Banyu melambaikan tangannya pada Rangga yang baru saja berpamitan. Sekarang, terdapat satu gadis di masing-masing sisi tubuhnya. Stella terus menggandeng tangannya seperti anak kecil yang takut hilang, sementara Mia hanya berdiri diam seolah sedang berkata agar dirinya segera diantar pulang.
Banyu pusing setengah mati. Menyebalkan rasanya saat dirinya tidak bisa menentukan sesuatu. Yang satu adalah kekasihnya, orang yang akan ia turuti kemauannya apa pun yang diminta, sedangkan satunya lagi adalah seseorang yang tidak pernah bisa ia tolak permintaannya.
Intinya memang sama saja. Banyu bingung harus bagaimana. Jika saja bisa, ia ingin membelah diri layaknya amoeba. Memperbanyak dirinya agar bisa digunakan oleh Stella dan Mia di waktu bersamaan. Sayangnya tentu saja tidak bisa. Itu hanyalah khayalan paling t***l yang pernah terpikirkan di kepalanya.
Jika ia biarkan Mia duduk di depan, itu hal yang wajar. Mia memiliki tempat itu melebihi siapa pun. Karena Mia adalah kekasihnya, sekali lagi Banyu berusaha menegaskan pada dirinya. Tapi Stella bukanlah seseorang yang bisa diajak kompromi. Stella tidak pernah suka duduk di kursi belakang dan tidak akan pernah mau meski orang tuanya sendiri yang menyuruhnya. Banyu paling tahu hal itu.
Namun, jika hanya diam saja, Banyu yakin sampai besok pun dua gadis yang tengah berdiri di sampingnya tidak akan begitu saja sampai ke rumahnya masing-masing. Karena itulah Banyu segera menuntun keduanya mendekati pintu.
Saat membuka pintu mobil yang berada di bagian samping kemudi, Banyu menarik tangan Mia. Meminta gadis itu untuk segera masuk.
"Mia, kita anter Stella pulang dulu ke rumahnya, rumahnya gak jauh kok dari sini, baru setelah itu aku anter kamu pulang. Oke?"
Mia mengangguk sambil tersenyum lebar. Merasa sangat senang karena akhirnya bisa menang dari Stella.
Saat Mia sudah duduk di kursinya, Banyu hendak menutup pintu, tapi Stella yang tiba-tiba menarik sedikit bagian lengan kemejanya membuatnya langsung menoleh ke arah gadis itu. Wajah Stella memelas dengan bibir yang mengerucut.
"Seumur-umur aku gak pernah duduk di belakang. Kamu tahu itu. Bahkan naik taksi sekalipun. Aku gak suka duduk di belakang, aku benci duduk di belakang, karena itu artinya aku sendirian. Aku gak mau duduk di belakang."
Banyu mengusap wajahnya frustrasi. Ia memandang Stella dan Mia bergantian.
"Tapi kalau Mia gak mau duduk di belakang, aku gak masalah nunggu di restoran dulu. Aku bisa pesen minum sampai kamu nganterin Mia terus jemput aku lagi di sini."
Tapi mana tega, 'kan?
"Gak bisa. Aku gak akan tenang kalau kamu nunggu di sini. Sekarang udah malem. Bukan gak mungkin ada orang jahat yang nanti gangguin kamu." Banyu menatap Mia memohon, "Mia, maaf, Stella emang gak bisa duduk di belakang. Apa kamu gak masalah kalau dia duduk di depan?"
Lalu, sebagai kekasih yang baik nan pengertian, Mia mengangguk dengan seulas senyum yang diperlihatkan. Ia segera turun dan membiarkan Stella mengambil posisinya untuk duduk di samping Banyu. Tahu bahwa bersikap egois hanya akan memperburuk keadaan. Bukan tidak mungkin Banyu malah akan membela Stella yang sudah dikenalnya sejak kecil.
"Gak pa-pa, kok. Aku bisa duduk di mana aja," kata Mia.
Mia segera turun. Banyu membiarkan Stella masuk, gantian membukakan pintu belakang untuk Mia kemudian segera berjalan memutar untuk menuju kursi kemudi.
Beruntung Banyu memiliki kekasih yang begitu pengertian. Jika saja Mia sedikit keras kepala dan mudah cemburu, bukan masalah kecil itu pasti akan berakhir saling jambak antara Stella dan Mia.
"Oke, sekarang aku anterin kamu pulang, ya?" Banyu menatap Stella.
Di luar dugaan, Stella justru menggelengkan kepala. "Gak mau. Aku mau tahu rumah Mia. Aku mau ikut kamu nganter Mia pulang dulu, baru setelah itu kamu bisa anterin aku pulang," ujarnya.
Memang benar. Stella lah yang keras kepala di sini.
"Tapi kalau kamu ikut, kamu bakal lebih malem pulangnya. Udah gitu kita jadi muter-muter, dong!"
"Ya, gak pa-pa. Lagian juga aku kalau pergi ke klub, selalu pulang dini hari. Jadi, gak akan masalah selama belum sampai tengah malam."
"Stella!" tegur Banyu marah.
Banyu tidak suka saat Stella berbicara seperti itu. Karena perkataannya mengatakan bahwa Stella adalah gadis nakal yang hobi berkeliaran.
Tapi sayangnya Stella tidak terlalu peduli. "Emangnya kamu bisa nolak permintaan temenmu yang satu ini?" tanyanya kemudian.
Tentu saja tidak bisa.
Banyu memilih segera menyalakan mesin mobil. Mulai pergi dari pelataran restoran. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain menuruti perkataan Stella. Ia akan pergi ke rumah Mia terlebih dahulu, baru setelah itu mengantar Stella pulang. Walaupun melakukan hal itu sama artinya ia hanya berputar-putar tidak jelas.
Suasana jalan raya cukup ramai. Seperti biasa. Tapi bisa dibilang cukup lancar pula. Tidak ada kemacetan yang biasa terjadi pagi hari. Kebanyakan para pekerja pastilah sudah pulang ke rumah, menyisakan lalu lintas yang tidak terlalu padat.
Mungkin karena keadaan yang terlalu hening, Stella merasa tidak cocok dengannya yang selalu banyak bicara. Ia melihat sosok Mia dari kaca yang ada di depannya. Gadis itu hanya diam sambil memainkan ponselnya.
"Padahal tadinya aku kira kamu bakal ngadain pesta di rumah kamu. Ngundang banyak temen kamu. Padahal di rumah kamu enak, nyaman, ada kolam renang. Pasti seru kalau ngadain pesta ulang tahunnya di sana. Ehh, tahunya malah makan di restoran. Itu pun cuma berempat rayainnya."
Banyu menatap Stella. Berkata, "Kalau di rumah, terus ngajak banyak orang, aku takut para tetangga ada yang keganggu. Lagian aku juga gak mau berantakin rumah. Jadi mendingan makan di restoran aja."
Langsung saja Mia bertanya, "Kamu pernah ke rumah Banyu?" Bernada cepat menuntut jawaban.
"Gue?" Stella menunjuk dirinya sendiri, "Ya, pernahlah. Dulu tuh gue sama Banyu tetanggaan. Rumahnya juga sebelah-sebelahan, sering nginep malah, tapi sekarang gue udah gak tinggal di sana lagi."
Rasa sesak perlahan menggerogoti d**a Mia. Perih sekali rasanya mendengar percakapan Banyu dan Mia. Sudah sering ia meminta izin pada Banyu untuk datang ke rumahnya, tapi Banyu tidak pernah membiarkan dengan berbagai macam alasan. Sekarang, Stella mengatakan bahwa dirinya bebas keluar masuk rumah Banyu. Dan Banyu terlihat tidak keberatan dengan hal itu.
Stella bertanya, "Mia, gimana sosok Banyu kalau di tempat kerja? Kalian satu kantor, 'kan?"
Mengabaikan apa yang dirasakannya, Mia menatap Stella dari kaca juga. Berusaha sekuat tenaga agar tidak goyah dan menyerah. "Kok tahu? Banyu cerita hal itu?" Ia balik bertanya.
Stella mengendikkan bahunya acuh dengan tatapan masih mengarah pada kaca. "Cuma nebak aja. Banyu itu tipikal orang yang gak suka bepergian kalau bukan sama orang terdekatnya. Jadi rasanya mustahil aja kalau kalian kenal di luar area kerja. Banyu gak akan bisa bergaul di luar area kerja, kalau gak ada aku di samping dia," jelasnya.
Mia merasa tertohok. Bagaimana bisa seorang yang katanya hanya sebatas teman bisa sebegitu kenal dengan kekasihnya? Terlebih Stella begitu membanggakan dirinya seolah dia adalah pawang untuk Banyu. Dan kalau gadis itu mau tahu, itu sangat menjengkelkan.
Terus-menerus berbicara seolah paling kenal, paling dekat, dan paling paham segala tentang Banyu. Mia tidak bisa apa-apa selain mengiyakan. Karena apa yang dibicarakan Stella benar adanya.
"Banyu? Dia baik." Mia mulai menjawab pertanyaan Stella sebelumnya, "satu kantor kenal sama dia. Ramah, tenang, dan selalu bisa diandalkan. Kerjaannya rapi dan selalu kelar tepat waktu. Ya, mungkin bisa dibilang Banyu itu pekerja teladan."
Mendengar itu, Stella menolehkan kepalanya ke arah Mia. "Wah, pasti seru kalau bisa kerja sama Banyu."
Mia hanya tersenyum. Sangat menyenangkan. Bisa bekerja dengan Banyu adalah salah satu hal yang paling ia syukuri.
"Kamu tau, gak?" Stella bertanya kemudian menjawab pertanyaannya sendiri, "dulu di sekolah, Banyu juga populer banget. Pinter, gak pernah kena masalah, dan tampangnya juga gak bisa dibilang biasa aja. Karena selalu sama aku, kita bahkan sering dibilang couple goals-nya sekolah kita dulu."
Banyu melotot saat Stella harus membahas masa lalu itu di depan Mia. Ia segera menoleh ke belakang sekilas. Takut-takut Mia akan marah. Ternyata tidak. Gadis itu nampak menikmati obrolannya bersama Stella. Membuatnya lega.
"Kamu sendiri? Sekarang punya kesibukan apa? Lagi kerja atau ngerintis usaha mungkin?" Gantian Mia yang bertanya.
Stella kembali ke posisi duduknya. Melihat Mia dari kaca lagi. "Gak ada. Aku bahkan gak lulus kuliah," jawabnya.
"Kenapa?"
"Aku di drop out. Soalnya waktu itu—"
Perkataannya terhenti saat Banyu dengan cepat membekap mulutnya menggunakan tangan kiri. Sementara tangannya yang lain masih memegang kemudi.
"Mendingan kita bahas yang lain aja," sarann Banyu. Tahu bahwa jawaban Stella akan membuat Mia sangat terkejut.
Keduanya setuju. Stella membicarakan banyak hal tentang Banyu di masa lalu, sementara Mia membicarakan sosok Banyu yang dikenalnya di tempat kerja.
***
"Kenapa kamu gak pernah bilang kalau temen kamu itu cewek?" Mia bertanya saat Banyu mengantarnya sampai gerbang rumah. Matanya melirik ke arah mobil Banyu. Di sana, Stella juga sedang memperhatikan.
Banyu menyentuh kedua bahu Mia dengan tangannya. "Kamu gak pernah nanya ke aku. Lagi pula menurut aku ini gak terlalu penting," jawabnya.
"Gak terlalu penting kata kamu? Stella jelas-jelas jadi orang yang paling deket sama kamu. Walaupun kamu sama dia baru ketemu lagi, tapi kalian masih keliatan deket banget. Kamu lihat 'kan gimana cara dia ngomong ke kamu? Gimana cara dia menangin semua tentang kamu seolah-olah cuma dia yang berhak atas kamu."
"Maksud kamu apa? Menang apa? Stella emang kayak gitu dari dulu, tapi asal kamu tahu, dia itu cuma temenku, gak lebih. Kamu juga tadi denger 'kan dia sendiri yang bilang bahwa sedekat apa pun aku sama dia, kami gak akan jadi apa-apa. Dia gak akan suka sama aku."
"Terus gimana sama kamu? Apa kamu juga gak akan suka sama orang secantik Stella?"
Banyu tersentak. Ia menatap Mia. Melihat kecemburuan yang tergambar jelas di sorot mata Mia. Gadis itu pastilah menahannya sejak tadi.
Menyukai Stella? Perasaan itu bahkan sudah hadis sejak lama. Tapi tentu tidak akan ia beritahu pada Mia. Gadis itu pastilah akan sangat terluka jika mendengarnya.
"Berhenti mikir yang aneh-aneh. Kita cuma temen. Cuma itu yang perlu kamu tanamkan dalam pikiran kamu," sahut Banyu akhirnya.
Mia menyentuh lengan Banyu yang berada di bahunya. Beralih menggenggamnya erat. Sejak berpacaran dengan Banyu, ia tidak pernah khawatir dengan apa pun. Entah tentang Banyu yang akan meninggalkan dirinya, atau adanya orang ketiga yang akan menghancurkan hubungannya dengan Banyu. Ia selalu percaya bahwa ikatan antara dirinya dan Banyu tidaklah main-main, ia juga percaya dan sadar bahwa Banyu tidak pernah terlihat tertarik dengan orang lain.
Tapi hari ini, menyaksikan sendiri betapa dekatnya sosok Stella dengan Banyu, ia tiba-tiba memiliki perasaan khawatir yang sejak lama tidak pernah muncul.
"Lagian kamu itu pacarku. Kamu itu milikku. Gak ada yang perlu aku khawatirin, 'kan?" tanya Mia.
Banyu mengusap pipi Mia lembut. Ia mengangguk dengan senyum menenangkan yang terlukis di bibirnya. "Iya, gak ada yang perlu kamu khawatirin. Kita bakal baik-baik aja ada atau tanpa adanya Stella."
Banyu menjauhkan diri. Hendak langsung berpamitan, tapi Mia justru memeluknya secara tiba-tiba. Skinship yang jarang sekali dilakukan semenjak berpacaran. Mungkin bisa dihitung dengan jari, dan apa yang baru saja dilakukan oleh Mia benar-benar tidak terduga.
"Pokoknya kamu gak boleh jatuh cinta sama Stella. Sebelumnya aku gak pernah khawatir, tapi hari ini aku bener-bener khawatir kalau kamu bakal diambil sama orang lain."
Ragu-ragu Banyu membalas pelukan Mia. Mengusap bagian belakang tubuhnya agar Mia tenang.
"Gak ada yang perlu dikhawatirin. Kita gak ada apa-apa." Banyu melepaskan pelukannya, "ya, udah. Mendingan sekarang kamu masuk. Titip salam buat orang tua kamu. Aku gak bisa pamitan sama mereka, soalnya aku harus nganter Stella pulang."
Mia mengangguk mengerti. Lagi pula belum tentu kedua orang tuanya sudah pulang. Setelah saling melambaikan tangan, Banyu menjauh dari sana. Mulai masuk kembali ke dalam mobilnya.
Stella, yang rupanya sejak tadi memperhatikan langsung menatap Banyu bahkan setelah mobil berjalan lagi.
"Kamu sadar gak sih? Kamu tuh sama Mia pamitan mau pulang aja udah kayak pamitan mau pindah negara tahu, gak? Lama banget. Jamuran nih aku nungguin kalian ngobrol sambil mesra-mesraan." Stella menggeruru. Untung saja dirinya tidak ikut turun. Kalau iya, sudah pasti hanya akan menjadi obat nyamuk di antara Banyu dan Mia.
"Ya, maaf kalau kamu harus nunggu lama."
"Lagian Mia itu kayaknya takut banget kamu bakal diambil sama aku."
"Kenapa kamu bisa punya pikiran kayak gitu?"
Stella mendengkus halus. Menyilangkan kedua tangannya di depan d**a. "Aku ini perempuan, Banyu. Aku yang lebih paham perasaan perempuan lainnya. Dari gelagat dan cara dia natap aku aja aku tahu kalau dia khawatir sama kehadiran aku," ujarnya.
Meski apa yang dikatakan Stella benar adanya, Banyu hanya terkekeh pelan. "Kamu berlebihan, Stella," katanya.
"Bisa jadi, tapi kalaupun kenyataannya kayak gitu, kekhawatiran Mia itu gak akan terbukti. Karena aku gak pernah tertarik sama kamu. Kita itu cuma temenan, dan seharusnya dia tahu hal itu."
Banyu hanya tersenyum. Tidak ingin menanggapi lagi. Ya, tidak dulu, tidak juga sekarang. Banyu sadar bahwa dirinya masihlah menjadi seseorang yang tertolak.