Definition of Love; 21

2038 Kata
"Banyu!" Seseorang berjalan sambil melambaikan tangan ke arah Banyu. Sampai di depan Banyu, orang itu langsung menatap Stella yang duduk di kursi seberang Banyu. Menaik-turunkan alisnya kepada Banyu seolah sedang meminta penjelasan tentang siapa Stella sebenarnya. Seorang perempuan berdiri di samping orang itu. Dekat sekali. Kedekatannya nyaris nempel dengan tubuh Rangga. Ya, orang itu adalah Rangga. Dan Stella bisa melihat dengan jelas bahwa perempuan itu mungkin saja kekasih dari orang yang tadi memanggil Banyu. "Rangga? Ngapain di sini?" tanya Banyu menolak permintaan secara tidak langsung dari gestur tubuh Rangga. "Lah, elo sendiri ngapain di sini?" Rangga balik bertanya. Berkacak pinggang, "lagian ini itu tempat umum. Bukan cuma gue atau lo yang bebas datang, bahkan presiden Amerika aja kalau mau boleh banget ada di sini." Sungguh penjelasan yang berlebihan. Banyu menggeleng tidak peduli. Ia kembali ke posisi duduknya, yaitu tegak lurus dengan wajah menghadap Stella. "Heh!" panggil Rangga setengah berteriak. Banyu kembali menoleh ke arahnya. Bertanya, "Apa?" Dengan wajah bosan dan tidak ingin memperdebatkan sesuatu yang ia tahu apa itu. "Kalau orang lagi ngomong itu jangan main dicuekin aja. Berdosa banget lo jadi manusia." Banyu tahu betul apa yang sebenarnya ada di pikiran Rangga. Temannya itu pastilah ingin menanyakan tentang Stella yang duduk di seberangnya. Akan ada banyak pertanyaan yang menyusul keluar jika satu pertanyaan Rangga sudah dijawab. Dan Banyu benar-benar sedang malas menjelaskan. "Udah, deh. Lo pasti ke sini mau makan, 'kan? Mendingan cari meja lain aja. Kasian tuh pacar lo pasti udah laper. Gue udah mau pulang." Banyu hendak mengabaikan Rangga lagi, tapi Rangga dengan cekatan segera menahan bahunya. Melarang Banyu untuk tidak kembali mengabaikan dirinya. "Kenapa gak diajak gabung aja sama kita, Banyu? Lagian kita juga gak akan langsung pulang, 'kan? Makanan penutup kita aja belum dimakan." Stella berbicara tanpa diminta. Dan hal itu berhasil membuat Rangga semringah. Tanpa permisi, Rangga langsung menarik kursi. Mempersilakan kekasihnya untuk duduk lebih dulu, sementara dirinya berjalan memutar dan duduk di sisi lain yang berada di sisi kanan Banyu. Keadaan segera berubah hening. Banyu nampak enggan berada di satu meja yang sama dengan temannya, Rangga masih menatap Banyu seolah tidak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya, sedangkan Stella dan kekasih Rangga sama-sama kebingungan karena tidak tahu harus bersikap bagaimana. "Heh!" Rangga menepuk bahu Banyu dengan tatapan yang terus mengarah pada Stella. Banyu hanya menoleh sekilas, sebelum akhirnya memilih memakan makanan penutup miliknya. Diikuti Stella yang juga mulai menggerakkan tangannya. "Malah dikacangin gue, astaga!" Rangga mengusap wajah. Kini, ia menggeser kursinya agar lebih dekat dengan Banyu. Membisikkan sesuatu yang hanya bisa didengar oleh Banyu dan Rangga sendiri. "Udah beberapa hari belakangan ini lo selalu nolak kalau diajak makan malam sama pacar lo, Mia. Lah, sekarang apa-apaan yang gue liat ini? Lo malah makan malam sama cewek lain. Kalau Mia sampai tahu, abis lo." Banyu berhenti mengunyah. Meletakkan sendok berukuran kecil yang ia gunakan di atas piring, lantas menatap Stella. "Kamu udah selesai makannya? Kalau udah mendingan kita langsung pulang aja. Aku lupa kalau ternyata aku punya kerjaan yang harus dikerjain." Stella bertanya, "Lho, kamu udahan ngobrolnya sama temen kamu?" Dengan pipi sedikit menggembung karena masih terdapat makanan di sana. Banyu mengangguk. Hal itu justru membuat Rangga naik pitam. "Dari mana selesainya, woi?! Lo bahkan gak nyaut apa-apa dari tadi. Cuma gue yang ngomong. Apa bisa itu disebut obrolan?" kesal Rangga mendengkus. Stella sadar dari gelagat Rangga yang sejak tadi berbisik pada Banyu. Jelas sekali bahwa Rangga tidak ingin dirinya mendengar pembicaraan tersebut. Karena itulah ia memilih berdiri. Memahami situasi yang begitu kentara. "Kalau gitu aku mau ke kamar mandi dulu. Abis itu kita langsung pulang," katanya. Mendapatkan anggukan kepala dari Banyu, Stella memilih untuk segera berlalu. Tentu saja. Setelah kepergian Stella, Rangga semakin gencar bertanya. Ia tidak lagi ragu-ragu. Tangannya langsung memukul keras bahu Banyu. Meminta penjelasan yang sejak tadi tidak Banyu berikan. "Jelasin ke gue sekarang juga, atau bakal gue bongkar keburukan lo di depan Mia." Rangga merubah posisi duduknya menjadi menyamping agar bisa berbicara dengan Banyu lebih leluasa, "gue gak nyangka cowok kalem kayak lo ternyata bisa selingkuh juga. Lo udah capek jadi orang baik?" sambungnya telak. Tahu bahwa temannya merupakan manusia paling merepotkan di muka Bumi yang selalu ingin tahu urusan orang lain, yang selalu ikut campur urusan orang lain, juga selalu tidak bisa diam saja saat temannya dirasa melakukan sesuatu yang melenceng, Banyu balas duduk menyamping. Gerah sendiri dengan sikap Rangga yang terkesan berlebihan. Apalagi sampai berani menuduhnya berselingkuh? Memangnya ia salah satu makhluk menjijikkan yang mau melakukan hal sekotor itu? "Gini, ya. Lo gak usah ngawur. Kalau gak tahu apa-apa, alangkah baiknya lo diam aja. Kalau gak bisa diam juga, seenggaknya gak usah nuduh segala." Banyu membela dirinya sendiri. "Gimana gue gak nuduh lo selingkuh kalau gue sendiri lihat dengan mata kepala gue kalau lo lagi makan malam sama cewek lain, sedangkan posisi lo udah gak single lagi. Paham gak sih apa maksud gue? Lo itu mencurigakan." "Lo pikir gue teroris?" "Bukanlah!" sergah Rangga cepat, "lo itu kayak cowok-cowok di sinetron yang pura-pura baik di depan bininya, tahunya punya selingkuhan." "Pertama, gue gak selingkuh. Kedua, gue sama Mia belum nikah." Banyu mendengkus lantas membuang muka. Rangga merasa sangat kasihan pada Mia, tanpa tahu alasan yang sebenarnya. Di matanya sekarang, Banyu hanyalah laki-laki berengsek berkedok topeng manis yang memperlihatkan seberapa baiknya sosok Banyu di mata Mia. "Kalau lo emang gak mau ngakuin kesalahan lo, kasih kejelasan ke gue sekarang juga siapa cewek tadi?" Rangga persis seperti seorang gadis yang sedang memergoki kekasihnya selingkuh , dan menuntut penjelasan dari kekasihnya tersebut. Dan hal itu berhasil membuat Banyi jengkel setengah mati. Kalau saja ia dan Rangga tidak dekat sejak zaman kuliah, atau kalau saja Rangga bukanlah teman terdekatnya, ia yakin akan langsung menendang b****g Rangga tanpa pikir panjang. Bagaimanapun, Rangga terlalu banyak ikut campur. Padahal kehidupan Banyu keseluruhannya bukanlah urusan Rangga. Kalaupun Rangga benar-benar penasaran, tidak seharusnya mengorek sampai sejauh itu. Kalau saja yang ditanyai olehnya adalah orang lain, dan bukan Banyu, tentu itu akan sangat mengganggu. Pada akhirnya Banyu memilih menatap Rangga sekali lagi. Membaca wajah kesal itu dengan saksama. Ia menjelaskan, "Dia itu temen gue. Temen gue dari kecil. Temen yang gue kenal dari zaman SMP." Dengan nada tenang. Berharap Rangga akan mengerti dan tidak bertanya lagi. Namun, tentu tidak semudah itu. "Lho? Kok gue gak pernah tahu? Bertahun-tahun kita temenan, gak pernah tuh gue lihat lo sama dia. Sejak kapan lo punya temen masa kecil secantik itu?" Sontak saja pertanyaan Rangga membuat Banyu menoleh ke arah kekasih Rangga. "Pacar lo nih muji cewek lain," adunya kemudian. Gadis itu hanya terkekeh geli sambil menggeleng pelan. Mungkin tahu bahwa itulah sifat kekasihnya, dan memilih untuk tidak terlalu peduli. "Kenapa sih lo kepo banget urusan gue?" tanya Banyu pada Rangga. "Karena gue peduli, Banyu." Rangga menepuk-nepuk bahu Banyu, "gue gak mau lo terjerumus ke dalam jurang kesesatan yang dalam. Bukan cuma berdosa, lo juga cuma bakal nyakitin perasaan orang lain." Sekarang Rangga berbicara seolah-olah Banyu adalah pengguna narkoba atau seseorang yang gemar mabuk-mabukan. "Heh, dengerin gue!" Banyu melepaskan pegangan Rangga di bahunya. Bergantian menepuk-nepuk bahu Rangga, "sekali lagi gue bilangin, dia itu temen masa kecil gue. Lo gak pernah lihat karena lo gak sedekat itu sama gue. Dia pindah beberapa tahun lalu dan gue gak pernah ketemu. Tapi belakangan ini gue tahu dia balik, itulah kenapa dia ada di sini sama gue. Karena dia yang paling deket sama gue. Dan kalau lo ngira macem-macem, apalagi sampai bilang gue selingkuh segala. Lo harus tahu kalau gue gak sekotor itu," jelas Banyu tenang. Hal itu berhasil membuat Rangga melongo. Bukan karena tersadar bahwa dirinya sudah salah sangka, tapi karena dirinya masih berusaha mencerna setiap kalimat Banyu yang panjang lebar tersebut, dan belum bisa memahaminya sepenuhnya. Apa tidak bisa Banyu menjelaskannya perlahan saja? Atau diulang kembali apa yang dikatakannya barusan? "Gimana? Udah paham sama situasinya?" tanya Banyu. Rangga mengerjapkan mata. Baru paham. "Bentar-bentar. Jadi maksudnya gak ada apa-apa sama cewek itu?" "Itu yang gue bilang dari tadi." "Terus apa Mia udah tahu hal ini?" Banyu menggeleng sambil mengendikkan bahu. "Enggak. Ngapain juga gue harus kasih tahu dia. Ya, walaupun dia tahu kalau belakangan gue jalan sama temen gue, tapi dia belum tahu itu siapa, dan belum ketemu juga." "Astagfirullah, Banyu. Berdosa banget lo jadi pacar. Jangan salahin gue nanti kalau dia tahu semuanya." "Terus kenapa kalau dia tahu? Gue sama Stella 'kan cuma temenan, jadi gak akan ngaruh sama hubungan kita." Betul juga. Rangga menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Perkataan Banyu benar adanya. Tapi meskipun begitu, entah kenapa ia tetap merasa bahwa tindakan Banyu salah. Setiap hubungan itu harus memiliki dua orang yang saling terbuka. Tidak ada rahasia apa-apa. Agar hubungan yang terjalin selalu harmonis dan bisa saling mempercayai satu sama lain. Rangga tidak tahu harus berkata apa lagi. Kalau memang Banyu punya alasannya tersendiri, ia tidak memiliki hak untuk ikut campur lebih jauh. Walaupunsebenarnyaia sangat ingin. Setidaknya Mia tahu bahwa Banyu belakangan pergi dengan temannya, dan mungkin itu saja sudah cukup. Berharap saja bahwa tidak akan ada sesuatu yang akan mengguncang hubungan mereka. Lalu, tidak lama setelah pembicaraan itu, Stella kembali. Banyu langsung berdiri dari kursinya begitu Stella sampai di meja. "Kamu udah selesai?" tanya Banyu. Stella mengangguk. "Kalau gitu kita langsung pulang aja. Aku ada kerjaan soalnya." "Ih, Banyu. Tapi makanan penutup aku belum habis, bahkan makanan punya kamu juga baru dimakan satu sendok. Sayang tahu. Aku 'kan masih mau makan. Nanti aja pulangnya. Setengah jam lagi gimana?" "Enggak." "Dua puluh menit?" "Enggak." "Lima belas menit aja gimana?" "Enggak!" Banyu mulai kesal. Tapi Stella tidak menyerah. "Sepuluh menit, deh," tawarnya lagi. "Stella!" tegur Banyu lelah. Hal itu membuat Stella merengut, tapi tak ayal ia mengambil tasnya yang ada di atas meja. Menatap Banyu kesal. "Lain kali kita makan di sini lagi. Sebanyak dan sepuas yang kamu mau. Oke?" Banyu berusaha meredakan kekesalan Stella. Dan itu berhasil. Gadis itu langsung semringah begitu saja. Namun, tentu malah membuat Rangga semakin bingung. Pasalnya, cara bicara Banyu pada Stella dan cara Banyu memperlakukan Stella terlampau lembut untuk ukuran seorang teman. Tapi ia tidak dibiarkan berpikir lebih jauh karena Banyu segera menepuk bahunya. "Gue balik duluan," pamitnya. Dan, ya. Setelah membayar apa yang dipesannya, Banyu pergi dengan Stella. Stella juga menyempatkan diri untuk berpamitan dengan Rangga dan kekasihnya. Rangga masih memperhatikan keduanya bahkan saat mereka sudah cukup jauh melangkah. Melihat dengan jelas bahwa Stella begitu menempel pada Banyu. *** "Temen kamu itu kayaknya gak suka sama aku," kata Stella saat berada di dalam mobil. "Kenapa kamu bisa bilang kayak gitu?" tanya Banyu. Stella berdeham pelan. " Itu kelihatan jelas banget. Dia itu pas ngomong selalu bisik-bisik sama kamu, dan matanya selalu melirik aku seolah-olah aku gak boleh tahu percakapan kamu sama dia. Bukannya aneh?" Untuk sesaat, Banyu sempat berpikir bahwa Stella jauh lebih peka dari terakhir kali ia bertemu dengan gadis itu bertahun-tahun yang lalu. Stella yang dulu mana mau memperhatikan hal-hal sekecil itu. Jangankan melihat gelagat orang lain, Stella bahkan seringkali tidak peduli dengan dirinya sendiri. Tapi baru saja Banyu dibuat bangga. Ia kira Stella masih lah jadi gadis kecilnya dulu, tapi ia salah. Stella Sudah tumbuh menjadi gadis dewasa yang yang pintar membaca situasi tanpa memerlukan bantuan lagi. Kalau Stella yang dulu lebih memilih untuk diam dan tidak peduli dengan tanggapan orang lain, Stella yang sekarang berani bersuara dan mengutarakan isi hatinya karena gelagat aneh orang lain. Menurut Banyu itu adalah suatu kemajuan. Tidak terlalu signifikan, tapi sangat kentara jika perubahannya terjadi di dalam diri Stella. Tadi, Stella bahkan sempat memilih pergi ke toilet. Banyu tahu bahwa itu hanya alasan Stella saja agar dirinya bisa berbicara sebentar dengan Rangga. "Kamu gak perlu khawatir soal Rangga. Dia emang kayak gitu. Sebenarnya dia itu cuma penasaran, dia cuma mau tahu kamu itu siapa. Caranya mungkin agak sedikit menyudutkan kamu, tapi gak ada maksud apa-apa, kok. Dia orang baik," jelas Banyu tersenyum. Stella manggut-manggut. Menarik seat belt dan segera memasangnya. Banyu pun melakukan hal serupa. "Lain kali kamu pasti ketemu lagi sama Rangga. Dan kalau waktu itu tiba, aku pastiin kalau Rangga bakal bersikap lebih ramah lagi sama kamu dan gak ngasih gelagat aneh yang bikin kamu risih." "Oke. Aku tunggu waktu itu tiba. Aku juga mau kenal sama temen kamu yang lain," sahut Stella. Banyu hanya tersenyum. Mulai menyalakan mesin mobilnya. Tidak tahu kenapa jauh di lubuk hatinya ia tidak ingin Stella sampai mengenal Mia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN