"Banyu, kenapa kita makan di restoran yang lokasinya jauh dari rumah?" Stella bertanya sesaat setelah Banyu menghentikan motornya di sebuah restoran yang belum pernah ia datangi sebelumnya.
Banyu tidak menjawab. Ia justru meminta Stella untuk turun dari mobil dan Stella hanya mengikuti. Keduanya jalan bergandengan memasuki restoran. Restoran tersebut tidak terlalu ramai. Hanya ada beberapa pengunjung yang mengisi beberapa kursi.
"Di sini makanannya enak?" tanya Stella.
Banyu mengangguk pasti. "Enak banget malah. Waktu pacaran sama Mia, aku sering banget pergi ke restoran ini sama dia. Kalau ngajak Rangga restoran yang ada di dekat kantor, tapi kalau cuma berdua sama Mia aku pergi ke sini."
Stella yang awalnya dengan percaya dirinya menggandeng lengan Banyu memutuskan untuk melepaskan tangannya. Banyu yang sadar bahwa tidak ada ada sesuatu yang menarik tangannya segera menoleh ke arah Stella, melihat raut wajah Stella yang berubah.
Sadar bahwa ucapannya sangat tidak pantas dan bisa membuat Stella tidak nyaman, Banyu kembali menarik tangan Stella. Kali ini memilih untuk menggenggamnya.
"Maaf, aku gak ada maksud kayak gitu. Kita langsung makan aja gimana?" tawar Banyu.
Stella mengangguk. Keduanya berjalan mulai mencari kursi. Namun, seolah keadaan sedang tidak berpihak pada Banyu, matanya menangkap seseorang yang sedang duduk di salah satu kursi yang ada di restoran tersebut.
Mia, duduk di kursi yang berada di dekat jendela. Bersama kedua orang tuanya. Tatap keduanya bertemu untuk beberapa detik. Saat itu juga Banyu tersadar bahwa sebenarnya ia masih memikirkan Mia.
Banyu hendak pergi, ia menarik tangan Stella menjauh, tapi Mia justru memanggilnya dan Stella. Membuat Banyu mau tak mau akhirnya menghampiri meja Mia dan orang tuanya.
Bisa dibilang Banyu sebenarnya sangat dekat dengan orang tuanya Mia. Mia adalah perempuan pertama yang menjadi kekasihnya sejak Stella pindah dari Jakarta tujuh tahun lalu. Setiap kali datang ke rumah Mia, Banyu selalu berusaha untuk menjadi kekasih yang baik di depan orang tua Mia. Banyu tidak ingin memiliki pandangan buruk dari orang tua Mia. Karena itulah ia sering mengakrabkan diri dengan orang tua Mia.
Setiap mengantar Mia pulang bekerja, ia sebisa mungkin akan menyempatkan masuk ke rumah Mia untuk sekedar menyapa. Tidak jarang akhirnya ia malah berbincang hangat dengan ayah Mia. Hampir sama seperti ayah Stella yang selalu mengajaknya ngobrol, ayah Mia juga sering mengajak ngobrol mengenai berbagai macam hal, terutama tentang apa yang menjadi di trending utama di berita.
Hubungan keduanya baik. Orang tua Mia sangat menyayangi Banyu seperti anak mereka sendiri. Tentu sebelum Banyu memilih untuk mengakhiri hubungannya dengan Mia.
Untuk pertama kalinya Banyu merasa sangat canggung berada di dekat orang tua Mia. Mungkin karena jauh di lubuk hatinya ia merasa bersalah pada orang tua Mia karena sudah menyakiti putri mereka.
"Kalian mau makan di sini juga?" Mia bertanya basa-basi.
Banyu mengangguk kikuk. Menyempatkan diri untuk menatap orang tua Mia dan memberikan senyuman terbaiknya sebagai bentuk sapaan. Tapi apa yang ia lihat justru membuatnya benar-benar tidak nyaman. Ayah Mia memandangnya sinis dan ibu Mia membuang muka untuk menghindari tatapannya.
"Sekarang saya tahu kenapa kamu selalu nolak dan mengalihkan pembicaraan setiap kali diajak bicara tentang pernikahan bersama Mia." Ayah Mia berbicara dengan tatapan dingin.
Demi Tuhan, Banyu sebenarnya tidak pernah menginginkan hal ini. Kalau saja ada pilihan yang lebih baik, ia ingin hubungannya dengan Mia tetap baik-baik saja dan Stella bisa hidup dengan laki-laki yang telah menghamilinya. Tapi tentu saja itu adalah sedikit dari harapan Banyu yang tidak terwujud.
Hubungannya dengan Stella tidak bisa dibilang sempurna, dan hubungannya dengan Mia benar-benar hancur. Orang tua Mia pastilah sangat membencinya. Karena ia adalah orang yang terang-terangan menyakiti Mia padahal sudah berjanji akan membahagiakan gadis itu di masa depan.
"Jadi ini istri kamu?" tanya ayah Mia sinis. Tatapan mengarah pada Stella. Dan itu benar-benar membuat Stella jengkel sampai nyaris mencongkel mata ayah Mia.
"Ternyata gak jauh lebih baik dari anak saya. Kamu bahkan dapet yang jauh lebih buruk."
Stella merapatkan mulutnya sambil mengepalkan satu tangannya. Sudah ia duga bahwa ayah Mia memandangnya rendah. Tatapannya saja sudah menjelaskan hal itu sebelumnya tanpa perlu ditanya, tapi ternyata pria itu jauh lebih berani dari apa yang Stella kira. Mulutnya benar-benar licin untuk menyampaikan apa yang ada di dalam pikirannya.
"Saya gak nyangka kalau kamu bakal nikahin perempuan yang lebih buruk dari anak saya."
"Papa!" Mia menegur. Merasa bahwa ayahnya sudah berbicara cukup keterlaluan.
"Kenapa?" Ayah Mia menatap Mia kemudian gantian menatap Banyu dengan cepat, "selama ini kamu sudah berusaha sebaik mungkin buat jadi pacar yang baik buat Banyu. Kamu yang ngejar-ngejar dia, kamu juga yang pertama bilang kalau kamu suka sama dia sampai akhirnya kalian pacaran. Papa tahu itu. Tapi pada akhirnya laki-laki b******k yang kamu kejar ini justru menghamili perempuan lain saat masih berpacaran sama kamu. Ini alasan kenapa dia gak mau nikahin kamu, Mia."
"Papa!" Mia menegur lebih keras.
Untunglah suasana restoran saat itu tidak terlalu ramai. Ada beberapa orang yang terang-terangan melihat ke arah meja Mia, tapi memilih diam saja.
Banyu pun hanya bisa diam karena tahu bahwa apa yang dikatakan ayah Mia benar adanya. Ia merasa tidak pantas untuk membela diri dan hanya bisa membenarkan ketika dicap sebagai laki-laki b******k.
"Banyu gak salah!"
Dengan cepat Banyu menoleh ke arah Stella yang baru saja berbicara. Di saat ia memilih diam, gadis itu justru berani angkat suara dan membelanya.
"Jadi maksudnya kamu mau mengakui kalau yang salah itu kamu, bukannya Banyu, begitu?"
Stella sangat kesal melihat wajah ayah Mia yang memandangnya rendah. Bahkan ayah kandungnya saja tidak pernah memandangnya seperti itu, tapi ayah Mia justru dengan beraninya memberikan tatapan jijik dan mengatakan bahwa anaknya jauh lebih baik, daripada dirinya.
"Kalau menurut Om, saya dan Banyu salah, lalu bagaimana dengan anak Om sendiri?" Baik Banyu, Mia, dan orang tua Mia sama-sama bingung dengan apa yang Stella katakan. Tidak mengerti ada maksud apa sebenarnya di balik perkataan Stella.
"Tadi Om sendiri yang mengakui bahwa selama ini anak Om yang paling banyak berusaha untuk mengejar Banyu. Bukannya itu terdengar memalukan? Bagaimana bisa seorang perempuan yang saya kira sopan, ramah, dan kalem berani mendekati pria lebih dulu?"
Ayah Mia berdiri. Menunjuk Stella dengan tangan kanannya. "Jaga bicara kamu!" ketusnya marah.
Mia dan ibunya ikut berdiri untuk menenangkan ayah Mia. Banyu pun memilih menarik tangan Stella agar tidak berbicara lebih banyak lagi atau malah menimbulkan keributan nantinya. Tapi jangan panggil dia Stella jika diam saja setelah terang-terangan dihina.
"Saya mungkin bukan perempuan baik-baik, tapi bukan berarti putri Anda jauh lebih baik dari saya." Stella mengubah cara bicaranya. Ia melepaskan tangan Banyu yang memeganginya erat. Menolak untuk berhenti bicara.
"Stella cukup!" pinta Banyu tegas.
Dua kata itu diabaikan oleh Stella.
"Dan saya juga paling tidak suka jika seseorang yang dekat dengan saya dihina tepat di depan mata saya sendiri." Stella gantian menunjuk ayah Mia, "Anda bahkan tidak kenal dengan Banyu, tapi Anda berani-berani menyebut bahwa Banyu adalah laki-laki brengsek."
Lalu, Stella bertepuk tangan heboh. Membuat empat orang yang ada di dekatnya langsung memandang sekeliling karena takut bahwa apa yang dilakukan Stella akan mengundang perhatian pengunjung lain.
"Biar saya beritahu." Stella berbicara lagi. Memandang Mia dan kedua orang tuanya bergantian, "saya mengenal Banyu jauh sebelum anak Anda mengenal Banyu. Kita sudah bersama sejak tiga belas tahun lalu. Saya yang paling mengenal Banyu. Saya yang paling tahu bahwa Banyu tidak seperti apa yang Anda katakan. Saya yang paling tahu bahwa Banyu adalah laki-laki paling baik yang pernah saya kenal. Jadi tolong jaga mulut Anda sebelum menghina suami saya."
Sekarang Stella benar-benar marah. Ia benar-benar tidak terima jika ada orang yang menghina Banyu. Terlebih saat mereka hanya mengkritik ketika tahu satu kesalahan Banyu tanpa mau peduli sebanyak apa kebaikan yang pernah Banyu lakukan. Orang-orang seperti itu, contohnya ayah Mia, benar-benar membuatnya muak.
Mereka adalah jenis orang yang terlalu banyak mencampuri urusan orang lain. Yang hanya bisa berkomentar tanpa mencari tahu kebenarannya seperti apa. Yang hanya bisa menjelekkan saat melihat ada satu sisi yang terluka tanpa melihat sisi Lainnya yang mungkin lebih menderita. Kalau saja bisa, rasanya Stella ingin membumihanguskan saja orang-orang seperti itu.
Ayah Mia benar-benar menjengkelkan. Sudah tua, tapi bicaranya tidak dijaga. Bahkan Stella mengira bahwa sebenarnya ayah Mia tidak peduli sedang berada di mana dirinya. Beliau hanya ingin melampiaskan kemarahan pada orang yang telah menyakiti putrinya. Itu wajar sebenarnya, tapi Stella tidak bisa mentoleransi. Ia bukan anak baik-baik. Jika ada seseorang yang terang-terangan mengusik apa yang menjadi miliknya, maka ia tidak akan sungkan untuk menyerang balik.
"Anda sebenarnya hanya marah karena Banyu tidak benar-benar menjadi milik putri Anda, dan malah memilih saya. Saya tahu Banyu salah, tapi seperti yang Anda bilang, jika memang putri Anda jauh lebih baik daripada saya, seharusnya kehilangan laki-laki yang kata Anda b******k bukanlah sebuah masalah."
Banyu benar-benar tidak tahu harus merasa bahagia, bangga, atau justru malu menghadapi sosok Stella yang saat ini ada di dekatnya. Perasaannya campur aduk. Ia merasa lega karena ada orang yang membelanya, dan tidak menyalahkan apa yang ia lakukan dari satu sisi saja, tapi ia juga merasa tidak enak pada orang tua Mia. Karena setelah ini pastilah orang tua Mia akan beranggapan bahwa dirinya memiliki istri yang kurang ajar.
"Dasar anak-anak zaman sekarang. Mereka selalu berbicara omong kosong. Berkoar seolah mereka pintar. Tidak mempedulikan sopan santun dan etika yang seharusnya menjadi hal utama."
Stella tertawa mendengar komentar dari ayah Mia. "Lalu bagaimana dengan Anda? Apakah anda pikir perkataan Anda yang mengatakan bahwa Banyu adalah laki-laki b******k pantas disebut cara bicara yang memiliki etika? Tentu saja tidak! Anda harusnya tahu bahwa Anda tidak berhak menghakimi seseorang yang bahkan bukan anak Anda."
Tahu bahwa keadaan akan semakin kacau jika Stella dibiarkan berbicara lebih banyak, Banyu segera menarik tangan Stella untuk menjauhi Mia dan orang tuanya. Gadis itu menepis cekalannya berkali-kali, tapi ia terus melakukannya lagi dan lagi, atau perang dunia ketiga akan terjadi jika Stella tidak dihentikan sekarang juga.
"Aku belum selesai ngomong, Banyu!" Stella memandang ayah Mia kesal. Dan ayah Mia pun seperti ingin berbicara lagi, tapi ditahan oleh Mia dan istrinya.
Sebelum Banyu benar-benar menarik Stella menjauh, ia membungkukkan tubuhnya pada ayah Stella. Meminta maaf atas apa yang sudah terjadi. Dan reaksi Stella benar-benar mengejutkan.
"Jangan berani-beraninya minta maaf sama orang yang udah menghina kamu. Dia yang salah, Banyu. Ayah Mia yang udah ngomong buruk tentang kamu!"
Banyu segera membekap mulut Stella dan menariknya pergi dari sana. Mengamankan dirinya sendiri yang sejak tadi nyaris terkena serangan jantung melihat kehebohan yang dibuat oleh Stella.
"Gak usah bekap-bekap mulut aku!" Stella melepaskan diri. Menjauh dari Banyu.
"Udah, dong, Stella! Kamu itu udah banyak banget ngomong dari tadi. Emangnya gak capek?" Banyu mengembuskan napas lelah saat Stella kembali mundur satu langkah untuk menjauhinya, "kita makan aja gimana? Kita 'kan ke sini buat makan. Yuk cari meja aja!"
Di luar dugaan, Stella justru berjalan ke luar restoran. Persis seperti anak kecil yang memilih untuk kabur dan tidak mau bicara setelah dimarahi orang tuanya. Hal itu membuat Banyu melongo dan segera mengejar Stella.
Di depan mobil, Stella berhenti dengan kedua tangan terlipat di depan d**a. Wajahnya masih terlihat kesal.
"Kok malah keluar? Gak jadi makannya?"
"Gak mau!" ketus Stella, "gue males makan di satu restoran yang sama, sama orang nyebelin kayak ayahnya Mia. Yang ada nanti gue muntah-muntah."
Kenapa bisa-bisanya Stella terlihat begitu lucu di saat situasinya tidak memungkinkan? Banyu bertanya-tanya dalam hati.
"Ya, udah. Jadi mau makan di mana?"
"Gak mau! Gue mau pulang aja. Bete sama lo!"
Tidak kuat, Banyu terbahak. Ia menarik Stella ke dalam pelukannya. Mengusap surai panjangnya gemas.
"Aku tuh narik kamu supaya kita gak nimbulin keributan yang lebih parah. Lagian kamu udah bela aku mati-matian. Aku gak mau kalau akhirnya ayah Mia malah bakal hina kamu juga."
"Terserah!" Stella tidak membalas pelukan Banyu. Masih tidak terima karena Banyu menyeretnya pergi seolah-olah dirinya lah yang memulai keributan. Padahal jelas-jelas ayah Mia lah yang seharusnya diusir dari restoran.
"Ya, udah. Aku minta maaf. Maaf karena tadi gak ngomong apa-apa, maaf karena gak biarin kamu lampiasin semua kekesalan kamu, maaf juga karena udah tarik kamu seolah kamu yang salah. Aku cuma khawatir sama kamu. Kalau kamu marah-marah nanti berpengaruh ke kondisi anak kita, gimana?"
Ehh?
Tunggu dulu?
Stella dengan cepat melepaskan pelukan. Ia memandang Banyu yang sedang tersenyum kepadanya.
"Iya. Anak kita. Aku cuma gak mau dia kenapa-napa."
Oh my God! Kenapa tiba-tiba sekarang Stella merasakan ada banyak sekali kupu-kupu yang memenuhi perutnya?
"Jadi … kamu mau pulang aja?" tanya Banyu karena Stella tak kunjung menjawab perkataannya.
Stella hanya mengangguk karena belum bisa mengatasi reaksi aneh yang dialaminya. Banyu tersenyum dan segera menarik tangan Stella untuk memasuki mobil.
"Gimana kalau kita mampir ke supermarket dulu? Nanti kita bisa beli bahan-bahan masakan dan buat masakan sendiri di rumah. Kita bisa lihat tutorialnya. Oke?"
Semudah itu Banyu mengembalikan suasana hati Stella. Gadis itu semringah dan meminta Banyu untuk segera masuk ke mobil karena dirinya sudah tidak sabar.