"Stella, aku udah ada di depan rumah kamu." Banyu berbicara saat panggilannya sudah diangkat oleh Stella di seberang sana.
"Ya, udah. Aku keluar sekarang juga."
Lalu, terdengar suara langkah kaki yang berlari. Stella nampaknya langsung bergegas menuju tangga dari kamarnya. Melangkah dengan cepat di anak tangga. Banyu ingin memberitahu bahwa Stella tidak perlu melakukan itu karena ia akan menunggu, tapi mungkin Stella tidak akan mendengarkan.
Tak lama setelah itu, pintu rumah Stella terbuka. Menampilkan Stella yang muncul di sana. Sebuah ponsel masih menempel di telinganya.
Saat Stella hendak berlari lagi, Banyu berkata, "Kalau kamu lari lagi, aku bakal pulang."
"Hah? Kok gitu?" tanya Stella cepat.
"Aku itu gak akan ke mana-mana, jadi gak perlu buru-buru. Kalau kamu jatuh gimana?"
Stella menurut. Ia memperlambat langkahnya. Sampai di depan Banyu dengan senyum lebar. Memberitahu pada Banyu bahwa dirinya mengikuti kemauan Banyu dengan baik.
Tadi siang, Stella menghubungi Banyu saat Banyu masih di kantor. Sebelumnya Banyu mengatakan bahwa dirinya tidak bisa makan malam bersama Stella karena terlalu lelah. Awalnya Stella mengiyakan, tapi malamnya Stella menghubunginya lagi. Mengatakan bahwa dirinya tidak bisa makan di rumah karena ayahnya tidak ada. Ia merasa tidak nyaman jika harus makan dengan ibu tirinya saja.
Berakhirlah Banyu di depan rumah Stella seperti sekarang. Setidaknya ia akan langsung pulang setelah menemani Stella makan. Itu lebih baik. Tidak apa jika dirinya lelah, daripada harus mengetahui Stella pergi sendirian atau dengan seorang laki-laki yang tidak ia kenal.
"Ya, udah. Mau makan di mana?" tanya Banyu akhirnya. Ia menurunkan ponselnya dari telinga. Bersamaan dengan Stella yang juga memasukkan ponselnya ke dalam tas selempang miliknya.
"Di mana aja. Terserah kamu. Lagian aku juga palingan cuma makan chicken steak sama lemon tea. Jadi gak akan bermasalah mau di restoran mana aja."
Banyu mengangguk. Stella membuka gerbang. Menghampiri Banyu yang segera menuntunnya ke arah mobil.
"Hari ini aku gak pulang dulu, jadi gak mandi. Mungkin kita cuma bisa makan terus pulang. Soalnya badanku lengket banget."
Dengan santainya Stella berjalan mendekati Banyu hingga tubuhnya nyaris menempel dengan Banyu. Tanpa permisi Stella mendekatkan wajahnya dan mencium tubuh Banyu. Mengendusnya seperti anak anjing yang sedang berusaha menemukan sesuatu.
"Tapi kamu gak bau, jadi gak masalah." Stella nyengir.
Tindakannya itu membuat wajah Banyu memerah dan langsung menjauhkan diri. Ia menyentil dahi Stella pelan. Menyisakan rasa berdenyut yang tidak sakit sama sekali, tapi tetap diusap oleh Stella.
"Lain kali jangan main nyosor aja. Kamu itu perempuan. Kalau sama laki-laki jangan kayak gitu." Banyu memperingatkan.
"Kalau sama yang lain aku gak akan mendekat kalau gak digoda, tapi kalau sama kamu aku bakal lakuin apa pun yang aku mau tanpa permisi. Karena kita emang sedekat itu."
"Terserah." Banyu mengembuskan napas lelah, "ya, udah. Kita jalan sekarang. Selama kamu gak masalah sama aku yang belum mandi, dan gak ngerengek ini itu, karena aku bakal langsung pulang setelah makan."
Stella menatap Banyu. Setuju dengan hal itu. Seharian bekerja membuat wajah Banyu sedikit kusam. Tidak terlalu kentara, karena Banyu memiliki kulit bersih, hal itu tidak terlalu mengganggu. Terlebih Banyu juga bekerja di ruangan ber-AC. Tentu berbeda dengan mereka yang selalu terkena debu pabrik setiap hari.
"Padahal kalau kamu terlalu capek, aku bisa pergi sama temenku. Aku ngehubungin kamu karena kamu orang pertama yang muncul di kepala aku. Tapi kalau kamu gak bisa, bukan berarti aku bakal maksa kamu. Aku punya banyak temen di sini, aku bisa pergi sama mereka."
"Gak!" tukas Banyu cepat, "kamu gak boleh pergi sama siapa pun. Aku gak mau nanti malah berakhir kayak malam waktu pertama kali kita ketemu. Kamu mabuk dan nyari tumpangan sama orang gak dikenal. Kalau mereka nyulik kamu gimana?"
Stella nyengir lebar. "Aku tahu aku cantik. Siapa pun emang bakal mikir ke situ kalau lihat aku."
Banyu memutar mata. Ia segera membuka pintu mobil untuk Stella. Memilih menghentikan percakapan karena tahu bahwa Stella tidak akan serius kalau sedang berbicara. Padahal ia hanya khawatir, tapi Stella selalu bisa bercanda dengan nada santai di segala situasi.
***
Karena Stella mengatakan tidak masalah dengan restoran yang akan didatangi, Banyu akhirnya memilih restoran yang berlokasi tidak terlalu jauh dari rumah Stella. Ia memilih salah satu kursi, dan Stella bergerak memesan makanan yang diinginkannya. Gadis itu tidak bertanya apa yang diinginkannya, karena pasti memilih menu yang sama.
Wajah Stella terlihat lebih pucat dari biasanya. Entah karena Stella tidak mengenakan palembab bibir, atau memang sedang kurang sehat.
"Ngomong-ngomong, muka kamu kelihatan—"
Perkataan Banyu terhenti. Ponselnya berbunyi. Ia langsung mengeluarkan ponselnya dari saku celana. Melihat pelaku yang mengganggu pembicaraannya.
Nama Mia terpampang di ponselnya. Ia langsung menggeser ikon hijau dan menempelkan ponselnya di telinga. Sekilas, Banyu menatap Stella sambil menunggu Mia berbicara. Gadis itu terlihat seperti biasanya. Tidak lemas, apalagi diam lebih banyak. Hal itu membuktikan bahwa Stella mungkin hanya lupa memakai pelembab bibir.
"Kamu udah sampai rumah?"
Pertanyaan itu terdengar. Banyu mengalihkan pandangannya dari Stella. "Enggak. Belum. Aku lagi makan sama Stella, jadi belum pulang ke rumah," jawabnya.
Hening.
Mungkin di seberang sana Mia bertanya-tanya kenapa hal itu bisa terjadi? Karena sebenarnya Banyu tidak berbicara apa-apa saat mengantarnya pulang.
"Maaf, aku gak bilang ke kamu. Soalnya Stella ngajak makannya pas kita keluar kantor. Kamu minta buru-buru pulang tadi, soalnya kamu bilang capek banget, dan aku gak mau bikin kamu malah mikir macem-macem," ujar Banyu menjawab pertanyaan Mia.
Padahal kalau sudah begini justru Mia malah akan berpikir yang aneh-aneh. Banyu pergi dengan Stella, dan tidak memberitahunya. Jika Mia tidak menghubungi Banyu, mungkin Banyu tidak akan cerita. Stella adalah temannya, dan Banyu merasa bahwa dirinya bebas ke mana pun bersama Stella selama tidak melakukan hal yang akan menghancurkan hubungannya.
Nyatanya, pemikiran Banyu justru berbeda dengan Mia. Jika Banyu memilih diam karena tahu Mia sangat lelah dan tidak ingin mengganggu gadis itu, Mia justru merasa bahwa Banyu lebih mengistimewakan Stella. Di tengah rasa lelahnya, Banyu masih sempat-sempatnya mempedulikan Stella.
"Gak pa-pa, kok. Kamu gak perlu izin dari aku juga. Nanti kabarin aku kalau kamu udah pulang. Hati-hati di jalan, Sayang."
"Iya," sahut Banyu singkat.
Panggilan dimatikan. Banyu meletakkan ponselnya di atas meja. Bersamaan dengan itu, makanan yang dipesan Stella datang. Gadis itu semringah layaknya anak kecil yang baru saja mendapatkan permen lolipop yang ditunggu-tunggunya.
"Oh, iya. Ngomong-ngomong Mia gak titip salam buat aku?" tanya Stella.
Banyu menggeleng pelan.
"Yah, padahal aku kira aku sama dia udah temenan, ternyata cuma aku yang nganggap kayak gitu."
Banyu terkekeh pelan. Cara bicara Stella terdengar seperti orang yang kecewa, tapi gelagatnya yang mengendikkan bahu acuh justru terlihat sebaliknya. Seolah tidak peduli apakah Mia menganggapnya teman atau tidak.
Tidak ada yang berbicara saat makan. Keduanya sibuk dengan makanan masing-masing. Banyu menghabiskan makanannya dengan baik, sedangkan Stella masih menyisakan setengahnya. Hal itu tentu membuat Banyu berdecak kesal. Sejak awal Stella lah yang mengajaknya pergi makan malam, tapi justru Stella sendiri yang tidak menghabiskan makanannya.
"Kamu tahu 'kan kalau aku paling gak suka sama mereka yang suka buang-buang makanan? Kamu tahu arti mubazir, 'kan?"
Bukannya mendengarkan apa yang Banyu katakan dengan menghabiskan makanannya, Stella justru meletakkan kedua tangannya di atas meja. Menopang wajahnya dengan kedua telapak yang diletakkan di dagu.
Stella selalu suka melihat Banyu marah, Stella selalu suka melihat Banyu ceramah, karena itu artinya Banyu sangat peduli padanya. Banyu selalu memperhatikan setiap hal kecil dalam hidupnya, seperti ibunya. Saat masih hidup, ibunya juga suka menceramahinya yang suka menyisakan makanan di piring. Membawa-bawa nama mereka yang katanya lebih kesusahan di luar sana, yang katanya keadaannya jauh dari kata beruntung.
Melihat Banyu melakukan hal itu selalu berhasil mengingatkan Stella pada ibunya. Mereka adalah dua orang yang paling tahu dirinya, paling memperhatikannya. Bukan berarti ayahnya tidak perhatian, hanya saja caranya berbeda. Ayahnya tidak pernah melihat hal-hal kecil untuk menunjukkan kasih sayangnya, tapi memberikan apa pun yang dirasa dibutuhkan olehnya.
"Aku suka," kata Stella tersenyum.
Banyu mengerjapkan mata. Tidak mengerti ucapan Stella. Suka bagaimana maksudnya? Suka apanya?
"Kalau aja kamu belum punya pacar, aku mungkin bakal nikahin kamu."
"Stella!" tegur Banyu berusaha menutupi degup jantungnya yang tidak bisa diajak kompromi, "Gak lucu, ya, kamu bercanda kayak gitu."
Wajah Banyu yang terlihat kesal sekaligus bersemu membuat Stella tergelak. Lucu sekali. Menggoda Banyu selalu membuatnya merasa terhibur.
"Tapi aku serius, Banyu! Kalau kamu beneran belum punya pacar, aku bakal minta kamu buat nikahin aku." Tatap Stella mengarah pada Banyu serius, "aku emang gak cinta sama kamu. Perasaan aku buat kamu gak lebih dari teman aja. Tapi aku bisa jamin kalau aku bakal jadi orang yang selalu bisa hibur kamu. Aku gak bisa masak, aku gak bisa ngurus diriku sendiri, aku bahkan gak mau kerja, mungkin malah kamu yang bakal direpotkan kalau kita beneran nikah. Tapi … aku bisa jadi orang yang peluk kalau kamu capek."
Lalu, Stella tertawa hambar. Merasa bahwa perkataannya sangat konyol.
"Mungkin lucu aja kalau bisa tinggal sama kamu sebagai sepasang suami istri. Kita gak saling suka, tapi tinggal di satu atap yang sama."
Stella tidak sadar bahwa perkataannya mengundang rasa sesak untuk Banyu. Alasannya bukan karena setiap kata yang keluar dari mulut Stella semata-mata hanya berisi candaan, tapi karena Stella tidak sadar bahwa jika gadis itu menikah, tidak akan ada yang namanya menikah tanpa cinta, karena ia begitu menyayangi Stella lebih dari seorang teman. Dan Stella tidak tahu hal itu.
"Tapi kamu tenang aja." Stella mengulas senyum tipis. Banyu tidak membalas senyuman itu. "Aku gak suka ngambil sesuatu dari orang lain. Aku bukan pencuri. Aku gak akan ngambil kamu dari Mia. Dia orang baik, dan sebesar apa pun keberuntungan yang aku dapet kalau bisa nikah sama kamu, aku gak akan setega itu rebut kamu dari dia."
"Omongan kamu makin ngawur," komentar Banyu akhirnya.
"Mia beruntung punya kamu, dan aku juga beruntung punya temen sebaik dan sepeduli kamu. Kalau bisa, aku mau kamu dicetak jadi dua aja. Biar bisa aku bagi sama Mia."
Banyu tertawa pelan. Harusnya Stella mengatakan agar Mia bisa berbagi dengan dirinya, tapi Stella justru berkata seolah dirinyalah yang memiliki Banyu, dan seharusnya Mia yang memohon jika ingin mendapatkan bagian.
"Ya, udah, yuk balik! Tapi sebelum itu aku mau ke toilet dulu."
Banyu mengangguk. Stella berdiri dan segera pergi dari meja.
"Hati-hati," kata Banyu begitu Stella berada beberapa langkah dari kursinya.
Gadis itu menoleh lagi ke belakang. "Aku cuma ke toilet, Banyu, bukan pergi perang. Jadi udah pasti bakal baik-baik aja." Ia menggeleng pelan dan benar-benar pergi.
Semuanya akan baik-baik saja. Stella hanya ke toilet, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Lima belas menit berlalu, dan Stella tidak kunjung kembali. Banyu masih berpikiran bahwa mungkin saja Stella sedang buang air besar, atau malah sedang memperbaiki make up di wajahnya. Karena biasanya itulah yang dilakukan perempuan jika ke kamar mandi. Toilet hanya digunakan sebagai tempat merias diri.
Namun, Banyu yang awalnya tenang-tenang saja berubah bingung saat mendengar suara teriakan. Petugas keamanan restoran dipanggil. Beberapa orang berlari ke arah kamar mandi. Mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi? Dan, ya. Banyu ikut penasaran juga. Ia memilih segera berdiri. Setelah meletakkan uang di atas meja karena bermaksud untuk segera pergi setelah menemui Stella, ia segera bergegas ke arah toilet. Berharap menemukan Stella di sana.
Pintu toilet perempuan penuh dengan empat orang yang berjubel di muka pintu. Banyu bertanya apa yang sebenarnya terjadi pada salah seorang perempuan yang berdiri. Dan perempuan itu menjawab bahwa dirinya melihat seorang perempuan lain tiba-tiba pingsan di depan kaca yang biasa digunakan untuk berdandan.
Banyu melesak masuk. Sekarang ia melihat seorang pria yang merupakan petugas dan seorang perempuan tengah berusaha membangunkan seseorang yang tergeletak di lantai. Melihat sepatu yang dikenakan orang itu, Banyu tiba-tiba diserang panik. Ia berlari mendekati ketiganya. Menjauhkan dua orang yang berusaha membangunkan Stella.
Stella diambil alih oleh Banyu. Ia meletakkan kepala Stella di lengannya. Menepuk-nepuk pipi Stella pelan. Berharap hal itu akan membuat Stella bangun.
"Stella bangun! Stella bangun!"
Nihil. Stella tidak kunjung sadarkan diri. Wajahnya pucat. Dan itu menampar Banyu dengan keras. Rupanya kekhawatirannya benar, dan ia sempat meragukan hal itu. Stella tidak menghabiskan makanannya bukan karena malas, tapi karena sedang tidak sehat. Stella pucat bukan karena gadis itu tidak menggunakan palembab bibir, tapi karena sedang tidak baik-baik saja.
Tidak mau membuang waktu, Banyu segera membopong Stella. Orang-orang yang penasaran memberikan jalan, dan Banyu memilih segera bergegas keluar untuk membawa Stella ke rumah sakit.
Detak jantungnya menggila, kedua tangan Banyu gemetar, dan ia dipenuhi rasa bersalah. Stella harus baik-baik saja, atau dirinya akan merasa menjadi orang paling t***l karena tetap membiarkan Stella ke luar meski tahu gadis itu sedang tidak sehat.