Definition of Love; 37

1965 Kata
"Kamu mau sarapan pakai apa?" Seperti biasa selalu Banyu lah bertanya sarapan apa yang diinginkan oleh Stella. Gadis itu menunjuk roti tawar dan selai strawberry. Banyu dengan cekatan mengambil selembar roti tawar. Membuka penutup selai yang diinginkan Stella kemudian mengoleskan selai tersebut di atas roti. Karena Stella suka roti dengan lapisan selai yang banyak, Banyu sengaja memberikan selai sebanyak mungkin. Sampai tidak ada celah pada roti. Setelah dirasa cukup, ia mengambil selembar roti lainnya kemudian ditumpuk di atas roti yang tadi sudah dilapisi selai dan langsung memberikannya kepada Stella. Sudah satu minggu semenjak Stella pindah ke rumah Banyu. Tidak ada perubahan yang begitu kentara. Banyu masihlah menjadi seseorang yang selalu melayani Stella. Di tengah kesibukannya bekerja, Banyu selalu memperhatikan kondisi Stella sebelum atau sepulang bekerja. Menjaga gadis itu sebaik yang ia bisa. Lalu, bagaimana dengan Stella sendiri? Tentu saja masih menjadi gadis manja yang tidak bisa bangun pagi dan selalu mengandalkan Banyu untuk segala hal yang dilakukannya. Stella tidak bisa melakukan apa-apa dan Banyu sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu. Bahkan hanya sekadar sarapan saja Banyu menjadi seseorang yang lebih banyak bergerak. Sampai di meja makan lebih awal, menyiapkan sarapan untuk Stella, dan membiarkan gadis itu menikmati sarapannya tanpa melakukan apa-apa. "Akhir-akhir ini aku sempet kebingungan. Bukannya kalau orang hamil itu selalu ngerasain mual-mual atau ngidam? Kayak yang dirasain ibu hamil lainnya di luar sana gitu? Tapi kamu kok gak kayak gitu?" Banyu bertanya. Memperhatikan Stella yang mulai menyantap rotinya. Tidak peduli bahwa dirinya belum sarapan. "Tapi selama ini aku gak pernah ngerasain apa-apa. Mungkin aku tipikal orang yang beruntung. Yang gak ngerasain morning sickness. Aku juga gak pernah mau makan apa-apa atau mau beli sesuatu yang aneh-aneh." "Apa mau ke dokter buat cek?" Banyu bertanya cemas. Takut bahwa keadaan itu justru tidak normal bagi ibu hamil. Buru-buru Stella menggeleng. "Aku 'kan sehat-sehat aja. Jadi gak perlu khawatir. Aku udah baca-baca artikel, kok, dan itu normal-normal aja." "Kalau gitu kamu mungkin mau ke dokter buat cek kandungan kamu?" "Gak mau juga." Stella menggeleng lagi. Ia balas menatap Banyu yang sejak tadi hanya memperhatikannya, "kamu gak mau sarapan? Bukannya kamu harus ke kantor? Kalau gak sarapan nanti kamu sakit,)) lho. Dan kalau kamu sakit siapa yang nanti bakal ngurusin aku?" tanyanya kembali menggigit rotinya. Banyu mendengkus halus. Memang bukan Stella namanya kalau tidak memikirkan dirinya sendiri. "Aku itu gak bisa ngurus diri aku sendiri, jadi udah pasti gak bisa ngurus kamu juga. Makanya kamu harus bisa jaga diri kamu sendiri supaya kamu selalu sehat dan bisa tetap ngurus aku di waktu bersamaan. Buruan sarapan! Nanti telat ke kantornya." Banyu mengikuti saran Stella. Berbeda dengan Stella yang memilih sarapan dengan roti, ia memilih nasi goreng sebagai menu sarapannya. Baru dua sendok Banyu menikmati nasi gorengnya saat asisten rumah tangganya berjalan mendekat dari arah dapur ke meja makan. Banyu dan Stella melihat Bi Siti yang sepertinya ingin mengatakan sesuatu. Menghentikan sarapan mereka untuk sejenak. "Den, Non, saya mau bicara." Bi Siti berbicara dengan kepala ditundukkan. "Ngomong aja, Bi. Kita berdua dengerin, kok," sahut Banyu. Bi Siti mendongak. Ia menatap Banyu sendu. "Begini, Den. Tadi subuh saya dapat kabar dari anak saya, katanya suami saya sakit dan lagi dirawat di rumah sakit. Jadi rencananya saya mau minta cuti sama Den Banyu sama Non Stella untuk sementara waktu. Saya mau ngurus suami saya sampai sembuh. Apa boleh, Den, Non?" Banyu sudah akan membuka mulut, tentunya ingin memberikan izin pada asisten rumah tangganya tersebut, tapi Stella justru lebih dulu berbicara. "Gak! Gak boleh. Bibi gak boleh cuti. Kalau nanti Bibi cuti siapa yang urus semua keperluan rumah tangga di rumah ini? Aku bahkan gak bisa nyeplok telur dengan benar, aku gak bisa nyapu apa lagi ngepel. Terus baju-baju juga. Nanti siapa yang nyuci gosok?" Mungkin sekilas perkataan Stella terdengar kejam, tapi raut wajah Stella justru memperlihatkan yang sebaliknya. Gadis itu cemberut dengan kening berkerut. Matanya berkaca-kaca. Menunjukkan bahwa dirinya sebenarnya turut khawatir dengan keadaan suami Bi Siti, tapi di waktu bersamaan ia juga tidak bisa membiarkan Bi Siti pergi meninggalkannya dan Banyu. "Kamu kok ngomongnya kayak gitu, sih?" tanya Banyu lembut. Stella menatap Bi Siti. Nafsu makannya hilang seketika. Ia mendorong piringnya menjauh kemudian menatap Banyu memelas. "Habisnya kalau Bi Siti pergi, nanti aku sama siapa di rumah ini? Kamu kerja, dan pulangnya itu selalu malam. Kadang ada Bi Siti aja aku masih kesepian, apalagi kalau Bi Siti pergi. Udah gitu nanti siapa yang bantuin kamu ngurus aku? Kamu 'kan gak mungkin ngebersihin rumah, masak, cuci baju, pokoknya ngelakuin semua pekerjaan rumah di saat kamu sendiri disibukkan sama pekerjaan kamu." Stella menggeleng-gelengkan kepalanya. Banyu terkekeh melihat itu, "pokoknya Bi Siti gak boleh pergi," rengeknya lagi. Banyu bertanya, "Jadi maksud kamu Bi Siti gak boleh ngejenguk suaminya yang ada di rumah sakit? Terus nanti siapa yang ngurusin suaminya di sana? Anak-anak Bi Siti mungkin bisa, tapi jelas beda kalau Bi Siti sendiri yang turun tangan. Emangnya kamu gak kasihan sama Bi Siti? Sama suaminya juga?" Dengan nada lembut yang seketika membuat Stella langsung mengerti. "Tapi kalau Bi Siti pergi, aku makin kesepian, dong?" lirih Stella. Banyu mengulurkan tangan untuk mengusap surai panjang Stella. Stella memang selalu benci kesendirian. Stella tidak suka ditinggalkan sendirian, Stella tidak suka merasakan kesepian, apalagi harus melepas seseorang yang sudah terlanjur dekat dengannya hanya untuk menerima fakta bahwa nantinya ia akan ditinggalkan. Sebenarnya wajar saja jika Stella tidak mengizinkan Bi Siti cuti. Meski belum tinggal lama, Stella sadar bahwa Bi Siti adalah satu-satunya orang yang menemaninya di saat Banyu tidak ada di rumah. Sifat keibuan yang diberikan Bi Siti mungkin membuat Stella nyaman dan tidak ingin Bi Siti pergi meski tidak dalam waktu yang lama. "Ya, udah. Gimana kalau sebelum berangkat kerja aku ngantar kamu ke rumah orang tua kamu dulu. Nanti kalau aku udah pulang kerja, aku bakal jemput kamu di sana. Itu bakal aku lakuin sampai Bi Siti balik lagi ke sini. Gimana?" Banyu menyarankan sesuatu yang setidaknya bisa mengobati sedikit rasa kesepian Stella. Itu lebih baik, daripada Stella berdiam diri di rumah, tidak tahu harus melakukan apa dan hanya bisa menunggunya pulang. Namun, Stella justru menggeleng. "Gak mau. Aku gak mau ke rumah Papa, soalnya rasanya pasti bakal sama aja. Papa pasti berangkat kerja terus di sana cuma ada ada Airin, dan aku gak akan bisa ngobrol sama dia," tuturnya malas. "Gimana kalau ke rumah orang tua aku aja?" "Bukannya sama aja? Mama papa kamu juga sibuk kerja. Kalau aku ke sana, aku cuma berasa kayak pindah tempat aja, tapi suasananya tetap sama. Sepi." Benar juga. Banyu terbahak mendengar jawaban dari Stella. Kenapa ia malah tidak kepikiran hal itu? "Jadi kamu gak akan biarin Bi Siti cuti?" tanya Banyu. Stella menggigit bibir bawahnya. Ia menatap Bi Siti yang menatapnya nyaris memohon. Ia tidak tega. Karena kalau apa yang menimpa Bi Siti, menimpa dirinya, pasti ia pun akan merasa cemas dan tidak ingin jauh-jauh dari Banyu. "Oke, aku izinin." Stella menunjuk Bi Siti, "tapi Bibi harus janji kalau Bibi bakal secepatnya balik ke rumah ini. Enggak boleh lama-lama. Pokoknya aku doain supaya suami bibi cepat pulih dan Bi Siti bisa cepat pulang buat ngurus aku sama Banyu lagi." Wajah Bi Siti berubah cerah. Ia menundukkan kepalanya sambil mengucapkan terima kasih berulang kali. Merasa senang karena pada akhirnya Stella luluh juga karena bujukan dari Banyu. "Jadi Bibi mau pergi kapan?" tanya Banyu. "Pagi ini juga, Den. Kalau diizinkan sekarang saya mau mulai beres-beres." Banyu mengangguk. Ia berdiri. Merogoh saku belakangnya untuk mengambil dompet dan mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribuan dari sana. Uang tersebut diberikan kepada Bi Siti. Tapi Bi Siti enggan menerimanya, membiarkan tangan Banyu menggantung di udara. "Ambil aja, Bi. Ini buat ongkos Bibi. Atau bisa juga dipakai buat bantu-bantu biaya rumah sakit. Kalau sekiranya nanti Bibi butuh sesuatu dari saya, jangan sungkan buat hubungin saya. Saya akan dengan senang hati membantu kalau saya bisa. Nanti kalau Bibi udah pergi, Bibi bisa kasih kunci rumah ke Stella aja. Bibi bisa balik ke sini kalau suami Bibi udah sehat total. Gak perlu cemasin saya sama Stella." "Tapi, Den—" "Ambil aja," suruh Banyu menggerak-gerakkan tangannya agar Bi Siti mau mengambil uang yang ia sodorkan. "Kalau begitu saya terima, ya, Den. Sekali lagi terima kasih." Banyu tersenyum saat Bi Siti mengambil uang pemberiannya dan pamit undur diri untuk membereskan keperluannya. Ia senang karena pada akhirnya bisa membantu seseorang yang berharga untuknya. Mungkin tidak ada yang bisa ia lakukan, tidak banyak yang bisa ia berikan, tapi wajah Bi Siti memberitahunya bahwa apa yang diberikannya sudah lebih dari cukup. Tidak ada yang jauh lebih menyenangkan saat mengetahui bahwa masih ada orang yang peduli padamu. Sekejam apa pun dunia, kita tetap harus bertahan. Akan sangat membahagiakan rasanya saat melihat bahwa masih ada orang yang peduli padamu. Tanpa pamrih dan tanpa pandangan rasa belas kasihan. Hanya ada kepedulian, sama seperti apa yang baru saja Banyu lakukan. *** Sebenarnya langit terlihat sangat cerah saat Banyu keluar dari rumahnya. Berbeda dengan wajah Stella yang yang terlihat murung. Bi Siti sudah pergi lebih dulu. Dan Stella berencana untuk mengantarnya sampai depan pintu. Tapi melihat wajah Stella sekarang justru membuat Banyu malah enggan meninggalkan gadis itu sendirian di rumah. Stella memang tidak merengek memintanya untuk bolos kerja, tapi raut wajahnya secara tidak langsung memberitahu Banyu bahwa sebenarnya Stella tidak ingin ditinggalkan sendirian. Banyu jadi merasa tidak tega. Di satu sisi sedang ada proyek besar yang sedang ia kerjakan. Yang menuntutnya untuk kerja lebih keras belakangan ini. Proyek tersebut memiliki tenggat waktu sehingga ia tidak bisa santai. Di sisi lain, meninggalkan Stella hanya akan membuatnya merasa cemas. Stella tidak punya teman lain yang dekat dengannya. Mungkin akan lain cerita jika Stella sedikit saja mau mengakrabkan diri dengan ibu tirinya. Tapi tentu itu hanyalah khayalan Banyu Semata. "Kamu yakin gak masalah aku tinggal sendirian?" tanya Banyu cemas. Menatap Stella yang sedang bersandar di depan pintu. "Aku udah besar, aku bisa jaga diri aku sendiri. Aku cuma gak suka sendirian, tapi bukan berarti aku bakal mati kalau kamu tinggalin." "Stella! Kebiasaan banget, deh, omongan kamu itu!" sungut Banyu kesal. "Ya, abisnya kamu juga. Udah sana berangkat kerja aja. Aku gak pa-pa, kok. Aku bakal baik-baik aja. Aku bisa streaming film seharian sampai kamu pulang. Gampang, 'kan?" Meski berkata demikian, tubuh Stella justru menunjukkan bahwa dirinya tidak nyaman berada di rumah sendirian. Kakinya terus-terusan diketuk-ketukan ke lantai, tangannya tidak henti memilin, dan matanya sama sekali tidak berani melihat Banyu. Menandakan bahwa Stella sebenarnya berbohong saat mengatakan bahwa dirinya akan baik-baik saja. "Ya, udah. Aku berangkat sekarang. Kalau misalkan kamu lapar, kamu delivery makanan aja. Tapi setahu aku, Bi Siti selalu nyediain banyak buah di dalam kulkas. Kadang juga ada pudding. Kamu coba cek aja nanti, barangkali ada sesuatu yang bisa kamu makan." Tidak ada jawaban dari Stella. Banyu menahan tawa kemudian menarik Stella ke dalam pelukannya. Gadis itu langsung mencengkeramnya erat seolah tidak ingin melepasnya. "Aku janji aku bakal usahain buat pulang cepat. Nanti aku bawain makanan buat kamu supaya kita bisa makan bareng. Oke?" Stella hanya menjawab dengan dehaman pelan. Saat Banyu melepaskan pelukan dan hendak menjauhkan diri, Stella justru menarik kemejanya dan menyembunyikan wajahnya di d**a Banyu. "Janji, ya? Pulangnya harus cepet. Aku gak mau tahu. Pokoknya kalau jam tujuh malam kamu belum sampai rumah, aku bakal marah banget sama kamu." "Iya," sahut Banyu mengatakan gemas rambut Stella. Tadi saja sok-sokan berani, tapi sekarang malah menagih janji. "Ya, udah, sana berangkat! Nanti kamu telat." Stella mendorong tubuh Banyu menjauh. Membuang muka karena tersadar bahwa dirinya baru saja menunjukkan sisi lemahnya pada Banyu. "Hati-hati, ya, di rumah sendirian. Kalau ada apa-apa nanti kamu telepon ambulans aja atau pemadam kebakaran." Banyu menahan tawa melihat Stella yang tiba-tiba melotot ke arahnya setelah ia mengatakan hal itu. "Aku gak sedrama itu orangnya!" Stella memutar tubuhnya dan masuk ke dalam rumah. Membanting pintu tepat di depan mata Banyu. Kekanakan sekali. Tapi setidaknya Banyu tahu bahwa itu menunjukkan Stella akan baik-baik saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN