Mobil Banyu berhenti tepat di depan sebuah pagar berwarna cokelat. Ia mengeluarkan ponselnya dari saku setelah mematikan mesin mobil. Langsung menghubungi Stella yang berada di urutan teratas. Menjadi orang yang paling sering ia hubungi belakangan. Bukan Mia, bukan orang tuanya, apalagi Rangga.
Stella menjadi orang yang paling sering menghubungi sekaligus paling sering ia hubungi. Karena ia dan Stella kerap menghabiskan waktu lebih banyak sejak kedatangan Stella. Dan Banyu sama sekali tidak keberatan jika Stella sering menghubunginya.
Tidak butuh waktu lama, suara familier yang selalu diingatnya terdengar di seberang telepon.
"Halo, Banyu. Kenapa?" tanya Stella di sana.
"Kamu inget 'kan hari ini hari apa?"
"Inget, kok. Tapi aku cuma gak mau bilang sekarang aja, aku mau nunggu nanti sampai kita ketemu. Kenapa?"
Banyu tersenyum. Tidak tahu harus berkata bagaimana lagi. Ia hanya merasa senang karena Stella mengingat hari ulang tahunnya.
"Aku udah di jalan. Kamu mau aku jemput aja? Biar nanti gak perlu cari taksi."
"Gak perlu!" sergah Stella cepat.
Banyu bisa membayangkan bahwa Stella sedang menggeleng keras sekarang. Menolak permintaannya mentah-mentah.
"Aku 'kan udah bilang kalau aku bisa pergi sendiri. Kamu kasih alamat restorannya aja ke aku. Aku bisa ke sana naik taksi. Soalnya aku belum siap. Nanti temen kamu yang nunggu kasihan kalau kamu bikin mereka nunggu lebih lama lagi cuma karena harus jemput aku."
Sebenarnya Stella tidak pernah berusaha untuk mandiri. Sejak dulu. Banyu yang paling mengenalnya. Gadis itu tidak pernah mau melakukan sesuatu sendiri. Apalagi jika ada seseorang yang bisa diandalkan olehnya. Tapi setidaknya sekarang Stella tidak seperti itu. Tidak bisa dibilang sudah mandiri, hanya saja Stella tahu bagaimana harus bersikap.
Kalau hanya datang ke suatu tempat, apalagi karena acara spesial, apalagi acara spesial tersebut adalah milik Banyu, maka Stella tidak akan merasa keberatan bahkan jika dirinya harus berjalan kaki sekalipun.
"Oke, tapi inget, kamu harus hati-hati. Kalau ada apa-apa langsung kabari aku. Kalau udah sampai juga langsung kabari aku, biar aku bisa jemput kamu di depan."
Di seberang sana, Stella tertawa cukup keras. Mungkin menurutnya kekhawatiran Banyu terlalu berlebihan. Ia bukan anak kecil yang kalau pulang sekolah harus menunggu di depan gerbang sampai jemputan datang.
"Gak usah lebay gitu. Aku itu udah besar. Aku bisa jaga diriku sendiri. Kamu gak usah khawatir. Terus soal jemput di depan, itu juga gak perlu. Aku bakal masuk dan cari meja kamu sendiri."
"Iya-iya, terserah kamu aja, deh. Aku tahu kalau akhirnya aku cuma bisa ngalah."
Lagi, Stella tergelak. Kalau sudah tahu, ya, kenapa pula harus bertanya? Dasar Banyu.
"Oh, ya. Aku udah siapin hadiah buat kamu, tapi selain itu, aku juga bisa jadi hadiah buat kamu."
Sesaat. Sesaat saja. Banyu sempat terdiam. Hadiah? Ia bertanya-tanya bagaimana bisa Stella begitu mudahnya menyerahkan diri sebagai hadiah? Andainya yang berbicara dengannya orang lain, Banyu tidak yakin bisa menahan diri untuk meminta agar Stella menjaga cara bicaranya.
Banyak laki-laki nakal di luar sana. Kalau Stella menawarkan diri sebegitu mudahnya, bukan tidak mungkin orang yang ditawari akan meminta hal-hal yang aneh.
"Maksudku, kamu mau aku pakai baju apa? Hari ini aku bisa ngikutin kemauan kamu, karena kamu lagi ulang tahun, aku mau jadi seseorang yang spesial yang bisa bikin kamu bahagia. Aku bakal nurutin apa pun yang kamu bilang."
Demi Tuhan, Banyu merasa sangat berdosa. Untuk sesaat ia sempat berpikir, jika saja Stella mengatakan hal itu dulu, atau sebelum ia memiliki Mia, ia tidak akan ragu untuk meminta Stella menjadi kekasihnya. Karena Stella sendiri yang bilang akan mengabulkan semua permintaannya.
Andainya pertanyaan itu terlontar bertahun-tahun yang lalu, sebelum Stella memutuskan ikut orang tuanya pindah, Banyu sudah pasti meminta hal itu. Andai, ya, itu hanya perandaian Banyu saja.
Banyu hanya bisa meremas ponselnya yang menempel di telinga. Sekilas ia melihat rumah yang ada di luar jendela mobilnya, lalu kembali fokus pada Stella yang berada di seberang ponsel.
"Pakai apa pun yang kamu suka. Sebenernya aku mau bilang gitu, tapi kamu sendiri yang bilang kalau kamu bakal ngikutin kemauan aku, 'kan?"
"Iyap," sahut Stella singkat.
"Kalau gitu aku mau kamu pakai pakaian yang gak terlalu terbuka. Yang bisa jaga bagian tertentu dari tubuh kamu tentunya, karena aku tahu kamu suka banget pakai pakaian seksi. Tapi untuk malam ini, karena bakal jadi malam spesial buat aku, aku mau kamu ngikutin apa yang aku bilang. Bisa?"
Di seberang sana, Stella meletakkan satu tangannya di pelipis. Membentuk hormat yang ditujukan langsung untuk Banyu meskipun sadar bahwa Banyu tidak ada di depannya, dan sudah pasti tidak akan melihatnya. Itu adalah tindakan bodoh yang refleks Stella lakukan.
"Oke, aku janji penampilan aku malam ini gak akan bikin kamu marah."
"Pinter," sahut Banyu terkekeh pelan.
"Ya, udah. Aku mau siap-siap dulu. Aku bahkan belum milih baju apa yang bakal aku pakai. Aku tutup teleponnya. Kamu juga hati-hati di jalan."
"Iya. Nanti kalau kamu udah sampai di restoran, bilang aja cari meja atas nama Banyu."
"Oke."
Telepon dimatikan oleh Stella. Banyu hanya memperhatikan layar ponselnya yang lama kelamaan berubah menjadi hitam.
Langsung saja Banyu turun dari mobilnya. Memasukkan ponselnya ke dalam saku dan berjalan ke arah pagar rumah yang ada di dekat mobilnya.
Pagar rumah tersebut terlihat agak basah karena gerimis memang baru saja turun. Jalan yang ia pijak pun sedikit basah. Baru saja Banyu hendak mengeluarkan ponsel dari saku celananya, tapi seseorang terlihat keluar dari pintu rumah yang ada di balik pagar.
Banyu hanya menunggu sampai gadis yang mengenakan dress berwarna abu itu sampai di depan pagar. Seulas senyum Banyu dapati dari gadis itu. Mia. Ya, memangnya siapa lagi?
Mia terlihat sangat cantik di mata Banyu. Setiap lekuk tubuhnya terlihat begitu sempurna dari atas sampai bawah. Dress berwarna abu yang ditemani tas selempang abu di bahu kiri, bahkan heels yang melapisi kaki jenjangnya pun berwarna abu. Rambutnya digelung rapi dengan beberapa anak rambut yang sengaja dibuat jatuh di sisi kanan dan kiri. Ada paper bag berukuran kecil di tangan kanannya yang Banyu duga merupakan hadiah untuk ulang tahunnya.
Beberapa kali yang Banyu lakukan hanyalah memperhatikan Mia dari atas ke bawah. Merasakan keberuntungan tak terhingga. Gadis di depannya sangat cantik, kepribadiannya baik, dan ialah yang berkesempatan memiliki gadis itu.
"Kamu cantik," puji Banyu pelan.
Meski antara dirinya dan Mia dibatasi pagar rumah Mia, hal itu tidak mengurangi seberapa pantas Banyu memuji Mia. Kecantikannya bahkan melewati batas pagar yang memberi celah-celah besar.
"Kamu juga malam ini ganteng banget," balas Mia tersenyum malu. Gantian memperhatikan sosok Banyu.
Kemeja putih yang digelung sampai siku, dengan balutan celanan hitam panjang. Sekilas, Banyu terlihat seperti seseorang yang akan melamar pekerjaan. Jika saja kemeja putihnya dikancing, dan mengabaikan kaus putih yang menampilkan d**a bidangnya.
Kemejanya dibiarkan terbuka, dan itulah yang membuatnya berbeda dengan para pelamar kerja.
Untuk ukuran seseorang yang akan mengadakan pesta kecil sebagai perayaan ulang tahun, tampilan Banyu terlihat santai dan biasa saja. Tidak ada kesan formal sama sekali. Sepatu yang dikenakannya bahkan hanya sepatu berwarna putih. Senada dengan kemejanya. Tidak ada pantofel apalagi setelan jas.
Namun, itulah yang membuat sosok Banyu terlihat begitu menawan. Sudah sering Mia melihat Banyu dengan tampilan seperti sekarang, tapi lagi dan lagi, Mia kembali dibuat jatuh cinta. Banyu dengan tampilan formalnya memang menakjubkan, tapi tampilan santai dengan sneakers jauh lebih berkesan. Mampu memanjakan mata siapa pun yang melihatnya.
"Kalau tahu kamu bakal pakai setelan putih, aku harusnya pakai dress dengan warna yang sama. Biar kita serasi."
Banyu tertawa. "Tapi tampilan kamu yang sekarang aja cantiknya luar biasa." Ia menatap Mia dengan senyum tipis, "kita serasi tanpa harus pakai warna yang sama," sambungnya seketika membuat wajah Mia memerah.
Gadis itu membuang muka. Menyembunyikan sensasi sama yang kerap dirasakannya jika Banyu sudah mulai bermain dengan kata-kata. Ia kalah, ia menyerah, dan pipinya hanya akan berakhir memerah.
"Baru aja aku mau tekan bel, kamu malah udah keluar duluan dari rumah kamu," kata Banyu.
Stella membuka pagar rumahnya dan berdiri di depan Banyu. "Tadi aku sempet liat kamu dari kamar aku. Awalnya aku pikir kamu bakal langsung turun, tapi kamu malah cukup lama di dalam mobil. Makanya aku mutusin buat langsung turun aja," sahut Mia.
"Maaf, tadi aku lagi ngehubungin temen aku. Aku pikir kamu belum siap, makanya aku duduk sebentar di dalam mobil."
"Gak pa-pa, kok. Ya, udah, ayo kita langsung berangkat aja. Pasti Rangga udah di sana. Kasian dia kalau harus nunggu lama."
Banyu memperhatikan Mia yang menarik pergelangan tangannya. Ia balas menarik. Menghentikan gerakan Mia.
"Aku belum pamit sama orang tua kamu. Gimana kita bisa pergi gitu aja."
Mia terkekeh geli. Banyu itu sangat sopan dan bertanggung jawab. Sebagai perempuan, ia merasa sangat beruntung bisa mengenal Banyu. Karena Banyu tidak akan pernah mengajak pergi seseorang tanpa izin.
"Untuk malam ini kamu gak perlu izin sama mereka. Aku udah izinin tadi, soalnya mereka lagi ngehadirin acara nikahan anak temen papaku, jadi cuma pesan supaya aku gak pulang terlalu malam. Mereka percaya kok sama kamu."
Sejak memutuskan untuk berhubungan dengan Mia, dan memilih untuk mendatangi rumah Mia untuk pertama kalinya juga, Banyu sudah mendapatkan kepercayaan langsung dari orang tua Mia.
Banyu masih ingat, saat dirinya pertama kali berkunjung, ibu Mia langsung menyeretnya masuk dan mengajak makan siang bersama. Saat itu hari Minggu, Banyu berencana untuk mengajak Mia menghabiskan hari libur dengannya. Tapi bukannya pergi ke luar, keduanya justru menghabiskan waktu di rumah Mia.
Ayah Mia mengajak Banyu berbincang panjang lebar. Tidak hanya tentang hubungannya dengan Mia, pembicaraan bahkan merembet ke obrolan politik yang ada di berita dan urusan negara lainnya. Sedangkan ibu Mia memanjakannya dengan brownies yang luar biasa enaknya.
Sejak itu, Banyu dipercayakan untuk menjaga Mia. Karena kerap datang untuk meminta izin, tidak aneh kalau mereka begitu mudah memberi izin pada Mia, saat Mia mengatakan ingin pergi bersama Banyu.
"Kalau gitu kita langsung pergi aja." Banyu tersenyum. Memilih untuk menggenggam tangan Mia.
Keduanya berjalan ke arah mobil. Seperti biasa, Banyu akan membukakan mobil untuk Mia. Menjaga kepala Mia agar tidak terbentur bagian atas mobil sampai Mia duduk dengan aman. Memperlakukan gadisnya dengan sangat baik.
Saat Banyu sudah duduk di kursinya, Mia memandangnya sebentar kemudian bertanya, "Kamu tadi emangnya ngobrol sama temen kamu yang mana? Kok kayaknya penting banget? Soalnya kamu cukup lama cuma diam di dalam mobil." Wajahnya terlihat penasaran.
"Temen lamaku yang pernah aku kasih tahu ke kamu. Maaf kalau itu bikin kamu nunggu lama."
"Enggak juga, kok. Aku cuma penasaran aja. Aku kira kamu ngerasa ada sesuatu yang ketinggalan atau gimana makanya gak turun-turun. Tahunya cuma lagi ngobrol."
"Iya, Sayang," sahut Banyu tersenyum.
Banyu menyalakan mesin mobil. Mulai menjalankan mobilnya menjauhi area rumah Mia dengan kecepatan sedang.
"Oh, iya. Ngomong-ngomong kita mau makan di restoran mana?" tanya Mia.
Banyu menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya kembali fokus mengemudi. "Aku lupa kasih tau kamu, ya?"
"Apa?"
"Jadi, aku denger ada salah satu restoran yang baru buka beberapa bulan belakangan ini. Aku sih belum pernah ke sana, tapi katanya makanan di sana enak-enak. Interiornya juga jadi salah satu favorit pengunjung. Kamu bisa foto-foto di sana. Rangga udah aku kasih alamatnya, jadi mungkin sekarang dia udah jalan ke sana juga. Aku udah pesan meja buat kita, dan kalau Rangga dateng tinggal duduk aja tuh anak."
"Emm, gitu." Mia manggut-manggut saja. Tidak ingin memprotes. Lagi pula Banyu lah yang berulang tahun, jadi sangat wajar kalau Banyu sendiri yang memilih ingin makan di mana.
"Tapi kalau kamu mau makan di restoran lain, kita bisa pindah lokasi. Kamu kasih tau aku aja mau makan di mana."
"Eh?" Sontak saja Mia menoleh ke arah Banyu dengan cepat. Rupanya Banyu berbuka tanpa melihat ke arahnya.
Selalu saja begitu. Banyu lebih sering memperhatikan orang lain, daripada dirinya sendiri. Banyu lebih sering mendengarkan pendapat orang lain, menuruti, tanpa mempedulikan keinginannya. Itu adalah sisi Banyu yang Mia suka sekaligus Mia benci. Karena Banyu yang seperti itu selalu terlihat baik, tapi di waktu bersamaan tidak pernah menunjukkan apa keinginan Banyu yang sebenarnya.
"Gak usah gitu juga, dong. Aku gak masalah kok mau makan di mana aja, asal gak perlu ke luar kota. Nanti kamu capek nyetirnya."
Banyu tergelak. "Bisa-bisanya kamu malah bercanda gini," komentarnya.
"Abis kamu juga sih yang selalu kayak gitu. Kalau udah pesan meja segala, ya, kita tinggal makan di sana aja. Gak usah nanya aku mau makan di mana, sekali-kali kamu juga harus manjain diri kamu sendiri. Kalau kamu mau makan di sana, aku pasti ikut. Itu aja."
"Ya, udah. Kita ke sana sekarang."
"Nah, gitu. Selesai, 'kan?"
Banyu mengangguk setuju.
Mobil Banyu keluar dari kompleks perumahan Mia. Mobil tersebut berhenti sejenak sebelum masuk ke jalan raya dan berbaur dengan pengendara lainnya.