Banyu segera berlari begitu turun dari mobilnya saat melihat pintu rumahnya terbuka. Pikiran liar segera berkumpul di kepalanya saat dirinya menutup pintu. Ia mencari-cari Stella begitu sampai di dalam. Menghela nafas lega saat melihat gadis itu meringkuk nyaman di sofa ruang tamu.
Banyu tidak tahu apa yang sebenarnya dipikirkan Stella dengan membiarkan pintu utama terbuka. Kalau ada maling masuk, atau ada orang jahat lainnya yang akan berlaku buruk, sudah pasti Banyu akan menyalahkan dirinya sendiri jika terjadi sesuatu pada Stella.
Belum juga ditinggal sehari oleh asisten rumah tangga, Stella bahkan langsung lupa cara menutup pintu dengan benar.
Banyu segera duduk di samping Stella sambil mencari-cari di mana Stella meletakkan kunci rumahnya. Ia mendengkus halus saat melihat gantungan kunci rumahnya terdapat di kolong meja. Stella pasti memeganginya sejak tadi, atau mengantonginya, tapi kunci tersebut tidak sengaja terjatuh.
Sebenarnya Banyu ingin marah melihat kelakuan ceroboh Stella. Gadis itu selalu saja menyepelekan segala macam hal. Gerbang luar memang dibiarkan tertutup, tapi tidak akan ada bedanya jika pintu malah terbuka lebar. Orang jahat bisa dengan mudah melompati pagar dan langsung melesak masuk ke dalam rumah.
Ahh, rasanya menyebalkan menyadari bahwa ia memiliki istri yang ternyata cukup bodoh.
Kunci yang ditemukan Banyu di kolong meja segera dimasukkan ke dalam saku. Ia bangkit dari posisi duduknya, kemudian dengan sangat hati-hati mengangkat tubuh Stella untuk dipindahkan ke kamar. Tapi belum sampai kakinya melangkah, bola mata Stella sudah terbuka.
Entah Banyu harus merasa kagum atau bagaimana. Jika biasanya Stella akan sangat sulit sekali bangun meski ada gempa bumi, sekarang gadis itu menunjukkan kemajuan kecil dengan langsung terbangun saat merasakan gerakan pada tubuhnya. Itu cukup baik menurutmu.
"Kenapa tidur di sini?" tanya Banyu.
Sepertinya Stella tidur belum terlalu lama, karena wajah kesalnya langsung terbentuk begitu menyadari siapa yang sedang menggendongnya.
"Kamu baru pulang?" tanya Stella marah.
Banyu mengangguk.
"Aku itu dari tadi nungguin kamu. Pas jam tujuh kamu bahkan belum pulang juga, padahal jelas-jelas aku bilang kalau kamu harus pulang sebelum jam tujuh malam. Coba lihat sekarang jam berapa? Mungkin udah tengah malam."
Banyu menurunkan Stella. Ia melirik arloji di pergelangan tangan kirinya kemudian memperlihatkannya pada Stella agar Stella bisa melihat sendiri bahwa waktu baru menunjukkan pukul delapan kurang sepuluh menit. Gadis itu terlalu berlebihan sampai mengatakan bahwa waktu mungkin sudah tengah malam.
"Tapi tetep aja kamu telat hampir satu jam." Stella berusaha menyembunyikan rasa malunya dengan menyalahkan Banyu.
Seperti biasa. "Oke, aku minta maaf." Banyu akan mengatakan itu dengan lembutnya, "tapi aku juga mau nanya sesuatu sama kamu?" Masih dengan nada lembut Banyu menatap Stella.
"Apa?" Stella balik bertanya ketus.
Senyum di bibir Banyu melebar. Tatapannya berhasil membuat Stella meneguk air liur. Terlebih saat tangan Banyu menunjuk ke arah pintu yang kini sudah tertutup.
"Barusan pas aku baru pulang, aku kaget banget pas lihat pintu kebuka dan langsung lari begitu turun dari mobil. Kalau boleh aku tanya, kenapa bisa-bisanya kamu lupa nutup pintu?"
Perkataan Banyu memang terdengar tenang sekali, tapi itu justru berhasil membuat Stella merinding dibuatnya. Ia hanya mampu menggaruk tengkuk karena tidak tahu harus mengatakan apa untuk membenarkan kecerobohannya.
"Kalau aja ada orang masuk sebelum aku gimana? Kalau aja ada orang jahat yang bermaksud buruk gimana? Kalau ada perampok gimana? Apa kamu sengaja mempersilahkan mereka masuk gitu aja?"
Ya, enggaklah, Banyu. Emangnya orang bego mana yang mau ngebiarin perampok masuk gitu aja? Stella menjawabnya di dalam hati karena tidak berani mengatakannya secara langsung.
"Aku minta maaf. Lagian aku gak sadar kalau aku belum nutup pintu."
"Justru itu harusnya kamu gak boleh seenaknya kayak gitu, Stella."
"Iya, Banyu!" Stella balas menatap Banyu.
"Lain kali tolong bersikap lebih hati-hati lagi. Kita emang tinggal di kompleks perumahan. Ada satpam yang jaga di di gerbang utama kompleks ini. Tapi kamu seharusnya tahu kalau penjahat jauh lebih cerdas dari apa yang kamu kira. Kalau cuma satu dua satpam aja bisa mereka lewatin dengan mudah. Dengan kamu ngebiarin pintu terbuka, kamu sama aja kayak lagi ngundang mereka masuk tanpa mereka harus berusaha ngebobol pintu." Banyu menurunkan senyuman di bibirnya. Berganti menatap Stella serius.
"Jangan ulangin hal kayak gini lagi. Ini berbahaya, Stella! Paham?" tanya Banyu penuh penekanan.
Stella tidak diberi pilihan lain selain menganggukkan kepalanya. Sadar betul bahwa apa yang dilakukannya memang salah dan tidak bisa dibenarkan. Ia tidak ingin membela dirinya sendiri karena ia tahu hal itu hanya akan mengundang ceramah panjang lainnya dari Banyu.
"Ya, udah. Aku mau mandi."
Banyu berjalan menjauh. Stella mengintilinya di belakang. Menjadi ekor Banyu sampai keduanya masuk ke kamar mereka.
Di depan pintu kamar mandi, Banyu menghentikan langkah karena tahu Stella masih mengikutinya.
"Kenapa?" tanyanya.
Stella menunjuk pintu kamar mandi yang berada di belakang tubuh Banyu dengan dagunya. "Mau ikut mandi juga," jawabnya lempeng.
"Emangnya kamu belum mandi?"
Stella menggeleng.
"Dari tadi pagi?"
Kali ini Stella mengangguk.
"Jadi terakhir kali kamu mandi itu tadi, sebelum sarapan sama aku?"
Stella mengangguk lagi.
Banyu memutar mata. Tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Listrik di rumahnya tidak pernah mati. Itu artinya Stella bisa mandi kapan pun Stella mau. Semua peralatan mandi juga selalu lengkap. Mulai dari handuk dan segala embel-embelnya untuk membersihkan tubuh. Bisa dibilang sebenernya apa yang diperlukan Stella untuk mandi sudah tersedia.
"Kenapa belum mandi?" Ya, lantas kenapa Stella belum mandi?
"Soalnya aku di rumah sendirian. Aku gak mau kalau aku lagi mandi tiba-tiba ada perampok masuk dan dia nerobos masuk juga ke kamar mandi. 'Kan Bahaya kalau aku diperkosa."
Lalu, apa jadinya dengan Stella yang tadi membiarkan pintu terbuka?
Terlalu lelah menghadapi sosok Stella, ditambah tubuhnya juga benar-benar membutuhkan istirahat, Banyu tidak menanggapi perkataan Stella dan memilih menyingkir dari depan pintu kamar mandi.
"Kamu mandi duluan. Nanti aku mandi habis kamu," ucap Banyu.
"Emangnya gak mau mandi barang?" tanya Stella tidak merasa berdosa sama sekali. Tidak sadar bahwa dirinya baru saja menambah rasa lelah Banyu.
"Enggak. Kamu aja yang mandi duluan. Dan gak usah banyak tanya. Mendingan kamu masuk. Biar aku juga bisa cepet-cepet mandi."
Tahu saat ini Banyu bukanlah seseorang yang bisa diajak bercanda, Stella segera masuk ke kamar mandi. Meninggalkan Banyu yang memilih untuk rebahan di atas ranjang sambil menunggu Stella.
***
Empat puluh lima menit kemudian.
Banyu baru selesai mandi. Bukan. Bukan karena mandinya yang lama, tapi karena harus menunggu Stella sekitar tiga puluh menit menit lebih. Entah apa yang sebenarnya dilakukan para perempuan jika sudah berada di kamar mandi. Banyu terheran-heran kenapa bisa begitu lama?
Apa biasanya para perempuan melakukan parade kalau sudah masuk ke kamar mandi? Apa mereka senam aerobik di kamar mandi? Atau malah melakukan konser tunggal? Banyu benar-benar tidak mengerti. Intinya mandinya para perempuan itu benar-benar lama. Dua kali lipat dari para laki-laki.
Yang lebih membuat Banyu terheran-heran lagi, saat dirinya keluar dari kamar mandi, ia melihat Stella yang masih mengenakan handuk. Hanya handuk. Gadis itu duduk di depan kaca. Memakai beberapa jenis make up yang tidak Banyu tahu namanya.
Banyu mandi sekitar lima belas menit, tapi bisa-bisanya Stella bahkan belum memakai apa pun selama itu.
"Kamu dari tadi benar-benar gak kepikiran buat pakai baju kamu?" tanya Banyu mendekati Stella.
Gadis itu menggeleng. "Aku kan harus pakai skincare dulu," sahutnya.
"Bisa 'kan pakai skincare-nya setelah pakai baju?"
"Gak bisa. Beda orang, beda kebiasaan, dong!"
Terserah.
Banyu memilih berlalu ke arah lemari. Mengambil pakaiannya dan kembali ke kamar mandi.
"Buruan pakai baju kamu. Kita pergi ke luar buat makan!" Banyu berteriak di dalam kamar mandi.
Kalimat tersebut berhasil memacu Stella untuk mempercepat kegiatannya. Begitu Banyu keluar dari kamar mandi, Stella sudah rapi dengan pakaian seksinya. Jeans pendek yang berada jauh sekali di atas lutut dan hoodie berwarna putih.
Banyu ingat, dulu Stella pernah mengatakan kepada dirinya bahwa gadis itu akan membuktikan sesuatu. Katanya, jika Stella bertemu dengan dirinya lagi, ia akan dibuat terkejut dengan perubahan besar pada diri Stella. Gadis itu mengaku akan tumbuh menjadi perempuan mengagumkan yang akan membuatnya terperangah.
Stella berkata jika besar nanti dirinya akan tumbuh menjadi gadis cantik yang mandiri, sopan, bisa diandalkan, dan pasti bisa merawat dirinya sendiri.
Banyu bahkan masih ingat kapan Stella mengatakan hal itu dan di mana. Hari itu tepat ketika hari kelulusan sekolah dan di atap sekolah. Karena itu menjadi hari terakhir Stella menghabiskan waktu dengannya, gadis itu banyak mengatakan hal konyol yang sampai sekarang tidak benar adanya.
Ya, Stella benar di beberapa hal. Setelah bertemu kembali Banyu memang sangat terkejut, tapi bukan karena perubahan Stella yang bisa dijadikan pembuktian, melainkan karena tidak ada ada satu pun yang berubah jauh dari seorang Stella. Itu adalah satu-satunya hal benar yang pernah Stella katakan, selebihnya adalah kebohongan.
Stella memang tumbuh menjadi gadis cantik, tapi Stella tidak tumbuh menjadi gadis mandiri. Jangankan bisa diandalkan, Stella bahkan tidak bisa mengurus dirinya sendiri. Dan yang terpenting, bukannya tumbuh menjadi gadis sopan seperti yang pernah Stella janjikan, semakin dewasa Stella justru semakin bar-bar dan kerap berbicara hal yang vulgar.
Jika dulu Stella tidak menyukai pakaian feminim, seperti gaun, apalagi harus mengenakan heels sebagai alas kaki, sekarang Stella justru bisa dengan mudahnya memakai pakaian terbuka. Jika dulu bisa dihitung dengan jari kapan saja Stella memakai pakaian feminim, sekarang Stella justru harus diatur terlebih dahulu jika ingin bepergian. Karena memang semudah itu Stella berpakaian tanpa pikir panjang.
"Kamu gak mau pakai jeans panjang aja?" tanya Banyu.
Stella menggeleng pelan. "Gak mau. Lebih nyaman kayak gini."
Ya, sudahlah. Banyu benar-benar merasa lelah untuk sekadar berdebat dengan Stella. Setidaknya Stella masih memakai celana meskipun celananya tersebut dengan jelas memamerkan kaki putihnya yang jenjang.
Lupakan saja janji yang pernah Stella katakan dulu. Ucapan Stella tidak pernah ada yang bisa dipercaya. Termasuk janji itu.
"Jadi mau makan apa?" tanya Banyu berjalan ke arah meja rias Stella dan mengambil sisir di sana.
Saat Banyu ingin merapikan rambutnya sendiri, entah sejak kapan Stella sudah sampai di sampingnya dan merebut sisir yang dipegang Banyu.
"Makan apa aja bebas. Tempatnya pun bebas mau di mana aja." Stella menjawab sambil menggantikan Banyu merapikan rambutnya.
"Aku bisa rapiin rambut aku sendiri," kata Banyu.
Stella mengangguk. Beralih berdiri di depan Banyu. "Aku tahu. Cuma aku emang lagi pengin aja rapiin rambut kamu," sahutnya tetap melanjutkan kegiatannya dengan tenang.
Tidak sampai lima menit, kegiatan itu selesai, Banyu mengambil dompetnya yang digeletakkan di atas nakas. Mengulurkan tangan agar Stella berjalan ke arahnya, dan uluran itu disambut Stella dengan semangat. Ia berlari ke arah Banyu dan menggenggam tangan Banyu erat.
Banyu tidak tahu sampai kapan ia dan Stella harus makan di luar. Bi Siti tidak memberi kepastian kapan dirinya akan segera kembali. Sebenarnya itu cukup merepotkan karena mungkin esok dan beberapa hari ke depan, pagi hari akan menjadi pagi yang jauh lebih sibuk dari biasanya.
Tapi di sisi lain Banyu merasa senang karena saat malam hari ia bisa pergi berdua bersama Stella. Bagaimana raut wajah Stella terlihat begitu cerah seperti anak polos yang baru pertama kali diajak keluar rumah membuat Banyu senang melihatnya. Ia tidak bisa masak, tapi setidaknya ia bisa membeli apa pun yang diinginkannya Stella. Itu cukup untuk membuktikan bahwa Stella akan baik-baik saja selama berada di sisinya.