Banyu dan Stella sama-sama tergelak saat melihat kantong belanjaan mereka dibongkar. Pasalnya dari semua barang belanjaan yang mereka beli, tidak ada satu pun barang yang sebelumnya mereka rencanakan.
Di awal, setelah pergi dari restoran, Banyu dan Stella berencana untuk membeli bahan-bahan makanan di supermarket dan memilih memasak di rumah, daripada harus pergi ke restoran lain untuk makan malam. Keduanya sepakat untuk membeli bahan makanan yang sekiranya mudah dibuat dalam perjalanan menuju supermarket.
Banyu menyebutkan banyak sekali bahan-bahan seperti ikan, ayam, daging sayur mayur, dan masih banyak lagi. Stella setuju saja. Katanya, tidak masalah apa yang akan dibeli karena nanti pada akhirnya mereka akan melihat tutorial memasak di Youtube.
Sesampainya di supermarket pun keduanya berkeliling untuk memilih bahan masakan yang mereka inginkan. Dan yang membuat keduanya tertawa adalah saat mereka harus mengingat kejadian di supermarket tadi, di mana keduanya menaruh kembali apa yang sudah mereka ambil saat melihat makanan serba instan yang berjejer rapi seperti sosis dan nugget. Stella yang menyarankan untuk mengganti rencana, dan Banyu mengikutinya.
Makanan tersebut tidak mereka beli dalam jumlah banyak. Hanya untuk malam ini. Keduanya sepakat untuk memakan makanan serba instan itu saja, daripada harus masak-masakan yang lebih rumit yang bahkan belum terjamin rasanya apakah enak atau tidak meski sudah mengikuti tutorial di YouTube.
“Kita itu tadi di supermarket malu-maluin banget gak, sih? Udah sok-sokan borong berbagai macam bahan masakan tapi tahunya malah dikembalikan lagi ke tempatnya.” Stella tergelak saat harus mengingat kekonyolan yang ia lakukan bersama Banyu di supermarket.
“Mungkin seharusnya dari awal kita beli makanan instan aja, tapi serius tadi aku sama sekali gak kepikiran buat beli makanan kayak gini.”
“Aku juga,” sahut Stella.
“Tapi untuk malam ini aja, ya. Makanan kayak gini gak sehat, aku gak mau kamu makan makanan kayak gini terlalu sering. Itu bahaya buat kesehatan kamu sama bayi kamu.”
“Iya, Banyu.”
Keduanya mulai memasak. Kalau sekadar menggoreng saja Banyu tentu bisa melakukan hal itu. Ia yang mengambil tugas untuk menggoreng semuanya sementara Stella hanya duduk manis di atas pantry. Stella baru bergerak menyiapkan piring saat Banyu sudah selesai menggoreng beberapa sosis dan beberapa nugget.
Di piring lain, Stella menyiapkan saus dan mayones untuk dimakan bersama sosis dan nugget. Keduanya memilih ruang tamu sebagai meja makan mereka malam ini. Banyu membawa dua piring yang di atasnya sudah disediakan dua garpu, sementara Stella membawa dua gelas air putih.
Banyu menyalakan televisi untuk menemani makan malam sederhana mereka. Rasanya agak berbeda karena biasanya mereka menikmati makanan lezat yang dibuat oleh Bi Siti, tapi hari ini keduanya justru persis seperti dua anak yang baru saja ditinggal pergi oleh orang tua mereka sehingga harus memasak sendiri.
“Oh, iya. Aku sampai lupa.” Banyu berbicara. Stella yang tengah fokus menonton televisi sambil mengunyah sontak menoleh ke arah Banyu.
“Apa?” tanya Stella.
“Tadi waktu di kantor, pas jam istirahat. Mamaku sempet telepon. Katanya dia mau ngerekomendasiin dokter kandungan buat kamu. Biar kamu bisa periksa di sana aja buat tahu perkembangan kehamilan kamu.”
Tiba-tiba Stella merasa tertarik. Ia mengabaikan televisi di depannya dan memilih merubah posisinya menjadi bersila agar bisa berbicara dengan Banyu lebih leluasa.
“Emangnya kalau aku ke dokter kandungan, kamu mau nemenin aku?” tanya Stella.
“Kenapa enggak? Kalau libur, aku bisa anter kamu, kok. Anak yang ada di kandungan kamu itu ‘kan anak aku juga.”
Stella tidak tahu kenapa dia selalu senang saat Banyu menyebutkan bahwa anak yang dikandungnya adalah anak Banyu. Mungkin karena setelah penolakan yang ia terima dari Aldo, ia merasa senang bahwa pada akhirnya ada seseorang yang mau menerimanya dan anaknya. Dan Banyu mau mengakui anak tersebut tanpa ragu-ragu.
Rasanya menyenangkan saja, saat kamu tahu bahwa ada seseorang yang mau menerimamu setelah kamu sempat menyadari bahwa tidak ada seorang pun yang pantas untukmu.
“Gak usah,” kata Stella akhirnya.
Banyu bertanya, “Apanya yang gak usah? Ke dokter kandungan atau apa?”
“Kamu. Kamu gak perlu nganter aku. Aku bisa pergi sendiri kalau nanti aku mau. Kalaupun kamu bisa nganter di hari libur, aku tetep gak mau. Aku gak sejahat itu buat renggut liburan kamu. Kamu pasti capek banget setiap hari kerja, jadi aku tau kalau waktu libur itu adalah surga dunia buat kamu.”
“Tapi aku sama sekali gak merasa keberatan kalau harus nganter kamu di hari libur.”
“Tapi aku keberatan.” Stella berkata santai, “aku bisa minta papaku buat nganterin aku, sebagai gantinya, hari libur kamu bisa kita pakai buat santai-santai aja di rumah. Atau ngelakuin hal lain yang lebih menyenangkan. Gimana?”
Banyu mengalah. “Ya, udah. Terserah kamu. Selama kamu nyaman dan gak terganggu sama hal itu.”
Stella hanya merasa bersalah. Sejak memutuskan untuk menikah dengannya, ia secara tidak langsung sudah merenggut kebahagiaan Banyu, kehidupan Banyu, dan tentunya masa depan Banyu juga. Mungkin Banyu sendiri yang memang sudah memutuskan hal itu, tapi ia tentu tidak sejahat itu untuk merenggut segalanya dari Banyu.
Untuk karyawan seperti Banyu, hari libur layaknya surga dunia yang harus dinikmati. Setelah lelah bekerja satu minggu, mereka mendapatkan waktu di mana mereka bisa melepaskan rasa lelah untuk beristirahat dari kesibukan. Mungkin akan menyenangkan jika Banyu bisa mengantarnya ke dokter kandungan, membayangkannya saja sudah membuat Stella senyum-senyum sendiri, tapi ia tidak mau merenggut waktu istirahat Banyu hanya untuk urusannya sendiri.
Sejak awal Banyu memang tidak memiliki tanggung jawab atas dirinya atau atas anaknya. Jika setiap harinya saja Banyu sudah direpotkan untuk mengurusnya, maka pada hari libur Banyu harus benar-benar menikmatinya.
Ngomong-ngomong soal menikmati liburan, Stella tiba-tiba teringat kejadian tadi di restoran. Ia bertanya-tanya apa selama ini Banyu selalu menghabiskan hari liburnya bersama Mia? Melihat betapa marahnya ayahnya saat mengetahui mantan calon menantunya menikah dengan orang lain membuatnya kepikiran tentang seberapa dekat Banyu dengan keluarga Mia?
"Banyu, aku boleh tanya?" Mia menatap Banyu.
Banyu yang awalnya sedang bersiap kemasukan nugget ke mulutnya, balas menatap Stella. Ia meletakkan garpu yang dipegangnya ke atas piring. Tidak jadi menikmati nugget-nya.
Untuk Stella, itu salah salah satu bentuk perhatian Banyu yang mengagumkan. Mengabaikan kegiatannya hanya untuk mendengarkan dirinya.
"Mau nanya apa? Kok serius banget kayaknya?"
Makanan yang baru mereka nikmati beberapa potong itu kini bukan lagi menjadi sesuatu yang ingin mereka habiskan. Keduanya sama-sama meletakkan garpu dan mengabaikan makanan tersebut. Stella kehilangan selera makannya, dan Banyu bukanlah seseorang yang bisa mengabaikan percakapan. Jika ada yang sedang berbicara padanya, maka Banyu akan memfokuskan dirinya sepenuhnya kepada orang itu.
"Kamu itu dulu sedekat apa sama Mia? Apa jenis pacaran yang udah merencanakan hubungan ke jenjang yang lebih serius? Atau cuma sekadar pacaran buat saling ngisi waktu luang?"
Tidak mengerti, Banyu menaikkan sebelah alisnya bingung. "Kenapa tiba-tiba kamu nanyain hal itu sekarang?" tanyanya.
Stella mengendikkan bahu. "Mungkin karena aku merasa jadi seseorang yang paling berpengaruh menghancurkan hubungan kamu sama Mia. Apalagi pas tadi lihat reaksi orang tua Mia. Mereka kayak kelihatan marah banget waktu tahu kamu udah nikah. Bukannya itu artinya kamu udah deket banget sama mereka?"
Stella tidak cemburu. Ia hanya merasa bersalah. Itu saja. Banyu adalah teman baiknya sejak lama. Seseorang yang selalu menjaganya dan selalu mengutamakan kepentingan yang dibandingkan kepentingan Banyu sendiri. Setelah menyaksikan seberapa marah keluarga Mia dengan keputusan Banyu, ia sadar bahwa Banyu tidak seharusnya bersama dengannya.
Banyu pantas bahagia dengan seseorang yang menjadi pilihannya, karena itu Stella merasa buruk karena telah menghancurkan kebahagiaan Banyu.
Sekarang, rasanya sangat menyakitkan. Stella tidak terima saat Banyu dihina oleh orang lain yang jelas-jelas tidak terlalu mengenal Banyu. Tapi ia juga marah pada dirinya sendiri karena orang tersebut berani menghina Banyu karena dirinya.
"Awalnya aku emang gak begitu tertarik sama Mia. Seperti apa yang kamu dengar tadi di restoran, Mia itu orang yang pertama ngejar aku. Tapi lama-kelamaan aku nyaman sama dia. Aku bahkan sempat janjiin kebahagiaan sama dia. Persis seperti apa yang kamu bilang barusan. Jenis kebahagiaan di mana udah ada rencana aku bakal melamar Mia."
Rasa bersalah Stella bertambah parah mendengar pernyataan dari Banyu. Terlebih Banyu mengatakannya dengan raut yang serius, tapi di saat bersamaan terdengar sangat tulus.
"Tapi…." Banyu menarik tangan Stella ke dalam genggamannya, "karena aku udah jatuhin pilihan buat nikahin kamu, itu artinya kamu yang jadi pilihan aku sekarang. Mia cuma masa lalu aku. Sekarang ada masa depan yang harus aku jaga tepat di depan mata aku."
Di saat Stella menganggap bahwa apa yang Banyu katakan sebatas penenang untuk menghibur dirinya, Banyu justru serius mengatakan hal itu tulus dari lubuk hatinya. Dan Stella tidak mengetahui itu. Tentang sebuah rahasia besar yang sudah ia tutupi sebegitu rapinya. Bahwa meskipun banyak perempuan pernah memasuki hatinya, gadis itu tidak memiliki ruang sebanyak apa yang sudah Stella dapatkan sejak lama.
"Lagian kalaupun kamu sekarang masih sayang sama Mia, aku gak akan biarin kamu kembali sama perempuan kayak dia. Mia mungkin emang perempuan baik-baik, tapi orang tuanya benar-benar punya mulut yang bikin jengkel. Aku gak akan terima kalau kamu hidup sama orang kayak mereka."
"Kenapa gitu?" tanya Banyu menggoda. Berusaha meminta penjelasan lebih pada Stella.
"Karena kamu itu berarti banget buat aku. Gak ada siapa pun di dunia ini yang lebih mengenal kamu, dibandingkan aku. Kamu itu orang paling sempurna di mataku, dan aku gak terima kalau kesempurnaan itu harus tercoreng cuma karena satu hinaan kecil dari orang lain. Dengan sikap ayah Mia yang kayak gitu, bukannya itu udah ngebuktiin kalau papa aku jauh lebih baik buat jadi mertua kamu?"
Sontak saja Banyu terbahak mendengar penuturan dari Stella. Gadis itu seolah mengatakan bahwa dirinya harus bersyukur karena sudah putus dengan Mia dan mendapatkan mertua yang jauh lebih baik.
"Ya, udah pasti, dong! Papa kamu itu udah kayak orang tua kedua buat aku. Jelas lebih baik dari orang tua Mia atau orang tua mana pun di dunia ini."
Stella semringah. Senang karena banyu membenarkan hal itu dan mengatakan dengan lantang bahwa ayahnya memang jauh lebih baik dari orang tua Mia.
"Jadi aku gak harus merasa bersalah lagi karena udah ngancurin hubungan kamu sama Mia?" tanya Stella.
Banyu hanya tersenyum sambil mengulurkan tangannya untuk mengusap rambut Stella.
"Dengan putus dari Mia, kamu itu sama aja kayak harus keluar dari kandang singa dan diadopsi sama keluarga kaya raya yang baik hati."
Sungguh perumpamaan yang aneh. Banyu tidak tahu harus senang atau merasa tidak enak.
Di samping itu, Stella berhasil kehilangan rasa khawatirnya. Rasa bersalahnya perlahan memudar bersamaan dengan Banyu yang yang dengan percaya dirinya mengakuinya sebagai pilihan akhir yang diinginkan, bukan lahir dari sebuah keterpaksaan.
Ya, Mungkin Banyu tidak sepenuhnya serius saat mengatakan itu, tapi demi apa pun Stella benar-benar lega.
"Aku mau jatuh cinta sama kamu," kata Stella pelan.
Namun, karena suasana rumah sedang sepi, suara televisi cenderung tidak terlalu keras, dan Stella berada tepat di depan matanya, Banyu bisa mendengar tiga kata tersebut dengan amat jelas.
"Aku mau jatuh cinta sama kamu. Supaya ke depannya kita benar-benar jadi keluarga yang bahagia. Aku mau ngilangin kebiasaanku yang suka main laki-laki, mungkin sekarang belum sepenuhnya hilang, mungkin juga nanti aku bakal khilaf karena tahu bahwa aku gak pernah cinta sama kamu, tapi aku serius. Aku mau jatuh cinta sama kamu."
Banyu merasa tersentuh hanya dengan mendengar hal itu. Saat ulang tahun ya Stella mengatakan dengan lantang di depan Mia dan Rangga bahwa gadis hidup tidak akan pernah menyukainya apalagi memilih jatuh cinta padanya, tapi hari ini ini Stella mengatakan hal lain yang benar-benar membuatnya terenyuh.
Setidaknya, gadis itu mau mencoba.
Kalau kamu bilang kayak gitu, aku juga mau jatuh cinta lagi sama kamu.
"Kalau kamu bilang kayak gitu, aku juga mau jatuh cinta sama kamu." Banyu menyahut dengan menghilangkan kata 'lagi' yang sudah disebutkan di dalam hatinya. Tidak ingin setelah mengetahui bahwa jauh sebelum Stella mencoba, ia sudah lebih dulu terjebak pada perasaan cinta sepihak.
"Kalau gitu mulai hari ini ayo kita berusaha sama-sama!"
Banyu tersenyum lalu mengangguk mengiyakan. Dan setelahnya Stella segera melompat ke pelukan Banyu. Memulai langkah awalnya untuk menjadikan Banyu yang terakhir. Sementara Banyu sedang berusaha untuk mengembalikan posisi Stella ke tempat semula, menjadi pemegang utama hatinya, sekaligus menghilangkan sosok Mia seutuhnya.