Definition of Love; 35

2011 Kata
Stella langsung melompat keluar dari mobil begitu Banyu memarkirkan mobilnya di halaman rumah. Banyu segera menyusul tak lama setelah Stella turun. Berjalan ke bagian belakang mobil untuk mengambil koper Stella yang diletakkan di sana. Barulah setelah mengeluarkan koper milik Stella, ia menyusul untuk berjalan dengan Stella yang sudah hampir sampai di depan pintu rumahnya. Gadis itu terlihat sangat bersemangat. Membuat Banyu keheranan dibuatnya. Pasalnya, Stella seperti itu hanya karena ingin membuka hadiah pernikahan. Itu yang dikatakannya dalam perjalanan tadi. "Banyu jalannya agak cepetan dikit, dong! Kok lama banget sih? Kamu itu 'kan cowok!" Banyu menggeleng. Ia melihat asisten rumah tangganya yang sedang menutup gerbang. Bi Siti berjalan ke arahnya, meminta menggantikan Banyu untuk membawa koper. Tapi Banyu menolak dan mengatakan bahwa dirinya bisa membawanya sendiri. Alhasil, Bi Siti mempersilakan Banyu untuk jalan lebih dulu sementara dirinya mengikuti di belakang. Di depan Stella, Bi Siti membungkukkan tubuhnya. "Selamat datang, Non Stella," sapanya menyambut majikan baru. Stella tergelak. "Apaan sih, Bi? Kok pakai manggil Non segala? Gak usah, panggil aja aku Stella," ujarnya. Ahh, itu adalah salah satu sisi baiknya seorang Stella. Meskipun terlahir dari keluarga kaya raya, dibesarkan dengan uang melimpah, dan dimanjakan dengan orang tuanya, Stella tidak pernah memandang rendah seseorang. "Tapi saya gak enak kalau manggil Non pakai sebutan nama. Saya ngerasa gak sopan, Non." "Ya, udah, deh. Terserah Bibi aja. Padahal aku lebih suka kalau Bibi panggil aku pakai sebutan nama aja. Jadi rasanya kayak anak sama ibu aja gitu." Stella tersenyum. Ia berlalu lebih dulu. Memasuki rumah Banyu dengan semangat. Di bagian tangga, karena merasa bahwa Banyu akan terlalu lama jika membawa koper sendirian, Stella akhirnya membantu Banyu untuk mengangkat koper dari lantai satu ke lantai dua. Bersikeras meskipun Banyu memintanya untuk tidak melakukan hal itu, meskipun pada akhirnya ia justru hanya membuat Banyu kerepotan sendiri. Keduanya mengembuskan napas lega saat sampai di lantai dua. Stella berlari lebih dulu masuk ke dalam kamar meninggalkan Banyu. Matanya membelalak saat melihat tumpukan kotak berjajar di lantai kamar Banyu. Ahh, ralat. Lantai kamarnya dan Banyu. Stella menoleh ke belakang. Melihat Banyu yang baru sampai di depan pintu. Koper yang dibawa Banyu ditarik masuk dan Banyu segera menutup pintu. "Banyu, kok kayaknya makin banyak aja, ya? Perasaan aku gak ngundang siapa pun selain temen deket kita di SMA. Kok ini kayaknya makin numpuk aja kadonya?" Stella bertanya kebingungan. Ia berjalan mendekati tumpukan kado tersebut. Ada berbagai ukuran dan berbagai warna. Mulai dari yang kecil sampai yang besar, mulai dari yang yang segi empat sampai persegi panjang, mulai dari yang yang dilapisi kertas polos sampai yang bermotif. Benar-benar berwarna-warni. "Emang segitu, kok. Aku juga sebenarnya gak ngundang banyak orang. Cuma ngundang teman terdekat kita di SMA, sama beberapa temen sekampus aku. Tapi kamu lihat sendiri pas acara ternyata lumayan banyak temen aku yang datang." Ya, Stella ingat. Sejak awal Banyu berkata bahwa dirinya hanya akan mengundang beberapa orang yang dekat dengannya saja, tapi saat acara ternyata banyak sekali teman Banyu yang datang mengucapkan selamat. Awalnya Stella mengira bahwa mungkin saja Banyu berubah pikiran dan memutuskan untuk mengundang lebih banyak orang, tapi mendengar apa yang baru saja Banyu katakan sepertinya itu mustahil. "Kok bisa gitu?" tanya Stella. "Karena aku punya teman yang mulutnya ember banget. Dia enggak akan bisa diem-diem aja saat tahu teman terdekatnya nikah." "Rangga?" tanya Stella lagi. Banyu hanya berdeham pelan sebagai jawabannya. Hal itu membuat Stella tergelak. Memang benar, sebagai laki-laki, Rangga itu sangat banyak bicara dan bisa dibilang bermulut ember. Mungkin Rangga yang menyebarkan kepada teman teman sekampus Banyu bahwa Banyu akan segera menikah dan memberitahukan tempat dan tanggal acara pernikahan Banyu. "Jadi waktu ada beberapa orang yang bilang kalau mereka itu marah karena gak diundang, itu emang beneran?" Banyu berdeham lagi. Stella teringat ada beberapa orang yang datang dan memarahi Banyu saat memberi selamat. Katanya mereka tidak diundang oleh Banyu. Waktu itu Stella mengira bahwa mereka mungkin hanya bercanda, tapi siapa sangka saat mengetahui kebenarannya, hal itu berhasil membuat Stella tertawa. Karena ternyata mereka semua memang datang tanpa diundang. Keduanya duduk di karpet berbulu yang ada di lantai depan ranjang. Mulai mengambil asal kado terdekat yang ada di depan mereka. Banyu yang awalnya merasa lelah, justru beralih menjadi sangat bersemangat saat membuka semua kado yang ada di depannya. Rasanya menyenangkan membuka begitu banyak hadiah. Ia dipenuhi rasa penasaran saat membukanya, dan terkejut saat melihat isi di dalamnya. Ada berbagai macam hadiah yang bisa dibilang kebanyakan orang pasti memikirkan hal yang sama saat menghadiahi pasangan suami istri. Mulai dari seprai, bed cover, peralatan mandi seperti handuk, piyama couple, farfum, hiasan dinding kartun couple, jam tangan couple, kaus couple, dan semua hadiah lucu lainnya yang berpasangan. Bahkan ada juga perabotan rumah tangga. Intinya, ada banyak hadiah pasaran yang diterima Banyu dan Stella. Tapi meski begitu keduanya sangat senang menerima hadiah-hadiah tersebut. Terutama di beberapa hadiah yang terdapat kartu ucapan di dalamnya. Ditulis tangan langsung oleh si pengirim. Memang hanya sekadar ucapan selamat yang sedikit dibumbui kata-kata manis nan romantis, tapi itu benar-benar terlihat manis untuk Banyu dan Stella. "Ini rumah kita bakal penuh banget gak sih kalau kita pakai semua hadiahnya?" tanya Stella masih sibuk membuka hadiah. "Enggak, dong. Gak usah berlebihan kayak gitu, deh." Stella terkekeh. Ia membuka hadiah lainnya. Kali ini menunjukkannya kepada Banyu apa yang dilihatnya. "Banyu, ini lucu banget gak sih?" Stella mengangkat mug berwarna putih. Di bagian depan mug tersebut, terdapat gambar kartun laki-laki dan perempuan yang sedang berpelukan. "Iya, lucu. Gimana sama yang ini?" Gantian Banyu yang mengangkat hadiah yang baru saja dibukanya. Satu set pisau berhasil membuat Stella tertawa terbahak-bahak. "Yang ngasih pisau itu pasti gak tahu kalau aku itu gak bisa masak," komentar Stella. Banyu tergelak. Membenarkan hal itu. Kalaupun dipakai maka yang akan memakai satu set pisau tersebut adalah asisten rumah tangganya. Yaitu Bi Siti. Lalu, ada satu kotak berukuran sedang yang menarik perhatian Banyu. Ia mengambil kotak tersebut karena nama Rangga terpampang di bagian depan kotak. Ditulis besar-besar. Begitu lapisan luarnya terbuka, apa yang ada di dalamnya membuat Banyu membulatkan mata. Sebuah lingerie berwarna hitam ia ambil dari dalam kotak tersebut. Lingerie tersebut didesain dengan dress pendek bertali spaghetti transparan yang jika dipakai oleh Stella maka akan memperlihatkan pakaian dalam Stella. Sebuah amplop dan selembar kertas tergeletak di bagian dasar kotak. Banyu mengambil amplopnya terlebih dahulu. Melihat isinya. Rupanya uang pecahan seratus ribuan berjumlah sepuluh. Mengabaikan hal itu. Banyu mengambil lembar kertas yang ditinggalkan Rangga. Membaca tulisan di kertas tersebut. Jujur aja gue gak tahu harus ngasih apa, tapi tiba-tiba gua kepikiran barang ini. Pacar gue yang milih. Cantik kan? Lo cuma tinggal pastiin Stella pakai ini, maka lo akan lihat keindahan surga dunia di depan mata. Salam manis, Rangga. "Rangga berengsek!" seru Banyu mendengkus. Ia melemparkan hadiah dari Rangga, tapi lemparannya berhenti tepat di depan Stella. Stella mengambil barang tersebut. Tergelak saat memamerkannya kepada Banyu. "Demi apa Rangga ngasih ginian ke kamu? Ini maksudnya buat aku?" Stella tergelak saat melihat Banyu mendengkus. "Awas aja kalau kamu berani pakai itu!" ancam Banyu. "Kenapa? Ini 'kan hadiah dari temen kamu. Sayang, dong, kalau gak dipakai. Bukannya aku bakal kelihatan seksi banget kalau pakai ini?" Stella justru gemas sendiri dan malah menggoda Banyu. "Stella!" Banyu melotot. Dan itu malah membuat tawa Stella kian pecah. "Padahal kita udah nikah, tapi kamu masih aja selalu galak kalau lihat aku pakai pakaian seksi." "Karena gak bagus!" "Gak bagus buat kamu maksudnya?" "Stella!" seru Banyu marah. Tidak kuat, Stella terbahak semakin kencang. Banyu itu lucu sekali. Padahal sudah menikah, tapi masih saja malu-malu. Padahal kalau Banyu mau, Stella pastinya akan membiarkan Banyu menyentuh apa pun. Tanpa terkecuali. Banyu sudah memilikinya seutuhnya. Yang artinya Banyu bebas melakukan apa pun pada dirinya. Harusnya begitu, tapi sayangnya Banyu terlalu terhormat untuk disamakan dengan orang-orang yang berpikiran kotor seperti Rangga. Tidak ingin membuat Banyu semakin jengkel, Stella melemparkan hadiah dari Rangga dan kembali melanjutkan membuka hadiah lainnya. "Tadi kayaknya aku nemu kado dari Mia. Dia ngasih tas sama dompet kayaknya. Itu bagus banget sumpah," papar Stella semringah. "Mungkin tas sama dompet branded," kata Banyu. "Emang iya. Itu merk yang sering aku pakai. Branded, bukan KW." Stella menggabungkan hadiah dari Mia, mencampurkannya dengan hadiah lainnya yang ada di belakang tubuhnya. Ia kembali melanjutkan membuka hadiah. Membiarkan sampah menumpuk di hampir setengah bagian kamar Banyu. "Ehh, Banyu. Ini apa?" Stella bertanya heboh. Mengangkat satu lembar kertas berwarna putih dan menyerahkannya pada Banyu. Di kotak yang sama di mana lembar kertas itu berada, terdapat piyama couple, handuk dengan warna yang sama, dan …, Stella melebarkan mata. Pengaman. Siapa orang yang sangat niat memberikan semua ini? Stella mencari-cari bagian kertas luar yang sudah dilepasnya dari kotak tersebut. Melihat nama seorang laki-laki di sana. Karena tidak mengenal nama tersebut, pastilah itu hadiah dari teman Banyu. "Ini tiket hotel," kata Banyu menjawab pertanyaan Stella. "Tiket hotel? Jadi, kita dipaksa buat bulan madu?" Lagi, Stella terbahak. Teman Banyu itu entah benar-benar peduli atau menganggap Banyu polos dan bodoh sehingga tidak bisa mengatur bulan madunya sendiri. Kebanyakan dari Mereka memberi hadiah yang sebenarnya normal, tapi diselipkan hadiah lainnya yang membuat jengkel. Rangga misalnya. Dan sekarang bahkan ada salah satu teman Banyu yang niat sekali memberikan sebuah pengaman seolah Banyu tidak bisa membeli barang murah itu. Atau alasan sebenarnya adalah untuk menyindir Banyu. Takut bahwa kepolosan Banyu akan membuat Banyu lupa untuk melakukan hal penting tersebut jika sudah menikah. "Aku gak akan punya waktu buat pergi keluar kayak gini. Apalagi sampai nginep di hotel segala." "Tapi, Banyu…." Stella mengambil bungkus kecil yang ditemukannya. Memperlihatkannya pada Banyu, "bahkan dia juga nyediain pengaman lho buat kamu. Apa gak keterlaluan kalau kamu nolak niat baik dia?" tanyanya mengedip-ngedipkan matanya beberapa kali. Sontak saja Banyu langsung mengambil apa yang diperlihatkan Stella padanya. Mengantongi barang menjengkelkan tersebut. "Kamu tuh apaan, sih? Barang kayak gitu kok dipamerin?" "Emangnya kenapa? Di sini 'kan cuma ada kita berdua. Kalaupun aku telanjang di sini, ya, itu gak akan masalah. Ini kamar kita dan kamu itu suami aku. Kamu bebas nikmatin aku. Bahkan kalau pengamannya mau dipakai sekarang juga bisa." Banyu melotot geram. Memang dasarnya Stella, diperingatkan bukannya berpikir, malah lebih gencar menggoda. "Barang itu tuh mubazir tahu kalau enggak dipakai." Ahh, menyebalkan sekali. Sekarang Stella berbicara seolah dirinya selama ini tidak pernah membuang-buang sesuatu. Padahal kenyataannya Stella seringkali membuang apa yang tidak disukainya, meninggalkan apa yang sudah membuatnya bosan, dan mengabaikan apa yang menurutnya bukan menjadi seleranya. Tapi sekarang, Stella membesar-besarkan hal kecil seolah barang itu sangat berharga dan sayang jika dibuang. "Kamu gak perlu malu-malu sama aku Banyu. Kita bisa lakuin itu kalau kamu mau. Jangan sungkan. Cuma karena pernikahan kita tidak didasari dengan cinta, bukan berarti aku gak akan biarin kamu nyentuh aku." "Stella, berhenti ngomongin gak penting dan konyol kayak gitu!" "Kok malah disebut konyol?" "Ya, abisnya dari tadi kamu selalu ngomongin hal itu. Bikin aku jengkel tau, gak. Lagian kalau aku mau, aku juga … gak akan ragu-ragu." Banyu mengalihkan pandangan saat mengatakan kalimat terakhirnya. Lucu sekali. Mendengar perkataan Banyu, dan melihat bagaimana ekspresi Banyu saat mengatakannya, benar-benar membuat Stella tidak kuat untuk tidak meledakkan tawa. "Kenapa sih kamu jadi cowok manis banget?" tanya Stella. "Udah, ah. Aku mau mandi aja." Banyu berdiri dengan wajah yang masih enggan menatap Stella, "kalau kamu udah selesai buka semua hadiahnya, kamu bisa minta tolong sama Bi Siti buat beresin sampahnya." Stella ikut berdiri. "Lho, lho, kok kamu malah kabur kayak gitu? Mana sini coba lihat muka aku? Kasih lihat ke aku muka kamu yang memerah." Ia bergegas mendekati Banyu. Menusuk-nusuk bagian pinggang Banyu dengan jari telunjuknya. "Apaan, sih? Gak usah ngawur. Siapa juga yang mukanya merah? Gak ada. Aku cuma mau mandi, badanku lengket, dan aku capek banget. Jadi mau cepat-cepat istirahat." Banyu meninggalkan Stella begitu saja. Namun, saat dirinya sampai di depan pintu kamar mandi, langkahnya kembali terhenti saat Stella mengatakan sesuatu. "Mau mandi bareng, gak? Aku juga belum mandi." Banyu menoleh cepat. Bukan mengiyakan, ia justru menjulurkan lidahnya pada Stella. "Jangan harap aku bakal gampang tergoda sama kamu. Kita gak akan mandi bareng. Aku mandi duluan dan kamu mandi setelah aku." Setelahnya Banyu kembali memutar tubuh dan berjalan cepat membuka pintu kamar mandi. Membanting pintu di depan Stella yang kembali terbahak karenanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN