Banyu tidak tahu sebenarnya antara dirinya dan Stella, siapa yang menjadi istrinya? Melihat Stella yang masih terlelap di atas ranjang saat dirinya sudah selesai mandi membuatnya gemas sekaligus bingung. Apa di lubuk hati Stella tidak pernah terpikirkan sedikit pun untuk menjadi seorang istri yang baik? Misalnya merubah kebiasaan yang selalu bangun seenaknya menjadi lebih pagi dan teratur setiap harinya.
Banyu tidak masalah sebenarnya. Ia menikahi Stella bukan untuk menuntutnya menjadi gadis yang sesuai harapannya atau memaksanya berubah menjadi seperti kebanyakan istri di luar sana. Stella bebas melakukan apa pun yang diinginkannya. Tidak perlu merasa dituntut atau merubah sikapnya yang sebelumnya.
Toh, pada akhirnya Banyu memiliki asisten rumah tangga. Yang artinya ia tidak keberatan jika Stella tidak bisa melayaninya. Gadis itu bisa bersikap seperti biasanya. Tapi … bukan berarti Banyu merasa bahwa Stella tidak perlu berubah. Meski ia membebaskan Stella untuk berlaku semaunya, ia tetap menginginkan perubahan Stella sedikit. Bukan untuk dirinya, tapi untuk Stella sendiri.
Bagaimanapun saat ini Stella sedang hamil. Hanya tinggal menghitung waktu sampai anak yang dikandung Stella lahir dan tumbuh. Jika ibunya saja masih malas, dan tidak berusaha untuk merubah diri menjadi calon ibu yang bisa diandalkan, bagaimana kehidupan anaknya nanti?
Karena itulah Banyu memilih untuk mendekati Stella. Menarik selimut yang dikenakan Stella agar gadis itu merasa terganggu. Itu adalah kebiasaan yang kerap ia lakukan saat membangunkan Stella untuk pergi ke sekolah di masa lalu. Dan reaksi Stella masih sama seperti dulu. Selimut yang ditariknya balas ditarik lagi oleh Stella. Dilingkupkan lagi ke tubuhnya sampai Banyu harus menariknya lagi dan lagi. Mendapatkan respon serupa yang tidak jauh berbeda.
Tahu bahwa Stella tidak akan menyerah jika soal waktu tidurnya, banyak kembali menarik selimut yang menggulung tubuh Stella. Kali ini selimut tersebut dilemparkan ke lantai agar Stella tidak bisa mengambilnya. Dan kalaupun Stela mau menyelimuti tubuhnya kembali, maka Stella tidak punya pilihan lain selain turun dari ranjang dan mengambil selimut yang tergeletak di lantai.
Tidak dulu, tidak sekarang, cara itu selalu berhasil membangunkan Stella yang tidur seperti koala. Gadis itu melenguh malas dan secara perlahan-lahan mulai membuka matanya dengan ogah-ogahan.
"Sekarang udah terlalu siang buat tetap tidur, Tuan Putri." Banyu mendekatkan wajahnya pada Stella. Dan saat bola mata Stella terbuka sepenuhnya, yang Stella lihat adalah wajah Banyu yang masih sedikit basah karena baru saja selesai mandi.
"Emangnya ini jam berapa, Banyu?" tanya Stella dengan suara khas orang baru bangun tidur.
"Jam enam pagi," sahut Banyu.
Stella menggeleng-gelengkan kepalanya kesal. Tidak terima bahwa Banyu membangunkannya di jam yang terbilang masih sangat pagi.
"Kamu bilang ini udah terlalu siang, tapi matahari bahkan belum terbit sepenuhnya, Banyu. Aku itu males kalau bangun pagi-pagi."
Stella masihlah Stella yang sama, dan Banyu masihlah menjadi orang yang sama pula. Jika Stella enggan bangun pagi, maka Banyu tidak akan sungkan untuk memaksanya. Stella mungkin sudah tidak bersekolah, tapi ada banyak kegiatan yang sebenarnya bisa dilakukan oleh Stella jika gadis itu sudah bangun.
"Ini udah cukup siang buat aku. Soalnya aku mau kerja. Emangnya kamu gak mau sarapan bareng aku?" tanya Banyu.
Karena posisi Banyu yang terlalu dekat dengan Stella membuat Stella gemas dan memanfaatkan keadaan tersebut. Ia menarik leher Banyu dengan kedua tangannya. Jika saja Banyu tidak menahan diri dengan kedua tangannya, sudah pasti bibirnya dan bibir Stella akan menempel secara paksa.
Banyu bertanya, "Kamu ngapain pakai narik-narik leher aku segala?" Masih setengah terkejut.
Stella terkekeh geli. "Emangnya kamu gak mau ngasih morning kiss buat aku?" Stella mengerjap polos.
Stella lupa dengan siapa saja ia pernah tidur, tapi ia masih ingat dengan sangat baik bahwa setiap laki-laki yang pernah tidur dengannya pasti selalu memberikan sesuatu yang disebut 'morning kiss' setiap kali bangun pada pagi hari. Mereka melakukan hal itu tanpa diminta. Sekarang pun sebenarnya Stella tidak menginginkan hal itu, ia hanya ingin menggoda Banyu.
Hanya itu laki-laki polos yang mudah sekali ditipu. Sejak mengenal Banyu, tidak pernah ada satu permintaan pun darinya yang tidak dituruti oleh Banyu. Ia bahkan bebas bersikap atau melakukan apa pun pada Banyu. Itu karena hubungannya dengan Banyu sudah sangat dekat.
Ingatkah kalian dengan kejadian di mana Stella datang ke acara ulang tahun Banyu yang diadakan di restoran? Kalau ingat, pasti kalian juga bisa mengingat dengan baik, waktu itu Stella langsung memeluk dan mencium pipi Banyu begitu sampai. Ya, kira-kira begitulah hubungan Stella dan Banyu. Sebaik apa pun Banyu pada diri Stella, sesempurna apa pun sosok Banyu di mata perempuan lain, pada akhirnya Stella tidak pernah menyukai Banyu.
Tapi … bukan berarti Stella tidak bisa menyentuh Banyu. Bahkan bisa dibilang mungkin Stella lah yang paling berani kalau sudah berurusan dengan Banyu.
"Oke, kalau kamu gak mau ngasih morning kiss buat aku, aku biar aku aja yang ngasih morning kiss ke kamu."
Stella mengangkat kepalanya. Karena kedua tangan Stella sudah menahan kepala Banyu sejak tadi, Banyu jadi tidak bisa bergerak bebas. Stella dengan cepat mencium bibir Banyu sekilas. Hanya sebuah kecupan kecil. Tapi tentu saja memberikan efek berlebih pada Banyu.
Ada tiga reaksi ketika seseorang mendapatkan ciuman. Reaksi pertama, jika tidak ada rasa, maka itu akan terasa biasa dan bukan masalah besar. Reaksi kedua, ada juga yang menganggapnya pelecehan dan tidak membenarkan hal itu. Dan reaksi terakhir biasanya ditunjukkan oleh seseorang yang menyimpan perasaan. Terasa menyenangkan, tapi di saat bersamaan juga tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata seperti apa perasaan itu.
Banyu mendapatkan reaksi ketiga saat bibir kenyal Stella mendarat di bibirnya.
"Kenapa bengong? Kamu kaget atau marah karena dicium sama aku? Masih ada rasa sama Mia?" tanya Stella melihat reaksi Banyu yang hanya diam. Ia melepaskan Banyu dan beringsut duduk.
Banyu pun menjauhkan diri. Berusaha menutupi debaran aneh yang mengganggu kerja jantungnya.
"Apaan, sih? Kok bawa-bawa Mia segala?"
"Ya, barangkali 'kan kamu masih ada rasa sama Mia. Gak masalah, kok. Aku paham."
Sayangnya, Banyu justru merasa sebaliknya. Ia tidak tahu sejak kapan perasaannya pada Mia mulai memudar. Tapi yang jelas, ia tidak menyesali perpisahannya dengan Mia. Bukan karena perasaannya pada Stella, tapi hanya saja seperti sudah tidak ada ruang lagi untuk Mia sejak ia memutuskan untuk menikahi Stella.
"Udah, deh. Gak usah bahas Mia. Mendingan kamu mandi, atau nanti aku tinggal sarapan."
Mendengar kata mandi, Stella seolah baru tersadar bahwa Banyu juga baru saja mandi. Tubuh Banyu bahkan tidak dibalut apa pun kecuali sebuah handuk berwarna putih yang menjaga bagian pinggang sampai pahanya. Seksi sekali. Dia tidak menyangka bahwa Banyu yang sedang bertelanjang d**a terlihat sangat tampan di matanya.
"Banyu, Banyu, sini, deh." Stella mencari kesempatan. Banyu mendekat karena tidak bisa membaca kejahilan di mata Stella.
Banyu berhasil masuk ke dalam jebakan Stella. Gadis itu mencium bagian dadanya dua kali. Menimbulkan sensasi geli yang membuatnya refleks menjauh dari Stella.
"Kamu ngapain?" tanya Banyu melotot.
"Mau merkosa kamu." Stella menjawab dengan tenangnya.
Selanjutnya, Stella mendengarkan dengkusan lolos dari mulut Banyu beberapa kali. Banyu berdiri. Berjalan untuk mengambil selimut yang sebelumnya dilemparkan ke lantai olehnya kemudian melemparkan selimut tersebut tepat ke wajah Stella.
"Tidur aja sampai kamu kenyang. Terserah. Gak usah sarapan sama aku!"
Tawa Stella pecah seketika. Apalagi saat Banyu berjalan ke arah lemari hanya untuk mengambil kemeja, celana, dan celana dalamnya. Padahal Banyu bisa memakainya di kamar saja, tapi Banyu justru memilih berlari ke kamar mandi dan memakainya di sana. Membuat tawa Stella pecah kian keras.
***
Stella terkekeh geli menyadari Banyu mengalihkan pandangan saat melihatnya berjalan ke arah meja makan. Bi Siti sedang menyiapkan sarapan. Beliau undur diri setelah semuanya selesai.
Sarapannya tidak jauh berbeda dengan apa yang Stella makan di rumahnya. Ada roti tawar, nasi goreng, dan telur ceplok. Perbedaannya, jika biasanya ia sering kali melewatkan sarapan karena terlalu malas bangun pagi, atau kalaupun ia sarapan ia akan bertemu ayahnya dan ibu tirinya, kali ini yang ia lihat adalah Banyu.
Banyu sudah rapi dengan setelan kantornya. Sementara Stella hanya memakai jeans pendek dan kaos oblong. Stella memilih menarik kursi yang ada di samping Banyu. Menatap Banyu yang lagi-lagi menghindari untuk bersitatap dengannya.
"Kamu marah?" tanya Stella.
Banyu menggeleng. Tidak, ia tidak marah. Ia hanya kesal saja.
"Kamu marah gara-gara tadi aku tiba-tiba nyium d**a kamu?" Stella memperjelas kalimatnya.
Banyu untuk kedua kalinya. Ia tidak marah, ia hanya kesal saat Stella mengatakan bahwa gadis itu akan memperkosanya seolah-olah dirinya adalah laki-laki polos yang tidak akan bisa melawan dan mau saja.
"Ya, udah, deh. Maafin aku, Banyu. Aku janji deh lain kali gak akan ngelakuin hal itu. Aku gak akan tiba-tiba nyium d**a kamu kayak tadi, palingan cuma naik tingkat sedikit jadi ninggalin jejak di sana."
Demi Tuhan, kenapa cara bicara Stella sangat frontal sekali?
Dengan cepat Banyu menoleh ke arah Stella. Menyentil dahi Stela dengan keras. Gadis itu mengaduh, tapi ia tidak peduli.
"Kenapa nyentil aku? Sakit tahu!" sungut Stella mengusapi bagian darinya yang disentil Banyu.
"Makanya gak usah kebanyakan ngomong. Gak ada lain kali, besok-besok bahkan aku gak akan biarin kamu nyentuh aku."
"Jahat banget. Katanya status suami istri, tapi gak saling nyentuh sama sekali. 'Kan gak lucu, Banyu."
"Emangnya siapa yang lagi ngelawak?"
"Bukan itu maksudnya, astaga!" Stella merengut.
"Udah, mendingan kamu sarapan aja. Kalau kamu masih mau ngomong, nanti aja kalau aku udah pergi kerja."
Stella mendengkus. Kalau Banyunya sudah pergi bekerja, maka dengan siapa dirinya bicara? Bi Siti? Apa serunya menggoda asisten rumah tangga?
Karena Stella tak kunjung menggerakkan tangannya untuk mengambil sarapan. Banyu bertanya, "Kamu mau sarapan pakai apa? Nasi goreng atau roti aja?"
"Nasi goreng," sahut Stella.
Pada akhirnya, Banyulah yang menggerakkan tangan untuk mengambil nasi goreng. Mengisi piring Stella terlebih dahulu sebelum mengisi piring miliknya sendiri. Tidak lupa, Banyu juga mengambilkan telur ceplok untuk Stella. Untuknya juga.
Stella hanya memperhatikan. Rasa kesalnya hilang seketika. Berganti dengan rasa kagum yang tidak bisa ia tutupi. Melihat Banyu menjadi orang yang melayaninya membuatnya senang sekaligus bangga. Anggaplah dirinya jahat, tapi ia sangat senang karena bukan Mia lah yang menikmati sosok Banyu sebagai seorang istri, melainkan dirinya.
Dulu Stella sangat berbangga hati karena memiliki seorang teman yang bisa diandalkan seperti Banyu. Ia tidak akan sungkan untuk memamerkan sosok Banyu sepenjuru sekolah. Memperlihatkan pada mereka yang berpacaran bahwa Banyu lebih hebat dari siapa pun. Hal itu membuat dirinya dan Banyu kerap kali disandingkan dan disebut sebagai couple goals-nya sekolah dulu.
Namun, sekarang Stella sadar seberapa beruntung dirinya karena memiliki seseorang seperti Banyu. Yang tidak pernah melupakan dirinya, dan masih menjadi seseorang yang paling peduli dengannya.
"Banyu, apa kita harus bulan madu?" tanya Stella tiba-tiba.
Banyak tidak tahu seberapa cepat dirinya menoleh dan memandang Stella tidak habis pikir. "Kenapa tiba-tiba kamu malah nanyain bulan madu seolah kita saling suka?" tanyanya.
"Emangnya bulan madu itu khusus buat orang yang saling suka saling cinta? Jadi dua orang yang kayak kita itu, yang dari remaja tumbuh bareng-bareng, gak boleh ngerasain bulan madu padahal udah nikah?"
"Bukan gitu!" sergah Banyu cepat. Hanya saja tetap saja rasanya aneh.
Setahu Banyu bulan madu adalah waktunya para pasangan untuk bermesraan. Memang ada banyak sekali tujuan lainnya yang jauh lebih bermanfaat dari sekadar bermesraan saja, tapi tetap aja intinya adalah menghabiskan waktu berdua dengan pasangan yang dicintai. Sedangkan ia dan Stella tidak seperti itu. Baiklah, tolong kesampingkan saja dirinya yang masih memiliki perasaan pada Stella. Lantas bagaimana dengan Stella?
"Aku juga sebenernya gak tau sih kenapa tiba-tiba aku ngomong kayak gitu. Cuma rasanya mau ajak ngabisin waktu berdua sama kamu. Di tempat yang romantis, yang ngasih kesan manis dan bisa bikin kita ngukir kenangan manis. Kali aja setelah itu aku bisa jatuh cinta sama kamu."
Terpaksa sekali. Banyu menggeleng pelan dan mulai memakan sarapannya. Berpura-pura tidak peduli dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Stella. Itu lebih baik, daripada harus menerima fakta bahwa Stella meminta hal itu hanya untuk coba-coba.
"Banyu. Ayo, dong! Mau, ya, bulan madu sama aku?"
Gerah sendiri mendengar rengekan Stella yang ia yakin tidak akan ada habisnya, Banyu menatap Stella.
"Gak usah ngomong yang aneh-aneh. Dengerin aku baik-baik. Mau kamu suka atau enggak sama aku, mau kamu cinta atau enggak sama aku, atau misalnya ke depannya perasaan itu tetep gak akan tumbuh. Kamu cuma perlu tahu satu hal—"
"Apa?" tanya Stella tidak sabar.
"Bahwa aku gak akan ngelepasin kamu apa pun yang terjadi."
Jika ini adalah komik, maka akan ada bunga-bunga bertebaran yang mengelilingi Banyu dan Stella. Menggambarkan seberapa manisnya perkataan Banyu untuk membangun suasana dalam cerita.
Sekarang Stella bertanya-tanya, apa benar dirinya memang sebodoh itu sampai tidak bisa mencintai seseorang seperti Banyu?