Definition of Love; 28

1990 Kata
Banyu menatap Stella yang pergi tanpa permisi. Gadis itu nampak putus asa. Menundukkan wajah dengan bahu bergetar. Berulang kali Stella mengusap basah di pipinya. Dan itu sangat menyiksa Banyu. Ia balik menatap Aldo yang juga sedang memperhatikan langkah Stella. Sekali lagi Banyu menarik baju Aldo. Menatap Aldo bengis. "Lo itu bukan laki-laki, lo gak bisa disebut sebagai laki-laki. Jangankan berani bertanggung-jawab atas apa yang udah lakuin, lo bahkan gak mau ngakuin apa kesalahan lo itu. Inget pesan gue baik-baik!" Banyu menunjuk wajah Aldo, " sekarang lo mungkin bisa berlaku seenak jidat lo, tapi gue jamin suatu hari nanti lo pasti ngerasain apa itu yang namanya karma. Apa yang udah lo lakuin hari ini terhadap Stella, pasti bakal balik ke diri lo sendiri." "Lo ngomong apa, b*****t?!" seru Aldo melepaskan cengkeraman Banyu di bajunya. Kesal mendengar ancaman serta ceramahan tidak masuk akal dari seseorang yang bahkan tidak dikenalnya. "Gue cuma ngomong kenyataan. Hari ini mungkin lo gak mau bertanggung jawab, tapi mungkin aja nanti lo bakal jadi orang yang paling ditinggalkan. Itu disebut menuai apa yang udah lo tanam." "Berani-beraninya lo nyumpahin gue kayak gitu." "Gue gak nyumpahin!" tukas Banyu cepat, "gue cuma bantu nyadarin lo. Otak lo itu kotor, perlu dibersihin. Karena sekarang lo nolak permintaan Stella, jangan harap ada hari lain, kalau sampai nanti lo berani nemuin Stella, lo bakal berurusan sama gue secara langsung. Inget itu, Berengsek!" Banyu segera pergi dari sana setelahnya sempat mendorong tubuh Aldo kasar. Menyusul Stella yang sudah berdiri di depan mobilnya. Gadis itu menangis sesenggukan. Wajahnya basah, dan terlihat sangat kecewa. Andainya semua rasa sakit Stella bisa diambil alih olehnya, Banyu pasti sudah mengambil itu. Memindahkan setiap tangis, rasa sedih, kecewa, kesal, putus asa dan semua yang dirasakan Stella pada dirinya. Stella sudah banyak mengalami hari buruk dalam hidupnya. Ia tahu perlakuan Stella tidak bisa dibenarkan. Bagaimanapun apa yang terjadi bukan hanya kesalahan Aldo seorang, Stella juga. Tapi bukan berarti Stella pantas mendapatkan rasa sakitnya seorang diri. Itu tidak adil namanya. Sebagai seseorang yang ikut andil, andai saja Aldo memiliki sedikit saja perasaan, harusnya Aldo mau bertanggung-jawab. Menanggung semuanya bersama-sama. Tapi Aldo malah.... Ahh, sudahlah. "Kita pulang sekarang. Nanti kita pikirin cara lain buat masalah ini," kata Banyu. Stella hanya diam. Banyu memutuskan untuk menuntun Stella ke kursinya. Membukakan pintu mobil dan menyusul duduk di kursi kemudi. Karena Stella tak kunjung bergerak, Banyu akhirnya memasangkan sabuk pengaman yang diabaikan Stella. Mulai menjalankan mobilnya untuk pergi dari rumah Aldo. Keadaannya berubah kacau. Banyu kira setelah datang dan berbicara, Aldo akan mendengarkan dan mau bertanggung-jawab karena itu adalah hasil dari perbuatannya, tapi ternyata tidak semudah itu. Terlepas dari hubungan Stella dan Aldo yang sudah lama berakhir, Aldo hanyalah laki-laki berengsek yang menjijikkan. Itulah kenapa sangat penting bagi seorang perempuan menjaga kehormatannya. Jika sedikit saja kecolongan, yang paling menanggung malunya adalah perempuan itu sendiri. Yang paling merasakan penderitaannya adalah perempuan itu sendiri. Meski pada dasarnya dua orang yang bersalah, yang paling pertama disalahkan adalah perempuan karena tidak pandai menjaga diri. *** Tiga puluh menit berlalu. Banyu sudah sampai di depan rumah Stella. Gadis itu masih diam di kursinya. Tidak bergerak dan tidak berbicara sejak pulang dari rumah Aldo tadi. Hanya terdengar isak tangis yang sepanjang perjalanan menemani Banyu menyetir mobilnya. Mungkin Stella sedang berusaha mencari tahu untuk masalah yang tengah dihadapinya, mungkin juga sedang meratapi apa yang dikatakan Aldo, atau justru tidak sedang memikirkan apa-apa dan hanya memilih diam sejak tadi. Banyu pun tidak tahu harus bersikap bagaimana. Ia tidak mengerti harus berkata apa atau harus dengan cara apa untuk menghibur Stella. Rasanya membosankan sepanjang perjalanan hanya bisa diam, tapi ia juga tahu bahwa bukan saat yang tepat untuk memaksa Stella berbicara. Sekarang pun Banyu masih memilih diam. Sesekali ia melirik ke arah Stella yang menatap lurus ke depan dengan kedua tangan terlipat di depan d**a. Memeluk dirinya sendiri. Sejak tadi Stella hanya terisak. Pipinya sudah basah dengan air mata. Bukannya Banyu tidak ingin menghapusnya, hanya saja ia takut mengganggu. "Gue harus gimana, Banyu?" Pertanyaan itu terdengar dari mulut Stella. Suaranya lemah. Saat Banyu menoleh ke kursi di mana Stella duduk, ia melihat Stella sedang menatapnya. Banyu tidak mungkin berkata bahwa dirinya juga tidak tahu harus bagaimana. Ia tidak bisa mengatakan sesuatu yang justru malah akan memperburuk keadaan. Stella membutuhkan penenang, dan kata-kata semacam itu sayangnya sedang tidak muncul di pikiran Banyu. "Mendingan sekarang kamu turun dulu, aku anter masuk ke rumah kamu supaya kamu bisa minum obat terus istirahat." Stella menggeleng pelan. "Aku gak mau pulang, aku gak mau istirahat atau ngelakuin apa pun yang kamu bilang barusan. Aku gak bisa," ujarnya. "Tolong jangan keras kepala, Stella. Kamu itu lagi hamil, kamu harus jaga janin yang ada di dalam kandungan kamu. Tolong jangan egois." Air mata mengalir semakin deras dari mata Stella. Membanjiri pipinya dan berakhir membasahi bagian leher gadis itu. "Kenapa aku harus jaga janin ini saat aku sendiri gak menginginkan dia? Aku masih muda, aku gak mau punya anak, aku gak mau anak ini lahir dari rahim aku. Aku gak mau!" Stella mulai lagi. Perkataannya berhasil membuat Banyu mengusap wajahnya frustrasi. "Berapa kali aku harus bilang ke kamu kalau kamu gak boleh ngomong yang aneh-aneh? Dia gak salah, Stella. Tolong jangan bersikap seolah-olah anak itu yang paling bersalah di sini sampai kamu sama sekali gak menginginkan dia." "Nyatanya aku emang gak mau anak ini." "Kalau gitu kenapa kamu lakuin hal kotor itu sama Aldo?" tanya Banyu datar. Stella menatapnya setengah percaya. Tidak menyangka bahwa Banyu akan mengatakan hal setenang itu, tapi justru terdengar begitu menyakitkan untuknya. "Kalau kamu gak pernah siap sama resiko yang satu ini, yang seharusnya udah kamu tahu sebelum kamu tidur sama Aldo, seharusnya kamu mikir dua kali sebelum lakuin hal itu. Mau gak mau, suka gak suka, kalau udah kayak gini kamu harus nerima anak kamu. Karena di sini bukan anak itu yang salah, tapi kamu." "Bukan aku! Aldo yang salah!" seru Stella marah. "Kamu Stella!" balas Banyu tak kalah marah, "kamu udah dewasa. Kamu pasti tahu kalau hubungan intim antara dua orang, bukan gak mungkin ada saat-saat kayak gini. Di mana kamu harus menerima fakta bahwa kamu berakhir mengandung anak dari hubungan tersebut. Itu bukan sesuatu yang bisa kamu elak, Stella." "Tapi Aldo yang—" "Berhenti nyalain orang lain, Stella. Kamu sendiri, coba kamu ingat-ingat lagi berapa banyak laki-laki yang udah kamu tiduri sampai akhirnya berakhir seperti ini?" Stella diam. Banyu tersentak saat menyadari pertanyaannya sendiri. Ia menggigit bibir bawahnya keras. Merasa bodoh karena sudah mengatakan hal sekejam itu pada Stella. Namun, Stella justru tersenyum tak lama kemudian. Bukan jenis senyuman yang memaklumi apa yang baru saja dikatakan oleh Banyu, melainkan seulas senyum tipis yang mampu membunuh Banyu hanya dengan melihatnya. "Banyak. Udah terlalu banyak laki-laki yang aku tiduri. Terlalu banyak sampai aku sendiri lupa siapa aja mereka, siapa nama mereka, atau gimana wajah mereka. Kamu bener, Aldo juga bener, aku cuma pelacur." Demi Tuhan, rasanya menyakitkan sekali saat Stella mengatakan hal tersebut. "Gak gitu maksud aku, Stella. Maaf, aku—" "Gak, pa-pa. Itu bener, kok. Makasih udah nganter aku pulang. Aku masuk ke rumah dulu." Dan, ya. Stella berlalu begitu saja. Menahan sesak di dadanya. Ia tidak pernah bermasalah saat orang lain mengungkit masa lalunya, menyebutkan kekurangannya, bagaimana kelakuan kotornya, atau membeberkan tentang siapa dirinya sebenarnya. Selama itu benar, ia tidak akan tersinggung. Tapi lain cerita jika yang mengatakannya adalah Banyu. Laki-laki yang paling berarti dalam hidupnya setelah kedua orang tuanya. Rasanya menyakitkan saat Banyu benar-benar beranggapan demikian. Berkali lipat dibandingkan jika orang lain yang mengatakannya. Meski itu benar adanya, ia masih berharap bahwa Banyu tidak menganggap dirinya seperti itu. Sampai di dekat gerbang, Banyu kembali memanggil namanya dan Stella terpaksa menghentikan langkahnya untuk memutar tubuh agar berhadapan dengan Banyu. "Maaf, Stella. Aku bener-bener gak ada maksud buat ngomong kayak gitu. Aku bodoh karena ngomong gitu. Demi apa pun, aku gak pernah nganggap kamu demikian, Stella. Aku berani sumpah." Banyu berjalan mendekati Stella. Berhenti satu langkah di depannya. "Gak ada yang perlu dimaafin. Apa yang kamu bilang itu benar adanya, aku aja yang gak mau nerima kalau itu keluar dari mulut kamu." "Stella, please…." "Aku masuk dulu." Stella kembali memutar tubuh, hendak melanjutkan langkahnya, tapi Banyu dengan cepat menahan tangannya. "Kita belum selesai ngomong. Gimana sama bayi itu? Apa yang bakal kamu lakuin? Jangan bilang kamu serius mau gugurin bayi itu?" "Kenapa?" tanya Stella berteriak. Ia menyentakkan tangan Banyu yang mencekal pergelangan tangannya, "kenapa gak boleh? Bukannya kamu sendiri yang bilang kalau anak yang ada di kandungan aku ini itu anak aku, darah daging aku, jadi terserah aku dong mau aku apain anak ini. Kalau Aldo gak mau tanggung jawab, aku cuma perlu bunuh anaknya ini dan masalah selesai." "Stella!" bentak Banyu murka. Ia memandang Stella tidak habis pikir. Bertanya-tanya Di mana letak hati nurani Stella? Sejak kemarin ia sudah lelah untuk menasihati Stella dan memberitahu bahwa anak itu tidak ada sangkut-pautnya dengan masalah yang sedang dihadapi Stella. Tapi Stella tetap tidak mengerti dan bersikeras menggugurkan kandungannya. "Terus maksud kamu aku harus kayak gimana? Biarin anak ini tumbuh di dalam rahim aku tanpa seorang ayah? Dan aku harus hidup sembilan bulan tanpa seorang suami? Itu maksud kamu jalan terbaiknya? Coba kamu pikir, kalau aku gak gugurin kandungan aku ini, gimana perasaan papaku kalau sampai dia tahu anaknya hamil tanpa seorang ayah? Kalaupun papaku berusaha minta Aldo buat tanggung jawab, fakta yang bakal Aldo beberin ke Papa aku tentang aku yang udah tidur sama banyak cowok malah bakal bikin Papa stress, Banyu!" Banyu kehabisan kata-kata. Apa yang dikatakan Stella menamparnya. Ia tidak tahu harus memberi saran apa lagi. "Aldo itu bukan orang sembarangan. Dia bisa memanipulasi segala hal kalau dia mau. Sekarang mungkin kita bisa ketemu sama dia di rumah itu, tapi bukan gak mungkin kalau kedua kalinya dia gak akan ada di sana. Dia bukan cuma pinter berkelit, tapi juga bisa ngapus bukti. Sebatas tes DNA bisa dengan mudahnya dia manipulasi. Kalau dia udah bilang enggak, maka artinya enggak." "Tapi bukan berarti kamu bisa—" "Kalau ayahnya aja gak mau nerima anaknya, kenapa aku harus nerima anak ini? Aku lebih baik mati, daripada harus membesarkan anak ini seorang diri." "Stella…," panggil Banyu serius. Stella menggeleng. Ia jatuh terduduk di depan pagar. Menangis terisak karena tidak tahu harus bagaimana lagi. "Cuma ini satu-satunya cara, aku gak tahu lagi harus gimana," kata Stella. Banyu tidak tahan melihat Stella yang begitu depresi sejak kemarin, ia tidak tega, melihat orang yang disayanginya terlihat begitu terpukul di depannya, terasa seperti sebuah batu besar menghantam dadanya. Sakit sekali. Karena tidak tahu harus mencari jalan keluar yang bagaimana lagi, Banyu akhirnya mengatakan satu kalimat. "Aku bakal tanggung jawab." Satu kalimat yang berhasil menghentikan tangis Stella. Gadis itu mendongakkan kepalanya. Menatap Banyu yang berdiri menjulang di depannya. Laki-laki sempurna itu menyusul untuk berjongkok di depan Stella. Menatap Stella serius. "Aku yang bakal tanggung jawab," kata Banyu sekali lagi. Terdengar mantap. Tidak ada keraguan sama sekali pada nada bicaranya. "Kenapa kamu harus tanggung jawab? Ini bukan anak kamu." "Karena Aldo gak mau tanggung jawab, karena kamu mau gugurin bayi itu, karena aku gak bisa lihat kamu sedepresi ini. Aku bakal gantiin Aldo buat jadi ayah dan suami yang baik. Jangan gugurin anak ini, aku bakal ambil alih tanggung jawab dan nikahin kamu." "Terus gimana sama Mia?" tanya Stella khawatir. Wajah itu terlintas di pikiran Stella. Bagaimanapun ia sudah berjanji untuk tidak merebut Banyu dari Mia. "Kamu gak perlu khawatir. Aku yang bakal urus itu. Semuanya bakal baik-baik aja. Percaya sama aku." Stella menangis sejadi-jadinya. Ia melompat ke pelukan Banyu. Memeluk Banyu erat. Dan Banyu membalasnya dengan tangan bergetar. Bersamaan dengan air mata yang jatuh ke pipinya. Di pelukan Stella, Banyu menahan gemuruh di hatinya. Sebuah lubang besar terbentuk di sana. Mantapnya perkataan yang ia lontarkan untuk Stella, berlainan dengan hatinya yang porak poranda. Sebuah jalan keluar hadir untuk Stella, menjadi penutup harapan bagi Banyu karena berhasil menghancurkan rencana lamanya. Satu kalimat pertama yang Banyu ucapkan tentang pertanggung-jawabannya, sama artinya Banyu mematahkan satu hati yang sudah ia janjikan sebuah kebahagiaan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN