Kalau tidak berani bertanggungjawab, jangan berani-beraninya melakukan sesuatu yang berdosa.
-Banyu Arisatya
***
Banyu dan Stella berdiri di depan sebuah rumah mewah bercat putih. Tidak ada pagar di bagian depan rumah tersebut. Memudahkan Banyu dan Stella untuk mengetuk pintu jika ingin bertamu. Tapi hal itu belum mereka lakukan. Keduanya masih berdiri diam di jalan berasal di depan rumah.
Waktu menunjukan pukul delapan malam. Karena hanya senggang di waktu malam, terpaksa Banyu harus mengantar Stella setelah dirinya pulang bekerja. Awalnya Stella bersikukuh ingin pergi di siang hari sendirian, gadis itu mengatakan bahwa dirinya bisa bertemu Aldo sendiri, tapi Banyu melarangnya. Memaksa Stella agar mau menunggu dirinya.
"Aldo itu penerus perusahaan keluarga papanya. Sekarang dia juga kerja di sana. Perusahaan papanya bukan perusahaan kecil. Jadi udah pasti Aldo harus ngejaga nama baik keluarga papanya. Aku gak yakin kalau dia mau bertanggung jawab." Stella berbicara dengan tatapan lurus menatap rumah Aldo.
Banyu meliriknya lewat ekor mata. Ia menggerakan tangannya untuk menyentuh jemaat Stella. Rupanya gadis itu gemetar. Tangannya bahkan berkeringat.
Stella memanglah gadis yang manja, tapi bukan berarti Stella merupakan gadis penakut. Satu-satunya hal yang ditakuti oleh Stella hanyalah hujan. selebihnya gadis itu bisa dibilang tidak pernah takut pada apa pun di dunia ini.
Banyu ingat, setiap kali menonton film horor, Stella tidak pernah terkejut dengan scene jumpscare, dan setiap kali hantunya muncul Stella juga tidak takut. Stella bahkan seringkali mengomentari bahwa penampilan hantu dalam film yang ditontonnya sangat tidak masuk akal dan tidak memberikan kesan mengerikan sama sekali. Dan setiap menemukan video pendek di sosial media yang memperlihatkan kengerian dari hewan buas seperti singa, harimau, beruang, dan hewan buas lainnya, Stella justru memberitahu bahwa dirinya ingin memelihara salah satu hewan tersebut.
Baru kali ini setelah terlihat takut dengan sesuatu yang normal. Gemetar di tangannya menunjukkan bahwa Stella takut dengan orang yang ada di balik pintu yang berapa meter di depannya. Atau lebih tepatnya takut dengan reaksi yang akan diberikan Aldo.
"Gak ada yang perlu ditakutin. Ada aku di sini. Aku sendiri yang bakal paksa dia buat tanggung jawab. Kalau dia gak mau, aku juga yang akan ngomong sama kedua orang tuanya."
Stella langsung menatap Banyu. "Mama papanya gak tinggal di sini. Ini rumah pribadi Aldo, itulah kenapa aku sering nginep di sini dulunya," jelasnya.
"Ya, justru itu bagus. Kita bisa lebih leluasa ngomong sama Aldo tanpa campur tangan orang tuanya."
"Tapi kalau dia nolak bertanggungjawab gimana?" tanya Stella khawatir.
"Bukannya kemarin kamu yang bersikeras bilang kalau dia harus bertanggungjawab? Itu emang harus. Dan kalau dia gak mau tanggung jawab, aku gak akan sungkan angkat tanganku buat mukul wajahnya."
"Banyu!" tegur Stella halus.
"Aku serius, Stella. Ini masalah besar. Kalau Aldo gak bisa diajak bicara baik-baik, maka aku gak akan sungkan buat pakai cara kekerasan. Seorang laki-laki harus berani bertanggung jawab atas apa yang udah dia lakuin. Dan kalau Aldo gak bisa ngelakuin hal itu aku bakal kasih Aldo pelajaran gimana cara jadi laki-laki sebenarnya."
Stella mengangguk mengerti. Ia menggenggam tangan Banyu sambil berjalan pelan menuju pintu utama rumah Aldo. Sampai di depan pintu, Stella menghela napas panjang kemudian mengembuskannya perlahan.
Banyu bertanya, "Jadi sekarang Aldo sendirian di rumah ini?"
"Pembantunya gak netap. Dia dateng pagi-pagi, terus pulang setelah nyiapin makan malam."
"Em, oke. Artinya kemungkinan besar dia sendirian di rumah ini."
Berdiam cukup lama, akhirnya Stella memberanikan diri untuk mengetuk pintu bercat putih tersebut. Beberapa kali karena tak kunjung terdengar suara langkah kaki dari dalam. Di percobaan ke lima, barulah pintu bergerak terbuka. Menampilkan seorang laki-laki yang sudah sangat dikenal Stella.
Laki-laki itu mengenakan kaus oblong berwarna putih dengan jeans selutut sebagai bawahannya. Sementara di kakinya terdapat sandal jepit berwarna hitam sebagai alas kaki.
Aldo menatap Stella bingung. Ia bersandar di palang pintu sambil memperhatikan Stella dari atas ke bawah. Sebuah seringaian terukir di bibirnya. Ditujukan untuk Stella sesaat sebelum Aldo memilih untuk mengalihkan pandangannya pada Banyu.
"Ngapain lo di sini?" tanya Aldo melipat kedua tangannya di depan d**a.
Stella menyahut, "Kita harus bicara." Terlalu cepat sampai membuat Aldo tertawa pelan.
"Gak ada lagi yang perlu dibicarain di antara kita. Kita berdua udah putus, udah gak punya hubungan apa-apa lagi, dan lebih tepatnya lo sendiri yang minta putus dari gue."
Itu benar, dan sekarang Stella benar-benar menyesali perbuatannya. Kalau saja ia bisa tahan sedikit dengan sifat Aldo, keadaannya tidak akan serumit sekarang. Setidaknya jika Aldo masih berstatus sebagai kekasihnya, Aldo tidak akan punya kesempatan untuk berkelit.
Aldo sebenarnya tidak bisa dibilang buruk. Terlepas dari kepribadiannya yang keras kepala, dan selalu berbuat semaunya, Aldo selalu memberikan apa pun yang diminta oleh Stella. Tidak peduli berapa banyak uang yang harus dikeluarkan olehnya, jika itu adalah sesuatu yang diminta Stella, maka Aldo akan memberikannya.
"Bisa kita bicara di dalam?" tanya Banyu tiba-tiba.
Stella dan Aldo menatap Banyu bersamaan. Aldo berdecih sinis. "Maaf, gue gak ngundang orang asing masuk ke dalam rumah gue," sarkasnya ditujukan untuk Banyu.
"Tapi Stella bukan orang asing buat lo."
"Tapi lo orang asing buat gue," balas Aldo.
Banyu terdiam. Perkataan Aldo benar adanya. Satu-satunya orang asing yang ada di sini adalah Banyu sendiri. Masalah yang sedang dihadapi Stella adalah urusan Stella dan Aldo. Banyu sebenarnya tidak berhak untuk ikut campur, tapi tentu ia tidak bisa diam saja karena ada sangkut-pautnya dengan Stella.
"Gue hamil," kata Stella tiba-tiba.
Sekarang, giliran Banyu dan Aldo yang serempak menatap Stella. Aldo tertawa mendengar perkataan Stella. Sementara Banyu tidak percaya bahwa Stella akan langsung membicarakannya tanpa basa-basi.
"Lo hamil dan lo malah lari ke rumah gue? Kenapa gak lo cari aja siapa bapaknya dan minta buat tanggung jawab? Kenapa malah lari ke gue? Emang gue siapanya anak itu?"
"Ini anak lo, Aldo!" seru Stella setengah berteriak.
Aldo terkekeh. Ia menggerakan kakinya selangkah mendekati Stella. Memasukkan kedua tangannya di saku celana.
"Stella, dengerin gue. Kalau lo belum sadar sama apa yang sebenarnya terjadi, gue bakal bantu jelasin." Aldo menunjuk wajah Stella, "lo sama gue itu udah putus." Gantian menunjuk wajahnya lalu menurunkannya.
"Kita udah putus cukup lama. Dan sekarang tiba-tiba, gak ada angin gak ada hujan, lo datang ke rumah gue dan bilang kalau lo hamil anak gue? Sebenarnya permainan macam apa yang lagi lo mainan?" sambung Aldo diselingi dengkusan di akhir kalimatnya.
Stella tidak terima. Ia menatap Aldo bengis. "Gue gak bohong. Anak yang ada di kandungan gue ini itu anak lo, Aldo!" Lantas berteriak dengan kerasnya. Tidak ingin menunda-nunda lagi. Ia bukanlah orang yang pandai menahan amarahnya, dan Aldo baru saja mengatakan bahwa dirinya adalah pembohong secara tidak langsung.
"Terus maksud lo gue harus percaya sama omongan lo yang satu ini?" Aldo menggeleng sambil tertawa, "lucu aja rasanya. Gue tahu sejak gue masih pacaran sama lo. Lo itu bukan cewek baik-baik. Lo bisa tidur sama siapa pun yang lo mau. Dan bukan gak mungkin kalau anak yang sekarang lo kandung itu anak dari orang lain. Karena emang bukan cuma gue yang tidur sama lo."
Aldo melirik Banyu sekilas. Banyu balas menatapnya. Tahu apa yang ada di dalam pikiran Aldo.
"Dan mungkin aja itu anak dari cowok yang sekarang lagi sama lo." Dan keluarlah dugaan itu dari mulut Aldo.
Sebenarnya wajar saja Aldo tidak percaya dengan apa yang Stella katakan. Seperti apa yang Stella beritahukan kepada Banyu, Stella terakhir bertemu dengan Aldo adalah saat Stella pertama kali bertemu dengan Banyu. Dan itu artinya sudah lebih dari dua bulan lalu. Sangat wajar jika Aldo tidak percaya karena Stella datang tiba-tiba setelah sekian lama menghilang dan memutuskan untuk pergi.
Siapa pun mungkin akan memiliki dugaan yang sama seperti Aldo. Tapi bukan berarti Aldo bisa bicara seenaknya jidatnya. Mengatakan bahwa Stela bisa tidur dengan siapa pun yang Stella mau itu adalah kalimat terkejam yang pernah Banyu dengar. Studi benar-benar marah.
"Stella gak bohong. Anak yang dikandung Stella itu anak lo," kata Banyu membela Stella yang hanya bisa diam mendengar perkataan aldo sebelumnya.
"Lo gak kenal siapa Stella. Dia itu cewek yang bisa tidur sama siapa pun yang dia mau. Dia itu p*****r!"
Bola mata Banyu membesar. Ia menarik kerah baju Aldo dan langsung memukulnya. Ia tidak terima Stella disamakan dengan sebutan kotor seperti itu.
"Jaga omongan lo, Berengsek!" seru Banyu murka.
Aldo kembali menegakkan tubuhnya setelah sempat terhuyung ke belakang. Ibu jari tangan kanannya menyentuh bagian sudut bibirnya yang ternyata berdarah karena pukulan Banyu.
"Gue cuma bicara kebenaran. Nyatanya emang kayak gitu, Stella bukan cuma tidur sama gue, tapi juga sama cowok lain di luar sana. Jadi wajar aja kalau gue gak percaya kalau anak yang ada di kandungannya itu bukan anak gue."
"Tapi terakhir kali dia tidur itu sama lo, Barengsek!"
Banyu selalu tenang di segala situasi. Ia pintar menjaga emosinya agar tetap stabil. Sebesar apa pun masalahnya, Banyu tidak pernah menggunakan kekerasan. Baru kali ini, Stella melihat Banyu berani menarik kerah baju seseorang dan memukul orang itu. Beberapa kali Banyu mengeluarkan kata-kata kasar yang tidak pernah didengarnya dari mulut Banyu.
"Siapa yang tahu? Mungkin itu cuma akal-akalan dia supaya bisa bikin gue tanggung jawab soal anaknya."
Sekelebat bayangan tentang obrolan pertamanya dengan Stella melintas di kepala Banyu. Saat itu ia dan Stella sedang makan malam sebagai ucapan terima kasih dari Stella karena telah mengantarnya pulang. Stella bercerita sedikit tentang masa lalunya. Tentang ibunya yang sudah meninggal, tentang ayahnya yang menikah lagi dengan perempuan muda, ada juga tentang kejadian di mana Stella harus dikeluarkan dari kampusnya.
Yang begitu melekat di pikiran Banyu adalah alasan tentang kenapa Stella harus dikeluarkan dari kampusnya. Saat itu Stella menjelaskan bahwa alasannya adalah karena Stella berhubungan seks dengan seorang laki-laki di area kampus.
Untuk sesaat Banyu kepikiran dengan perkataan Aldo yang mengatakan bahwa Stella mungkin saja sekarang sedang mengada-ada untuk meminta pertanggungjawaban dari Aldo.
"Gue bakal buktiin kalau anak yang ada di kandungan gue itu anak lo. Gue bakal lakuin tes DNA buat nyari bukti kuat supaya lo percaya dan mau tanggung jawab."
Banyu tidak tahu seberapa cepat perkataan Stella berhasil menarik kepalanya untuk menatap gadis itu.
Seketika Banyu merasa seperti orang paling t***l sedunia. Aldo mengatakan bahwa dirinya sama sekali tidak mengenal Stella dan ia sempat mempercayai hal itu untuk beberapa detik. Padahal kenyataannya justru ialah yang paling mengenal Stella melebihi Aldo. Ia yang paling tahu bahwa Stella tidak akan pernah berbohong mengenai dirinya sendiri. Seburuk apa pun keadaannya, atau seburuk apa pun yang sudah dilakukannya, Stella akan selalu berkata jujur.
Banyu merasa bersalah karena sempat meragukan hal itu. Ia menatap Stella yang sedang memandangi Aldo yang berdiri di depannya. Gadis itu nampak ingin menangis, tapi ditahan olehnya.
"Please, Stella." Aldo kembali berbicara, "lo tahu siapa gue dan siapa keluarga gue. Gue bakal dipenggal sama bokap gue kalau sampai dia tahu gue ngehamilin anak orang. Meskipun lo lakuin tes DNA dan benar terbukti kalau anak itu anak gue, gue tetep gak akan mau tanggung jawab, karena itu bakal bikin nama keluarga gue tercemar."
Berengsek! Stella mengepalkan kedua tangannya. Aldo benar-benar manusia paling berengsek yang dikenalnya.
"Lo itu cantik. Mungkin jadi cewek paling menawan yang pernah gue kenal. Gue gak akan pernah sungkan buat nerima lo balik ke pelukan gue. Tapi dengan satu syarat." Aldo menyeringai, "Tanpa anak itu," sambungnya tenang.
Air mata Stella luruh begitu saja mendengar kalimat terakhir dari Aldo. Lantas apa bedanya dengan pilihan yang ia ambil sebelum memilih untuk bertemu dengan Aldo?
"Kalau lo mau balik ke pelukan gue, gue bakal bilang ke orang tua gue buat nikahin lo. Gue bakal lamar lo dengan cara yang baik dan mahar yang tentunya gak sedikit. Kita bisa hidup berdua dengan tenang dan mewah. Tapi lo harus gugurin anak itu dulu."
Banyu kehabisan kesabaran. Sekarang ia benar-benar merasa muak melihat Aldo. Ia sangat murka sampai rasanya ingin membunuh seseorang. Tapi itu terlalu kejam. Sekali lagi Banyu menarik kerah baju Aldo dan memukul wajah Aldo. Bolak balik kanan kiri sampai napasnya memburu dan wajah Aldo lebam karena pukulannya yang membabi buta.
"Kalau lo gak tau caranya bertanggungjawab, jangan pernah berani-beraninya ngelakuin sesuatu yang berdosa. Dasar pengecut!" Banyu berteriak di depan wajah Aldo setelah menghentikan pukulannya.
Aldo tidak marah. Setelah Banyu menjauhkan diri, ia bahkan menyeringai geli.
"Ayolah, gue itu masih muda, gue belum siap jadi seorang ayah di usia gue yang masih semuda ini." Aldo mengalihkan pandangannya dari Banyu ke Stella, "dan lo. Kalau lo emang benar-benar mau minta pertanggung-jawaban dari gue, lo salah. Lo bisa hidup enak sama gue, gue janji bakal kasih apa pun yang lo mau, tapi bukan berarti gue mau jadi seorang ayah. Lo harus singkirin anak itu kalau mau jadi istri gue. Kita bisa hidup tanpa seorang anak."
Stella menangis sejadi-jadinya. Kalau saja ada pilihan lain, jangankan menikah dengan Aldo, ia bahkan tidak ingin melihat wajah menjijikan itu. Kalau saja ada cara lain agar dirinya bisa mengatasi masalah yang tengah dihadapinya, ia tidak akan mengemis pertanggungjawaban dari Aldo.
Aldo hanyalah laki-laki berengsek yang hanya tahu cara bersenang-senang. Dia tidak mengerti arti tanggung jawab apalagi ketulusan. Apa yang dilakukannya hanya berdasarkan nafsu dan keinginan belaka.
"Gue ke sini cuma minta pertanggung-jawaban lo, tapi kalau lo perlakuin gue serendah itu…." Stella memandang Aldo jijik, "gue bahkan gak sudi hidup sama lo," ujarnya muak.
Stella segera berbalik. Berjalan menjauhi rumah Aldo. Membiarkan air mata membasahi pipinya, bersamaan dengan rasa sesak yang memenuhi rongga dadanya.