Definition of Love; 26

2124 Kata
Banyu tidak tahu seberapa cepat dirinya bangun dari posisi duduknya saat melihat pintu ruangan di mana Stella berada terbuka. Seorang perempuan dengan pakaian khas dokter keluar dari sana. Tersenyum saat melihatnya.  Banyu meneguk air liur. Bertanya, "Gimana keadaan Stella, Dok?" Dengan raut wajah khawatir.  "Ngomong-ngomong,  bisa kita bicara di ruangan saya saja?" Dokter itu bertanya.  Banyu mengangguk cepat. "Baiklah, silakan ikuti saya." Perempuan itu berjalan lebih dulu. Banyu mengikutinya. Beberapa suster menyapa dokter tersebut di tengah perjalanan menuju ruangannya. Tidak terlalu jauh. Banyu sampai dan dipersilakan masuk ke sebuah ruangan.  Selepas duduk di kursi kerjanya, perempuan itu meminta Banyu duduk di kursi yang ada di seberangnya. Sebuah meja dengan beberapa barang di atasnya yang terlihat familier menjadi pemisah antara keduanya.  "Tidak perlu khawatir. Dia baik-baik saja. Dia pingsan karena kelelahan. Nanti akan saya resepkan obat dan vitamin agar bisa diminum. Bisa ditebus langsung, ya." Cara bicaranya sopan sekali. Tentu saja. Selain menjaga citranya agar tetap baik, hal itu akan menjadi poin plus seorang dokter. "Saya panik banget waktu dia pingsan di restoran, tapi setelah tahu kalau keadaannya baik-baik aja, saya lega." Banyu tersenyum.  Dokter itu balas tersenyum. Tangannya menuliskan sesuatu pada kertas yang Banyu kira merupakan resep obat untuk Stella.  "Di usia kehamilan muda, memang harus pintar-pintar menjaga kesehatan." Hah? Tunggu dulu. Jantung Banyu seolah berhenti berdetak. Kepalanya dengan cepat mendongak menatap dokter yang duduk di seberangnya. ia meneguk air liur. Tangannya tiba-tiba berkeringat. Telinganya jelas masih baik-baik saja. Ia masih cukup muda, dan selama ini tidak mengalami gangguan pendengaran.  "Ibu hamil tidak boleh kelelahan, atau itu akan berakibat pada janin yang dikan—" "Tunggu, Dok!" Banyu tanpa sadar mengangkat tangan. Menyela ucapan dokter tersebut, "hamil? Siapa yang hamil?" tanyanya tidak mengerti.  "Lho, bukannya perempuan yang kamu bawa itu istri kamu?" Dokter itu balas bertanya. Barulah perasaan sesak mulai menggerogoti rongga d**a Banyu. Bagaimana bisa? Stella bahkan belum menikah, bagaimana gadis itu bisa hamil? "Bu-bukan. Dia … dia te-man saya." Dada Banyu bergemuruh. Berbagai macam pertanyaan muncul di kepalanya. Hatinya sakit luar biasa. Bukan karena tahu berita kehamilan Stella, tapi karena tidak menyangka bahwa Stella hamil di luar pernikahan.  "Saya pikir kamu suaminya.  Soalnya tadi kelihatan sangat khawatir dan cemas. Lalu, di mana suaminya sekarang? Saya pikir saya harus berbicara dengan suami atau pihak keluarga yang bersangkutan untuk memberitahu apa saja yang harus dilakukan atau dihindari di masa kehamilan." Banyu tidak memberitahu ayah Stella karena khawatir pria itu mungkin saja mungkin masih bekerja. Dan ia juga tidak bisa membiarkan ibu Stella pergi sendirian jika mengetahuinya. Bukan tidak mungkin ibu Stella juga akan langsung menghubungi suaminya dan membuat keadaan bertambah panik. Karena itu Banyu tetap diam. Berniat memberi kabar setelah tahu bahwa Stella baik-baik saja dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan.  Tapi apa ini? Stella hamil. Dengan siapa? Siapa ayah dari anak yang dikandung Stella? Kenapa ia tidak tahu? Dan kenapa selama ini Stella terlihat baik-baik saja? Lagi pula bukankah Stella selalu menghabiskan waktu dengannya? Bahkan di akhir pekan sekalipun. Banyu benar-benar tidak mengerti. Ia mengusap wajahnya frustrasi. Tidak tahu harus berbuat apa? Apa Stella tahu tentang kehamilannya dan sengaja menutupi fakta itu darinya? "Ah, soal itu, Dok. Dokter bisa bicara dengan saya saja. Kebetulan orang tua dan suami Stella sedang sibuk. Saya adalah teman terdekatnya. Dokter bisa mempercayai saya untuk keadaan Stella." Pada akhirnya Banyu berbicara. Sadar bahwa dirinya tidak bisa diam saja.  "Baiklah." Dokter itu mengangguk, "saya akan meresepkan obat dan vitamin, tapi itu saja tidak cukup untuk menjaga kondisinya. Usia kehamilannya baru delapan minggu. Usia yang terbilang cukup rentan. Stella harus bisa mengatur pola makan, kesehatan, dan menjaga agar dirinya tidak melakukan hal berat yang akan membuatnya kelelahan. Stella juga tidak boleh stres. Intinya, tidak hanya fisiknya yang harus sehat, tapi mental juga." "Baik, Dok." Banyu mengangguk. Mengambil lembar kertas yang disodorkan oleh dokter tersebut. Banyu segera pamit untuk menemui Stella kembali. Dokter itu mengangguk. Melepas Banyu dengan seulas senyum tipis. Satu-satunya hal yang ingin Banyu ketahui adalah tentang siapa ayah dari anak yang dikandung Stella. Kalau ayah Stella sampai tahu bahwa putrinya tengah mengandung, dan tidak mengetahuinya siapa yang harus bertanggungjawab, itu pasti akan menimbulkan keributan. Banyu khawatir dengan hal itu. Di sisi lain, ia juga tidak tahu harus bagaimana. Satu-satunya yang bisa ia lakukan adalah menunggu sampai Stella sadar. Meluruskan tentang kenapa Stella menutupi hal sepenting ini dari orang yang katanya paling dekat dengannya.  *** Cukup lama Banyu menunggu. Sekitar setengah jam kemudian, Stella baru sadar. Banyu langsung mendekat dan menatap Stella lama. Gadis itu nampak linglung. matanya menyapu pandang sekitarnya. Mungkin bertanya-tanya ada di mana dirinya sebenarnya. "Kenapa aku ada di sini?" tanya Stella balas menatap Banyu yang tengah duduk di kursi yang ada di samping ranjang. "Tadi kamu pingsan di restoran." Stella diam. Ia ingat, hal terakhir yang dilakukannya adalah pergi ke toilet yang ada di restoran. Ia meminta Banyu untuk menunggu. Ia buang air kecil, membasuh wajahnya, dan melapisi wajahnya dengan bedak. Itu adalah hal terakhir yang diingatnya.  "Kenapa kamu gak bilang sama aku kalau kamu lagi gak enak badan? Kalau tahu bakal kayak gini, aku gak akan ajak kamu makan di luar. Lain kali bilang sama aku kalau kamu lagi gak enak badan, biar aku bisa anterin kamu ke dokter." "Kenapa kamu malah jadi marah-marah?" tanya Stella. "Aku bukannya marah-marah, aku cuma khawatir." "Tapi keadaan aku baik-baik aja. Aku gak pa-pa, kok. Aku sehat-sehat aja. Kalaupun tadi aku pingsan, itu mungkin karena aku kecapekan aja. Gak lebih." Mendengar nada bicara Stella yang meninggi, Banyu hanya diam. Ia sedang berpikir harus memulai dari mana untuk bertanya pada Stella perihal kehamilannya? Ia takut untuk menanyakan hal itu, tapi di sisi lain dirinya juga sangat penasaran. "Stella. Aku mau nanya sesuatu sama kamu." "Nanya aja. Kenapa harus pakai izin segala?" Stella menggerutu.  Lagi dan lagi Banyu meneguk air liurnya. Entah untuk yang ke berapa kali sejak dirinya mengetahui fakta tentang kehamilan Stella.  "Kamu … hamil?" Hening beberapa detik. Stella memandang Banyu tidak percaya. Ia tertawa hambar mendengarnya. "Pertanyaan konyol macam apa itu? Gak lucu, Banyu! Kalau kamu mau bercanda, maaf, aku lagi gak dalam suasana hati yang bagus buat ngikutin alur candaan kamu." Lagi, Banyu meneguk air liur. "Tadi, waktu kamu masih tidur, aku ketemu sama dokter yang ngerawat kamu. Dia ngasih tahu aku sesuatu. Katanya, kamu kecapekan." "Aku 'kan udah bilang itu tadi," tukas Stella cepat. "Dia juga bilang kalau usia kehamilan yang masih muda cenderung rentan." Tidak kuat menghadapi pembicaraan Banyu yang masih dikira sedang bercanda, Stella memilih bangun dari posisi duduknya. Ia menatap Banyu bengis. "Kamu itu ngomong apa sih, Banyu? Aku gak ngerti. Siapa yang hamil? Aku? Gimana bisa aku hamil kalau selama ini aku cuma ngabisin waktu sama kamu. Aku gak pernah ke mana-mana selain sama kamu. Aku gak pernah tidur sama siapa pun lagi." Melihat reaksi Stella yang begitu emosi, Banyu langsung tahu bahwa ternyata Stella belum mengetahui tentang kehamilannya. Gadis itu tidak menyadari hal itu. Tapi bagaimana bisa? Bukankah perempuan hamil selalu mengalami perubahan yang kentara? Entah mual atau apa pun itu yang biasa dirasakan perempuan hamil lainnya. "Dengerin aku baik-baik." Banyu meraih tangan Stella. Menggenggamnya erat, "aku juga awalnya gak percaya, tapi dokter jelasin semuanya sama aku. Katanya usia kehamilan kamu udah delapan minggu." "Gimana mungkin itu bisa terjadi, Banyu?!" Stella berteriak. "Jadi maksud kamu dokter itu yang bohong?" Banyu balas berteriak dengan tatapan kesal, "maksud kamu diagnosis dokter yang bilang kalau usia kehamilan kamu baru dua minggu itu bohong? Maksud kamu dia juga bohong soal kamu yang kelelahan dan pingsan karena dalam keadaan hamil? Gitu?" Stella tersentak karena ucapan Banyu.  Delapan Minggu? Tiba-tiba Stella terlempar pada kejadian di mana dirinya untuk pertama kalinya bertemu dengan Banyu. Saat itu ia baru saja pulang dari klub malam. Bahkan masih terlintas jelas di pikirannya kenapa ia bisa berakhir jalan kaki di pinggir jalan. Malam itu, ia menghabiskan waktu dengan kekasihnya. Semuanya masih baik-baik saja sebelum pertengkaran terjadi di dalam mobil di perjalanan pulang. Pertengkaran itu membuatnya tanpa sadar meminta putus dari dari kekasihnya. Ia diturunkan di pinggir jalan, dan berakhir meminta pertolongan pada Banyu.  Tentu, bukan hanya itu yang Stella pikirkan. Melainkan malam-malam sebelumnya saat dirinya masih bersama kekasihnya. Ia sering tidur di rumah kekasihnya. Menghabiskan malam di sana jika sedang bosan di rumah. Sehari sebelum putus, ia bahkan tidur di sebuah hotel mewah dengan kekasihnya itu. Dan sekarang…. "Aldo…," gumam Stella pelan. Ia memandang Banyu, dan Banyu balas memandangnya. "Ini pasti anak Aldo. Ini pasti anak Aldo. Ini pasti anak Aldo." Stella mengulang kalimatnya sambil menyentuh perutnya sendiri.  "Siapa Aldo?" tanya Banyu.  "Mantan aku. Dia itu mantan pacar aku." Stella yang awalnya terlihat biasanya saja berubah. Raut kesal, marah, dan tidak terima terganbar jelas di wajahnya. Banyu bisa melihat hal itu. Matanya berkaca-kaca. Segera setelahnya, bulir bening menetes dari kedua matanya. Membasahi pipi mulusnya. Pertama kalinya Banyu melihat Stella menangis sejak pertemuan pertama, dan itu membuatnya terluka. Selama ini Stella selalu terlihat manja, Stella selalu bersikap manja dan kerap menundukkan sisi kekanakannya. Melihatnya meneteskan air mata membuat Banyu tidak tega. "Aku gak mau." Stella menggeleng, "aku gak mau anak ini, Banyu!" Bola mata Banyu membola saat kedua tangan  Stella bergerak memukul-mukul perutnya sendiri.  "Stella! Apa yang kamu lakuin?" tanya Banyu menghentikan gerakan tangan Stella, tapi Stella justru melepas paksa dan kembali memukuli perutnya. "Aku gak mau! Aku gak mau anak ini! Pokoknya aku gak mau!"  Stella menangis sesenggukan. Banyu langsung berdiri. Ia lantas menarik Stella ke dalam pelukannya. Memegang kedua tangan gadis itu dengan satu tangan agar Stella berhenti memukuli perutnya. Tangannya yang lain mengusap kepala Stella dengan lembut agar Stella lebih tenang. "Walaupun kamu gak mau anak itu, tapi bukan berarti kamu berhak nyakitin dia, Stella. Bagaimanapun dia itu anak kamu. Dia bahkan belum lahir ke dunia ini, tapi kamu udah nyakitin dia kayak gitu." "Aku gak mau tahu, pokoknya nanti aku bakal gugurin kandungan ini." Stella berbicara sambil terisak di pelukan Banyu. "Stella, tolong jangan ngomong kayak gitu. Aku tahu kamu gak sejahat itu. Dia itu anak kamu, sekuat apa pun kamu menolak kehadiran dia, dia tetap darah daging kamu, dan itu gak akan pernah berubah." Stella langsung melepaskan pelukan. Bibirnya bergetar. Terlihat ketakutan. "Aku gak mau anak ini, Banyu…," lirihnya pelan. Ia meremas kemeja yang dikenakan Banyu, "gimana nanti kalau papaku tahu? Dia pasti kecewa banget sama aku, dia pasti marah, dan yang lebih parah, bukan gak mungkin papaku bakal sakit." Bayangan mengerikan yang akan terjadi ke depannya muncul dan memenuhi kepalanya Stella. Segala kemungkinan itu membuat membuat Stella ketakutan. Rasa malu yang akan diterimanya karena hamil di luar nikah, kemarahan ayahnya, dan hal-hal merepotkan lainnya selama ia mengandung anak yang sekarang ada di dalam kandungannya. Stella menggelengkan kepalanya kuat. Terlihat enggan membayangkan hal mengerikan itu. Ia tahu dirinya bukanlah perempuan baik-baik, ia sadar entah sudah berapa banyak kesalahan yang dibuatnya yang sering membuat ayahnya kecewa, tapi tentu ia masih memiliki perasaan. Kabar kehamilannya bukan hanya membuat ayahnya kecewa, tapi pasti menjatuhkan nama keluarganya. Dan ia tidak mau itu terjadi. "Kalau aku gugurin sekarang, papaku gak akan tahu dan itu gak akan jadi masalah. Aku gak mau lahirin anak ini. Aku gak mau." Dengan cepat Banyu menyentuh kedua pipi Stella. Memaksa gadis itu menatapnya. "Dengerin aku baik-baik. Kamu gak boleh gugurin bayi ini. Dia gak salah. Kalau sampai kamu lakuin itu, aku gak akan mau kenal lagi sama kamu Stella." Banyu menggeleng serius. Tatapannya tajam, "kita cari jalan keluarnya sama-sama. Kita temuin ayahnya. Kita temuin orang yang udah hamilin kamu. Keadaannya emang gak akan membaik, tapi seenggaknya harus ada seseorang yang tanggung jawab. Itu lebih baik, Stella." Isakan Stella berhenti. Ia menyentuh tangan Banyu yang ada di pipinya. Menggenggamnya kuat. Andainya Banyu tidak berada di sisinya, entah apa yang sudah ia lakukan saat mendengar kabar kehamilannya.  "Kalau gitu kamu anter aku ke rumah Aldo sekarang. Aku gak mau nunda hal ini. Aldo harus tanggung jawab. Aku gak mau tahu." Stella hendak bergegas turun dari ranjang, tapi Banyu segera menghentikan gerakannya dengan menahan bahu Stella.  "Enggak, enggak malam ini. Kamu baru sadar, dan aku gak mau ambil resiko. Kota harus pulang. Aku bakal anter kamu. Kamu harus minum obat dan istirahat." "Tapi Banyu—" "Aku gak mau nerima tapi dari kamu, dan untuk sekarang kamu gak aku izinin buat bantah perkataan aku." Stella menghela napas. Banyu dalam mode seriusnya memanglah bukan seseorang yang bisa ia lawan. "Oke, kita pulang." Banyu mengembuskan napas lega. Ia menepuki kepala Stella pelan. Dihapusnya basah di pipi Stella, lalu berkata, "Besok, kita pergi ke rumah Aldo. Aku bakal anter kamu ke sana. Tapi untuk sekarang kamu harus bener-bener istirahat." "Makasih, Banyu. Karena ada di sini sama aku," ujar Stella tulus. Banyu mengangguk. "Ya, udah. Kita pulang. Nanti aku tebus obat sama vitamin dulu buat kamu." Tidak ada yang lebih beruntung, daripada Stella. Dari banyaknya kemalangan yang datang ke kehidupannya, selalu ada anugerah terindah yang datang setelahnya. Dan Banyu adalah salah satu anugerah tersebut. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN