Dua minggu kemudian.
Banyu mengetuk kaca mobil Rangga yang sudah tertutup. Di dalam mobil, Rangga terlihat sedang menatapnya begitu menoleh ke samping. Kaca mobil segera terbuka tak lama kemudian. Banyu menyerahkan lembar amplop berwarna cokelat dengan ikatan pita di bagian pinggir pada Rangga. Dengan nama dirinya dan Stella yang terpampang di bagian depan amplop tersebut.
Rangga melihatnya sekilas, hanya melihatnya, tidak mengambilnya sama sekali.
"Menurut lo kita berdua perlu ngomong gak sih?" tanya Rangga menatap Banyu.
Sejak pertemuan orang tua Banyu dan orang tua Stella, sejak saat itu pula rencana pernikahan langsung dimulai. Bersamaan dengan itu, Rangga menjauhi Banyu karena menurutnya Banyu bersikap tidak adil kepada Mia. Baru kali ini keduanya berbicara berdua setelah sebelumnya Banyu selalu menghindar jika diajak bicara oleh Rangga mengenai hancurnya hubungan Banyu dengan Mia.
"Kalau lo emang ngundang gue, kalau lo emang pengen banget gue datang ke pernikahan lo, rasanya kita perlu bicara buat ngelurusin sesuatu. Lo gak bisa ngehindar lagi dari gue, dan kalau lo gak mau buka mulut juga, gue gak akan dateng ke pernikahan lo." Rangga kembali berbicara karena Banyu tak kunjung buka suara.
Jujur saja, Banyu sebenarnya merasa sedih karena hubungannya dengan Rangga merenggang. Ia dan Rangga sudah berteman sangat lama. Rasanya menyedihkan melihat Rangga belakangan terus berada di samping Mia, menenangkan gadis itu, dan melihatnya seolah dirinya pantas untuk dibenci dan dijauhi.
Namun, kali ini Rangga memilih bicara padanya. Itu sedikit melegakan. Setidaknya sedikit beban di bahunya terangkat. Tidak menghilangkan semua keresahannya, tapi cukup untuk membuatnya berhenti khawatir.
"Gimana kalau kita ngopi?" tawar Banyu.
Rangga berdeham pelan sebelum akhirnya memilih mengangguk. Keduanya sepakat pergi dengan mobil masing-masing. Rangga yang menentukan tempatnya. Selepas Rangga menutup kaca mobilnya, Banyu bergegas menuju mobilnya untuk mengikuti Rangga dari belakang.
***
Rangga memilih sebuah kafe yang berada cukup jauh dari lokasi kantor mereka. Kafe tersebut merupakan kafe yang sering didatangi Rangga dan Banyu sejak lama. Keduanya memilih kursi di dekat sendiri. Duduk saling berhadapan ditemani secangkir kopi.
"Jadi gimana? Lo mau mulai dari mana?" tanya Rangga.
Banyu sebenarnya tidak pernah membicarakan masalahnya dengan siapa pun. Bahkan Rangga sekalipun. Sedekat apa pun dirinya dengan Rangga atau selama apa pun pertemanannya dengan Rangga, Banyu selalu merasa bahwa setiap masalah yang dihadapinya hanya perlu ditanggung olehnya sendiri. Dan Rangga tidak perlu tahu.
Berbeda dengan Rangga, sifat Banyu sangat bertolak belakang. Rangga selalu membicarakan apa yang ada di pikirannya. Mulai dari yang pembicaraan baik, buruk, sampai masalah yang sedang dihadapinya. Bisa dibilang Banyu merupakan salah satu tempat yang paling dipercayai oleh Rangga untuk berbagi keluh kesah. Entah tentang masalah keuangan, konflik di dalam keluarganya, konflik di dalam hubungannya dengan kekasihnya, atau hal remeh apa pun yang dialami oleh Rangga.
Mungkin karena sifatnya yang suka banyak bicara dan tidak pernah bisa diam, Rangga selalu bisa memberikan dan mengeluarkan apa yang ada di pikirannya. Membiarkan orang lain mendengar atau memberi masukan. Tapi sekarang Banyu tahu, bahwa dirinyalah yang harus bercerita, sementara Rangga yang menjadi pendengar.
"Sebenarnya gue juga bingung harus mulai dari mana," kata Banyu canggung.
Rangga mengangkat tangannya ke atas meja. Menopang pipi kanannya dengan tangan kanan pula. Memperhatikan Banyu yang sepertinya sedang berpikir akan memulai berbicara dari mana. Tapi setelah beberapa menit, yang didapatinya hanyalah keheningan. Banyu tidak kunjung bicara.
"Oke, biar gue aja yang mulai." Rangga kembali menegakkan tubuhnya, "jadi sebenarnya sejak dua minggu lalu itu Mia udah cerita ke gue. Tentang semuanya. Tanpa ada yang terlewat sama sekali."
Sama seperti dugaannya, Rangga tersenyum saat melihat Banyu nampak terkejut. Sepertinya Banyu tidak menyangka bahwa mantan kekasihnya akan membicarakan masalah 'itu' pada Rangga.
"Mia cerita alasan kenapa kalian bisa putus, dan kenapa lo jadi orang yang milih buat mutusin hubungan itu sendiri. Gue paham, tapi sampai sekarang gue bahkan gak nyangka kalau orang kayak lo bisa bisa berbuat kayak gitu."
Kayak gitu?
Banyu tidak mengerti kenapa Rangga berbicara seolah dirinya adalah orang paling buruk. Dari nada bicara dan kata-kata yang dipilih oleh Rangga, Banyu tahu bahwa Rangga menaruh kekecewaan padanya.
"Kita kenal udah dari zaman kuliah. Dan dari zaman itu juga gue tahu kalau lo sebenernya gak pernah mau orang lain ikut campur masalah lo. Lo gak pernah ngeluh apa pun ke gue. Hidup lo kelihatan kayak lancar-lancar aja tanpa ada masalah. Tapi gue tahu sebenarnya gak gitu. Lo cuma berusaha sebaik mungkin supaya lo gak sampai menempatkan orang lain ke dalam masalah lo. Gue tahu itu."
Banyu ingat bagaimana kehidupan kuliahnya dulu terasa hambar. Awalnya ia tidak bisa membiasakan diri karena selalu hidup berdampingan dengan Stella. Tanpa Gadis itu ia tidak tahu bagaimana caranya mencari keceriaan atau menemukan sesuatu yang bisa membuatnya tertawa.
Lalu kemudian Rangga datang. Menjadi teman pertama yang membawanya untuk mengarungi kehidupan perkuliahan dengan cara yang jauh lebih menyenangkan. Ia memiliki banyak teman, tapi Rangga menjadi satu-satunya yang selalu ada di dekatnya sampai lulus kuliah. Bahkan ketika melamar pekerjaan pun Rangga memilih untuk melamar di perusahaan yang sama. Dan beruntungnya, ia dan Rangga sama-sama diterima.
Dari banyaknya kisah yang telah dilewatinya bersama Rangga, baru sekarang Banyu sadar bahwa Rangga begitu mengenalnya. Dari bagaimana cara Rangga mendefinisikan dirinya menjadi bukti bahwa selama kenal dengannya, Rangga sangat memperhatikan dirinya.
"Tapi buat masalah ini, gue rasa lo cukup keterlaluan karena gak bilang apa pun sama gue. Kita udah kenal lama banget, tapi setelah tahu masalah lo dari Mia, gue sadar kalau selama ini ternyata kita gak sedekat Itu. Gimana bisa gue tiba-tiba dapat undangan pernikahan dari lo tanpa tahu siapa mempelai wanitanya? Kalau Mia gak cerita, mungkin gue gak akan tahu kalau lo bakal nikah sama Stella."
"Gue minta maaf," kata Banyu akhirnya. Ia menatap Rangga penuh penyesalan, "gue sama sekali gak ada maksud buat nutupin semua ini dari lo. Sejak mutusin buat nikah sama Stella, gue tahu kalau lo bakal kecewa sama gue. Hal itu terbukti karena belakangan ini lo sering banget ngobrol sama Mia di belakang gue. Gue gak tahu apa yang kalian omongin, tapi mungkin gak jauh dari tema tentang gue dan Stella."
"Karena lo gak milih buat cerita sama gue, Banyu! Selalu gue yang harus nanya duluan kayak tadi, selalu gue yang harus minta buat ngobrol duluan kayak tadi, padahal jelas-jelas yang harus ngejelasin itu lo sendiri, tapi lo malah bersikap kalau semuanya baik-baik saja setelah terang-terangan nyakitin Mia."
Rangga memandang Banyu tidak habis pikir. Terlihat muak dan masih enggan percaya. Yang bisa dilakukannya hanya menggelengkan kepala sambil membuang muka karena terlalu malas menatap Banyu yang duduk di seberangnya.
"Kenapa bisa-bisanya orang yang selama ini gue anggap baik, terhormat, dan selalu menjaga martabat perempuan, tiba-tiba mutusin buat nikah sama seorang perempuan karena udah ngehamilin perempuan itu. Apa ini jati diri lo yang sebenarnya?"
Ahh, rasanya menyebalkan sekali. Sekarang Rangga menjadi orang yang menyudutkannya, sama seperti apa yang dilakukan Mia kepada Stella.
Jika bisa, Banyu ingin memilih pulang saja. Mengabaikan apa yang sudah terjadi, dan menganggap seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. Tapi tentu tidak ia lakukan, karena hal itu hanya akan membuatnya terkesan lari dari masalah dan membiarkan hubungan pertemanannya dengan Rangga semakin renggang.
"Anak itu bukan anak gue," kata Banyu menjawab semua pertanyaan Rangga.
Rangga yang awalnya terlihat kesal kini berbalik memandang Banyu dengan raut bingung. Perkataan Banyu yang terlalu tiba-tiba tanpa sadar membuatnya menggeser kursi agar lebih dekat.
"Iya, gue bilang apa adanya. Anak yang dikandung Stella itu bukan anak gue." Banyu menegaskan maksud dari perkataannya sebelumnya.
"Lo lagi gak salah ngomong?" tanya Rangga emosi, "kalau emang itu bukan anak lo, kenapa lo mau repot-repot buat tanggung jawab dan sampai nikahin Stella?"
"Karena gue harus."
"Harus apaan, b*****t?" Rangga emosi. Ia mendengkus kesal. Benar-benar tidak menyangka bahwa orang yang ia kenal sangat pintar, berubah menjadi seseorang yang bisa bersikap sangat bodoh.
"Gue tahu lo mungkin gak percaya, tapi emang itu kenyataannya. Anak yang dikandung Stella emang bukan anak gue, tapi gue ngerasa kalau gue harus bertanggung jawab."
"Gue gak nyangka kalau ternyata lo itu setolol ini." Rangga menggeleng sambil memijit pangkal hidungnya. Terlalu lelah menghadapi Banyu, terlalu kesal mendengar semua omong kosong dari mulut Banyu.
Di sisi lain, Banyu justru terlihat senang. Pada akhirnya Rangga tidak benar-benar menyudutkannya. Rangga percaya padanya dan tidak mengatakan bahwa apa yang ia katakan adalah kebohongan. Daripada mengomentari dirinya dengan kalimat kejam semacam hujatan karena tidak mau mengakui kesalahan, Rangga Justru memarahinya karena bersikap bodoh.
"Kalau emang itu bukan anak lo, kenapa harus lo yang tanggung jawab?" tanya Rangga jengkel. "Apa lo mau jadi pahlawan kesiangan yang dipuji-puji satu negara?"
Sontak saja Banyu terkekeh pelan. Ia bersyukur Rangga mengatakan hal itu. Karena itu artinya Rangga yang ia kenal sudah kembali.
"Keadaannya jauh lebih rumit dari apa yang gue bayangin. Awalnya gue udah nganter Stella ke rumah cowok yang hamilin dia, tapi cowok itu gak mau bertanggung jawab. Yang bikin gue emosi, cowok itu bahkan memperlakukan Stella dengan sangat buruk. Gue gak terima. Stella tertekan. Dia bahkan berulang kali bilang kalau dia bakal gugurin kandungannya itu. Gak mungkin gue biarin, 'kan?"
"Mungkin! Mungkin aja. Itu urusan Stella. Mau dia gugurin kandungannya, mau dia diperlakuin buruk sama cowok yang udah ngehamilin dia, sebenarnya selama cowok itu mau bertanggung jawab, itu bukan masalah lo. Lo cuma terlalu baik buat nerima kalau Stella bakal menderita."
"Itu lo tau," sahut Banyu singkat.
Rangga bertanya, "Terus gimana sama lo sendiri? Apa maksud lo dengan lo bersikap sok pahlawan kayak gini, Stella bakal bahagia dan lo gak menderita gitu? Emangnya kalian berdua saling cinta?"
Banyu diam. Tidak mungkin mengakui pada Rangga bahwa selama ini, jauh sebelum dirinya mengenal Mia, perasaan yang kuat sudah tumbuh untuk Stella. Kalau pengakuan itu meluncur dari mulutnya, bukan tidak mungkin Rangga akan memakinya habis-habisan.
"Masalahnya gak sesimpel itu. Cowok yang hamilin setelah itu bukan orang sembarangan. Gue bahkan tahu cuma dengan ngeliat tatapannya yang dingin. Cowok itu tipikal orang yang kalau dia bilang iya berarti iya, kalau enggak berarti enggak. Dia bakal lakuin apa pun buat milikin apa yang dia mau dan buang apa yang menurutnya gak penting. Dia bilang dia mau tanggung jawab asal Stella mau gugurin kandungannya? Tapi kalau kayak gitu apa bedanya?"
"Ya, gak ada bedanya, Banyu. Tapi itu urusan mereka. Karena mereka yang berbuat, seharusnya keputusan apa pun yang mereka ambil itu bakal jadi konsekuensi mereka, gak ada urusannya sama lo."
"Tapi gue gak bisa biarin Stella hidup sama b******n kayak dia. Gue gak bisa ngebayangin Stella hidup sama orang yang bahkan rela ngebunuh darah dagingnya."
Entah sudah berapa kali Rangga menghembuskan napas lelah, tapi kali ini mungkin yang terakhir. "Lo tau, gak? Lo itu terlalu naif jadi orang. Lo itu terlalu baik. Rela aja nama lo jadi kotor karena kesalahan yang Bahkan gak pernah lo lakuin. Terserah lo, deh. Gue gak mau peduli lagi. Seenggaknya sekarang gue tahu inti permasalahannya kayak gimana. Kalau udah ngambil keputusan kayak gitu biasa gue gak punya hak buat ikut campur," tutur Rangga berusaha memahami posisi Banyu.
"Thank, Ga," ucap Banyu tulus.
Rangga menegakkan tubuhnya lantas memelototi Banyu. Ia menunjuk wajah Banyu. "Walaupun sebenarnya gue pengin banget benturin kepala lo ke tembok supaya lo itu sadar kalau jadi baik itu enggak selamanya bikin lo bahagia. Nih, buktinya. Lo malah cuma bakal dapet masalah." Ia menarik tangannya dan segera menyeruput kopinya yang sudah mulai dingin. Membasahi tenggorokannya yang kering karena berbicara terlalu banyak dengan nada tinggi.
Banyu bersyukur karena pada akhirnya ia dan Rangga sama-sama saling mengerti dan bisa berbicara kembali seperti sedia kala. Ia akui, bahwa Rangga adalah satu-satunya teman yang paling berharga untuknya.
"Jadi, gue harap lo bakal dateng ke acara gue." Banyu mendorong amplop coklat di samping cangkirnya yang sebelumnya tidak diterima oleh Rangga.
"Oke. Kali ini gue ambil undangannya dan gue pasti gue bakal datang ke acara nikahan bersama Stella. Terus gimana sama Mia? Dia lo undang juga."
Banyu mengangguk. "Tadi pagi undangannya gue taruh di atas meja kerja Mia. Tapi gue gak yakin dia bakal datang ke acara nikahan gue. Soalnya acara yang bakal didatengin itu adalah acara orang yang paling nyakitin dia," ujarnya tertawa hambar.
"Wajar aja. Kalaupun dia gak datang, itu artinya dia masih sakit hati. Gak masalah. Nanti juga bakal ada orang lain yang lebih baik buat nenangin luka dia. Yang pasti jauh lebih baik dari cowok b******k kayak lo."
Banyu tertawa. Membenarkan hal itu. Semoga saja. Ia akan turut berbahagia jika memang Mia menemukan orang yang jauh lebih baik darinya. Karena sudah memutuskan untuk meninggalkan, sudah pasti tidak ada jalan untuk kembali dengan alasan ingin memperbaiki apa yang sudah terjadi.
Banyu sadar akan hal itu.