Dari banyaknya hari paling menegangkan yang pernah Banyu alami, sekarang ini adalah yang terburuk. Saat dirinya berdiri dengan tangan gemetar dan keringat yang membasahi pelipisnya. Di sampingnya, kedua orang tuanya berdiri kebingungan. Melihat lurus ke tempat di mana terlihat orang yang nampak familiar menarik perhatian mereka.
Tak jauh dari posisi ketiganya, Stella beserta orang tuanya sudah duduk di salah satu meja yang ada di restoran. Ya, benar. Setelah pertemuan dengan Mia tiga hari lalu, Banyu dan Stella sudah memutuskan akan mengatur pertemuan kedua orang tua mereka. Dan Sekaranglah saatnya.
Banyu menggiring orang tuanya untuk duduk di kursi yang sama dengan orangtua Stella. Sengaja Banyu memilih private room kali ini, karena pembicaraan yang akan dibawa cukup serius dan tidak seharusnya didengar orang lain.
Orang tua Stella langsung menyapa kedua orang tua Banyu begitu sampai di kursinya. Ayah Stella memeluk ayah Banyu akrab, dan ibu Banyu pun berusaha mengakrabkan diri dengan ibu tiri Stella. Mereka berpelukan, saling melepas rindu karena sudah lama tidak bertemu, kecuali Airin yang tidak begitu mengerti situasinya.
Keenamnya kembali duduk. Meja bundar itu kini terisi penuh di setiap kursinya. Banyu duduk di samping Stella, sementara orang tua mereka duduk bersisian dengan pasangan masing-masing.
Berbagai macam makanan sudah tersaji diatas meja. Dipesan Banyu saat memesan private room. Makanan mungkin datang bersamaan dengan kedatangan Stella, tapi yang pasti, makanan itu terlihat masih panas dan menguarkan aroma yang menggugah selera.
"Saya sebenarnya tidak mengerti kenapa Banyu tiba-tiba mengajak saya dan istri saya untuk makan malam. Terlebih lokasinya juga yang cukup jauh dari rumah kami. Tapi setelah melihat siapa yang sudah duduk lebih dulu untuk menyambut kami, saya senang bisa diundang ke makan malam ini." Bima, ayah Banyu, berbicara dengan hangatnya.
Glen tertawa. "Benar sekali, saya juga awalnya bingung, tapi siapa sangka ternyata ini adalah suatu kejutan yang cukup istimewa," ujarnya senang.
Sementara Clarissa, ibu Banyu, hanya mampu tersenyum kepada Airin karena tidak tahu harus berbicara apa. Pembicaraannya terakhir kali dengan Stella saat Gadis itu dibawa Banyu ke rumahnya hanya sebatas pembicaraan singkat di mana Stella memberitahu bahwa ibu kandungnya sudah meninggal. Tapi siapa sangka di balik itu, Stella justru memiliki ibu tiri yang usianya terlihat tidak jauh berbeda dari Stella sendiri.
Cukup mengejutkan, tapi Clarissa tahu bahwa itu bukan masalahnya. Selama keluarga Stella bahagia, itu sudah cukup. Tidak perlu ada penjelasan, karena ia pun mengerti bahwa dirinya tidak memiliki hak untuk mencampuri urusan orang lain. Bagi orang lain hubungan ayah Stella dan istri barunya mungkin terlihat cukup mencolok, tapi itu tidak berpengaruh apa-apa bagi dirinya.
Banyu berbicara, "Karena udah lama banget gak saling ketemu dan gak saling ngobrol, aku sama Stella akhirnya mutusin buat ngadain pertemuan ini." Semua mata seketika berfokus pada Banyu, "walaupun Sebenarnya ada sesuatu dari kami berdua yang perlu diomongin sama kalian, tapi tujuan utamanya tetap saja untuk mengeratkan kembali tali silaturahmi. Mungkin cukup mendadak, tapi kami yakin pertemuan ini cukup untuk saling melepas rindu."
"Ya, memang sangat mendadak." Glen mengangguk setuju. Ia menatap Bima duduk di seberangnya. "Saya bahkan harus menunda pertemuan saya dengan klien malam ini, tapi tidak masalah. Sebenarnya Stella belum pernah mengajak saya dan istri saya untuk makan malam di luar, maklum anak muda, mereka lebih suka bepergian dengan teman sebaya mereka. Tapi tadi pagi tiba-tiba Stella berbicara di meja makan. Mengutarakan keinginannya mengajak kami makan malam. Awalnya saya pikir itu akan menjadi makan malam biasa, tapi siapa sangka justru ada tamu lain yang membuat saya sangat terkejut."
Mendengar itu, Bima dan Clarissa tertawa. Mungkin karena keduanya juga merasakan hal yang sama. Tidak menduga dan pada akhirnya dikejutkan oleh tamu Istimewa.
"Bagaimana kabar kamu? Apakah istri baru membuatmu selalu merasa harus bersikap gagah setiap hari?" Bima melempar humor. Seisi meja penuh dengan tawa.
"Tentu," kata Glen menatap istrinya yang dengan cepat langsung tersipu karena tatapannya itu. "Saya selalu ingin terlihat keren di depan istri saya. Lalu bagaimana dengan kamu? Bukankah memiliki seorang istri yang awet muda sangat menyenangkan? Di pertemuan bisnis, Clarissa mungkin menjadi satu-satunya wanita yang paling cantik."
"Ahh, kamu benar sekali. Saya bahkan tidak membiarkan rekan kerja saya yang duda melirik istri saya barang sedetik pun."
Lagi, mereka tertawa. Clarissa memukul bahu suaminya karena merasa malu.
Banyu dan Stela sangat senang bahwa orang tua mereka menikmati makan malam yang direncanakan oleh mereka. Tidak ada kecanggungan, yang ada hanya pembicaraan santai di mana keempatnya terasa seperti anak muda yang sedang nongkrong.
"Gimana kalau kita mulai makan malamnya dulu." Stella berbicara. Menyela obrolan asyik dua pasangan di dekatnya.
"Benar. Mengobrol seperti ini akan membuat kita lupa waktu," kata Glen setuju.
Makan malam pun dimulai dengan tenangnya. Sesekali ada pembicaraan kecil antara ayah Banyu dan ayah Stella. Clarissa pun mulai memberanikan diri berbicara dengan Airin yang terlihat seperti sosok anak untuknya.
Sampai makanan utama berganti dengan makanan penutup yang mengisi meja. Obrolan kembali berlanjut. Layaknya orang tua pada umumnya, ayah Banyu dan ayah Stella banyak berbicara tentang pekerjaan dan keluhan tentang anaknya yang juga belum menikah. Sementara pembicaraan orang tua perempuan diisi dengan keseharian yang itu-itu saja.
Namun, dari sanalah pembicaraan seriusnya akan dimulai. Setelah berhasil mengumpulkan keberanian yang sejak tadi naik turun Mendengar pembicaraan antara orang tuanya dan orang tua Stella, Banyu akhirnya memilih untuk angkat bicara. Memulainya dengan helaan nafas panjang.
"Aku ngehamilin Stella."
Tanpa basa-basi dan sanggup membuat semua mata mengalihkan pandangannya kepada Banyu. Mungkin satu-satunya kesalahan Banyu adalah mengatakannya tanpa ada kalimat pembuka terlebih dahulu, karena kalimat mengejutkan tersebut memberi gambaran yang terlalu jelas di wajah-wajah yang ada di depannya.
Mereka semua menatap Banyu dan Stella bergantian. Tidak memberikan respon apa pun selain tatapan bingung. Dan hal itu malah membuat Banyu berkeringat dingin. Pasalnya ia sangat ketakutan melihat respon orang tuanya atas apa yang sebenarnya tidak pernah ia lakukan.
Kepala Banyu ditundukkan. "Saya minta, Om. Saya tahu ini terlalu tiba-tiba, tapi makan malam ini bertujuan untuk membicarakan masalah ini pada kalian," ujar Banyu ditujukan untuk ayah Stella. Ia mengangkat wajah, beralih menatap kedua orang tuanya yang juga belum mengatakan apa pun.
"Ma, Pa, aku tahu aku pasti bikin kalian berdua kecewa. Tapi aku gak punya pilihan lain selain bertanggung jawab. Maafin aku." Banyu memelas. Meminta pengampunan orang tuanya.
Tahu bahwa Banyu tidak bisa bicara sendiri dan menanggung semuanya sendiri, Stella juga angkat bicara.
"Aku juga salah di sini." Stella menatap orang tua Banyu, "Tante, Om, tolong jangan marahin Banyu. Aku yang salah di sini."
Baik orang tua Banyu atau orang tua Stella masih belum memberikan respon apa pun. Menambah tingkat kecemasan yang sedang melanda Banyu.
Lalu….
"Dasar anak muda zaman sekarang. Mereka selalu aja lebih ngebet buat lakuin hal kayak gitu tanpa peduli sama resikonya. Padahal apa susahnya ngomong sama orang tua buat minta nikah? Pasti semuanya lebih mudah." Ayah Stella yang pertama memberi respon.
Bima mengangguk setuju setelah lama diam. "Kalau sudah begini mana bisa memutar waktu untuk mengembalikan keadaan? Marah-marah hanya akan membuat darah tinggi saya kumat, diam saja tidak akan merubah apa pun, intinya tidak ada pilihan lain selain menikahkan keduanya. Iya, 'kan?" ujarnya tenang.
Banyu bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi?
Banyu kira ibunya akan sangat marah, menangis karena belum percaya, dan mungkin akan sangat kecewa. Mengingat bagaimana perjuangan ibunya membesarkan dengan penuh kasih sayang dan pendidikan yang baik. Ia tumbuh di lingkungan yang baik, di tengah keluarga yang harmonis, dan dibesarkan dengan penuh cinta dan pengertian. Tentu akan sangat mengecewakan jika tahu bahwa putra yang selama ini dibanggakan ternyata malah menghamili seorang perempuan sebelum menikah.
Di sisi lain, Banyu juga sangat terkejut dengan respon ayah Stella yang terlihat begitu santai. Bahkan ayah Stella lah yang pertama berbicara untuk menanggapi ucapannya. Alih-alih marah karena Putri semata wayangnya dihamili oleh seorang laki-laki, yang bahkan sangat dikenalnya, ayah Stella lah yang justru terlihat paling tenang.
Respon dua orang itu membuat Banyu dan Stella saling tatap. Kenapa orang tua mereka tidak marah atau kecewa. Respon mereka justru sangat baik, di luar dugaan, dan jujur saja, itu sangat melegakan.
"Saya salut karena kamu bisa dengan percaya dirinya jujur dengan apa yang sudah kamu lakukan," kata ayah Stella tersenyum.
Saat Banyu sudah mempersiapkan mental untuk dimarahi habis-habisan, mempersiapkan kedua pipinya jikalau ayah Stella murka dan menamparnya. Tapi senyuman itu terlalu hangat jika dibandingkan dengan sebuah kemarahan.
"Apa yang kamu lakukan tidak bisa dianggap benar, sudah tentu salah. Tapi ketenangan kamu saat berbicara di depan kami benar-benar patut mendapat pujian dari saya."
"Saya tidak tahu sebenarnya harus senang atau justru sangat marah." Bima berbicara, "di satu sisi, setelah penantian yang begitu lama karena tidak pernah melihat Banyu dekat dengan gadis mana pun, saya mendapat kabar bahwa Banyu akan menikah. Tapi saya juga tidak menyangka bahwa pernikahan itu akan terjadi karena sebuah kecelakaan."
Banyu tahu, sangat tahu. Sebagai orang tua ayah dan ibunya pastilah sangat kecewa. Mereka yang membesarkannya, membiayai hidupnya dan memberinya pendidikan agar ia bisa tumbuh menjadi anak yang membanggakan. Tapi pada akhirnya ia memilih menikahi Stella. Mengakui sebuah kesalahan yang Bahkan tidak pernah dilakukan.
Ibunya pastilah sangat kecewa. Beliau yang melahirkan dia, mengajarinya cara hidup yang baik dan bagaimana menjadi seorang laki-laki yang tidak melewati batasan. Saat tahu bahwa putranya mengaku menghamili perempuan, bohong kalau ibunya tidak marah. Saat ini, ibunya bisa aja memaki dirinya atau memarahi Stella, tapi tidak dilakukan. Ibunya justru memilih cara yang jauh lebih halus. Memendam kemarahannya, dan membicarakan semuanya dengan cara yang lebih dewasa.
Banyu sadar saat dirinya melihat seulas senyum di bibir ibunya. Jenis senyuman paling hangat dan manis yang selalu didapatkannya dari bibir itu. Masih sama dan tidak pernah berubah. Senyuman itu masih sesempurna biasanya. Dan karena lengkungan itu Banyu sadar betapa beruntungnya dirinya dilahirkan oleh seorang wanita seperti ibunya.
"Semuanya bakal baik-baik aja," Clarissa berucap lembut. Menenangkan hati Banyu.
Sebenarnya memang tidak ada yang bisa dilakukan. Seperti apa yang dikatakan Bima, ayah Banyu, tidak ada yang bisa dilakukan selain menerima. Waktu tidak bisa diputar untuk menghapus apa yang sudah terjadi, diam saja tidak akan berubah apa-apa, satu-satunya cara adalah menerima dan mencari jalan keluar terbaik.
"Setelah ini kita mungkin bisa jadi lebih dekat. Saya mungkin akan lebih sering ke rumah kamu, atau kamu dan anak kamu akan lebih sering ke rumah saya. Bukan hanya untuk sekedar bertamu saja, tapi juga merencanakan pernikahan anak kita. Bukankah lebih cepat lebih baik?" tanya Bima menatap Glen.
Glen tertawa menanggapi ucapannya Bima. "Jangan terlalu sungkan kalau kamu ingin datang ke rumah saya. Sejak dulu pintu rumah saya selalu terbuka untuk keluarga kalian. Datanglah kapan pun kalian ingin," ujarnya.
"Begitu pun dengan rumah saya," balas Bima. Ia beralih menatap putra semata wayangnya, "untuk kamu, Banyu. Karena apa yang kamu lakukan itu di luar kendali kami dan bisa dibilang kelewat batas, kamu harus mempertanggungjawabkan semuanya sendiri. Jangan berani-beraninya Pqpkamu mengeluh nantinya. Papa Mama pastilah merasa kecewa, tapi bagaimanapun tidak akan ada yang berubah. Kamu tetaplah anak kami."
Clarissa membuka tangannya lebar-lebar dengan tatapan mengarah pada Stella. "Sini, mulai sekarang kamu bisa panggil tante dengan sebutan mama." Ia tersenyum lebar.
Stella langsung mendorong kursinya ke belakang dan berjalan menghampiri kursi yang diduduki Clarissa. Ibu Banyu bangun dari posisi duduknya saat Stella berada di sampingnya. Menyambut kedatangan Stella dengan sebuah pelukan.
Detik itu juga, Banyu dan Stella sama-sama sadar bahwa ke depannya, seharusnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Ketegangan yang hadir saat memutuskan untuk mengatakan pada orang tua mereka bahwa keduanya akan menikah, sirna sudah saat melihat tanggapan dari masing-masing orang tua mereka.
Di depan sana, di jalan yang pada akhirnya mereka memutuskan menjadi pilihan, mungkin akan menjadi jalan berliku yang akan membuat mereka gundah satu sama lain, atau akan menjadi jalan lurus yang membuat mereka tidak memiliki pilihan sama sekali selain terus berjalan. Tapi sekarang keduanya percaya bahwa mereka memilih jalan yang tepat dan akan berusaha melewati semuanya bersama.
Stella percaya bahwa selama bersama Banyu, semuanya akan selalu baik-baik saja dan dirinya akan bahagia, sementara Banyu yakin bahwa jalan yang dipilihnya datang tulus dari lubuk hatinya. Yang artinya, bukanlah sebuah jalan yang menimbulkan rasa penyesalan.