Banyu gantian melirik Mia dan Rangga yang duduk di depannya. Dua orang itu baru saja memulai makan mereka. Pesanan baru disajikan, Rangga yang paling semangat mengambil pisau dan garpunya. Mia hanya terkekeh geli. Sedangkan Banyu hanya bisa menatap chicken steak di depannya.
Mungkin karena sudah tahu apa makanan kesukaannya, Mia jadi memesan chicken steak dengan lemon tea untuk Banyu. Hal yang justru membuat Banyu semakin tertekan. Karena semakin Mia berusaha menjadi kekasih yang baik, semakin dalam Banyu melukai gadis itu.
Ini adalah kali pertama Banyu kembali makan dengan Mia dan Rangga setelah pertemuannya dengan Stella. Dan mungkin akan menjadi malam terakhir di mana Banyu bisa makan malam dengan keduanya. Mengingat masalah yang tengah dihadapinya.
"Guys, menurut kalian kira-kira enaknya liburan ke mana, ya, waktu akhir tahun? Atau mungkin kita harus liburan bertiga?" tanya Rangga terdengar bersemangat.
Mia mengangguk tak kalah semangat. "Boleh, tuh. Kayaknya seru kalau kita liburan bareng," ujarnya senang.
Tapi Rangga menggeleng setelahnya. "Ehh, jangan-jangan. Gue gak mau jadi obat nyamuk di antara kalian. Mungkin nanti gue bakal bawa pacar gue."
"Nah, itu lebih seru. Aku jadi ada temennya. Makin banyak orang malah makin bagus." Mia menoleh ke arah Banyu, "iya 'kan, Sayang?" tanyanya meminta pendapat.
Tapi Banyu hanya diam dengan tatapan lurus ke depan.
Mia dan Rangga saling pandang bingung melihat Banyu yang melamun dengan tatapan kosong. Keduanya sama-sama tahu bahwa Banyu bukanlah seseorang yang mudah melamun. Banyu tipikal orang yang fokus. Jika tidak ada masalah serius yang mengganggunya, maka aktivitasnya akan berjalan lancar seperti biasa.
Namun, kali ini berbeda. Sikap Banyu menunjukkan bahwa ada sesuatu yang sedang dipikirkan oleh Banyu.
"Sayang!" Mia mengguncang tubuh Banyu sekali, dan Banyu tersentak dari lamunannya karena hal itu.
"Kamu kenapa? Kok ngelamun?" tanya Mia.
"Tau, lo. Aneh banget tumben. Kayaknya dari kemarin lo gampang ngelamun. Lagi mikirin apa? Belum bayar listrik atau gimana?" Rangga menimpali dengan kekehan geli.
Banyu hanya tersenyum kemudian menggeleng. Mengatakan pada Mia bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
"Tapi kamu barusan ngelamun. Gak biasanya, lho! Aku kenal banget sama kamu. Kamu bukan orang yang gampang ngelamun kalau gak ada masalah serius? Ada apa?"
"Betul." Rangga menunjuk Banyu dengan garpunya, "kalau ada masalah itu jangan dipendam sendiri. Lo punya temen yang bisa diandalkan kayak gue, lo juga punya pacar yang pengertian yang siap ngedengerin kapan pun lo butuh tempat cerita. Kalau cuma ngelamun aja gak akan bikin masalah selesai, yang ada lo kesambet setan restoran baru tau rasa."
Mia memukul lengan Rangga. Memelototi Rangga karena bicaranya yang ngawur.
"Kalau ada masalah atau ada sesuatu yang lagi kamu pikirin, kamu bisa bilang sama aku. Aku mungkin emang gak bisa bantu, tapi seenggaknya mungkin bisa ngasih saran, dan kamu juga mungkin bisa sedikit lega kalau udah cerita."
Raut wajah Mia terlihat khawatir, dan itu malah membuat Banyu semakin merasa bersalah.
Malam ini, sudah ia putuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Mia. Ia tidak bisa mundur karena memang tidak ada lagi jalan keluar yang bisa dijadikan pilihan untuknya. Karena sudah terlanjur berbicara akan menikahi Stella, Banyu tidak bisa menarik perkataannya kembali. Dan ia juga tidak bisa membiarkan Stella berulah aneh lagi.
"Aku gak pa-pa, cuma mungkin agak sedikit capek aja akhir-akhir ini," sahut Banyu akhirnya.
"Ya, udah. Gak pa-pa kalau kamu belum mau cerita, aku bisa tunggu. Nanti kalau kamu siap, aku selalu ada dan kamu bisa hubungin aku kapan pun kamu mau."
Mia terlalu mengenal Banyu, sampai ia tahu bahwa kalimat penenang yang baru saja dikatakan oleh Banyu adalah sebuah kebohongan.
"Tapi aku beneran gak pa-pa," kekeuh Banyu.
Mia tersenyum. "Iya. Ya, udah. Sekarang kamu abisin makanannya dulu. Itu udah aku pesan buat kamu, lho!"
Tatapan Banyu beralih ke makanan miliknya yang belum disentuh sama sekali. Perutnya tidak lapar meski terakhir kali ia makan adalah pagi hari, terlebih nafsu makannya juga menghilang entah ke mana.
"Aku gak laper," kata Banyu.
"Tapi aku udah pesen makanan kesukaan kamu."
"Tau, nih. Lo sebenernya kenapa? Bukannya selama ini lo selalu jadi orang yang paling benci buang-buang makanan? Lah, sekarang malah lo sendiri yang buang-buang makanan. Plus buang duit pula."
Melihat Banyu yang tetap diam, Mia mengerti dan tidak ingin memaksa lagi.
"Kalau gitu sekarang kita pulang aja. Mungkin kamu butuh istirahat."
Banyu mengangguk dan langsung berdiri dari posisi duduknya. Ia merogoh dompet di saku belakang dan mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu untuk diserahkan pada Rangga. Bertujuan membayar makanan yang telah dipesannya.
"Kalian berdua itu emang astagfirullah banget jadi manusia? Jadi ini maksudnya gue ditinggal sendirian?" Rangga berseru kesal.
"Maaf, Rangga. Kita pulang duluan, ya?" Mia pamit. Menyusul Banyu yang sudah berjalan lebih dulu.
"Untung aja gue itu gak suka buang-buang makanan," kata Rangga memasukkan makanan dengan potongan besar. Ya, kalau Banyu tidak mau memakan makanannya, maka ia hanya harus menghabiskannya.
Keduanya pergi. Meninggalkan Rangga yang mungkin akan kekenyangan malam ini. Tidak jalan beriringan apa lagi tangan yang tergenggam. Banyu dan Mia berjalan saling berjauhan seperti pasangan yang sedang bertengkar.
Jika diibaratkan, sekarang ini Banyu benar-benar berada di posisi terbawah dalam hidupnya. Bukan karena dirinya sedang mengalami kesulitan keuangan, atau masalah serius yang akan menghancurkan karirnya. Tidak, bukan itu. Banyu merasa bahwa dirinya sedang berada di jalan buntu di mana tidak ada tempat lain yang bisa dituju, atau jalan lain yang bisa dilewati.
Berputar arah hanya akan membuat keadaan kembali seperti semula. Ia bisa tetap baik-baik saja dengan Mia, tapi di satu sisi Stella mungkin akan kembali tertekan dan mencoba menggugurkan kandungannya.
Andainya Aldo bukanlah laki-laki yang seberengsek itu, pastilah semuanya tidak akan serumit seperti sekarang ini.
***
Di rumah Mia.
Sebenarnya saat masih berada di restoran, Mia sudah menyarankan kepada Banyu untuk langsung pulang ke rumahnya saja agar bisa beristirahat lebih cepat, sementara dirinya akan menggunakan taksi untuk pulang. Tapi menolak dan bersikeras mengatakan bahwa dirinya akan mengantar Mia pulang.
Suasana sangat mendukung kala Banyu dan Mia berdiri di depan pagar rumah Mia. Bukan jenis suasana yang sangat menyenangkan seperti dipenuhi langit berbintang atau bulan yang terang benderang, tapi sebaliknya. Meski malam hari, Banyu tahu bahwa cuaca sedang mendung. Jangankan taburan bintang-bintang yang memenuhi penglihatannya, bahkan bulan pun tertutupi awan hitam. Pas sekali dengan suasana hatinya yang tidak bisa dibilang baik-baik saja.
"Kalau gitu aku masuk dulu, ya. Kamu jangan lupa langsung pulang terus istirahat. Kalau misalkan butuh obat buat ngilangin sakit kepala atau apa, jangan ragu buat minum, supaya besok kamu bisa beraktivitas seperti biasa. Oke?"
Bukankah sudah Banyu katakan bahwa Mia adalah gadis baik yang pantas diperjuangkan? Andainya ada pilihan lain yang bisa diambilnya, Banyu tidak ingin memilih opsi meninggalkan yang akan melukai orang paling pengertian padanya.
Lambaian itu membuat Banyu mengembuskan napas panjang. Mia memutar tubuh setelah sekali lagi tersenyum padanya. Gadis itu berjalan mendekati pagar rumahnya. Mulai membuka kunci pagar.
"Mia, kita harus putus."
Perkataan Banyu terdengar lantang dan mantap. Terlalu jelas untuk Mia sebut sebagai salah kata, atau telinganya yang salah dengar.
Banyu tidak pernah berbicara dengan nada semantap dan selantang itu padanya. Tapi sekalinya Banyu menunjukkan cara bicaranya yang satu itu, kenapa harus kata putus yang didengar olehnya?
Tangan Mia bergetar. Ia melepaskan kunci pagar dan berjalan mundur satu langkah. "Apa? Kamu ngomong apa? Kayaknya telingaku lagi gak beres. Coba kamu ulang," pinta Mia berusaha mengabaikan sesak di dadanya. Ia ingin memastikan bahwa memang itulah yang didengarnya.
"Kita harus putus, Mia."
Kalimatnya sedikit diubah, tapi tetap saja inti dari kalimatnya sama. Mia memutar tubuhnya. Menatap Banyu dengan mata berkaca-kaca.
"Kenapa?" Hanya itu yang bisa keluar dari mulut Mia. Masih enggan percaya apa yang diinginkan Banyu.
Selama ini ia tidak pernah bermasalah dengan Banyu. Karena menjadi orang yang menyatakan perasaannya lebih dulu, Mia selalu berusaha menjadi kekasih yang baik dan tidak banyak menuntut. Semuanya ia lakukan agar Banyu betah bersamanya dan menganggapnya sebagai kekasih yang baik. Tapi apa-apaan ini?
"Kita harus putus." Banyu mengulang kalimatnya. Menimpa lagi perasaan sesak yang sejak tadi sudah terasa.
Air mata Mia tumpah sudah. Ia berjalan mendekati Banyu. Berhenti tepat di hadapan Banyu. "Aku tahu. Aku udah denger kalimat itu tiga kali. Tapi apa alasannya, Banyu? Apa salahku sampai kamu minta putus?" tanya Mia dengan nada tinggi.
"Kamu gak salah, aku yang salah. Aku minta maaf, tapi kita bener-bener harus putus."
Mia mengangkat telapak tangannya. "Stop!" teriaknya kesal, "Jangan bikin aku bingung kayak gini. Sekarang jelasin ke aku ada apa sebenernya? Kenapa kamu minta putus? Bukannya kita baik-baik aja selama ini?"
Banyu diam. Tidak ingin menjelaskan situasi yang sebenarnya pada Mia. Ia tahu Mia akan sangat marah, tapi ia tidak pernah membayangkan bahwa Mia akan meninggikan nada bicaranya.
"Kamu udah gak sayang sama aku? Atau aku punya sesuatu yang bikin kamu risih? Aku ngebosenin?"
"Bukan itu, Mia!" sergah Banyu cepat.
"Terus apa? Makanya kamu jelasin ke aku supaya aku gak kayak orang bodoh yang bingung sendiri."
Jauh di lubuk hati Banyu, Banyu tidak pernah ingin putus dengan Mia. Ia tulus menyayangi Mia. Meski hubungannya dengan Mia berawal dari keterbatasan perasaan, keterpaksaan, pada akhirnya ia benar-benar menyayangi Mia. Pernah terlintas di kepalanya untuk menjalani hubungan yang lebih serius dengan Mia, yaitu pernikahan. Karena itu tidak pernah terpikirkan di pikiran Banyu untuk memikirkan kata-kata yang pantas untuk mengakhiri hubungannya dengan Mia, karena itu memang tidak ada dalam rencananya.
Tapi hari ini terbukti. Kata putus terlontar dari mulutnya, dan itu memberatkannya.
"Aku gak bisa jelasin apa-apa. Aku cuma bisa bilang kalau kita harus putus."
Banyu memutar tubuh, hendak meninggalkan Mia, tapi perkataan Mia berhasil menghentikannya di langkah pertama.
"Kamu minta putus sama aku dan kamu gak ngasih tahu alasannya kenapa. Apa menurut kamu ada cara putus yang lebih buruk dari ini? Selama ini kita baik-baik aja, aku selalu berusaha jadi pacar yang baik buat kamu, tapi tiba-tiba sekarang kamu minta putus tanpa menjelaskan ke aku. Di mana letak kesalahan aku? Apa ini adil buat aku?"
Justru karena Mia tidak memiliki kesalahan apa pun, makanya Banyu tidak bisa menjelaskan lebih banyak. Ia berharap Mia bisa mengerti dan mau bekerja sama, tapi nyatanya tidak semudah itu.
"Kamu pikir aku bakal oke aja gitu? Kamu pikir aku bakal mengiyakan aja saat kamu minta putus? Kalau kamu gak menjelaskan alasannya kenapa, jangankan putus, aku bahkan gak akan ngebiarin kamu pergi. Keputusan yang diambil secara sepihak gak akan ngehasilin apa-apa."
Banyu tahu itu. Meskipun pada dasarnya Mia adalah gadis yang terlihat lemah lembut dan sangat pengertian, terdapat sikap keras kepala yang tidak bisa ditoleransi dalam diri Mia. Terbukti dari seberapa keras usaha Mia untuk mendapatkannya dulu. Banyu masih mengingatnya dengan jelas.
Untuk menghindari kesalahpahaman, Banyu akhirnya memilih memutar tubuhnya kembali. Menatap Mia yang memasang wajah datar.
"Aku ngehamilin perempuan lain," kata Banyu tenang.
Hanya empat kata, dan itu berhasil menghancurkan hati Mia dalam satu kali hentakan. Mia tidak ingin percaya, tapi Banyu mengatakannya dengan amat sangat mantap dan tenang. Tidak ada kebohongan di mata Banyu, hanya keseriusan yang terlihat begitu kentara. Seserius Banyu yang meminta putus darinya.
Air mata Mia tumpah lagi. Ia menggigit bibirnya keras. Beberapa detik sebelum isakan akan terdengar menyayat untuk Banyu. Mia menutupi mulutnya dengan kedua tangan. Sebaik mungkin menahan diri agar tidak berteriak histeris.
"Aku tahu aku salah, tapi aku gak bisa berbuat apa-apa. Aku gak ada pilihan lain selain bertanggung jawab atas perbuatan aku dan ninggalin kamu." Banyu menatap Mia, tapi Mia memilih untuk memutus kontak mata. "Aku tahu ini gak adil buat kamu. Aku minta maaf, Mia. Aku minta maaf."
Sesering apa pun Banyu mengatakannya atau setulus apa pun kata maafnya, ia sadar bahwa Mia tidak akan mudah untuk memaafkannya dan menerima keadaan sekarang. Tapi tidak ada lagi yang bisa Banyu lakukan selain meminta maaf untuk segalanya. Itu memang tidak akan merubah apa pun, tapi setidaknya bisa memberitahu pada Mia bahwa dirinya sangat menyesal atas apa yang terjadi.
"Siapa perempuan itu?" tanya Mia memberanikan diri menatap Banyu. Tapi Banyu tidak menjawab.
Mia mendekati Banyu dan menarik kemeja Banyu. Bertanya, "Kasih tahu aku siapa perempuan itu?" Lalu, seolah tahu siapa yang dimaksud Banyu, Mia memukuli d**a Banyu.
"Jangan bilang kalau orang itu Stella?"
Mellihat Banyu yang mengalihkan pandangan darinya, Mia tahu bahwa dugaannya benar dan Banyu tidak ingin mengakui hal itu.
Tubuhnya melemas seketika. Mia jatuh terduduk di depan Banyu. Tidak kuasa menahan sesak yang menggerogoti hatinya. Mia tidak peduli lagi. Ia menangis sejadi-jadinya dengan kedua tangan meremas d**a.
"Maaf, Mia...."
Banyu ikut berjongkok. Untuk sesaat ia hanya bisa mengusapi kepala Mia, sebelum akhirnya menarik kepala gadis itu dan mencium keningnya untuk yang terakhir kali. Cukup lama sampai bulir bening menetes dari mata Banyu. Menjadi saksi bahwa tidak hanya Mia yang terluka, tapi dirinya juga.
Lalu, Banyu segera berdiri. Meninggalkan Mia yang masih terisak dengan posisi terduduk di aspal. Menjadi laki-laki paling jahat malam itu.