Meja bundar dengan empat kursi itu sudah diduduki oleh satu orang. Banyu dan Mia berjalan ke arah Rangga yang sudah duduk di salah satu kursi.
Rangga berdecak begitu melihat Banyu dan Mia di depannya. Banyu tahu alasannya kenapa. Pastilah karena kedatangannya yang begitu lama. Wajar saja, restoran yang sekarang didatanginya berlokasi cukup jauh dari rumah Mia. Sehingga membutuhkan waktu lama untuk sampai. Belum lagi keadaan Jakarta tidak pernah benar-benar lengang meski di malam hari.
Berbeda dengan Rangga. Lokasi rumahnya cukup dekat. Tadi, saat Banyu dalam perjalanan menjemput Mia, Rangga mengatakan bahwa dirinya sudah akan pergi. Pastilah setelah itu Rangga harus menunggu sampai Banyu datang.
"Lo berdua kayaknya seneng banget kalau udah berduaan. Gue di sini jamuran nunggu kalian, dan kalian malah senyam-senyum kayak orang gila pas sampai di depan gue." Rangga menggeruru.
Banyu hanya menggeleng. Ia menarik satu kursi untuk diduduki oleh Mia. Gadis itu duduk dengan tenang. Meletakkan paper bag yang dibawanya di atas meja. Disusul Banyu yang juga segera duduk.
"Lagian kenapa sih harus milih restoran di sini? Bukannya malah jauh banget dari rumah Mia?" gerutu Rangga lagi.
"Karena ini restoran baru. Gue mau nyoba makanannya aja," jawab Banyu.
Rangga menyipitkan mata. Ia menunjuk Banyu dengan telunjuknya, "Jangan bilang lo mau manfaatin diskonan di sini. Soalnya setahu gue setiap restoran baru itu selalu ngasih promosi menarik. Lo pasti ngincer itu, 'kan?" Ia menggeleng setelahnya, "Astagfirullah, Banyu. Sejak kapan lo jadi sepelit ini?"
Banyu mengembuskan napas lelah. Tidak akan ada habisnya berbicara dengan Rangga. Dan lagi pula ia sama sekali tidak berniat untuk menjelaskan.
Sebenarnya alasannya sederhana. Lokasi restoran yang sekarang ia datang tidak jauh dari rumah Stella. Hanya membutuhkan kurang lebih sepuluh menit untuk sampai jika pergi dari rumah Stella. Itu pun kalau lalu lintas lancar. Mungkin bisa memakan waktu setidaknya lima belas menit jika sedikit macet.
Karena Stella memutuskan untuk pergi sendiri, Banyu juga tidak mau ambil resiko. Ia memilih restoran yang dekat dengan kompleks perumahan Stella agar semuanya menjadi lebih mudah. Stella tidak perlu pergi jauh, dan ia bisa lebih tenang jika lokasinya dekat.
"Ya, udah. Tunggu apa lagi? Ayo mulai pesan makan aja," kata Rangga.
Mia mengangguk setuju.
"Bentar dulu!" sela Banyu, "masih ada satu orang yang belum dateng. Dia pasti bentar lagi sampai. Tungguin aja."
Sementara Mia terlihat penasaran dengan siapa sosok yang dimaksud oleh Banyu, wajah Rangga pucat pasi mendengar hal itu. Satu wajah muncul di kepalanya, dan kalian tidak perlu bertanya-tanya. Karena memang Stella lah yang ada di pikiran Rangga.
Lalu, serupa dengan kejadian klise lainnya. Sosok itu datang tak lama setelah dibicarakan. Tentu bukan kebetulan, karena memang Banyu sendiri lah yang mengundangnya.
Banyu bisa melihat Stella berjalan memasuki pintu restoran karena ia memperhatikan sejak tadi. Gadis itu bertanya di meja resepsionis. Mungkin menanyakan di mana lokasi mejanya. Sampai akhirnya Stella betulan berjalan ke arah meja yang diduduki Banyu.
Banyu sempat terpaku melihat sosok Stella. Waktu seakan diatur menjadi slow motion. Gadis itu berjalan dengan anggunnya. Melewati meja-meja dengan tenang.
Anggaplah bahwa Banyu adalah laki-laki paling t***l di muka Bumi, karena meskipun mengakui bahwa Mia terlihat sangat cantik, Stella begitu menawan di matanya. Dress berwarna putih melekat di tubuhnya. Jatuh menutupi bagian pahanya sampai di atas lutut. Bagian atasnya tertutup rapat dengan lengan nyaris sampai siku.
Stella mengikuti permintaannya untuk tidak memakai dress yang terlalu terbuka. Benar-benar sempurna. Bagian rambutnya dikepang dengan anak rambut yang dibiarkan tersisa. Sekarang Stella menjadi gadis paling manis dan anggun di mata Banyu.
Sampai di depan Banyu, kehadiran Stella tidak sadar membuat Banyu berdiri. Gadis itu langsung memeluk Banyu tanpa permisi. Di depan kekasih Banyu yang hanya mampu menahan napas karena tidak percaya. Belum cukup sampai di situ, setelah pelukan terlepas, Stella bahkan mencium pipi Banyu sekilas. Menimbulkan decakan dari Rangga dan membuat Mia membuang muka.
"Selamat ulang tahun, Banyu," kata Stella menjauh dari wajah Banyu.
Banyu mengulas senyum tipis lantas mengangguk. Ia menarik pinggang Stella agar berdiri berdampingan dengannya.
"Oke, karena kamu udah dateng, semuanya jadi lengkap. Biar aku kenalin lagi sama temen-temen aku." Banyu menunjuk Rangga, "yang ini Rangga. Kamu udah pernah ketemu sama dia."
Beralih menunjuk Mia, Banyu sedikit menggeser posisinya karena Stella menghalangi pandangannya dari Mia.
"Kalau yang ini namanya Mia. Dia itu—"
Perkataan Banyu terhenti saat Rangga tiba-tiba berdiri dan menyela ucapannya dengan cepat. "Pacarnya Banyu." Sambil ikut-ikutan menunjuk Mia.
Hal itu membuat Stella menatap Banyu. Ia memukul bahu Banyu pelan. "Kok kamu gak pernah cerita kalau kamu udah punya pacar? Aku itu 'kan temen kamu. Berani-beraninya nyembunyiin hal penting kayak gini!" protes Stella tidak terima.
Stella dengan santainya mengulurkan tangan pada Mia. Memindahkan paper bag yang sebelumnya berada di tangan kanannya. Ukuran tangannya disambut Mia dengan ragu-ragu.
"Nama gue Stella. Gue ini temen Banyu dari kecil." Matanya disipitkan saat mengucapkan kalimat terakhir.
Jika Stella menganggap hal itu biasa, Mia seolah merasa bahwa Stella sedang mengaku bahwa dirinya jauh lebih mengenal Banyu. Jauh lebih dekat dengan Banyu sehingga bisa bebas melakukan apa pun pada Banyu.
"Stella, kok ngomongnya gitu? Kenapa pakai lo-gue?" tegur Banyu.
"Karena bahasa aku-kamu cuma aku pakai kalau lagi ngobrol sama kamu," sahut Stella polos.
Setelah perkenalan singkat itu, Rangga kembali duduk di kursinya sementara Banyu menarik kursi lain yang berada di sebelahnya untuk Stella.
Mia tidak tahu kenapa dirinya merasa kalah telak dari sosok Stella. Banyu adalah kekasihnya, yang artinya ia mempunyai hak jauh lebih banyak untuk memiliki Banyu. Tapi Stella justru merebut hal itu lebih cepat. Selama berpacaran, tidak pernah sekalipun Banyu membiarkan dirinya untuk mencium pipi Banyu. Tidak pernah. Sebaliknya, Banyu bahkan hanya mencium keningnya. Itu pun tidak terlalu sering. Tapi Stella dapat melakukan apa yang tidak bisa ia lakukan dengan mudahnya.
Yang jauh lebih mengejutkan, Banyu tidak pernah menceritakan tentang Stella sedikit pun. Belakangan ini Mia mengetahui bahwa Banyu kerap bertemu dengan temannya, tapi siapa sangka bahwa temannya itu adalah seorang perempuan. Mia memang tidak pernah bertanya, karena ia percaya pada Banyu, tapi entah kenapa sekarang ia merasa dibohongi oleh orang yang paling ia percayai.
"Ya, udah. Kita mulai pesan makan aja, oke?"
Tanpa persetujuan, Banyu memanggil seorang pelayan. Pelayan perempuan itu segera datang membawakannya buku menu. Memberikannya satu persatu pada empat orang yang ada di meja Banyu.
Mia tidak ingin kalah, karena itulah—
"Banyu, kamu mau makan apa? Gimana kalau chicken steak sama lemon tea aja?" Stella bertanya lebih dulu sambil menawarkan pilihannya.
Banyu menatap Stella. Menutup buku menunya. Ia mengangguk sekilas kemudian berkata, "Boleh. Dan kamu pun sebenernya bisa makan apa aja yang kamu mau selain makanan itu."
"Kalau gitu nanti aku mau makan makanan penutup setelah selesai."
"Boleh," sahut Banyu.
Banyu tidak pernah berbicara selembut itu pada Mia, Banyu tidak pernah menatapnya sebegitu hangatnya seperti Banyu menatap Stella, dan itu membuat Mia kesal sekaligus sakit hati.
Untuk pertama kalinya Banyu berhasil melukai perasaannya, tapi ia tidak bisa memprotes hal itu.
Pelayan mencatat pesanan Stella pertama kali, berlanjut ke pesanan Rangga dan Mia. Keempatnya kembali menyerahkan buku menu setelah itu. Diminta menunggu oleh pelayan sementara pihak dapur membuatkan pesanan mereka.
"Banyu tuh dari dulu gak pernah makan makanan lain kalau ke restoran. Selalu aja chicken steak sama lemon tea. Karena itu favorit Banyu. Gue bahkan sering mikir kenapa dia gak pernah bosan? Iya 'kan, Mia?" Stella bertanya seolah Mia tahu hal itu.
Padahal pada kenyataannya Mia bahkan baru mengetahui makanan favorit Banyu yang satu itu. Setiap kali makan di restoran, entah hanya berdua atau bersama Rangga, Banyu selalu membiarkan dirinya untuk memesan. Memakan apa pun yang dipesankan olehnya. Tidak pernah protes apalagi repot-repot memesan sendiri apa yang diinginkannya.
Sekali lagi Mia merasa kalah. Ia mengulas senyum tipis untuk Banyu. "Aku kira dia bisa makan apa pun yang aku pesan," sahutnya sedikit membela diri.
"Oh, begitu." Stella mengerjap polos. Tidak terlalu mempedulikan perkataan Mia.
Banyu berkata, "Iya. Apa pun yang kamu pesan pasti bakal aku makan, kok." Dengan tatapan mengarah pada Mia tentunya.
Keadaan hening untuk beberapa saat. Stella memperhatikan sekelilingnya. Dekorasi interior restoran tersebut cukup menarik. Bergaya klasik dengan keseluruhan berwarna cokelat. Rangga hanya diam sejak tadi. Tidak tahu harus berkata apa. Ada satu kemungkinan yang mengganggu pikirannya. Mia yang mungkin saja marah karena tidak diberitahu perihal Stella, dan kenapa ia bisa mengenal Stella lebih dulu sebelum dirinya.
"Ngomong-ngomong, restoran ini itu gak jauh dari rumahku, lho. Kok aku baru tahu ada restoran di daerah sini, ya?"
Lagi, Stella berhasil mengejutkan Mia dan Rangga. Tanpa sadar gadis itu sedang memberitahu Mia dan Rangga bahwa Banyu jauh lebih memperhatikan Stella.
Kenapa harus memilih restoran yang berada di dekat rumah Stella?
Kenapa tidak memilih restoran lain saja yang lokasi atau namanya sudah lebih terkenal?
Sebenarnya seberapa jauh hubungan Banyu dan Stella?
Mia bertanya-tanya. Pertanyaan asing itu hilir mudik di kepalanya. Mengganggu sekali. Jika sebagai teman saja Stella begitu dekat dengan Banyu, apa sebagai kekasih ia tidak berguna sama sekali?
"Oh, iya." Stella mendorong paper bag yang dibawanya ke arah Banyu, "ini hadiah ulang tahun buat kamu. Gak mahal sih. Aku bahkan gak tahu kamu bakal suka atau enggak, tapi aku beli ini pakai usaha, lho. Kapan lagi coba kamu bayangin aku keliling mall cuma buat nyari kado kamu?"
"Udah aku bilang kamu gak perlu beli apa pun buat aku," sahut Banyu.
"Gak pa-pa, dong. Bukan ulang tahun namanya kalau gak ada kado. Iya gak, Mia?" Stella meminta pendapat Mia.
Untuk pertama kalinya Mia setuju dengan Stella. Ia mengangguk sambil mendorong paper bag miliknya ke hadapan Banyu. "Lagian setahun sekali juga. Jadi jangan nolak kalau ada yang ngasih kamu hadiah," timpalnya.
Banyu menghela napas. Ia mengambil paper bag tersebut dan meletakkannya berdampingan. Matanya kemudian mengarah pada Rangga yang juga sedang menatapnya.
"Terus kado dari lo mana? Lo gak ada niatan buat ngasih gue hadiah di hari ulang tahun gue?" tanya Banyu.
Dengan polosnya Rangga justru menggeleng. "Enggak. Gue 'kan ke sini karena diundang sama lo. Gue mah jujur. Gue ke sini karena mau numpang makan. Maklum aja, siapa sih yang berani nolak traktiran gratis?" Ia Menaik-turunkan alisnya tanpa merasa berdosa.
"Apa ini yang namanya temen? Stella sama Mia aja ngasih hadiah. Masa lo enggak?"
Rangga akhirnya mengalah. Ia mengangkat tangannya ke udara seolah sedang berdoa. "Coba angkat tangan kalian juga," suruhnya kemudian.
Banyu, Stella dan Mia mengikuti.
Rangga mulai berdoa. "Hari ini teman hamba ulang tahun, Ya Allah. Tolong beri dia kesehatan lahir dan batin, beri dia rezeki yang berlimpah, panjangkan umurnya, dan jauhkan dia dari masalah. Yang paling penting, semoga secepatnya teman hamba yang satu ini bisa gandeng Mia ke pelaminan, Ya Allah." Doa itu ditutup Rangga dengan kedua tangan yang diusapkan ke wajahnya.
"Udah. Gue kasih hadiah doa aja. Itu lebih istimewa dari hadiah apa pun yang ada di dunia."
Sontak saja Banyu, Stella dan Mia tergelak mendengar hal itu. Percaya diri sekali. Orang-orang seperti Rangga bisa menjadi seseorang yang menyebalkan sekaligus paling menyenangkan di saat bersamaan. Memang tidak ada yang salah dengan ucapan Rangga. Siapa pun, apalagi kalau sudah dekat, kebanyakan akan sulit menolak jika ditawari traktiran. Makan gratis itu salah satu rezeki, tidak baik kalau menolak rezeki.
Begitu tawa reda, Mia menyentuh lengan Banyu yang berada di atas meja. Mulai memberanikan diri untuk mengobrol dan meminta kejelasan soal Banyu dan Stella.
"Ngomong-ngomong, kenapa kamu gak pernah bilang kalau kamu punya temen kecil secantik ini?"
Padahal yang ditanya adalah dirinya, tapi Banyu justru menatap Stella, bukan Mia. Memandang gadis itu saksama. Dan, ya. Stella memang cantik.
"Mungkin karena Banyu gak mau pacarnya cemburu." Stella yang menjawab. Ia nyengir lebar setelah mengatakan hal itu, "lagian gue sama Banyu juga baru ketemu lagi belakangan ini. Sebelumnya kita sempet hilang kontak hampir tujuh tahun. Ya, mungkin Banyu gak mau aja bahas gue di depan lo. Lagian gue juga gak terlalu penting buat dia."
"Stella!" tegur Banyu melotot.
Stella nyengir lagi. "Bercanda, kok. Sebenernya Banyu itu selalu mentingin gue banget, tapi lo gak perlu khawatir. Gue gak akan ngambil dia dari lo."
Meski Stella sendiri yang mengatakannya, Mia hanya diam. Tidak percaya.
"Karena sebaik apa pun Banyu sama gue, sesempurna apa pun sosok dia, atau sedekat apa pun kelihatannya gue sama dia, pada akhirnya kita gak akan jadi apa-apa. Gue gak akan pernah suka apalagi sampai jatuh cinta sama Banyu."
"Udah, deh. Stella, kamu ngomongnya jangan ngawur gitu. Gak usah ngomong apa-apa lagi. Jangan bahas hal lain. Kita ini mau makan."
Tanpa permisi, dan dengan santainya Stella langsung menggerakkan tangannya untuk mencubit pelan pipi Banyu. Mengiyakan perkataan Banyu yang melarangnya berbicara lebih banyak.
Lalu Mia? Hanya bisa memperhatikan keduanya. Berharap bahwa Stella bisa memegang perkataannya. Karena sampai kapan pun ia tidak akan pernah siap untuk kehilangan apalagi melepaskan Banyu untuk gadis lain.