Definition of Love; 42

1810 Kata
Stella tidak suka hujan, Stella tidak suka hujan, Stella tidak suka hujan. Kalimat itu terus-terusan terngiang di telinga Banyu. Membuat Banyu resah. Hujan semakin deras. Terlihat jelas di kaca mobilnya. Petir menggelegar beberapa kali. Kilat menyerbu membabi buta. Memberikan efek cahaya yang sekilas terlihat terang benderang. Banyu mengendarai mobilnya tidak sabaran. Pikirannya dipenuhi dengan sosok Stella yang mungkin sedang meringkuk ketakutan sekarang. Sesuatu muncul di kepala Banyu. Sesuatu yang bodohnya sejak tadi tidak terpikirkan olehnya karena terlalu panik. Banyu merogoh ponsel di sakunya. Berulang kali ia berusaha menyalakan ponselnya, tapi tidak berhasil. Ponsel berwarna hitam tersebut dilemparkan ke kursi sebelahnya untuk melampiaskan kekesalannya. Banyu memukul kemudi mobil dengan keras. Baru kali ini Banyu benar-benar menyesali kebiasaannya yang jarang sekali mengisi daya ponselnya. Dalam satu minggu, mungkin hanya tiga sampai empat kali Banyu mengisi daya. Itu semua karena Banyu memang jarang menggunakan ponsel. Ia hanya memakainya saat perlu saja. Tapi siapa sangka sekarang Banyu justru menyesal karena menyepelekan hal sepenting ponsel. Ia jarang mengisi daya, dan tidak punya power bank sama sekali. Lengkap sudah kekesalannya. Mati-matian Banyu menahan diri agar tidak mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh. Kalau ia sampai meninggal di jalan raya, tidak ada gunanya. Stella tetap akan sendirian saat ini. Karena itulah Banyu harus bisa mengontrol rasa khawatirnya agar ia bisa selamat. Sekitar tiga puluh menit kemudian, barulah Banyu sampai di rumahnya. Karena pagar rumahnya yang tertutup, Banyu terpaksa keluar dari mobil. Merasa bahwa dirinya akan memakan waktu lebih lama lagi jika memutuskan untuk membuka gerbang hanya untuk memasukkan mobilnya, Banyu memilih untuk meninggalkan mobilnya di luar pagar dan langsung berlari ke dalam rumahnya. Untunglah pintu utama tidak dikunci. Banyu mendorongnya keras dan langsung berlari menaiki anak tangga dengan pakaian yang setengah basah. Sampai di pintu kamarnya Banyu tertegun, dan kejadian yang sama seperti yang pernah terjadi beberapa tahun lalu terulang kembali. Terlihat Stella tengah memeluk lututnya di samping lemari. Seolah berusaha menyembunyikan tubuhnya dari jendela yang memberikan sorot kilat dengan jelas. Gadis itu nampak jelas sedang gemetar. Wajahnya sudah basah oleh air mata. Membuat Banyu merasa bersalah melihatnya hal itu. Banyu tidak tahu seberapa cepat dirinya berlari dan menarik Stella ke dalam pelukannya. Gadis itu terisak sambil mencengkram tubuhnya kuat. "Hu-hujan … Banyu…," kata Stella menangis sesenggukan. Banyu mengangguk. Ia mengusapi bahu Stella lembut. "Maaf, handphone aku kehabisan baterai," katanya. Stella meraung ketakutan. Petir menggelegar dan bertambah eratlah pelukan Stella. Untuknya, tidak ada yang lebih menakutkan, daripada hujan deras yang dibarengi petir yang saling bersahutan. Itu adalah ketakutan terbesarnya selain sendirian. "Aku dari tadi berusaha ngehubungi kamu, tapi nomor kamu tetap gak aktif. Papa juga gak ngangkat teleponnya." Banyu merasa kecolongan. Seharusnya sejak asisten rumah tangganya izin cuti, ia sudah mempersiapkan jikalau ada hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Seperti saat ini misalnya. Ia yang paling tahu bahwa Stella sangat membenci hujan. Stella selalu ketakutan saat hujan mulai turun. Tidak peduli sebanyak apa orang di luar sana yang sangat menantikan hujan, atau sangat menyukai rintik hujan dan aroma yang dihadirkannya, untuk Stella hujan hanyalah mimpi buruk yang selalu membuatnya resah. Banyu merasa sangat bodoh karena bisa-bisanya ia baru teringat bahwa Stella takut akan hujan saat hujan sudah mulai turun di kantornya tadi. Sebelum ia sampai rumah, Stella pasti kebingungan karena tidak tahu harus berbuat apa. Fakta bahwa tidak ada orang lain di rumah mungkin membuat Stella semakin gelisah. "Aku takut…," lirih Stella. Sudut hati Banyu seperti dicubit. Yang kini ada di pelukannya bukanlah sosok Stella yang manja, melainkan sesosok gadis yang sedang berusaha menenangkan diri setelah diserang ketakutan sejak tadi. "Gak pa-pa, udah ada aku di sini." Banyu berusaha menenangkan Stella, "yuk pindah duduknya di atas kasur aja. Di lantai dingin." "Gak!" tukas Stella cepat. Ia menahan gerakan Banyu yang sudah bersiap ingin berdiri, "aku mau kayak gini aja sampai hujannya berhenti." Rengekan yang sama. Banyu segera merubah posisinya menjadi bersila, kemudian bersandar ke tembok, dan Stella berpindah duduknya di atas pangkuan Banyu. Memeluk Banyu dengan kepala yang disandarkan di bahu kanan Banyu. "Lain kali jangan biarin handphone kamu sampai mati, Banyu," kata Stella di tengah isakannya. Banyu mengangguk sambil terus mengusapi bahu Stella. "Aku janji lain kali kejadian semacam ini enggak akan terulang lagi. Maaf karena udah bikin kamu ketakutan sendirian di dalam rumah," ujarnya menyesal. Tapi semuanya berakhir sudah. Stella menjadi lebih tenang saat sudah ada orang di sampingnya. Ketakutannya perlahan meluap dan segera pergi. Berganti dengan rasa nyaman dan tenang yang dihadirkan oleh Banyu. *** Dua jam kemudian, hujan baru berhenti sepenuhnya. Dan selama itu pula Banyu harus menahan pegal di kedua kakinya karena terus memangku Stella yang tidak mau diajak berpindah tempat. Bahkan saat hujan sudah berhenti, Stella masih enggan untuk turun. Ia berkata bahwa hujan suka bercanda dan mempermainkan siapa pun yang mengira bahwa hujan tersebut sudah reda sepenuhnya. Memang benar adanya. Terkadang, di saat kita sudah mengira hujan benar-benar berhenti, tak lama setelah itu rintik-rintik kembali muncul. Mereka yang sudah kembali berjalan setelah meneduh biasanya harus kembali mencari tempat untuk meneduh. Berlaku untuk pejalan kaki, pengguna kendaraan roda dua, atau penjual yang membawa gerobak. Karena itulah Stella masih terus memeluk Banyu saat hujan sudah berhenti. Kilat dan petir sudah tidak datang lagi. Suara rintik yang jatuh ke genting pun sudah tidak terdengar lagi. Tapi pelukannya masih tidak mengendur. Dan Banyu hanya membiarkan hal itu. "Untung aja gak sampai mati lampu. Soalnya tadi hujan emang deras banget dan petirnya juga lumayan keras. Tapi aku senang karena lampu gak padam. Aku gak bisa bayangin gimana jadinya kamu kalau rumah ini gelap dan aku belum sampai rumah." Stella mengeratkan pelukannya. "Mungkin aku bakal milih buat masuk ke dalam lemari aja," sahutnya polos. Banyu terkekeh geli. Ia mengusap gemas surai Stella. "Kamu tahu?" Banyu bertanya, tapi ia juga langsung menjawabnya, "tadi di kantor aku sempat kaget banget waktu lihat gerimis turun. Aku baru keluar, dan tiba-tiba gerimis. Mia sempet masuk lagi ke kantor buat ambil payung, dia minta aku nunggu, tapi aku lebih milih lari duluan ke mobil aku." "Karena kamu inget aku takut hujan?" tanya Stella. Banyu mengangguk dua kali. "Aku baru inget itu. Aku bener-bener gelisah di perjalanan pas sadar kalau hujan makin deras aja dan petir muncul beberapa kali. Aku lihat handphone aku, tapi karena mati, aku jadi emosi sendiri dan ngerasa bodoh banget," ujarnya kembali jengkel saat harus mengingat kejadian itu. "Tapi sekarang kamu di sini." Banyu tersenyum meski tahu Stella tidak melihatnya. "Tadi itu pertama kalinya aku sadar kalau kamu takut hujan dan aku kaget banget karena telat nyadarin hal itu. Bahkan di pertemuan pertama aja aku sampai ngelupain hal itu. Mungkin lebih ke karena aku kaget waktu itu. Kita udah pisah tujuh tahun lebih, dan tiba-tiba kamu ada di depan mataku. Aku bahkan gak sadar kalau kamu lagi hujan-hujanan. Aku kayak sempet lupa aja kalau kamu takut hujan." "Kamu tahu?" Gantian Stella yang bertanya. Banyu balik bertanya, "Apa?" Stella menjauhkan diri setelah sekitar dua jam mengandalkan tubuh Banyu sebagai tempat ternyamannya. "Waktu mamaku meninggal, itu terjadi pas hujan. Aku lagi di kampus dan papa ngabarin aku kalau mama masuk rumah sakit. Walaupun lagi hujan deras, aku berusaha buat gak takut meskipun itu benar-benar bikin aku gemetar setengah mati. Aku nyari taksi sambil hujan-hujanan. Secepat mungkin buat pergi ke rumah sakit. Tapi pas sampai di sana Mama udah gak ada." Itu adalah kelengkapan dari cerita yang sebelumnya tidak Banyu ketahui. Stella hanya mengatakan bahwa ibunya meninggal karena serangan jantung, tapi gadis itu tidak menceritakan detailnya. Dan sekarang Stella baru berani membuka mulut untuk menceritakan semuanya. "Bahkan saat Mama udah dikuburkan pun, hujan turun lagi. Itu adalah satu-satunya momen di mana aku berani buat nerobos hujan dan diam cukup lama di kuburan Mama. Tapi besok-besoknya aku sadar bahwa sebenarnya di situ awal mula ketakutan aku bertambah parah. Setiap kali hujan turun dan aku berusaha nyari pertolongan seseorang yang mau meluk aku, aku gak nemuin siapa-siapa. Mama udah gak ada. Dan setiap kali hujan turun, sekarang bukan cuma menghadirkan ketakutan buat aku, tapi juga kesedihan yang nyiksa banget." Dan kesedihan itu hadir karena saat hujan turun, saat itulah ibu Stella meninggal. Banyu tidak bisa membayangkan bagaimana hari-hari yang dilalui Stella setiap kali menghadapi hujan setelah kematian ibunya. Gadis itu terus-terusan menghadapi ketakutan sekaligus kesedihan mendalam yang mencengkeramnya. Pasti terasa berat dan menyulitkan. Tapi Stella bertahan sampai sekarang. "Di pertemuan pertama kita, itu jadi hari kedua di mana aku ngelupain ketakutan aku buat sesaat. Aku ribut sama Aldo, kita putus, dan saat itu aku kayak sadar bahwa gak ada siapa pun di dunia ini yang bisa mahamin aku sepenuhnya. Hujan masih menakutkan buat aku, tapi sadar bahwa gak ada siapa pun di samping aku jauh lebih mengerikan." Stella mengulas senyum tipis. Ia menatap Banyu lama. Kedua tangannya berada di masing-masing bahu Banyu. Tatapannya lekat sampai Banyu salah tingkah dibuatnya. "Tapi hari ini kamu datang. Kamu ngasih tahu aku, sederas apa pun hujan, sekeras apa pun suara petir, dan sebanyak apa pun kilat berdatangan, kamu bakal nyamperin aku dan lindungin aku. Hari ini aku tahu bahwa aku masih bisa nemuin seseorang yang mau nenangin aku waktu hujan turun. Buat bantu aku hilangin semua rasa sedih dan takut aku." Stella berucap tulus. Ia melebarkan senyuman, "makasih, Banyu. Karena udah datang." Memiliki seseorang seperti Banyu mungkin menjadi impian banyak orang. Stella yakin hal itu. Dan ia menjadi salah satu yang beruntung karena berhasil menemukan satu. Di luar sana mungkin banyak orang yang jauh lebih baik, yang jauh lebih tampan, atau lebih kaya, tapi yang seperti Banyu jelas tidak ada lagi. "Sama-sama," ucap Banyu membalas senyuman Stella. Ia memberikan hadiah lain dengan mengulurkan tangannya dan mengusap lembut pipi Stella. Awalnya mungkin tidak baik, awalnya mungkin hanya karena sebuah keterpaksaan dan kesalahan yang tidak disengaja, tapi Banyu ingin ke depannya menjadi baik. Ia memutuskan untuk menikahi Stella bukan hanya untuk menutupi aib gadis itu, tapi juga untuk melindungi dan menjaga Stella sebaik mungkin. Stella memang belum jatuh cinta padanya, ke depannya pun belum tentu perasaan itu akan tumbuh di hati Stella, tapi Banyu selalu berharap bahwa setiap kata-kata baik yang keluar dari mulut Stella, selalu diiringi ketulusan yang nantinya akan menghadirkan perasaan lain yang jauh lebih kuat dari sekadar teman biasa. "Karena hujannya udah reda, gimana kalau kamu mandi? Kamu jadi ikutan basah karena dari tadi meluk aku." Stella mengangguk. Ia melirik sekilas ke jendela untuk memastikan apakah hujan sudah benar-benar berhenti atau belum, dan ia tidak menemukan tanda apa-apa lagi. "Gimana kalau kita mandi bareng?" tawar Stella. "Gak bisa. Udah, buruan sana mandi. Aku mau ngelurusin kaki aku dulu." Stella tergelak. Ia segera turun dari pangkuan Banyu. Membiarkan Banyu meluruskan Kakinya. "Kamu pasti pagel banget," kata Stella melihat raut wajah Banyu yang terlihat kesakitan. "Gak pa-pa, kok." "Ya, udah. Aku mandi dulu. Nanti setelah mandi aku bakal pijitin kamu. Oke?" Gadis itu segera pergi setelah mendapatkan anggukan kepala dari Banyu. Seluruh tubuh Banyu terasa remuk. Terutama di bagian kakinya. Tapi itu benar-benar bukan masalah besar, melihat Stella yang sudah kembali seperti biasanya jauh lebih melegakan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN