Definition of Love; 33

2134 Kata
Cuaca cukup bersahabat hari itu. Matahari bersinar dengan cerahnya tapi tidak terasa menyengat. Langit penuh dengan hamparan berwarna biru yang begitu memukau, ditemani gumpalan berwarna putih yang menambah kesan manis untuk siapa pun yang memandangnya. Bunga-bunga berwarna putih mendominasi halaman rumah orang tua Banyu. Bercampur dengan sejuknya warna hijau yang menjadi latar utama halaman rumah. Tirai-tirai berwarna putih membalut di beberapa bagian rumah, menjadi penghias dengan kesan suci nan elegan. Kursi-kursi dengan balutan kain berwarna putih berjajar rapi, diisi para tamu yang akan menjadi saksi hari bahagia Banyu dan Stella. Meja-meja ditata di beberapa tempat. Penuh dengan berbagai macam makanan dan minuman dengan berbagai warna. Sebagai sajian para tamu selain prasmanan yang terletak di sisi lain lain halaman. Dijaga oleh para perempuan bergaun putih. Beberapa meter di depan jajaran tamu, Banyu dan Stella duduk saling berdampingan. Menjadi sorotan utama acara tersebut. Stella nampak anggun dengan kebaya berwarna putih, sementara Banyu mengenakan setelan jas hitam. Keduanya nampak serasi. Sebuah kain tipis berwarna putih diletakkan di kepala keduanya. Di depan mereka, ayah Stella dan seorang pria berjas hitam duduk saling bersebelahan. Dengan meja yang menjadi pembatas antara keempatnya, Banyu menggenggam tangan ayah Stella. "Saya nikahkan engkau ananda Banyu Arisatya bin Bima Arisatya dengan anak saya yang bernama Stella Glenca Aurelys dengan mas kawin uang tunai sebesar tiga puluh juta, dibayar tunai." Dalam satu hentakan napas, Banyu membuka mulutnya. "Saya terima nikahnya Stella Glenca Aurelys binti Glen Arditama dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai." Bersamaan dengan itu, degup jantung Banyu yang awalnya begitu menggila perlahan kembali normal seperti biasanya. Lalu, sekeliling Banyu riuh dengan ucapan 'sah' yang terdengar menggema di telinganya. Jabatan tangan terlepas. Doa berkumandang segera setelah ijab kabul selesai. Seseorang yang duduk di salah satu kursi, meneteskan air mata tepat setelah Banyu mengakhiri kalimat kabul-nya. Orang itu adalah Mia. Yang datang berdua dengan Rangga. Di tengah limpahan kebahagiaan yang mengelilinginya, Mia terkurung dalam lautan kesesakan yang menenggelamkan dirinya. Orang yang dicintainya menikah tepat di depan matanya. Tiga minggu setelah memutuskan hubungan dengannya. Rasanya tidak ada penderitaan yang jauh lebih menyakitkan dari apa yang sedang dirasakan oleh Mia. Banyu menorehkan luka yang begitu mendalam di hati Mia, dan sekarang Mia menyaksikan sendiri di depan matanya bahwa orang yang begitu ia cintai sudah dimiliki oleh orang lain dan ia tidak bisa merebutnya kembali. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain berusaha tegar dan menerima apa yang sudah terjadi. Tidak ada jaminan Banyu akan bahagia setelah apa yang terjadi, tapi sebagai orang yang pernah bersanding dengan Banyu, Mia hanya bisa berharap bahwa apa yang dipilih Banyu bukanlah sebuah kesalahan. Selain doa untuk kebahagiaan Banyu, rasanya hal lain tidak berarti saat ini. Tangisan Mia pecah. Dan di depan sana, tangis haru kebahagiaan membuncah. Ibu Banyu membawakan kotak beludru berwarna merah dan menyerahkannya kepada Banyu. Sebuah cincin emas dengan permata halus di bagian pinggir segera terpasang di masing-masing jari manis mempelai. Banyu segera mencium kening Stella, sementara Stella dengan lembut menarik tangan kanannya untuk mencium punggung tangannya. Sebagai tanda bahwa mulai hari ini keduanya sudah sah menjadi sepasang suami istri. Mereka secara resmi mendedikasikan diri untuk bisa hidup bersama dan saling berjuang untuk mempertahankan pernikahan satu sama lain. "Terima kasih buat semuanya, Banyu," ucap Stella menatap Banyu dalam. Dibalas senyuman hangat oleh Banyu. Banyu sebenarnya tidak tahu apakah dirinya harus merasa bahagia atau justru sebaliknya. Anggaplah dirinya hanyalah laki-laki paling b******k sedunia, Karena setelah terang-terangan melukai perasaan Mia, ia justru merasa bahwa apa yang sekarang sedang dijalaninya adalah salah satu jalan untuk menyatakan apa yang selama ini dipendam olehnya kepada Stella. Di waktu yang sama, Banyu juga tidak bisa menutupi rasa sakit yang menggerogoti dadanya. Ia yang dengan rela menikahi Stella dan memilih untuk menjadi ayah bagi anak yang dikandung Stella. Tapi hal itu tentu tidak bisa menutupi fakta bahwa tidak begitu sebenarnya. Ia memang menjadi suami sah Stella, tapi terjadi karena sebuah keterpaksaan. Stella tidak pernah mencintainya dan yang lebih menyakitkan adalah bahwa ia harus bisa menyiapkan hati yang lapang untuk menerima seorang anak yang bahkan bukan darah dagingnya sendiri. Banyu tahu bahwa ke depannya mungkin akan lebih berat dari sekarang. Tapi hari ini, setelah ijab kabul terdengar di semua telinga yang menyaksikan, setelah cincin terpasang di jari manisnya dan jari manis Stella, maka itu sama artinya dengan hari baru yang akan dimulai. Tidak peduli apa yang menanti di depan sana, karena sebuah pilihan mantap sudah diambil, Banyu hanya perlu percaya bahwa ia bisa menjalaninya. *** Para tamu mulai memberikannya selamat pada Banyu dan Stella. Keduanya duduk di sebuah kursi pelaminan dengan dekorasi tirai putih di bagian kanan dan kiri. Hiasan bunga dengan warna senada, juga hijau dedaunan menjadi pemandangan asri yang membuat mata segar. Memberi kesan sejuk dan elegan di waktu bersamaan. Setelah keluarga Banyu dan Stella berembuk, mereka sepakat untuk memilih halaman rumah orang tua Banyu. Mengingat bagian halaman depan yang begitu luas. Sehingga menjadi tempat yang yang pas untuk mengadakan acara resepsi pernikahan sederhana, tapi tetap terasa mewah. Banyu dan Stella sama-sama tidak menyewa gedung mewah di kawasan Jakarta atau memilih tempat yang bisa menampung banyak orang. Keduanya memilih rumah orang tua Banyu karena memang tidak mengundang orang banyak, dan ingin mengadakan acara resepsi yang sederhana dengan dikelilingi orang terdekat saja. Tiba saatnya Rangga dan Mia memberi selamat pada Banyu. Keduanya berjalan ke arah pelaminan setelah tamu terakhir yang memberi selamat pergi. Keempatnya terdiam untuk beberapa saat. Rangga yang pertama menyalami Banyu. Memeluk Banyu dengan penuh rasa haru. "Masih gak nyangka gue ternyata justru li jadi temen pertama yang ninggalin gue. Di saat teman-teman sekampus kita masih sibuk ngurusin karir mereka, ya, walaupun ada beberapa dari mereka yang emang udah nikah duluan sebelum ini, tapi tetep aja gue gak mau percaya kalau lo ngeduluin gue." Banyu terkekeh pelan mendengar penuturan dari Rangga. Karena jangankan Rangga, bahkan ia sendiri pun masih belum percaya dengan apa yang terjadi. Karena selama ini ia bahkan tidak memikirkan yang namanya pernikahan. Pikirannya tidak sampai sejauh itu. Menikah di usia yang terbilang masih cukup muda sebelumnya tidak ada di dalam daftar masa depan yang akan dikejar oleh Banyu. Tapi begitulah kenyataannya. Terkadang melenceng jauh dari rencana yang sudah ditata rapi. "Oh, iya. Kenapa cewek lo gak diajak sekalian?" tanya Banyu. Rangga mengendikkan bahu. "Walaupun lo nulis nama dia di undangan gue, tetep aja dia gak bisa dateng. Ada urusan katanya. Padahal gue bilang tunda aja urusannya, tapi dia gak mau. Dia cuma nitip salam semoga lo bahagia. Dan gue ke sini sama Mia." Rangga melirik Mia yang berdiri tak jauh dari posisinya. Banyu menatap Mia sekilas. Hanya sekilas kemudian memilih mengalihkan pandangan. Untuk sesaat, keadaannya berubah canggung. Rangga lah yang kembali memecah hening. "Ngomong-ngomong, kalau gak salah tadi gue dengar angka tiga puluh juta waktu pembacaan ijab kabul." Rangga menatap Stella, "apa lo gak masalah dikasih mahar segitu sama Banyu, padahal lo tahu Banyu bisa ngasih lebih." Gantian Stella yang tertawa mendengar celotehan Rangga. Memangnya siapa lagi yang mau membahas tentang mahar di acara pernikahan orang lain, selain Rangga? Itu adalah hal yang tidak pantas dibicarakan orang lain, tapi Rangga benar-benar mengabaikan hal itu. "Gue gak butuh apa pun dari Banyu, karena Sebesar apa pun atau sekecil apa pun mahar yang dikasih Banyu, pada akhirnya gue jadi satu-satunya perempuan yang bakal dikasih segalanya sama Banyu." Waw! Rangga bertepuk tangan mendengar tanggapan dari Stella. Gadis itu benar-benar membanggakan posisinya sekarang. "Lagian alasan kenapa gue milih angka tiga puluh, itu karena angka tiga puluh adalah tanggal lahir Stella. Mungkin jadi hal remeh buat kebanyakan orang, tapi gue mau Stella selalu ingat hari ini. Di mana dia terlahir lagi sebagai orang baru yang bakal berdiri di samping gue. Nominalnya mungkin gak banyak, tapi angka tiga puluh jadi hal paling penting di hidup Stella." Tidak bisa menutupi kekagumannya, Rangga bertepuk tangan heboh. Tidak peduli bahwa dirinya menjadi pusat perhatian dari banyaknya mata yang memperhatikan. "Ternyata orang kayak lo kalau udah serius bukan cuma romantis, tapi juga bucin banget." Rangga geleng-geleng kepala. Ia menggeser posisinya agar berdiri di depan Stella, hal itu membuat Mia yang sejak tadi diam kini berhadapan dengan Banyu. Banyu menatap Mia lama, Begitu pula sebaliknya. Keduanya saling mengunci di tengah riuhnya para tamu yang sedang menikmati acara setelah sebelumnya hanya merasakan kecanggungan. Mata Mia berkaca-kaca, tapi di bibirnya, seulas senyum diperlihatkan. Senyum terbaik yang berusaha Mia tampilkan di depan Banyu yang kini bukan kekasihnya. Di samping Banyu, berdiri seorang perempuan yang statusnya jauh lebih tinggi dibandingkan Mia sendiri. Mia sadar hal itu. Karena itulah ia memutuskan untuk berhenti. Kalau Banyu saja bisa memilih untuk melepasnya tanpa persetujuan, maka ia pun harus bisa melepaskan Banyu dengan kerelaan. "Aku seneng kamu kelihatan bahagia di acara pernikahan kamu ini." Mia melebarkan senyuman, "kalau aja aku gak lihat senyum kamu di acara ini, mungkin aku udah ikutin jalan pikiran aku buat tarik kamu balik ke pelukan aku." Tidak ada jawaban. Banyu hanya menatap Mia lama. Takut kalau dirinya memiliki untuk membuka mulut, ia akan mengatakan sesuatu yang salah dan melukai perasaan Mia. "Semoga bahagia. Aku selalu doain yang terbaik buat kamu. Mulai hari ini, kita jangan jauh-jauhan lagi, ya? Aku gak nyaman. Kita kerja di satu perusahaan yang sama, tapi entah kenapa kita kaya asing banget. Aku dateng ke sini bukan cuma mau ngucapin selamat buat kamu, tapi juga buat ngasih tahu kamu kalau aku udah sekuat tenaga buat berusaha baik-baik aja. Seenggaknya itu cukup buat buktiin kalau kita masih bisa berhubungan baik." Adakah orang lain yang lebih bijaksana dari Mia? Gadis itu terluka, dan Banyu yang menorehkan luka tersebut. Gadis itu merasakan kekecewaan yang luar biasa, dan Banyu yang mengukir kekecewaan itu. Tapi Mia masih mau berbaik hati memaafkan dan berusaha memperbaiki keadaan. Mungkin sangat berat, tapi Mia lebih memilih untuk tetap menderita, asal hubungannya dengan Banyu tidak berakhir buruk. "Padahal kamu gak harus datang ke pernikahan aku. Aku tahu Semuanya terlalu tiba-tiba dan pasti berat banget buat kamu," kata Banyu akhirnya. Mia menggeleng pelan. "Gak pa-pa." Ia menatap Stella yang berdiri di samping Banyu, "aku juga mau minta maaf sama kamu karena malam itu aku udah bilang sesuatu yang pasti ngelukain hati kamu. Aku sadar sebenarnya aku gak seharusnya ngomong hal itu. Gak seharusnya aku ikut campur masalah kamu dan ngomentarin seolah kamu udah ngelakuin sesuatu yang paling buruk. Padahal kenyataannya aku cuma ngerasa kalah dari kamu yang kembali datang ke kehidupan Banyu." Di akhir kalimat. Mia tersenyum pada Stella. Dan Stella membalas senyumnya dengan tulus. Menjadi Mia pastilah sangat menyakitkan. Stella tidak tahu bagaimana rasanya, tapi dia bisa membayangkan bagaimana rasa sakitnya. Siapa pun tidak akan ada yang merasa senang saat harus melihat bahwa orang yang dicintainya menikah dengan orang lain. Mia begitu tangguh karena berani menghadapi kenyataan itu dan memilih datang ke pernikahan Banyu untuk mengucapkan selamat. Kalau Stella ada di posisi Mia, pastilah ia sudah gila lebih dulu. Tapi ketangguhan Mia membuat Stella begitu kagum kepada gadis itu. "Aku juga minta maaf buat semuanya. Bagaimanapun malam itu aku juga bilang sesuatu yang buruk sama kamu. Sekali lagi aku minta maaf." Stella menatap Mia serius. Mia mengangguk pelan. Karena terlalu lama diam dan memperhatikan adegan melow antara Banyu, Stella dan Mia, Rangga bertepuk tangan heboh untuk mencuri atensi dari ketiganya. "Udah-udah, gak usah ada acara galau-galauan segala. Hari ini itu acara yang membahagiakan. Jadi kita semua harus pasang senyuman lebar dan nikmatin hari ini." Tatapan Rangga menyapu pandang sekeliling seolah sedang mencari seseorang, "fotografer mana fotografer, woy?" tanyanya berteriak. Seseorang yang mengenakan jeans berwarna hitam dengan kemeja hitam berdiri dari posisi duduknya karena merasa terpanggil. Di lehernya, menggantung sebuah kamera berwarna hitam. Laki-laki yang ditugaskan untuk memotret acara pernikahan Banyu dan Stella mendekat ke arah pelaminan. "Nah, iya, Bang. Ayo ambil gambar kita berempat sebanyak mungkin," kata Rangga menginterupsi sang fotografer. "Oke, Mas," sahut fotografer itu tersenyum. Keempatnya mulai mengambil pose. Berubah-ubah saat fotografer memintanya untuk mengganti pose. Pertama adalah pose formal. Banyu dan Stella berdiri berdampingan tentunya. Dengan Stella yang menggandeng tangan Banyu. Rangga berdiri di samping Banyu, sementara Mia berdiri di samping Stella. Kedua, posisi Rangga dan Mia berpindah posisi. Mulai dari sana, berbagai macam pose ditunjukkan secara bebas. Mungkin ada lima sampai sepuluh foto. Atau juga bisa lebih. Rangga dan Mia baru berhenti saat Mia mengeluhkan kegemaran Rangga yang suka dipotret. Keduanya pamit undur diri. Sang fotografer menjauh. Sekali lagi Mia meminta pelukan pada Banyu untuk yang terakhir kalinya, dan Banyu mengabulkan hal itu. Mia juga bahkan memeluk Stella dan menitipkan Banyu pada gadis itu. Ada hati yang terluka, ada hati yang berusaha merelakan, ada hati yang berusaha tegar. Dalam langkah tenang Mia menjauhi pelaminan, ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak lagi menangisi Banyu. Sudah cukup. Bohong kalau ia mengatakan dirinya bahagia melihat Banyu bersama orang lain, tapi sekali lagi, jika Banyu saja bisa, maka ia pun harus bisa. Tidak ada gunanya meratapi apa yang sudah terjadi terlalu lama. Sedih boleh saja, tapi secukupnya, karena siapa pun tahu, mereka yang sah secara agama bukan seseorang yang bisa dilawan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN