyadari bahwa perkatan Stella benar adanya. Karena kalau Stella bisa sadar hanya karena diceramahi, maka itu sudah terjadi sejak dirinya masih SMA.
Keduanya tidak sadar bahwa Bi Siti sudah berlalu sejak Stella mengatakan ingin membantunya. Banyu pun memilih untuk memulai makan malamnya saja. Stella meminta diambilkan nasi beserta lauk pauk yang ada. Dan dari sana saja sudah membuktikan bahwa Stella memang terlalu malas, bahkan sekadar melakukan sesuatu yang sepenuhnya untuk dirinya sendiri.