"Banyu, aku mau ngomong."
Banyu terkejut mendengar perkataan itu dibarengi dengan tepukan di bahu kanannya. Ia menoleh ke belakang. Melihat beberapa orang yang sedang berdesakan di dalam lift, termasuk dirinya dan Rangga yang berdiri bersebelahan. Di antara kumpulan orang yang sedang berdesakan tersebut, Banyu melihat Mia berdiri di bagian ujung paling belakang. Sepertinya gadis itu susah payah sekali saat berusaha menepuk bahunya.
Begitu pintu lift terbuka di lantai dasar, semua orang yang ada di dalamnya keluar. Banyu melesak keluar bersamaan dengan beberapa orang lainnya yang sedang terburu-buru untuk segera pulang.
Mia mengikuti Banyu yang jalan beriringan dengan Rangga. Langkah Banyu terhenti di depan kantor. Diikuti Mia yang juga turut menghentakkan langkah.
Rangga yang tidak mengerti apa-apa melihat keduanya. Bertanya, "Kalian kenapa? Buruan balik woy! Ada bini lo yang lagi nunggu di rumah." Rangga menatap Banyu. Gantian menatap Mia, "dan lo, Mia. Jangan coba-coba buat bikin cinta lama bersemi bembali. Itu cuma bakal jadi bencana buat diri lo sendiri," ujarnya serius.
Selalu saja tidak jelas. Banyu dan Mia hanya bisa geleng-geleng kepala menanggapi Rangga yang selalu berbicara seenaknya tanpa melihat situasi terlebih dahulu atau tanpa bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Di awal langkah memang sempat bertanya, tapi pertanyaan itu dibarengi dengan tuduhan rentetan perkataan tidak jelas yang menyisihkan pertanyaannya di awal.
"Biar gue ingetin sama kalian berdua." Lagi, Rangga berbicara sambil memandang Banyu dan Mia, "kalian berdua itu udah putus. Udah gak ada hubungan apa-apa lagi. Banyu udah bahagia sama istrinya, dan Mia, gua juga tahu lo udah ngikhlasin Banyu sepenuhnya buat Stella. Jadi jangan berani-beraninya kalian berhubungan lagi! Sumpah, itu gak baik! Bakalan jadi bencana klau kalian berhubungan lagi kayak dulu."
Banyu memandang Rangga jengah. "Lo itu kalau ngomong emang selalu gak disaring, ya? Lo seakan-akan lagi nuduh gue sama Mia selingkuh di belakang Stella. Itu yang gak baik, woy!"
"Gue gak nuduh, gue cuma suka khawatir aja kalau kalian tiba-tiba saling deket-deketan kayak gini. Mencurigakan tahu, gak!" sahut Rangga membela dirinya sendiri.
"Tapi 'kan gak seharusnya lo punya pikiran seliar itu tentang kita berdua. Lo itu temen gue sama Mia, tapi selalu aja ngomong seolah-olah lo gak pernah percaya sama gue sama Mia."
"Bukannya gak percaya, gue cuma wanti-wanti. Takut nanti kalau lo kebablasan dan lupa sama Stella karena masih suka sama Mia."
Banyu memukul kepala Rangga. "Omongan lo makin ngawur, astaga!" ucapnya jengkel.
Mia terkekeh geli. Hubungan pertemanan antara Banyu dan Rangga memang selalu cocok untuk dijadikan hiburan selepas bekerja. Keduanya selalu adu mulut setiap kali membawakan obrolan yang sedikit serius. Itu lucu sebenarnya dan jujur saja Mia cukup merindukannya karena belakangan ini ia dan dua laki-laki di hadapannya jarang mengobrol.
"Rangga, kamu tenang aja." Mia akhirnya berbicara. Menginterupsi aksi saling pukul antara Banyu dan Rangga. "Aku sama Banyu cuma mau ngobrol sebentar aja, kok. Ada sesuatu yang mau aku omongin sama Banyu, dan itu gak ada sangkut-pautnya sama berakhirnya hubungan kita."
Rangga memandang Banyu dan Mia dengan mata yang disipitkan. Berusaha mencari kebenaran dari apa yang baru saja di katakan oleh Mia. Dan untunglah ia tidak menemukan kebohongan di sana.
"Oke. Awas aja kalau kalian berdua bohong. Kalau gitu gue mau balik duluan, soalnya kayaknya mau hujan hari ini."
Rangga menjauh dari Banyu dan Rangga. Sampai di mobilnya, cowok itu sempat melambaikan tangan dan juga menyalakan klakson saat pergi sebagai tanda pamit darinya.
Selepas kepergian Rangga, Banyu menatap Mia. "Kamu mau ngomong apa?" tanyanya.
"Em, itu…." Mia bingung sendiri ingin memulainya dari mana.
"Kalau gak penting-penting amat aku mau pulang aja, soalnya Stella sendirian di rumah. Aku gak mau bikin dia khawatir."
Banyu sudah melangkah menjauhi Mia, tapi Mia menarik tangan Banyu. Hal itu membuat Banyu menatap tangan Mia yang memegang pergelangan tangannya. Sadar bahwa apa yang dilakukannya tidak benar, Mia segera melepaskan cekalannya.
"Maaf, aku gak ada maksud kayak gitu. Aku cuma mau minta maaf buat kejadian beberapa hari lalu di restoran. Aku dari kemarin mau ngomong sama kamu, tapi kamu selalu kayak buru-buru mau pulang gitu, kamu juga kelihatan sibuk sama proyek kamu jadi kita jarang ketemu, makanya hari ini aku beraniin buat ngomong karena aku cukup merasa bersalah atas apa yang terjadi di restoran."
Sudahlah lima hari berlalu sejak pertengkaran antara Stella dan ayah Mia di restoran. Sebenarnya Banyu sudah melupakan hal itu. Ia juga tidak mempermasalahkannya karena sadar bahwa tidak hanya ayah Mia yang salah, tapi dirinya dan Stella juga. Kalau saja ia tidak mengajk Stella makan di restoran yang sering didatanginya bersama Mia, mungkin pertemuan itu tidak akan terjadi.
"Sebenarnya kamu gak harus ngomongin ini. Kamu juga gak harus minta maaf."
"Tapi aku tahu banget kalau apa yang diomongin sama papa aku itu cukup keterlaluan. Dia udah menghina kamu dan ngomong yang enggak-enggak tentang Stella. Aku benar-benar minta maaf atas nama papa aku. Dia mungkin ngerasa kalau dia gak salah, tapi aku tahu kalau aku perlu minta maaf sama kamu."
Banyu hanya menyadari satu hal saat Mia mengatakan rentetan kalimat tersebut, bahwa gadis itu sebenarnya memiliki niat baik. Mia sadar bahwa apa yang dikatakan ayahnya memang cukup keterlaluan dan bisa menyakiti perasaan orang lain. Banyu cukup terenyuh karena Mia mau meminta maaf padahal malam itu Stella pun terang-terangan menghinanya.
"Kalau gitu aku juga minta maaf atas nama Stella. Apa yang dibilang ayah kamu mungkin salah, tapi aku juga gak bisa membenarkan apa yang Stella katakan. Stella mungkin cuma mau ngebela aku, tapi aku tahu kalau cara bicaranya dan kosa kata yang dia pilih gak sopan. Dia juga sempat ngehina kamu malam itu. Aku benar-benar senang kalau kamu gak marah sama Stella."
Mia tersenyum. Ia menggeleng pelan. "Enggak, kok. Aku gak marah sama sekali. Lagi pula apa yang telah bilang itu benar. Mungkin emang agak kasar, tapi aku tahu niat dia baik."
"Ya, dia emang agak keterlaluan malam itu. Aku aja gak nyangka kalau dia berani ngomong sampai sejauh itu. Maklum aja, aku sama dia udah kenal dari lama banget, dari kita berdua masih bocah. Mungkin dia cuma gak terima kalau aku dihina di depan mata dia. Itu aja. Aku yakin dia gak ada maksud menghina papa kamu."
"Sekali lagi aku minta maaf atas nama papa aku. Tolong sampaikan juga permintaan maaf aku sama Stella."
"Aku juga. Kalau gitu aku pergi dulu, ya. Kamu hati-hati pulangnya."
Mia mengangguk lantas melambaikan tangannya. Banyu mulai menuruni anak tangga. Baru beberapa langkah saat dirinya menginjak aspal di depan kantornya. Nampaknya perkataan Rangga sebelumnya menjadi doa. Karena rintik hujan yang perlahan turun membuat Banyu mendongakkan kepala.
Di belakang, Mia berteriak. "Banyu, hujan! Balik ke sini dulu. Biar aku ambilin payung buat kamu supaya kamu bisa pergi ke mobil kamu tanpa harus basah-basahan." Ia segera masuk kembali ke dalam kantor.
Bukannya mendengarkan Mia, Banyu justru terpaku dengan tatapan terus mengarah pada langit gelap yang sedang menumpahkan air hujan. Degup jantungnya menggila, Banyu tidak mengikuti perkataannya untuk menunggu gadis itu mengambil payung, ia malah berlari kencang menuju mobilnya. Memikirkan sosok Stella yang sekarang sendirian di rumah.
***
8 tahun lalu.
Sebuah ponsel bergetar lama beberapa kali, tapi tidak ada siapa pun yang mengangkatnya. Pada panggilan kelima, setelah layar kembali hitam, seseorang baru keluar dari kamar mandi.
Banyu tidak menyadari bahwa sejak tadi seseorang menghubunginya. Ia dengan tenangnya mengeringkan bagian rambutnya yang basah dengan handuk.
Di luar sedang hujan deras. Petir menggelegar beberapa kali. Setiap kali mendengar suara hujan dan suara petir, Banyu selalu teringat wajah Stella. Gadis itu takut hujan, apalagi petir. Jika tidak ada siapa pun di sampingnya maka Stella akan menangis tersedu-sedu di pojokan kamar.
Banyu terkekeh geli saat membayangkan Bagaimana Stella sekarang. Gadis itu mungkin sedang bersembunyi di bawah ketiak ibunya. Atau sedang bergabung untuk tidur di ranjang orang tuanya. Menjadi orang ketiga di antara ibu dan ayahnya.
Mengabaikan hal itu. Banyu berjalan ke arah lemari. Membukanya dan menarik asal sebuah kaos dari sana. Kaos berwarna putih diambil dan langsung dikenakan di tubuhnya. Baru akan memilih mengeringkan rambut menggunakan hair dryer saat ia melihat ponselnya yang tergeletak di atas ranjang menyala.
Nama Stella terpampang jelas di sana. Dan di bagian atas layar ponselnya, terdapat ikon kecil yang menunjukkan bahwa ada panggilan tak terjawab tadi. Banyu tidak mengerti kenapa Stella menghubunginya di tengah hujan deras, tapi ia tetap mengangkatnya.
"Kok tumben banget sempat-sempatnya telepon aku? Bukannya sekarang kamu lagi ngumpet di bawah ketiak mama kamu?" Banyu terkekeh di akhir kalimatnya.
Ia kira Stella akan merajuk atau memarahinya karena ia jelas baru saja mengejek gadis itu, tapi yang didengarnya adalah isak tangis Stella di seberang sana.
"Stella? Kamu kenapa?" tanya Banyu panik.
"Ba-banyu … hujan," kata Stella.
Banyu memandang jendela kamarnya yang tertutup tirai. Sebuah kilat petir memberikan efek cahaya yang terlihat jelas.
"Mama Papa belum pulang, Banyu. Satu jam yang lalu mereka pergi buat makan malam sama klien Papa."
Bola mata Banyu membesar. "Aku ke sana sekarang," kata Banyu. Ia segera melempar ponselnya ke atas ranjang dan berlari tunggang langgang meninggalkan kamarnya.
Orang tuanya juga belum pulang, dan ia hanya sendirian di rumah, tapi tentu itu bukanlah masalah besar karena ia sudah terbiasa. Lain ceritanya jika Stella sendirian di rumahnya, dan di luar sedang hujan deras.
Banyu tidak tahu seberapa cepat ya berlari menuruni anak tangga, membuka pintu utama tanpa menutupnya lagi, dan menerobos hujan tanpa pikir panjang dengan kaki telanjang. Yang sekarang ada di pikirannya hanya satu, yaitu tentang bagaimana keadaan Stella.
Pagar rumah Stella tidak dikunci. Banyu dengan mudahnya membuka pagar kecil dan berlari di halaman rumah Stella. Untunglah bagian pintu utama juga tidak dikunci, karena Banyu tidak yakin bahwa dirinya bisa berlari kembali ke dalam rumah untuk mengambil ponsel agar bisa menghubungi Stella. Meminta gadis itu membukakan pintu. Tentu tidak bisa. Daripada melakukan itu, jika pintu rumah Stella dikunci maka ia akan memilih untuk mendobraknya saja secara paksa.
Lagi-lagi Banyu berlari menaiki anak tangga. Berakhir sampai di depan pintu terbuka dengan napas terengah-engah. Beberapa meter dari posisinya, Stella sedang memeluk lutut sendiri di pojokan kamar. Lebih tepatnya berusaha melesakkan tubuhnya di samping lemari besar yang ada di kamarnya.
Banyu berjalan cepat ke arah Stella. Berjongkok begitu sampai di depan Stella. Gadis itu langsung memeluknya sambil menangis keras.
"Gak pa-pa, gak pa-pa, udah ada aku di sini." Banyu mengusap bahu Stella. Membiarkan Gadis itu ikut basah karena memeluknya yang sudah basah kuyup akibat menerobos hujan.
"Petirnya suaranya besar-besar banget, Banyu. Dari tadi kilatnya kelihatan terang banget sampai berasa masuk ke kamar aku." Stella mempererat pelukannya.
Untuk orang biasa, hujan, kilat dan petir mungkin bukanlah sesuatu yang menakutkan. Tapi untuk orang-orang seperti Stella, setiap kali hujan turun dibarengi dengan kilat dan suara petir yang menggelegar, itu akan menjadi suasana yang paling mengerikan.
Jika ada yang bertanya, Stella pernah bercerita bahwa semuanya berawal saat dirinya masih kecil dulu. Itu terjadi saat Stella masih duduk di sekolah dasar. Katanya, ia menjadi satu-satunya anak yang belum dijemput di sekolah. Suasana sepi, awalnya hanya mendung, tapi lama-kelamaan berubah menjadi hujan deras. Mungkin karena mengira semua anak sudah pulang, tidak ada yang memeriksa bahwa Stella kembali ke dalam kelas saat melihat hujan turun.
Stella mengatakan bahwa semuanya berubah menjadi mengerikan saat tiba-tiba lampu di kelasnya mati. Meski tidak gelap, suasananya benar-benar terasa mencekam. Terlebih saat terdengar suara petir yang menggelegar. Kala itu Stella memilih untuk duduk di pojokan kelas sampai akhirnya tiba dan memeluknya.
Banyu merasa sangat bersalah karena mengabaikan panggilan Stella untuk beberapa saat. Kalau saja dirinya bisa mengangkat telepon yang lebih cepat, Stella tidak akan ketakutan dalam waktu yang lama.
"Maaf, karena aku tadi gak langsung angkat telepon dari kamu. Aku lagi mandi dan handphone aku aku silent."
Stella meraung di pelukan Banyu. "Lain kali jangan di-silent handphone-nya, Banyu!"
Sebenarnya itu terdengar lucu, tapi Banyu tidak tertawa dan memilih untuk terus mengusapi bahu Stella.
"Ya, udah. Ayo duduk di ranjang aja."
Stella menggeleng. Ia malah semakin mengeratkan pelukannya.
"Baju kamu jadi ikut-ikutan basah karena kamu meluk aku," kata Banyu.
"Aku gak peduli. Aku mau tetep kayak gini sampe hujannya reda. Aku gak mau lepasin pelukannya."
Stella dengan sifat keras kepalanya bukanlah sesuatu yang bisa Banyu lawan. Karena posisi duduknya yang tidak mengenakkan, Banyu memilih merubahnya menjadi bersila. Ia mengangkat tubuh dan membiarkan Stella duduk di pangkuannya sambil memeluknya erat.