Dulu, Banyu memiliki kebiasaan pagi yang terbilang cukup aneh. Hampir setiap hari ia datang ke rumah Stella untuk menyeburkan gadis itu ke dalam bath tub. Alasannya tentu karena Stella sangat sulit bangun pagi. Ibu Stella bahkan terlalu lelah dan membiarkan Banyu melakukan apa saja yang diinginkannya selama Stella akan bangun pada akhirnya.
Awalnya itu hanya keisengan saja, tapi lama-kelamaan berubah menjadi kebiasaan yang disukai oleh Banyu. Dulu, saat masih sekolah, ia selalu datang sebelum jam setengah tujuh pagi, tujuan utamanya hanya untuk itu. Bagus jika Stella sudah bangun, meski itu mustahil, tapi kalau gadis itu masih meringkuk di atas ranjangnya, maka kejahilannya akan muncul ke permukaan.
Bisa dibilang itu adalah rutinitas tambahan selain mengurus dirinya sendiri. Banyu cukup menikmatinya dan selalu merasa terhibur karena ulahnya tersebut. Stella karena mengandalkannya dan tidak jarang mengganggunya karena hal-hal kecil, sebagai balasan, ia hanya bisa mengganggu Stella saat pagi saja di mana dirinya menyuburkan gadis itu ke dalam bath tub.
Lalu, sekarang, saat usia Stella sudah menginjak angka dua enam, Banyu hanya bisa terkekeh geli karena rupanya kebiasaan buruk Stella yang satu itu belum hilang juga. Melihat Stella yang masih anteng di atas ranjang meski hari sudah siang, membuat pikiran jahil Banyu yang sudah lama hilang kembali muncul.
Waktu baru menunjukkan pukul enam pagi. Memang masih cukup pagi, tapi seharusnya untuk para perempuan itu sudah cukup siang. Terlebih lagi bagi mereka yang sudah menikah dan memiliki anak. Jam enam bisa dibilang sudah sangat terlambat karena banyak yang harus disiapkan untuk suami dan anak mereka.
Namun, sepertinya Stella tidak pernah memperdulikan hal itu. Meski dirinya sudah menikah dan tidak lama lagi akan memiliki seorang anak, ia masihlah Stella yang dulu untuk urusan pagi. Malas, dan tidak bisa dipaksa oleh siapa pun.
Sama seperti apa yang dilakukannya di hari-hari sebelumnya, Banyu mulai mengganggu tidur Stella dengan menarik selimut yang membungkus tubuh gadis itu. Dan seperti biasa, Stella akan menariknya kembali sampai dirinya melemparkan selimut ke lantai. Barulah Gadis itu akan meringkuk tidak nyaman karena tidak ada sesuatu yang menyelimutinya.
Banyu mendekat. Menepuki pipi Stella pelan. Menimbulkan erangan halus yang lolos dari mulut Stella. Hal itu berulang sampai beberapa kali. Ya, begitulah. Stella adalah tipikal orang yang mudah sekali tidur dan sangat sulit jika untuk dibangunkan.
"Stella, udah pagi. Ayo buruan bangun!" Banyu berusaha berbicara. Mengganggu Stella dengan suaranya.
"Satu jam lagi, Banyu."
Dulu, Stella akan meminta waktu tambahan lima menit untuknya agar bisa tertidur kembali. Hari ini justru gadis itu meminta waktu satu jam. Yang artinya baru pukul tujuh nanti Stella memperbolehkan dirinya untuk membangunkan lagi.
Tapi tidak dulu, tidak juga sekarang, Banyu tidak akan pernah menuruti kemauan Stella yang satu itu. Karena saat nanti dibangunkan kembali, Stella akan meminta waktu yang sama lagi dan itu tidak akan pernah berhenti, bahkan sampai adzan maghrib berkumandang.
Di dalam kamar mandi, sudah terdapat air hangat yang Banyu siapkan di dalam bath tub. Jika dulu Banyu akan dengan sangat senang hati melemparkan Stella ke dalam bak berisi air mandi agar bola mata Stella langsung segar dan bisa memulai harinya tanpa rasa kantuk, sekarang ia akan sedikit lebih halus. Dulu Stella harus sekolah, melemparnya ke dalam bath tub berisi air dingin akan ampuh untuk membuat mata Stella segar, tapi untuk sekarang Banyu hanya perlu membangunkan Stella saja. Tidak perlu menggunakan cara sekasar itu.
Stella mungkin tetap akan marah-marah karena dilemparkan secara paksa ke dalam bath tub, tapi setidaknya gadis itu tidak akan terkejut karena bukan air dingin lah yang menyambutnya.
Diboponglah tubuh Stella tanpa permisi. Masih mendapatkan reaksi yang sama seperti tujuh tahun lalu. Stella tidak pernah curiga dan malah meringkuk nyaman di pelukannya. Banyu segera membawa Stella ke kamar mandi. Di samping bath tub. Banyu menatap Stella yang masih memejamkan mata.
"Stella. Coba lepasin leher aku sebentar."
Stella menurut dan melepaskan pelukannya. Menarik kedua tangannya dan meletakkannya di depan tubuh Banyu. Hal itu akan memudahkan Banyu. Jadi saat setelah dijatuhkan kedalam bath tub, gadis itu tidak menariknya untuk ikut serta.
Tidak mau membuang waktu, Banyu membungkukkan tubuhnya dan menjatuhkan Stella ke dalam bath tub. Karena Stella sedang hamil, Banyu tidak berani untuk melemparkan gadis itu atau nanti hal-hal yang tidak diinginkan akan terjadi.
Untuk beberapa saat Stella hanya mengerjapkan matanya, sampai kepalanya tenggelam ke dalam bath tub dan membuatnya kelabakan sendiri.
Banyu tergelak saat melihat Stella mengeluarkan kepada dengan kedua mata melotot dan mulut menganga. Nampaknya Stella sangat terkejut sekaligus kebingungan. Ia menatap Banyu yang berdiri di depannya. Merapatkan bibir dengan bola mata yang siap mencuat keluar saat sadar apa yang baru saja terjadi.
Stella tiba-tiba teringat kebiasaan menyebalkan Banyu dulu. Hal itu selalu membuat dirinya naik darah setiap pagi, tapi herannya Stella tidak pernah sadar dan selalu tertipu lagi dan lagi. Dan kali ini, Banyu berhasil mengingatkannya pada masa lalu menyebalkan itu.
"Banyu!" Teriakan pertama yang keluar dari mulut Stella. Masih menjadi teriakan yang sama yang membuat Banyu segera menjauh dari Stella.
"Kenapa kamu masih semenyebalkan dulu?! Aku itu udah besar, kenapa masih pakai cara kayak gitu buat bangunin aku?" tanya Stella memukul-mukul air keras.
Untunglah Banyu sudah benar-benar menjauh dan berdiri di depan pintu. Karena kalau tidak, kemeja yang dikenakannya pasti sudah basah karena cipratan air dari Stella.
"Habisnya kebiasaan kamu juga gak pernah berubah dari dulu. Anak gadis itu harus bangun pagi-pagi, dan kamu malah masih semalas dulu. Jangan salahin aku kalau aku bakal maksa kamu turun dari ranjang dengan cara paling kejam. Sama kayak dulu."
"Tapi 'kan gak harus dimasukin ke dalam bak mandi juga! Aku aja udah gak sekolah. Ngapain coba bangun pagi-pagi?"
"Terus maunya dimasukin ke mana? Ke dalam lemari es?" Banyu fokus pada kalimat pertama Stella.
"Banyu!" Teriakan Stella.
Banyu tergelak lagi. Menghadapi Stella yang sedang kesal benar-benar sangat menghiburnya.
"Kalau besok besok kamu masih ngelakuin hal yang sama kayak gini, aku bakal pulang ke rumah papaku, dan gak akan balik lagi ke rumah kamu."
"Ya, udah. Pulang aja. Kamu pikir aku bakal sedih ditinggal sama kamu?" Banyu melipat kedua tangannya di depan d**a. Responnya itu berhasil membuat Stella mengerucutkan bibirnya.
"Kenapa sih ada laki-laki sekejam kamu di dunia ini?" tanya Stella membuang muka.
"Ya, karena ada perempuan samalas kamu di dunia ini." Dan Banyu menjawabnya tanpa pikir panjang.
Stella diam. Telanjur kesal dengan Banyu dan tidak bisa menjawab apa-apa lagi karena tahu bahwa Banyu akan terus membalasnya.
"Ya, udah. Buruan mandinya. Aku mau nyiapin sarapan. Kamu mau sarapan pakai apa? Roti tawar, roti tawar, atau roti tawar?"
Di sana, di depan Banyu, Stella terdiam dengan wajah datar. Pilihan macam apa itu?
Sejak Bi Siti pergi, keduanya memang hanya bisa sarapan dengan roti tawar. Bukan karena mereka tidak ingin makanan yang lain, tapi karena mereka tidak bisa membuatnya. Dua-duanya sama-sama tidak berguna kalau soal masak-memasak. Memesan secara online akan memakan waktu, begitupun jika Banyu harus keluar untuk membeli bubur atau semacamnya, itu hanya akan membuat Banyu terlambat pergi ke kantor. Alhasil, mereka harus tahan sarapan dengan roti tawar selama Bi Siti tidak ada.
"Kamu lagi nanya atau gimana?" Stella balik bertanya setelah beberapa saat.
Banyu mengangguk sambil menahan tawa. "Iya, aku nanya."
"Emangnya kita ada pilihan lain selain roti tawar?"
"Enggak." Banyu tergelak kemudian berlalu begitu saja. Meninggalkan Stella yang terheran-heran.
Banyu itu lucu sebenarnya, tapi lebih banyak sisi menjengkelkannya.
***
Selepas sarapan, dan setelah Banyu memasukkan segala keperluan pekerjaannya ke dalam mobil, Stella mengantar Banyu sampai mobil. Layaknya istri kebanyakan, yang biasanya selalu ditayangkan di acara televisi. Bedanya, jika para istri di televisi selalu menyiapkan kebutuhan suaminya, membawakan tas kerja dan memasangkan dasi, Stella tidak perlu melakukan hal itu karena Banyu sudah melakukannya sendiri.
Stella menyebutnya kemandirian. Banyu bisa melakukan segala macam hal tanpa memerlukan bantuannya. Bahkan karena terlalu mandirinya seorang Banyu, dia tidak hanya bisa mengurus dirinya sendiri, tapi juga mengurus Stella. Yang satu itu Stella menyebutnya keberuntungan baginya.
Istri lain di luar sana mungkin merasakan hal yang sama. Kebanyakan dari mereka mengatakan bahwa mereka memiliki seorang suami paling baik sedunia, sejagat raya, dan seantero Bumi ini. Selalu begitu. Saat mencintai seseorang, mereka mengatakan bahwa orang itu adalah orang terbaik yang pernah mereka temui di dunia.
Berlaku untuk Stella juga. Ia memang belum mencintai Banyu, tapi ia Berani mengakui bahwa Banyu adalah laki-laki terbaik di dunia yang pernah dikenal olehnya. Bukan hanya karena ia mengetahui seberapa banyak sisi menakjubkan dari seorang Banyu, tapi karena ia memang tahu itulah kebenarannya. Ia tidak jauh beda dengan istri lain di luar sana. Ia juga menganggap bahwa dirinya adalah perempuan paling beruntung dan bahagia sedunia karena memiliki seseorang seperti Banyu.
"Nanti kalau ada apa-apa langsung hubungin aku. Kalau kamu lapar kamu bisa pesan online aja, kalau bosan juga boleh pergi, asal hubungi aku dulu dan jangan pergi sama sembarangan orang terutama laki-laki. Dan kalau hujan. Tutup semua jendela dulu. Pakai earphone buat sedikit ngilangin kebisingan karena suara hujan. Aku bakal pulang tepat waktu."
Itulah salah satu sisi menakjubkan seorang Banyu yang menjadikan Stella gadis paling beruntung. Sifat pengertiannya.
"Pertama, aku mungkin bakal ngabisin uang kamu buat pesan makanan secara online. Dan kalau bosen, aku gak akan ke mana-mana. Paling cuma muter-muter gak jelas di dalam rumah. Jangan suudzon, aku gak akan pergi sama laki-laki mana pun."
Banyu mengangguk. "Ya, udah. Aku berangkat kerja."
Banyu sudah bersiap membuka pintu mobil, tapi Stella kembali berbicara. Membuatnya mau tak mau kembali menatap Stella.
"Handphone kamu gimana? Baterainya penuh?" tanya Stella.
Banyu mengangguk.
Namun, Stella tidak percaya. "Coba sini aku cek dulu," pintanya. Dan Banyu segera memberikan ponselnya kepada Stella.
Persis seperti apa yang Banyu katakan, baterai di ponsel Banyu terisi penuh. Hal itu Banyu lakukan agar kejadian seperti semalam tidak terulang lagi. Ia akan mengusahakan pulang sebelum hujan, tapi tentu tidak bisa begitu, jam kerjanya sudah diatur oleh kantor. Tapi jika ponselnya menyala, setidaknya Stella bisa menghubunginya jika terjadi sesuatu.
"Ada lagi?" tanya Banyu mengambil ponselnya lagi. Takut-takut Stella memerlukan hal lain, dan membuatnya harus kembali turun dari mobil karena gadis itu memanggilnya. Jadi sebelum hal itu terjadi, Banyu lebih baik bertanya terlebih dahulu.
Stella berdeham dengan kening berkerut. Berpikir apa lagi yang ia inginkan. "Ah, ya!" Telunjuknya terangkat, "kamu nggak mau ngasih semacam ciuman buat pamit gitu? Kayak kebiasaan yang sering ada di film-film, tuh. Suami cium kening istrinya sebelum berangkat kerja. Kayaknya itu lucu. Aku mau juga."
Tatapannya berbinar, membuat Banyu meneguk air liur secara tidak sengaja. Ini adalah kali pertama Stella meminta hal-hal semacam itu. Biasanya gadis itu hanya akan bercanda. Mengatakan ingin memperkosanya atau perkataan kotor lainnya yang sebenarnya tidak sepenuhnya ingin dilakukan. Tapi kali ini tergambar jelas keseriusan di mata Stella.
Hal itu yang membuat Banyu kebingungan. Ia tidak tahu apakah rasanya akan aneh atau bagaimana. Selama ini selalu Stella lah yang pertama kali datang dan melakukan apa pun yang diinginkannya. Entah sekadar mencium pipi, mengecup bibirnya sekilas, atau memeluknya tanpa aba-aba.
Banyu memang sering memeluk Stella, tapi itu hanya di keadaan darurat saja. Seperti semalam di mana segala ketakutan karena hujan yang begitu lebat, atau di sela-sela tertekan karena Aldo tidak mau bertanggung jawab untuk menikahinya. Ya, hanya sebatas itu.
"Buruan Banyu!" Stella berjinjit. Berusaha menyamakan tingginya dengan tinggi Banyu.
Meski tidak berhasil, hal itu membuat jarak antara keduanya semakin dekat. Pada akhirnya Banyu menggerakan tangannya. Ia menarik tengkuk Stella mendekat dan mencium keningnya untuk beberapa saat.
Stella nyengir saat Banyu menjauh diri. "Boleh, ya, setiap hari kita kayak gini?"
Bukannya menjawab atau mengiyakan permintaan Stella, Banyu hanya berdeham sambil membuang muka.
"Ya, udah. Aku berangkat."
Sebelum Banyu benar-benar membuka pintu mobilnya, Stella menangkup wajah Banyu dengan kedua tangannya dan dengan cepat mencium bibir Banyu. Cukup lama. Tidak ada lumatan, tapi itu berhasil memberikan efek berlebih pada Banyu.
"Itu dari aku." Stella merapikan sedikit rambut Banyu setelah menjauhkan diri, "semangat kerjanya, Banyu! Kalau nanti di kantor tiba-tiba kamu ngerasa capek, bosan, atau pengin banget pulang. Inget-inget aja kalau sebelum berangkat kerja kamu dapat ciuman penyemangat dari aku."
Tidak ingin jika suara jantungnya sampai terdengar oleh telinga Stella, Banyu memilih untuk membuka pintu mobilnya dan segera masuk. Mengabaikan Stella yang sedang melambaikan tangan padanya.
Sial! Kenapa dia manis banget? Benak Banyu berteriak.