Setelah mengatakan pada Stella bahwa dirinya telah mengakhiri hubungannya dengan Mia, Banyu tidak pernah menyangka bahwa Stella justru akan meminta datang ke rumah Mia. Ia sudah melarangnya, mengatakan pada Stella bahwa Stella tidak perlu melakukan itu, tapi Stella bersikeras mengatakan bahwa dirinya ingin berbicara dengan Mia secara langsung.
Jadi, singkat cerita. Itulah alasan kenapa Banyu dan Stella sekarang berada di depan rumah Mia. Keduanya belum turun dari mobil. Masih saling berbincang untuk memilih akan turun atau tidak.
Banyu berbicara, "Gimana kalau kita puter balik aja. Masih ada waktu. Lagian kalau orang tua Mia ada di rumah, nanti malah aneh kalau mereka sampai lihat aku bawa perempuan lain ke rumah anaknya. Kita pulang aja, yuk! Kita cari waktu lain buat ngomong sama Mia," Banyu berusaha membujuk Stella.
Anggaplah pertemuan Stella dan Mia hanya akan menimbulkan perang dunia ketiga, itulah kenapa Banyu tidak ingin dua gadis itu bertemu. Keduanya hanya akan saling menyulut api yang pastinya akan menimbulkan pertengkaran. Stella mungkin bermaksud untuk menjelaskan keadaan yang sebenarnya agar Mia tidak membenci Banyu, tapi bukan berarti Mia akan mendengarkan dan percaya begitu saja.
"Jangan bikin aku berenti di sini, Banyu. Aku pokoknya mau ketemu sama Mia, dan itu harus. Kalau aku gak ketemu sama dia, aku malah gak akan tenang." Stella berbicara.
Banyu menggaruk tengkuknya. Tidak tahu harus bagaimana lagi.
"Kalau ditunda-tunda nanti Mia malah makin benci sama aku. Aku gak mau."
"Tapi kita bisa cari waktu lain, Stella."
"Aku maunya malam ini gimana, dong?"
Stella dengan sifat keras kepalanya. Begitulah. Banyu akhirnya mengalah. Mengiyakan saja keinginan Stella. Entah apa yang akan terjadi nantinya, itu urusan belakangan.
Kebetulan terjadi. Saat Banyu ingin merogoh ponsel di saku celananya, sebuah taksi berhenti tak jauh dari posisi mobilnya. Mia keluar dari taksi tersebut. Dan setelah taksi tersebut pergi, Stella dengan cepat melepas seat belt dan melompat keluar dari mobil.
Mungkin Mia menyadari keberadaan mobil Banyu. Kakinya melangkah cepat menuju gerbang. Terlihat jelas sedang menghindari Banyu. Tapi sayangnya Stella sudah turun dan dengan cepat menarik tangan Mia.
Banyu menyusul. Ia turun dari mobil, berjalan ke arah keduanya dan berdiri tak jauh dari posisi Stella.
"Kita harus ngomong," kata Stella cepat.
Mia menyentak tangan Stella. Bergerak menjauh.
"Kita harus ngomong, Mia!" ulang Stella.
"Gak ada yang perlu diomongin. Kamu sama aku itu gak ada hubungan apa pun. Aku bahkan gak kenal sama kamu, dan seharusnya gak perlu kenal. Pergi kamu dari rumahku!" usir Mia tanpa basa-basi.
Banyu ingin mengajak Stella pergi, tapi di saat bersamaan ia juga tahu bahwa Stella pasti akan datang lagi jika Mia belum mau bicara dengannya.
Intinya, dua gadis yang ada di depannya sama-sama keras kepala.
"Mia…," panggil Stella lembut.
Mia tidak tahan lagi. Air matanya tumpah lagi. Sudah sejak kemarin malam ia belum tidur sama sekali. Pembicaraannya dengan Banyu membuatnya tidak bisa tidur. Jangankan mengantuk, ia bahkan tidak bisa merasakan apa-apa.
Lalu sekarang seseorang yang katanya dihamili oleh Banyu berada tepat di depan matanya. Datang tanpa rasa bersalah dan ingin berbicara dengannya. Hal itu malah membuat Mia semakin marah.
"Malam itu, kamu sendiri yang bilang ke aku kalau kamu gak akan ngambil Banyu dari aku. Iya, 'kan? Terus kenapa sekarang Banyu minta putus sama aku cuma karena kamu? Kenapa bisa dia hamilin kamu saat kamu sendiri bilang kalau kamu gak akan pernah suka sama Banyu? Apa kalian ngelakuin itu tanpa rasa saling suka sama sekali? Huh?!"
Wajah Mia terlihat sedih dan marah di waktu bersamaan. Di depannya terdapat seseorang yang menjadi pemicu perasaan itu timbul, sangat wajar jika Mia berakhir melampiaskan kemarahannya pada Stella.
"Kamu itu pembohong, Stella. Gimana mungkin ada seorang cowok sesempurna Banyu di deket kamu, dan kamu dengan percaya dirinya bilang kalau kamu gak akan jatuh cinta sama dia? Itu omong kosong."
Mia mengusap wajahnya sambil terisak. Stella mendekatkan diri, berusaha meraih tangan Mia, tapi Mia dengan cepat mendorong bahunya. Membuat Stella sedikit limbung. Jika saja tidak ada Banyu yang dengan cepat menahan bahunya, Stella mungkin akan jatuh terduduk. Mengingat dorongan Mia pada Stella cukup keras. Banyu menyadari hal itu dan bergerak cepat sehingga Stella terselamatkan.
"Kenapa kamu kasar kayak gitu?!" tanya Banyu tidak percaya.
Selama Banyu mengenal Mia, tidak pernah sekalipun Banyu melihat Mia berucap apalagi berlaku kasar. Mia adalah gadis lemah lembut yang bahkan mampu membuat anak kecil jatuh cinta karena kelembutannya itu. Tapi sejak semalam, Mia mengeluarkan sifatnya yang satu itu.
"Aku gak pa-pa," kata Stella melepaskan pegangan Banyu agar bisa kembali berbicara dengan Mia, "aku ke sini mau jelasin semuanya. Kamu harus dengerin aku. Ini gak kayak yang kamu pikirin, Mia. Tolong, kasih aku waktu buat jelasin."
"Gak!" tukas Mia cepat.
"Tolong jangan benci sama Banyu. Dia gak salah. Kamu jangan salah paham. Bukan Banyu yang salah di sini. Dia gak ada maksud buat mutusin kamu."
"Terus?" tanya Mia datar.
"Mia … please…," lirih Stella.
"Gue sebenernya mau nanya." Mia mengubah cara bicaranya. Cukup mengejutkan Banyu, "sebenernya apa yang dilihat Banyu dari sosok lo ini? Sekali lihat aja gue tahu lo itu cuma anak manja yang bisanya cuma jajan pakai uang orang tua. Lo gak lulus kuliah, gak kerja, dan cuma bisa ngandelin orang di dekat lo, 'kan? Jadi, apa yang sebenernya udah lo lakuin sampai Banyu bisa terjebak sama cewek kayak lo?"
Kali ini Banyu benar-benar terkejut. Saking terkejutnya, ia sampai tidak lagi mengenali sosok Mia. Yang ada di depannya terlihat asing. Itu bukanlah Mia yang selama ini dikenalnya.
"Jangan bilang kalau lo udah jebak Banyu? Lo pasti tidur sama laki-laki lain, tapi bikin drama seolah-olah Banyu yang salah dan harus tanggung jawab. Iya, 'kan? Perempuan kayak lo gak akan bisa dapetin laki-laki baik, itulah kenapa lo jebak Banyu supaya bisa dapetin laki-laki sesempurna Banyu."
Cara bicaranya sarkas. Di sorot matanya hanya ada kebencian. Air mata memang mengalir di pipinya, tapi Mia nampak menikmati cacian yang baru saja ia lontarkan. Terlebih saat menyadari bahwa itu mengusik Stella.
Di pijakannya, kaki Stella nampak gemetar. Matanya berkaca-kaca. Melihat itu, Mia menarik senyum di bibirnya.
"Lo mungkin temen Banyu sejak kecil, tapi gue berjuang buat dapetin Banyu bertahun-tahun. Itu gak gampang. Terus sekarang dengan mudahnya lo ngambil dia dari gue? Apa menurut lo itu gak jahat? Kalau lo ngerasa menang, gue cuma mau ngasih tahu kalau perempuan kayak lo gak pantes dapetin seseorang sebaik Banyu."
"Mia cukup!" Tidak tahan, Banyu akhirnya angkat bicara.
"Apa?" Mia tak ingin kalah, "Bukannya itu bener? Banyu, kamu harus sadar. Itu bukan anak kamu."
Itu benar. Sejak awal Banyu yang paling mengetahuinya, tapi Mia tidak berhak mengatakan hal itu seolah mengetahui segalanya. Sekarang Mia bersikap seolah dirinya lah yang paling benar dengan memojokan Stella sekaligus menghina Banyu secara tidak langsung.
Banyu tidak bodoh, tapi Mia seakan memberitahu bahwa Banyu adalah yang paling bodoh di sini karena berhasil masuk perangkap Stella.
Sejak mengenal Mia, tidak pernah sekalipun Banyu mengira bahwa Mia memiliki sisi sekasar itu. Stella adalah perempuan, dan Mia sendiri pun perempuan. Sudah sepantasnya Mia yang paling mengetahui perasaan Stella, ketimbang Banyu. Tapi sebaliknya, Mia lah yang paling menyudutkan Stella dengan perkataannya. Dan Banyu tidak menyukai hal itu.
"Kamu sama sekali gak kenal sama Stella. Aku yang paling deket sama dia." Banyu menatap Mia dingin, "seburuk apa pun perilaku Stella atau sebanyak apa pun kesalahan yang udah dia perbuat, aku gak pernah ngungkit itu karena aku tahu itu bakal ngelukain perasaannya. Tapi kamu yang baru ketemu sekali malah justru lebih berani dari aku. Apa ini sisi buruk kamu yang selama ini gak aku tahu?"
Mungkin sadar apa yang dikatakan Banyu benar, Mia tersentak. Ia menatap Banyu. Mencari-cari sosok Banyu yang dikenalnya, tapi yang ditemukannya hanyalah tatapan dingin dari Banyu yang begitu menusuk.
"Tapi dia salah, Banyu. Dia salah. Dia udah ngerebut kamu dari aku di saat dia sendiri janji kalau dia gak akan jatuh cinta sama kamu."
"Bukan Stella yang ngerebut aku dari kamu. Bukan. Aku yang milih buat tanggung jawab dan hidup sama Stella. Jadi jangan Berani-beraninya kamu nyalahin Stella."
"Banyu…," panggil Mia dengan tatapan memelas. Memohon sekali lagi agar Banyu tidak meninggalkannya untuk pergi bersama Stella. Tapi Banyu menghiraukan hal itu.
"Sebenernya apa yang kamu lihat dari Stella? Dia bahkan gak lebih baik dari aku. Dia gak bisa bikin kamu bahagia, Banyu. Dia cuma manfaatin kamu. Anak itu bukan anak kamu. Kamu harus percaya sama aku. Dia pasti udah tidur sama banyak laki-laki sebelum narik kamu ke pelukannya."
"Mia!" bentak Banyu mengangkat tangan kanan. Bersiap menampar Mia, tapi Stella bergerak lebih dulu ke hadapan Banyu. Sehingga Banyu dengan cepat menghentikan gerakannya karena tidak ingin salah sasaran dalam menampar.
Namun, apa yang dilakukan Banyu menampar Mia lebih keras. Jauh lebih menyakitkan jika tamparan fisik mendarat di pipinya. Tatapan Banyu begitu serius saat mengangkat tangan ingin menamparnya, terdapat kemarahan yang begitu kentara, menghilangkan sisi tenang seorang Banyu. Tapi saat melihat Stella di hadapannya, tatapan Banyu melemah. Berubah lembut dalam waktu sepersekian detik.
Hal itu membuktikan bahwa Banyu jauh lebih peduli pada Stella, daripada Mia. Tindakannya secara langsung memberitahu Mia fakta itu.
"Kamu bener," kata Stella memutar tubuhnya agar bisa berbicara dengan Mia, "aku cuma perempuan kotor yang berusaha nyari perlindungan dari Banyu. Aku bukan perempuan baik. Jelas terlalu beruntung kalau bisa dapetin seseorang sebaik Banyu. Tapi asal kamu tahu, perempuan yang cuma bisa nyari kesalahan, dan ngemis-ngemis kayak kamu juga gak pantes ada di sisi Banyu. Banyu gak akan bisa hidup sama perempuan kayak kamu. Karena kamu baru aja nunjukin keburukan kamu yang paling Banyu benci, yaitu cara bicara yang kasar."
Ya, hanya Stella yang tahu bahwa Banyu paling benci dengan perempuan kasar. Stella tidak bisa dibilang bermulut baik, tapi setidaknya Stella tidak membeberkan keburukan orang lain di depan Banyu seperti apa yang baru saja Mia lakukan.
"Aku minta maaf karena udah ngebiarin Banyu milih aku." Air mata yang sejak tadi Stella tahan meluncur mulus membasahi pipinya, "aku minta maaf. Aku tahu aku salah karena pada akhirnya Banyu ninggalin kamu dan bikin kamu nangis. Luka itu mungkin gak akan hilang dalam waktu dekat, tapi aku mohon jangan benci Banyu. Cukup benci aku aja."
Di luar dugaan, Mia mengangkat tangan dan mendaratkan tamparan di pipi Stella. Terlalu cepat sampai Banyu tidak bisa menahannya.
"Itu karena kamu udah ngerebut Banyu dari aku, tapi bersikap seolah-olah kamu yang paling terluka di sini." Mia berlalu setelah mengatakan hal itu.
Banyu membalikkan tubuh Stella selepas kepergian Mia. Mengusap pipi kanan Stella yang ditampar oleh Mia. "Sakit, gak?" tanyanya lembut.
Bukannya menjawab, Mia justru menjatuhkan diri ke pelukan Banyu. Menangis tersedu-sedu di sana.
"Apa yang dibilang Mia itu bener, Banyu. Kamu gak seharusnya putus sama dia cuma buat perempuan kayak aku. Anak ini bahkan bukan anak kamu. Kamu gak seharusnya peduli sama aku. Kamu gak seharusnya tanggung jawab atas apa yang gak pernah kamu lakuin."
Perkataan Mia pastilah memukul Stella dengan keras. Mungkin menjadi perkataan yang paling membekas di ingatannya. Tapi lagi dan lagi yang bisa Banyu lakukan hanyalah mengulurkan tangan untuk mengusapi bahu Stella. Memberikan apa yang dimilikinya. Saat Stella memilih pelukannya untuk memulihkan diri, ia hanya punya dua telapak tangan untuk melindungi.
"Kamu gak perlu dengerin Mia. Keputusan aku udah bulat, dan gak akan berubah. Aku bakal nikahin kamu. Kita bakal nyari waktu yang tepat buat bicara sama kedua orang tuaku sekaligus mama papa kamu. Oke?"
"Tapi itu bakal bikin hubungan kamu sama Mia hancur. Bahkan bukan gak mungkin Rangga juga akan benci sama kamu nantinya."
"Itu resiko yang siap aku terima."
Andai Stella bisa meminta sesuatu. Saat ini, saat Banyu perlahan menarik tangannya untuk masuk ke dalam mobil, Stella ingin agar hatinya tidak lagi kosong. Untuk laki-laki sebaik Banyu, ia hanya ingin diberikan cinta, tidak peduli bagaimana prosesnya, ia ingin perasaan yang selama ini tidak pernah hadir untuk Banyu tumbuh di hatinya.