Definition of Love; 34

1880 Kata
Tidak seperti pengantin baru pada umumnya yang akan menghabiskan waktu setelah menikah dengan berbulan madu atau bersantai manis, Banyu dan Stella tidak melakukan hal itu. Pada malam pertama setelah pernikahan, keduanya menginap di rumah orang tua Banyu, Banyu bahkan tidak tertidur malam itu, dan esoknya Banyu bekerja seperti biasanya. Keduanya memutuskan untuk pulang tepat setelah Banyu baru pulang bekerja. Banyu mengantar Stella kembali ke rumah ayahnya, sementara dirinya pulang ke rumahnya. Dan hari ini, Banyu kembali ke rumah orang tua Stella. Karena tidak ingin menghabiskan banyak waktu di rumah yang terpisah, Banyu memutuskan untuk membawa Stella pindah hari ini juga, tepat setelah dirinya pulang bekerja. Dua hari setelah pernikahan. Tidak ada bulan madu apalagi menikmati malam pertama layaknya pengantin baru. Banyu dan Stella melakukan aktivitas harinya seperti biasa. Yang berbeda hanya satu, yaitu status keduanya yang kini telah berubah menjadi sepasang suami istri. "Menurut kamu aku harus bawa semua barang-barang aku dari sini buat dipindahin ke rumah kamu atau kayak gimana?" Suara itu memecah lamunan Banyu yang sedang bersandar di kusen pintu. Beberapa meter dari posisinya, Stella tengah disibukkan dengan sebuah koper besar yang diletakkan di atas ranjang. Di samping koper tersebut, terdapat tumpukan baju Stella yang baru dikeluarkan dari dalam lemari. "Terserah kamu." Banyu bergerak mendekat. Duduk di sisi ranjang yang kosong, "kamu 'kan bakal netap di rumah aku, jadi kalaupun semuanya kamu bawa ke sana juga gak masalah. Tapi kan pasti ada saatnya kamu bakal kangen sama rumah ini, kangen sama papa kamu, dan akhirnya kamu mau nginep di sini. Bakal repot kalau akhirnya di sini sama sekali gak ada barang-barang kamu. Jadi, bawa seperlunya aja. Kalau nanti hari sesuatu yang kamu butuhin di sana, kita bisa beli yang baru." Stella menjentikkan jempol dan jati tengah tangan kanannya. Bola matanya membesar. "Suamiku ini kok bisa pinter banget?" tanyanya terkekeh geli. Sama sekali tidak malu menyebut Banyu sebagai suami. "Kamu baru sadar kalau aku itu pinter? Bukannya dari zaman SMP aku selalu masuk tiga besar? Dan kalau kamu lupa, biar aku ingetin, dari dulu itu kamu selalu nyontek ke aku kalau ada tugas." Stella terbahak. Ia mengangguk setuju. Mengingat hal itu dengan amat sangat baik. Sekarang Stella tahu apa untungnya menikah dengan teman terdekatnya. Bukan hanya bisa bersikap semaunya layaknya seorang teman biasa, setiap pembicaraan yang dibawakan juga selalu mengandung ingatan masa lalu. Yang membuatnya bernostalgia. Kalau boleh jujur ternyata itu cukup menyenangkan. Stella tidak pernah membayangkan sebelumnya bahwa dirinya akan menikah dengan Banyu, yang sejak awal tidak pernah masuk kriterianya dan tidak pernah masuk dalam daftar orang yang akan dinikahinya. Tapi Banyu tentunya tidak seburuk itu, malah sebaliknya, Banyu terlihat sangat sempurna untuk siapa pun yang melihatnya. Begitu pula dengan Stella. Hanya karena Banyu tidak masuk dalam kriteria cowok idamannya, bukan berarti Banyu buruk. Salah satu alasan kenapa Banyu tidak masuk ke dalam kriteria Stella adalah karena sosok Banyu yang terlalu baik dan sempurna untuk gadis urakan seperti dirinya. "Oke," putus Stella akhirnya. Ia mengembalikan sebagian baju yang sudah ranjang, menaruhnya kembali ke dalam lemari. Sebagian baju yang sudah dipilihnya diletakkan di dalam koper yang sudah terbuka. "Oh, iya. Bukannya di rumah mama kamu banyak banget hadiah pernikahan kita? Itu mau dibiarin di sana aja atau harus kita pindahin ke rumah kamu?" tanya Stella. Mengingat tumpukan hadiah yang tersusun rapi di salah satu kamar mertuanya. Banyak sekali. Padahal ia dan Banyu tidak mengundang terlalu banyak orang. "Tadi siang papaku ngehubungin aku, katanya dia udah ngirim orang buat mindahin semua hadiah itu ke rumah aku. Jadi, sekarang hadiahnya udah ada di kamar kita." "Waw, artinya malam ini kita unboxing semua hadiahnya, dong?" "Terserah kamu aja, tapi mungkin aku gak akan bantuin soalnya badanku pada sakit semua. Aku mau istirahat aja. Capek. Hari ini kantor bikin aku kelabakan." Stella merengut kesal. Apa serunya membuka hadiah pernikahan sendirian? "Aku tahu sebenarnya kita nikah tanpa dasar rasa cinta sama sekali, tapi bukannya keterlaluan kalau cuma aku yang unboxing hadiahnya?" Mulai lagi. Wajah memelas Stella dan nada bicaranya yang berubah sendu berhasil membuat Banyu menghala napas pasrah. "Oke. Kita buka semua hadiahnya malam ini. Puas?" tanyanya. Tidak! Tentu saja Banyu mengatakan hal itu tanpa penekanan sama sekali. Malah terbilang sangat lembut dan mengundang seringai geli dari Stella. Saat Stella tengah sibuk memilih pakaian apalagi yang akan dibawanya, sebuah ketukan berhasil menarik perhatiannya dan Banyu. Airin berdiri di depan pintu kamar Stella yang memang sudah terbuka. "Tadi papa kamu bilang kalau kamu sama Banyu bakal pindah malam ini. Dia juga minta maaf karena gak bisa ngantar kalian berdua. Katanya, ada sesuatu yang mendesak di kantor dan harus diselesaikan. Mungkin bakal pulang larut malam nanti. " Tahu bahwa Stella tidak akan menjawab perkataan ibu tirinya, Banyu memilih berdiri. Tersenyum pada Airin. "Gak pa-pa, kok, Tan. Soalnya mama sama papa saya juga gak bisa nganter karena mereka juga, ya, sama-sama sibuk. Kita berdua bisa urus semuanya sendiri, kok," ujar Banyu lembut. Masih belum terbiasa untuk memanggil orang tua Stella dengan sebutan mama papa. Terlebih lagi usia ibu tiri Stella tidak jauh berbeda dengannya. "Syukurlah kalau begitu. Ngomong-ngomong, ada yang bisa Tante bantu?" Dan baiknya, Airin pun tidak mempermasalahkan hal itu. Banyu menggeleng cepat. "Oh, gak perlu, Tan. Kami bisa urus semuanya berdua aja, kok. Cuma mindahin baju Stella Sama beberapa barang ke koper aja, kok." "Kalau gitu Tante mau lanjut masak buat makan malam kalian. Kalau nanti kalian udah selesai beres-beresnya, kalian bisa turun buat makan malam duluan. Oke?" "Oke, Tan. Makasih, Tan, sebelumnya." Airin mengangguk sambil tersenyum. Ia segera memutar tubuhnya dan meninggalkan kamar Stella. Begitu Banyu menoleh ke belakang untuk melihat Stella lagi, ia mendapati Stella sedang cemberut. Tidak tahu apa sebabnya. "Kamu kenapa ramah banget sih sama Airin? Aku itu gak suka, ya, kalau kamu bersikap sebaik itu sama dia. Soalnya aku gak suka sama dia." Ahh, jadi karena itu. "Jadi maksud kamu aku harus benci sama orang yang juga kamu benci? Apa gak keterlaluan? Lagian mama tiri kamu itu baik, kok. Kenapa kamu gak berusaha buat buka hati kamu supaya mau nerima dia?" "Gak!" tegas Stella melotot. "Dan satu lagi, jangan panggil dia pakai sebutan namanya. Gak sopan tahu. Dia itu mama kamu." "Banyu!" seru Stella jengkel. Tidak mengerti kenapa Banyu terus-terusan menyebutkan bahwa Airin adalah ibunya. "Ya, udah. Gak usah ngegas. Mendingan kita percepat aja packing-nya. Setelah itu kita makan dan pulang ke rumah. Bukannya kamu bilang mau unboxing semua hadiah?" Mendengar kata hadiah yang keluar dari mulut Banyu, wajah Stella berubah ceria. Ia mengangguk semangat dan mulai mengepak kembali apa yang harus dibawanya untuk pindah. *** Setelah susah payah menurunkan koper Stella ke lantai satu, Banyu mendorong koper tersebut ke arah sofa. Stella bersikeras untuk langsung pergi saja, tapi Banyu merasa tidak enak pada ibu tiri Stella yang sudah menyiapkan makan malam. Alhasil Banyu memerlukan sedikit paksaan untuk membawa Stella ke meja makan. Gadis itu mendengkus berulang kali saat sampai di meja makan. Banyu hanya bisa menggeleng tidak habis pikir. Stella itu memang dasarnya hanya tubuhnya saja yang membesar, tapi sikapnya masih sangat kekanak-kanakan. "Ayo duduk!" Airin berbicara. Banyu mengangguk dan segera menarik kursi untuk Stella. Gadis itu diam saja, membuat tangan Banyu lagi-lagi bergerak untuk memaksa Stella duduk. Ada banyak sekali makanan yang disiapkan oleh Airin. Banyu mengabsen semuanya saat ia menarik kursi untuk diduduki. Mulai dari ayam, ikan, sayur, dan beberapa lauk lainnya yang terlihat menggugah selera. Airin nampaknya menyiapkan semua masakan tersebut dalam waktu yang cukup lama. Mengingat semua makanan yang dibuatnya nyaris memenuhi meja. "Padahal Tante gak perlu masak sebanyak ini buat kita berdua. Saya jadi ngerasa gak enak karena harus bikin Tante masak sebanyak ini." Airin yang sedang meletakkan piring berisi buah-buahan terkekeh mendengar pernyataan Banyu. "Waktu tadi papa Stella bilang kalau kalian bakal mampir ke sini buat beres-beres, Tante sebenernya seneng banget. Soalnya udah dua malam kalian tidur di rumah mama kamu. Jadi Tante mau bikin semacam sambutan aja. Jarang-jarang juga Banyu makan di sini, 'kan?" ujarnya terdengar tulus sekali. Melihat apa yang dilakukan Stella selama ini pada ibu tirinya, Banyu sebenarnya tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Tapi malam ini, melihat seberapa besar niat Airin untuk membahagiakan Stella dan dirinya, itu membuatnya merasa terenyuh. Stella memang terlalu kekanakan karena sudah membenci orang sebaik Airin. "Ini apa kita gak perlu nunggu papa Stella pulang aja dulu supaya bisa makan bareng?" tanya Banyu. "Gak perlu. Papa Stella lembur, jadi kemungkinan bakal pulang cukup larut. Kalian berdua tenang aja, kalian bisa makan duluan sampai kenyang karena tante bikin semua makanan ini emang khusus buat kalian berdua. Untuk papa Stella, kebetulan udah tante sisain dan nanti makan tante panasin kalau papa Stella udah pulang." Airin menyendokkan nasi untuk Stella dan Banyu, kemudian mengambil bagian untuknya sendiri. Untuk lauknya, Banyu mengambil apa yang diinginkannya. Karena Stella tak kunjung menggerakkan tangan, ia terpaksa mengambilkan lauk untuk Stella juga. "Kalau di depan makanan itu jangan cemberut terus. Gak baik tahu. Kamu jadi kelihatan kayak orang yang kurang bersyukur. Nanti kalau nasinya nangis lihat ekspresi kamu gimana?" Banyu mencoba menghibur Stella yang tidak bicara sejak tadi. "Gak usah kayak emak-emak yang ngebujuk anaknya buat makan." Ya, itu adalah candaan yang sering dilontarkan oleh para ibu. Banyu pun pernah mendengar dari ibunya saat kecil dulu. Saat dirinya menyisakan nasi di piring atau membiarkan nasi berceceran ke mana-mana saat makan, ibunya akan berkata kalau nasi yang ditinggalkan tersebut akan sedih dan menangis karena tidak dimakan. Mungkin dari sanalah ia mulai membenci orang yang suka menyia-nyiakan makanan. "Rayuan kamu itu gak mempan buat aku, aku gak mau makan di sini, aku mau pulang aja ke rumah kamu," sambung Stella. "Rumah kita," koreksi Banyu. "Apa pun itu, terserah kamu. Pokoknya aku gak mau makan di sini." Ini adalah salah satu sisi Stella yang paling menyebalkan. Bahkan ibu kandung Stella pun dulu sering kali kesal dan memilih menyerah jika Stella sudah mengeluarkan sisi keras kepalanya. Tapi Banyu tahu bahwa dirinya tidak bisa menyerah pada Stella atau gadis itu akan semakin besar kepala. "Oke. Kalau kamu gak mau makan makanan yang dibuat sama mama kamu, itu artinya kamu juga gak akan aku izinin buat ikut aku ke rumah. Aku bakal pulang sendiri dan kamu bakal tidur di sini kayak semalam. Gampang, 'kan?" Banyu mengendikkan bahunya acuh. Stella menghentakkan kakinya kesal. Suaranya itu bahkan sampai terdengar ke telinga Banyu dan Airin. "Kita itu 'kan udah nikah, masa tidurnya mau jauhan kayak gitu? Gak seru, dong. Aku 'kan maunya tidur sama kamu. Ngapain kita nikah kalau ujungnya tetap pisah rumah?" "Kalau gitu kamu bisa mulai makan-makanan kamu. Lauknya aku sendiri, lho, yang ngambilin. Apa kamu yakin gak mau makan makanan yang lauknya diambilin sama suami kamu?" Terdengar sedikit berlebihan memang, tapi Banyu yakin akan membuat Stella tergerak. "Aku paling benci, lho, sama orang yang suka nyia-nyiain makanan. Bukannya kamu gak mau jadi seseorang yang aku benci?" Hanya bujukan kecil, dan Stella langsung menggerakkan tangan yang untuk mengambil sendok dan garpu di samping piring. Mulai menyantap makanannya dengan setengah niat. Airin hanya terkekeh geli melihat tingkah pengantin baru di depannya. Stella adalah gadis manja dan keras kepala yang selalu mau menang sendiri, sedangkan Banyu adalah laki-laki penyabar yang mau memanjakan Stella. Sifat keduanya sangat bertolak belakang, tapi itulah yang melengkapi mereka sebagai pasangan. Stella mungkin memiliki banyak kepribadian yang buruk, tapi banyu mau menerimanya tanpa memandang sisi buruk Stella. Itulah yang menjadikan Banyu terlihat begitu sempurna di mata siapa pun yang mengenalnya. Dan Stella sangat beruntung karena bisa memiliki Banyu dihidupnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN